Suara depakan sepatu yang masuk kerumahku hampir membuatku hilang akal. Pasalnya, yang hanya mengetahui alamat rumahku yaitu Steve dan Louis. Tapi kini yang berdiri di hadapanku adalah Tiffany.
Aku dan Louis saling menatap, memerhatikan Tiffany yang berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata kalimat. Bibirnya pucat pasi, tidak ada kehidupan yang kulihat dari wajahnya.
Dia berdiri mengenakan pakaian tebal sembari memegangi tas kecilnya. Lalu tak kusangka dia menghampiriku dan Louis.
“ Irene, apa tidak ada belas kasihan untukmu padaku?” Katanya sembari menyeka air matanya yang jatuh.
lagi-lagi aku tak melontarkan jawaban padanya, aku hanya menatap Louis kala itu. Sedangkan Louis, dari raut wajahnya saja aku bisa tahu, bahwa dia menaruh rasa simpati pada bibi.
Louis menenangkan Tiffany yang menangis, “ aku dan Irene akan menolongmu” ucapnya.
Tiffany menaruh tas nya ke meja dengan perlahan, kemudian dia memalingkan wajahnya padaku. “ aku berterimakasih pada kalian” jawabnya.
“ bibi, sebenernya penyakit kronis apa yang kau alami?” Tanya Louis padanya.
Dia menunduk dan mengotak-atik tangannya, “ Infeksi Klamidia. Infeksi yang di alami ketika kita sering melakukan seks bebas”
“ habisnya, siapa yang menyuruh kau menjadi p*****r?” celetukku menjawab ucapan Tiffany.
Louis memberikan kode padaku, untuk menjaga perkataanku. Dan aku hanya mengernyitkan keningku padanya.
“ tidak ada cara lagi Irene. Setelah Mihaw meninggalkanku, aku menjadi sendirian. Tidak ada yang membiayaiku hidup. Dan sekarang, aku harus membayar hutang pada bank” ujarnya pelan.
“ Irene akan membantumu bi, Dia yang akan melunasi hutangmu” Sahut Louis.
“ Irene apa itu benar?” tanyanya.
Aku memalingkan wajahku dan menjawabnya dengan acuh, “ ya”
“ aku janji, aku akan menggantinya” Katanya.
Tiffany menyiapkan diri untuk keluar dari rumahku. Dia berdiri, dan hendak membalikkan badan. Aku memanggil namanya, sontak hal itu membuatnya terhenti. “Tiffany” panggilku.
“ ya?”
“ siapa yang memberi tahumu soal alamat rumahku?” Tanyaku padanya.
“ apa tidak ada yang memang memberitahu alamat rumahmu sebelumnya?” Ucapnya.
“ hanya Louis dan temanku” jawabku.
“ Louis yang memberitahuku” ucapnya.
***
Vincent morgant mulai masuk ke mobilnya. Dia kini tengah berangkat pergi bekerja. Seorang pengawal pribadinya yang di panggilnya Vosko menempatkan diri di sampingnya. Dan membuka obrolan kepada Vincent.
“ aku sudah tau tentang seluk beluk Irene tuan” kata Vosko.
“ bagaimana soal dia?” tanya Vincent sembari merapikan kerah bajunya.
“ Dia dan pengawal Zacklee memang bersaudara. Dia sekarang tinggal di sebuah rumah megah. Tapi yang ku ketahui dia adalah pindahan. Aku sempat mencari tahu dia pindahan dari desa mana. Dan saat ku cari tahu, dia pindahan dari desa kecil yang terletak di pinggir kota.” jawabnya.
“ hanya itu yang kau tahu?” tanya lagi Vincent.
“ menurut orang-orang yang tinggal di desa kecil itu. Irene sangan introvet, dia tidak pernah bergaul dengan orang-orang sekitarnya. Dia bekerja di kedai bubble tea dan setiap minggu dia kerja di bar” ucapnya lagi.
“ Dan orang-orang di sana mengatakan bahwa dia juga pindahan. Lalu aku meminta data kepada aparat desa. Dia pindah dari Kota Santiagos. Tapi aku belum mengetahui tempatnya di sana tinggal” imbuh Vosko.
“ apa tidak ada lagi yang kau tahu selain itu?” sahut Vincent, mobil pun melaju.
“ ku pikir ini susah, karena dia sangat tertutup” katanya.
“ aku penasaran, mengapa dia tertarik untuk menghancurkan Zacklee dan mengapa saudaranya bekerja di rumah Zacklee jika Irene tak menyukainya?” jawab Vincent.
“ ku pikir itu adalah rencana” ucap Vosko.
Vincent mengernyitkan keningnya dan menatap ke arah pengawal briliantnya. “ maksudnya?”
“ apa pengawal Zacklee itu termasuk mata-mata?” sahut Vosko.
Vincent berfikir keras, “ kalau itu iya, wanita itu sangat berani hingga harus melawan Zacklee”
“ Cari tahu di bar tempat Irene bekerja, apakah ada seorang wanita bernama Tiffany?” imbuh Vincent.
***
Steve keluar dari kamarnya, dia pergi ke meja makan. Sang ibu duduk dan menemaninya. Lalu terlintas di benak bu. Zoe soal wanita yang selalu di sebut-sebut oleh Steve.
“ Putra ibu sudah dewasa ya?” ucapnya sambil menatap wajah Steve.
Steve terhenti saat hendak mengambil selembar roti di hadapannya, “ apa maksudnya bu?” tanyanya pelan
“ Siapa itu Irene?” tanya bu. Zoe sambil tersenyum menggoda putranya.
Steve tertawa pelan, “ apa ibu penasaran?”
“ jika kau memiliki kekasih, kau seharusnya memperkenalkan pada ibu terlebih dahulu” jawab Bu.Zoe.
“ tapi dia belum menjadi kekasihku bu” Ucap Steve.
“ Dulu, saat ayahmu menyukai ibu. Dia mengajak ibu berkencan di atas kapal. Sambil menikmati suasana laut. “
Steve mengambil selai strawberry nya sembari mendengarkan celotehan ibunya. “lalu apa ibu terkesan?”
“ saat itu aku belum menyukainya. Tapi karena dia berusaha untuk membuat kejutan. Ibu menjadi terkesan” jawabnya.
“ Seperti apa Irene itu?” imbuh Ny.Zoe sambil mengambil selember roti juga.
Steve menelan roti yang di kunyahnya dengan pelan, “ Dia cantik dan juga baik. Kecantikannya paripurna” jawabnya.
“ apa kau tidak berniat memperkenalkan pada ibu?”
“ Jika aku sudah berkencan dengannya. Lagian, sebentar lagi aku ingin kerumahnya. Apa ibu mengizinkanku?”
“ boleh, hati-hati” Ucapnya.
Steve menunduk dan memotong rotinya lagi. Dia tidak mengatakan apapun soal mobilnya yang rusak parah. Ibunya belum mengetahui soal ini, itulah mengapa dia mengizinkan Steve untuk pergi keluar.
Seandainya dia tahu, mungkin dia tak akan pernah menyuruh Steve untuk keluar lagi. Karena rasa khawatirannya yang naik. Dan karena ibunya terlalu overprotektif.
***
Louis pulang dari rumah ku karena di jam ini, Ia harus pergi memulai pekerjaannya yaitu dengan mengawal Zacklee berangkat dan pulang dari kantornya.
Tepat pukul 09.00 ada yang mengetuk pintu rumahku. Aku membuka pintu itu untuknya, dia adalah Steve tampan yang berdiri dengan mengenakan T-shirt hijau dan celana hitam dengan kalung yang mengitari lehernya.
Kemudian dia melayangkan senyuman padaku, “ hai selamat pagi” katanya tersenyum.
Aku mengedipkan mata berkali-kali. “ pa-pagi” ucapku
Steve menyerobot masuk ke rumah tanpa seizinku terlebih dahulu. Aku diam membisu memerhatikan langkahnya. Dia kembali menarikku dan mulai meraba tanganku yang sempat luka. “ wahh ini sembuh secara cepat” katanya.
“ apa kau rajin mengoleskan salep di luka ini?” tanya Steve.
“ tidak sama sekali,” kataku sok datar.
“ lalu apa kau makan dengan baik akhir-akhir ini?” tanyanya lagi.
“ minum amer beberapa botol” Jawabku.
“ Menyedihkan” ucap Steve.
“ Coba lihat kesini, aku membawakanmu bubur dan beberapa dessert” tambahnya sambil membuka beberapa kotak makanan yang di bawanya ke rumah.
“ mengapa harus makan bubur?” tanyaku padanya.
Kali ini dia yang mendengus, “bukankah kau sakit? aku membawakan ini jelas untukmu agar kau cepat sembuh”
“ ahhh sial,” umpatku.
“ aku tidak bisa makan bubur, aku tidak suka” sahut ku padanya mengeluh.
“ lalu, apa gadis kesayangan ku yang kejam ini sering makan pecahan beling?” jawab Steve sambil melayangkan sesuap bubur ke mulutku.
aku hanya memelototi Steve, “ kau bilang aku makan beling? kau mengira aku apa? “
Steve membalasnya dengan kekehan, “ ahhh kamu marah? apa kau marah? ayo makan”
“ jangan menertawaiku, aku tidak suka ini. Lagian aku tidak sakit” Ucapku menggerutu.
“ kau harus mencobanya dulu, ayolahhh Irene” Sahut Steve terus melayangkan sendoknya ke bibirku.
aku memejamkan mata karena menahan rasa jijik. “ buka mulutmu Ireneku”
Aku membuka mulut dan memakan sesendok bubur yang di suapi oleh Steve untukku. Mataku kemudian terbuka, “ bubur jenis apa ini?”
“ bubur ayam” jawabnya.
Aku merasa familiar dengan cita rasa bubur ini. Makanan ini adalah makanan yang sering di suapi oleh ibuku saat aku sakit. Tapi karena sejak dini aku tak tau jenis makanan apa ini.
Mungkin ada berbagai macam jenis bubur, tapi bubur yang di berikan oleh Steve sama persis dengan bubur yang di buat oleh ibu. Ini seperti aku telah mengenang masa lalu. “ apa enak?” tanya Steve.
Aku merampas sendok dari tangan Steve dan memakan bubur ini dengan lahap. Steve terus memandangku. “ enak kan?” tanya nya lagi.
“ aku hanya lapar” jawabku gengsi.
“ apa kau mau jalan-jalan di sekitar sini?” Ucapnya mengajakku.
“ mau ke taman?” ajakku lagi.
“ ayo, selesaikan sarapannya dulu.” katanya dan aku mengiyakannya.
Akhirnya aku telah sampai di satu suapan terakhir. Aku segera bergegas pergi ke kamar dan mandi. Setelah ini aku dan Steve akan pergi jalan. Aku mau, karena aku pun ingin sekali merelaksasikan pikiranku sejenak.
Steve menungguku di sofa, dia duduk sembari memainkan ponselnya. Lalu dia mengitari seisi rumahku. Matanya mulai terpojok pada sebuah fotoku dan Louis semasa kecil yang ku taruh di atas lemari kecil yang berada di samping pintu kamar.
Di samping fotoku dan Louis, terdapat foto ayah dan ibuku dengan bingkai usang yang masih ku simpan sebagai kenangan. Bodoh! mengapa Louis memindahkannya ke sana.
Tadi, saat Louis berada di rumahku. Ada beberapa hal yang membuat Louis terganggu. Desain Interior dan tata letak souvenir yang membuatnya kurang cocok dengan peletakkanya.
Kemudian dia menaruhnya di atas lemari kecil samping pintu kamarku, “ karena Bingkai nya berwarna hitam. Jadi ini cocok dengan lemari kecil berwarna putih ini” itulah perkataan Louis yang masih menempel di pikiranku.
“ wahh iya kau benar, ini bagus. Kau pintar dalam bidang ini ya”puji ku pada Louis. Dan dia mengangguk, lalu pergi ke taman belakang dan menikmati suasana taman yang di lengkapi dengan meja billyard.
Lalu sekarang, Steve memegangi foto masa kecilku. Dia tersenyum, sambil mengusap-usap wajahku. “ Irene apa ini kau?” Ucapnya.
Aku membuka pintu kamarku setelah mendengar suaranya. Mataku melotot tak tertahan. “ i-iya” jawabku terbata-bata.
Dia mengangguk-angguk, “ lalu siapa lelaki yang di sampingmu?” tanyanya.