SIAPA PRIA ITU?

1759 Kata
Steve memantapkan dirinya sebelum menemui Irene dan pria yang berbicara dengannya hari ini. Setelah dirasa cukup percaya diri, ia melangkahkan kakinya menghampiri Irene dan Pria itu. “ Baiklah, aku juga akan berbicara dengan pria itu. Lihat saja “ ucapnya melangkahkan kaki. Namun, Steve ternyata tak bisa berkesempatan untuk berbicara dengan pria yang terlihat sangat akrab dengan Irene. Saat langkah Steve sudah mulai mendekat pada mereka, Pria itu meninggalkan Irene dan pergi. Mata Steve menyoroti langkah perginya orang itu, matanya membulat karena kali ini ia gagal untuk mengetahui siapa dia yang dalam hal itu cukup membuat Steve dikelilingi oleh rasa penasaran. Irene pun juga sudah mulai melangkah kan kaki nya pergi masuk menuju kafe, tetapi tangan Steve dengan di sengaja menghalangi Irene yang membuat langkah Irene terhenti. Irene menatap tangan yang menjulur di depan dadanya, seolah tangan itu di sengaja untuk menghentikan langkahnya. Saat matanya di rotasikan ke atas, Disitulah ia paham bahwa tangan itu milik Steve. “ Kau? “ Ujar Irene terkejut. Steve tersenyum tipis di iringi dengan tawanya yang terdengar manis. “ Ada apa? “ Tanya Irene dingin. “ Tak apa, siapa pria yang tadi menemuimu? “ “ Bukan urusanmu! “ Desis Irene. “ Kau masih saja membentakku di saat aku sedang marah ya” ucap Steve dengan nada rendah. “ Kau marah? “ “ iya, pria itu menyakiti perasaanku “ “ Berhenti bersikap manja, aku tidak akan membelaimu “ Jelas Irene. “ Baiklah, aku tetap tak apa-apa. Jika kau tak bisa membelaiku, aku yang akan membelaimu “ sahut Steve dengan nada yang lebih lembut melebihi sutra. Steve menjulurkan tangannya ke atas rambut Irene, dia membelainya dengan sangat manis. Senyum di bibirnya kembali pasang, beberapa kali tangannya mengusap rambut halus Irene bahkan tak berhenti mengusapnya. “ Hei bocah, tak bisakah kau berhenti mengusap kepalaku? “ Seru Irene. “ Bekerjalah dengan baik, dan jangan membuat kekacauan. Semangat “ ujarnya menghentikan belaian dan mengepalkan tangannya sembari mengatakan kata semangat. “ Tunggu sebentar, aku akan mengambil sesuatu dahulu “ lanjutnya. Steve pergi masuk ke mobil dan mengambil Bucket serta Minuman bersoda untuk Irene. Ia berlari menghampiri Irene dan memberikan semua buah tangan itu padanya. “ Bunga untukmu, dan minuman bersoda. Makan dan minumlah dengan baik Irene, jangan sampai mengkhawatirkan ku “ ungkapnya lagi layaknya seorang kekasih Steve menepuk pundak Irene dan pergi meninggalkannya. Mobil sportnya melaju hingga bayangannya sudah tak nampak lagi di mata Irene. “ Pria itu benar-benar membuat jijik “ ucap Irene sambil menatap bunga yang Steve berikan dengan senyum tipisnya. *** Steve memegangi dahinya sambil menyetir mobil dengan laju sedang. Otak kecilnya terus saja memikirkan soal pria yang sedari tadi menemui Irene. Telapak tangannya terus mengusap-usap matanya berkali-kali seperti orang yang sedang hilang akal. Ia mendengus kesal dan mulai menggigit jarinya tanda curiga. “ Siapa pria itu? Itu benar-benar membuatku gundah “ “ Tapi irene? Dia hanya diam saat pria itu menyentuh bibirnya. Ahh menyebalkan “ “ Saat aku ingin menciumnya saja, dia menyuruhku untuk menjadi laki-laki sejati. Dia memberiku harapan, tapi dia bersama pria lain di belakangku “ Oceh Steve terus menerus, Tiba-tiba seseorang menyebrang dan Steve hampir saja menabrak seorang wanita yang sedang melintas sambil membawa beberapa paperbag, seperti seseorang yang tengah pulang dari pusat perbelanjaan. Wanita itu terkejut dan tak bisa berhenti menutup mulutnya karena kaget. Seketika Steve turun dan keluar dari mobil untuk meminta maaf karena dirinya lalai dalam berkendara. “ Maaf, anda tidak apa-apa? “ Tanya Steve. “ emm..i-iya nak saya tidak apa-apa “ jawabnya terbata-bata. “ Maafkan saya, saya merasa bersalah “ Balas Steve sambil membungkukkan badannya. “ Tidak, saya pun juga salah “ ucapnya. “ Jika ada waktu, sebagai permintaan maaf. Saya akan mengantar bibi ke rumah “ “ Tidak perlu, saya bisa jalan kaki. Siapa namamu nak? “ Tanya orang itu. “ Saya Steve, bagaimana dengan anda? “ Jawab Steve menjabatkan tangannya “ Saya Tiffany “ “ Baiklah bi, sebagai tanda maaf saya ingin mentraktir bibi makan malam “ “ Ahh, iya boleh saja. Jika kita bertemu lagi yaa.” Kata bibi Tiffany tersenyum tipis. Steve dengan tulus membalas senyuman tersebut kembali. Suara klakson mobil mulai menjerit karena Steve menghalangi Mobil di belakangnya yang hendak melaju. Ia pun segera kembali dan melanjutkan perjalanan ke arah pulang. *** Siang telah berganti menjadi senja, Burung-burung telah kembali ke sarangnya. Irene pun usai menyelesaikan pekerjaannya, setelah sepulang dari bekerja ia pergi menemui Vincent di tempat tinggalnya. Setibanya di rumah Vincent, tak ada sama sekali seseorang yang menjawab teriakan dari Irene. Rumah itu tampak kosong, tak ada jejak mobil Vincent sama sekali tak terlihat dari arah luar. Untuk memastikan tentang keberadaan Vincent, Irene membobol pintu rumah Vincent dan menyusup masuk ke dalamnya. Benar saja, tak ada seluk beluk keberadaan Vincent di rumahnya. “ Halo, kau ada dimana. Mengapa kau lama sekali menjawab teleponku hah? “ Sentak Irene pada Vincent lewat telepon. “ Kau dimana? “ “ Aku di rumahmu, kau dimana cepat jawab “ “ Apartemen brownsugar kamar nomor 301 “ Irene menutup telepon dan langsung berlari pergi ke arah tujuan. Tak lama kemudian, langkah nya akhirnya sampai di depan gedung apartemen yang mencakar langit tersebut. Irene mengetuk pintu kamar yang di yakini kamar 301. Vincent membukanya dari dalam, dan mereka mulai membicarakan sesuatu kendati meneguk beberapa botol Wine. “ Kau menemui Zacklee kan? “ Kata Irene membuka obrolan. Vincent mengangguk. “ dia benar-benar kesal karena aku mempunyai salinan Video itu “ “ Baguslah, aku sudah tak sabar melihatnya hancur secara perlahan-lahan “ ujar Irene. “ Tapi dia mempunyai banyak yayasan dan perusahaan. Percuma saya kau ingin menghancurkan ekonominya “ “ Harta itu tak selamanya akan bertahan, lihat saja nanti. Kau dapatkan yayasan itu secepatnya “ “ Kau membutuhkannya sekarang? “ Tanya Vincent. “ Dapatkanlah, setidaknya aku tidak perlu bekerja paruh waktu lagi dan bertemu banyak manusia kan? “ Vincent kembali mengangguk dan mematuhi perintah Irene. “ Tenang saja, yayasan itu akan menjadi milik kita berdua “ “ Ya baiklah “ *** Sepertinya hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Louis, semalaman begadang menikmati kehidupannya di Club malam. Kini ia mulai tertidur di atas sofa dengan dengkurannya. Irene yang sudah sampai di rumah pada malam hari itu terkejut melihat Louis yang sepertinya nampak kelelahan. Tetapi tangannya tetap kukuh untuk mengambil segelas air dan mengguyurkannya pada Louis. “ Bagaimana tidurmu? Sudah puas? “ Tanya Irene sambil mengambil rokok Louis yang tersedia di atas meja. “ Kau benar-benar menyebalkan ya “ jawab Louis mengusap-usap wajahnya yang sudah basah. “ jangan menemui Zacklee selama beberapa hari kedepan, jangan mengangkat teleponnya. Menghilanglah untuk sementara “ “ Bagaimana bisa? Kau yang menyuruhku bekerja, kau sendiri yang memberhentikanku “ “ Aku ingin duduk santai Louis, aku ingin membeli rumah baru lagi. Jadi menghilanglah sampai Zacklee bingung dan memberikan yayasan Oxford itu pada Vincent “ “ Yayasan oxford? Rumah sakit terkenal itu? “ Irene mengiyakan pertanyaan adiknya. “ Tapi bagaimana bisa kau akan mendapatkan yayasan itu? “ Pikir Louis yang merasa kebingungan. “ Aku membagikan salinan video di ponselku ke ponsel Vincent. Dia mengancamnya dengan itu “ “ Irene, jangan terlalu memercayai Vincent. Dugaanku tidak terlalu kuat soal dia. Dia bisa jadi adalah pengkhianat “ “ Lihat saja jika dia benar benar mengkhianati ku, bukan hanya Zacklee yang akan kuhancurkan. Bahkan 2 Video itu akan kujadikan senjata untuk membuat Vincent dan Zacklee tumbang.” “ Baiklah, sepertinya video itu banyak memberi peluang untuk kita. Dan sekarang aku mulai memiliki rencana lagi Irene “ “ Apa itu? “ Louis mendekatkan bibirnya ke arah telinga Irene dan membisikkan suatu rencana yang akan membuat kakak beradik itu berada di ambang keuntungan. Irene pun mengangguk-angguk dan menyetujui rencana cerdik yang di susun oleh adiknya. Pluk “ Suara apa itu? “ Ujar Irene terkejut. “ Sepertinya dari dekat danau “ jawab Louis. Mereka mengendap-endap mencari dasar suara yang di curigai mereka. Darimana suara itu berasal? Rupanya suara itu datang dari Danau, momen itu terjadi lagi. Steve berada di atas pohon sambil melempari beberapa batu, seperti kala itu, waktu pertama kali berjumpa dengan Irene. “ Bocah itu “ desis Irene. “ Kau mengenalinya kak? “ Irene mengangguk, dan melangkah pergi menghampiri Steve yang sedang memangkir di atas pohon. Kepala Irene di dongakkannya ke atas dan memanggil nama Steve. “ Hei, Kau masih berkeliaran di malam hari ya “ teriak Irene. Steve menunduk ke arah bawah, matanya membulat dengan perasaan tak menyangka bahwa malam ini ia akan bertemu dengan Irene lagi. Tapi saat ini perasaanya masih sedikit gusar karena hal itu. Ia memilih mengabaikan Irene dan terus melempari beberapa batu yang di bawanya ke atas pohon. Irene menjadi sedikit kesal dan dengan nekat memanjat pohon tua itu lalu duduk di dahan tepat di samping Steve. “ Ada apa menghampiri? Mengapa kau tidak bersenang-senang saja dengan kekasihmu? “ Sindir Steve cemburu “ Apa- apaa...” “ Bukankah pria itu menyentuh bibirmu dan kau hanya diam saja. Mengapa di saat aku ingin menciummu kau menghindar “ “ Hei kau ini menga..” “ Apa karena aku bukan laki-laki sejati kau menjauhiku? Hemm..kau membuatku gusar “ Irene menutup bibir Steve dengan keras karena sedari tadi Steve memotong perkataannya. “ Tak bisakah kau berhenti bicara? Mengapa kau menjadi susah hanya karena pria itu? Kau ini benar-benar bikin kesal “ sentak Irene Steve melepas tangan Irene yang menutup mulutnya dan berbicara dengan tatapan tajam. “ Lalu siapa pria itu? “ “ Dia hanya rekan kerjaku “ “ Lalu kenapa kau tidak mau jika aku menciummu? “ “ b*****h ini, rupanya hanya wajahnya yang sangat lugu. Tetapi dia ingin menciumku. Aku bosan dengan pria ini “ gumam hati Irene sambil menatap sepasang mata Steve “ Kau bicara a...” “ Jika pria itu boleh menyentuhmu, aku juga ingin menciummu “ sahut Steve “ Menyebalkan, tapi aku sudah berjanji pada Louis untuk membuat pria ini jatuh cinta.” Spontan Irene mengarahkan kepalanya mendekat, Steve berpikir bahwa mereka akan berciuman melalui bibir. Tetapi Irene, hanya mengecup dahi Steve selama beberapa detik. “ Kali ini aku semakin membencimu, dasar bocah “ kata hati Irene semakin menjadi-jadi. “ Berbahagialah “ ucap Irene. Bibir Steve yang semula cemberut berubah menjadi Cerah dan memasang senyumnya lebar-lebar. Wajahnya menjadi bersemu merah dan tangannya menjadi hangat. “ Terimakasih “ ujar Steve. Di sisi lain, seorang adik menyenderkan kepalanya ke pagar rumahnya sembari menekuk kaki kirinya dan kedua tangannya. menyaksikan drama percintaan yang terjadi di dahan pohon antara kakaknya dan pria yang sama sekali tidak di kenalinya. “ selama aku menonton Drama di televisi ku, aku tak sama sekali melihat adegan ciuman di atas dahan pohon. Ini sama sekali tidak romantis.“ kata Louis yang menggeliatkan badannya karena merasa geli. “ MENJIJIKKAN “ tambahnya lagi yang kemudian pergi meninggalkan Irene berdua dengan Steve.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN