PESAN PILU PAMAN LAY

1548 Kata
Mungkin ini adalah karma. Karma dari kejadian masa lalu, karena Tiffany selalu tidak memperlakukan Irene dan adiknya dengan baik. Karma karena dia dulu sempat tidak ingin menerima kedatangan Irene. Sekarang, Dia hanya tinggal di rumah kecil. Semenjak Mihaw meninggal, kehidupan perekonomiannya menjadi hancur. Dia sulit untuk bertahan hidup, bahkan dia rela tak makan hingga lima hari lamanya. Terpaksa, dia menjual rumah yang di berikan oleh paman Lay untuknya. Yang dahulu dia tinggal di rumah cukup megah, kini dia hanya bisa membeli rumah biasa yang jauh dari kata mewah. Dan ini pula yang di sebut karma. Karma dia menghianati cinta paman Lay. Dan kala masa-masa terpuruknya datang, dia hanya bisa mengingat kondisinya dulu yang tak sama dengan sekarang. Tiffany meratapi nasibnya dan sering menangis tersedu-sedu karena menyesal. Hingga salah seorang yang di anggap malaikat olehnya datang. Membantu dan mendengarkan keluh kesahnya. Merangkul dan menjabat tangannya, tapi juga memasukkannya ke dalam jurang sesat atau lingkaran hitam. Mengajak Tiffany mencari uang dengan cara yang ekstrim, yaitu dengan menjadi p*****r dan menjual kehormatannya. Bukankah Tiffany dari dulu sudah menjadi p*****r sejak Irene menginjak usia remaja dan tinggal di rumahnya? Yaitu dengan berselingkuh dan bermain api dengan pria lain meski dia telah memiliki pasangan. Perempuan seperti itu berhak di katakan p*****r. Walau begitu, dia tak di bayar mahal. Bayarannya hanya di jadikan foya-foya dan membiayai keseharian nya. Bisa di bilang, harga kehormatannya tak sepadan dengan bayarannya. Bisa jadi itu yang dinamakan murahan. Lalu kali ini ia pun semakin menyesal, karena pekerjaannya itu menjadi sumber penyakit baginya. Ia berfikir nyawanya sudah tak akan lama, karena datangnya penyakit kronis ini. Apalagi, setelah berulang kali petugas bank meminta pertanggung-jawaban dari Tiffany. Dia hanya tak bisa memikirkan soal jalan keluar untuk menghadapi masalah ini. Dan yang hanya terlintas di pikirannya sekarang, adalah meminta tolong pada Irene yang sudah di nilai sukses olehnya. Dengan merangkul salah satu pengusaha kaya raya bernama Vincent. Namun, jika ia memberikan kepuasan kepada Vincent. Memang benar, dia akan di bayar mahal lebih mahal dari p****************g lainnya. Tapi mengingat kondisi rahimnya saat ini yang sudah tak kuat menahannya lagi. “ baiklah, aku akan menelpon Irene” ucap Tiffany menghela napas sembari menatap nama Irene yang sudah tersimpan di kontaknya. “ APA?” teriak Irene dari seberang menjawab telepon Tiffany Tiffany mengotak-atik tangannya karena dia merasa bahwa dirinya terlalu merepotkan Irene. Tapi apa boleh buat, ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa membuatnya bertahan hidup. Irene menutup telepon Tiffany karena dia merasa tidak peduli. Tiffany merasa bingung sekaligus sedih karena keponakannya telah mengacuhkannya. *** Rasanya berbeda, tidur di ranjang yang harganya biasa saja dengan ranjang lembut nan mewah ini. Ku rasa badanku menjadi lebih rilex dan mimpiku saat tidur menjadi lebih indah. Matahari lebih terang masuk menembus jendela besar di kamarku. Membuat mataku yang terpejam kembali terbuka dengan menghirup udara segar dengan hawa dingin membuat tubuhku lebih bersemangat lagi. Aku keluar dari kamar, aku ingin pergi ke dapur untuk meneguk segelas air. Louis dengan tampannya duduk di kursi sofa seraya menekuk kaki kirinya ke atas kaki kanannya. Elegan! “ Kejutan” Teriak Louis sambil merentangkan kedua tangannya seperti seseorang yang tengah memberikan kejutan pada umumnya. “ Louis” ucapku Louis tersenyum, menghampiri kemudian memelukku. “ wahh, ini rumah yang kau maksud? luas sekali” kata Louis di iringi dengan suara tawa bahagianya. “ ya, hidupku serasa lebih hidup tinggal di rumah ini” sahutku membalas pelukannya. “ aku tak sabar ingin melihat-lihat rumah ini” Jawab Louis. “ Silahkan melihat-lihat, ini karena kerja keras kita. Aku akan minum segelas air terlebih dulu” ucapku Louis pergi ke belakang mengitari taman belakang rumah yang di sertai dengan kolam renangnya. Dia semakin kagum, karena melihat beberapa spot tempat bermain billyard. Olahraga yang paling di gemari olehnya. “ wow” gumam Louis dengan matanya yang berbinar Pujian kagum Louis membuatku ingin menghampirinya. Dia meraba-raba bola billyard dan memasang wajah sumringah. “ wahh fantastis” kata Louis “ Aku sengaja membeli itu untukmu” sahutku Aku menodongkan tongkat billyard ke arah Louis, “ mau bermain denganku?” kataku mengajak Louis berunding. Louis membalas todonganku dengan menodongkan tongkatnya ke hadapanku, “ siapa takut” ucapnya. Kami mulai bermain sambil berbincang-bincang hangat, Kemampuan Louis bermain billyard membuatku kagum. Dia memang berbakat dalam bidang apapun, bahkan setelah ia cukup lama tidak memainkan benda ini. “ wah kau masih cakap dalam bermain” ujarku memujinya “ yaa, padahal sudah bertahun-tahun sebelum paman Lay masuk penjara bukan?” jawabnya. Louis berdehem dan melanjutkan obrolan ini sembari membidik bola billyard, “ngomong-ngomong soal ini, aku sudah bertemu dengan bibi” Aku mendongakkan kepalaku ke arah Louis, “ kapan?” “ kemarin saat aku berada di rumah sakit. Dia tak sengaja menemukanku” ucapnya “ dia mengalami penyakit kronis” sahutku “ kasihan,” “ untuk apa mengasihaninya?” Ucapku pada Louis Louis menyoroti wajahku yang seolah acuh pada bibi Tiffany. “ apa kau sebenci itu padanya?” Aku hanya menghela napas, jika di ingat-ingat aku sudah keterlaluan padanya. Mengata-ngatai menjadi p*****r mungkin terlalu menyayat hatinya. Tapi tak bisa di pungkiri, aku masih mengingat bagaimana ia memperlakukanku dulu. Sebenarnya aku bimbang, apakah aku bisa memaafkannya secara tulus. Karena terkadang jika di pikir panjang itu percuma. Aku memaafkannya tapi saat ku lihat wajannya, aku mengingat kesalahannya yang di perbuat padaku. Aku tipikal orang yang seperti itu. Aku ingat, sebelum paman Lay mendekap di penjara. Dia sempat mengajakku dan Louis bersenang-senang. Yaitu dengan membawaku ke tempat bermain billyard untuk terakhir kalinya. Setelah kami asik melakukan permainan, kita semua merasa lelah. Paman mengambil tiga botol jus jeruk untuk di nikmati bersama. Saat itu paman benar-benar berbicara panjang lebar. Soal ayah yang di nilai sangat mulia baginya. Soal seluruh kebaikan keluargaku pada paman. Dan tentu saja soal cinta butanya pada Tiffany yang jelas-jelas saat itu sudah mengkhianati cinta sucinya. Walaupun dia bukan paman ku, tapi dia tidak memikirkan soal julukan itu. Dia sangat baik, bahkan dia selalu menjaga kami. Berbeda dengan Tiffany kala itu yang bersikap kejam. Kami duduk di lantai bertiga sembari berpangku tangan, paman melontarkan berpotong-potong kalimat dengan tatapan kosong. “ Bagaimana tanggapan kalian soal bibimu? dia keterlaluan bukan?” tanya paman Lay pada kami. “ lebih dari kata keterlaluan, dia itu kejam” ucapku padanya. Paman Lay terkekeh pelan, “ lalu apa pendapat mu soal paman?” tanyanya lagi. “ paman seperti ayah, kau berhati malaikat” celetuk Louis. “ kalau pendapatmu soal perlakuan bibi yang mengkhianati paman?” ucap nya lagi yang seolah masih tak menyangka. “ lebih baik kau meninggalkannya, kau tidak cocok jika bersama bibiku paman” jawabku. “ benarkah? tapi seburuk-buruk nya dia. Tiffany tetap cinta pertamaku. Aku tak tahu, mengapa aku tak bisa membecinya. Melihatnya dengan pria lain, membuatku merasa sedih. Tapi aku pun tak lupa untuk berkaca. Mungkin paman belum bisa membuatnya bahagia” katanya. “ lalu?” celetukku. “ aku masih bisa memaafkannya, itu caraku menghilangkan rasa sakitku. Yaitu degan memaafkan kesalahannya. Tapi aku tak bisa menerimanya lagi, mungkin dengan memaafkan adalah caraku membuat hatiku lega” imbuh paman. “ dan untuk keponakan paman yang baik hati, jika bibimu memerlukan kalian kelak. Tolong untuk selalu membantunya. Bagaimanapun, dia adalah saudari perempuan ayah kalian” ucap paman lalu merangkulku dan Louis. Aku dan Louis hanya bisa menatap kagum paman yang begitu mulia. Dia mampu memberikan maaf pada seseorang yang dicintai bahkan orang yang menyakitinya. Meskipun aku tau, tatapan kosong paman Lay menunjukkan bahwa dia benar-benar menaruh rasa kecewa pada bibi. Dan tatapan kosong itu yang kurasakan pada saat ini. Saat memoriku mengingat ucapan paman Lay di masa lalu, mengapa aku semakin bimbang untuk bisa memaafkan Tiffany. “ aduh sakitnya” desis Louis sambil memegangi daerah tulang selangkanya yang membuatku ku terkejut. Aku dengan spontan menghampiri Louis dan memegangi luka itu. “ orang yang membuatmu begini, aku ku buat seperti ini juga. Bahkan jika perlu akan ku robek k*********a agar merasa sakit” kataku yang sedikit emosi. “ tak perlu, berhadapan dengan preman ingusan itu. Ini hanya sedikit sakit” jawab Louis. “ sebaiknya kau duduk” suruhku pada Louis. Louis duduk di kursi yang tersedia di ruang bermain. Aku kembali berpikir keras untuk mempertimbangkan keputusan itu dengan memainkan jari tanganku ke meja. “ sebenarnya Tiffany membutuhkan banyak uang” ujarku pada Louis yang mengembalikan topik obrolan. Louis kembali menatapku, “ apa dia semiskin itu sekarang?” tanya Louis. “ bukan miskin, dia menjadi p*****r” sahutku. Louis membulatkan matanya dan terbelalak lebar seolah tak percaya perkataanku, “ jalang” desisnya. “ apa aku harus membantunya?” tanyaku. “ karena aku adalah anak paman Lay, dan dia sudah ku anggap sebagai ayah. Aku akan menolong bibi. Bagaimana pun dia bibi kita kan?” jawab Louis. “ ternyata masih banyak orang yang mengasihaninya” lirih Irene. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tengah berjalan, aku tak tahu mengapa ada lagi orang yang datang ke rumah. Padahal hanya dua orang yang mengetahui alamat rumahku. Yaitu Steve dan Louis. Tapi apa jangan-jangan itu Steve yang pagi-pagi buta ini datang? bagaimana jika dia melihat Louis di rumah? apa yang harus ku jadikan alasan? Aku tak sempat menatap ke arah dalam, orang itu tiba-tiba berdiri tepat di hadapanku. Menatapku dan Louis, lalu kami berdua turut menatapnya dengan sedikit sinis. Dia tak bisa melangkahkan kakinya ke hadapanku. Apa dia syok atau semacamnya? tapi dia sama sekali tak bergerak, seolah patung yang hanya diam menatap. “ Irene?” Katanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN