BIBIKU p*****r

2005 Kata
Cplas Zacklee membuang jas nya ke lantai dengan keras, Takdir tak pernah memihaknya belum lama ini. Tanda- tanda bahwa dirinya akan di timpa kesialan semakin dekat. Wajahnya terus memerah tak kunjung henti. Otaknya sibuk memikirkan seribu satu cara untuk membungkam mulut Vincent. Sesekali ia membuang nafas beratnya sembari mengumpat kata-kata kasar. Lalu tangannya yang tak bisa diam untuk terus bergerak menelpon seluruh para pengawalnya untuk melawan kakak tirinya itu. “ Hah...keparat itu benar-benar menyusahkanku “ Ucapnya mendengus kesal. Ny. Zoe merasa tersentak dan masuk ke kamarnya guna mencari tahu penyebab suaminya marah besar. “ Tak bisa kah kau sedikit tenang? “ Katanya menggerutu. “ Jika kau tidak ingin aku membentakmu, sebaiknya kau keluar “ jawabnya. Ny. Zoe keluar dari kamarnya, membiarkan suaminya sendirian. Wajahnya sangat mudah sekali di tebak. Ia tengah gundah dan sedikit emosional hari ini. *** Kini mentari menyambut lagi, udara segar masuk di sertai dengan hawa dingin yang membuat bulu kuduk Irene merinding. Matanya di paksa untuk terbuka, dan alhasil ia pun segera menyelesaikan rutinitasnya. Hari minggu, semua orang sibuk lalu lalang. Menikmati akhir pekannya sembari berkeliling taman kota dan sebagian juga berlibur bersama pasangannya. Tapi tidak dengan Irene, hari ini adalah hari khusus ia bekerja di bar club malam seperti biasanya. “ Melihat manusia-manusia ini bergandengan, membuatku sakit mata “ ujar Irene. Di sisi lain, Steve memandangi kalender di kamarnya. Di mana hari minggu di tiap kalendernya selalu di lingkari dengan warna merah sebagai pengingat bahwa dambaannya bekerja di Club malam. “ Irene, Gadis kejam..aku akan mendatangimu.” Beberapa pria dan wanita terus berdatangan, silih berganti sambil mencari-cari tempat duduk untuk di singgahi. Dan tak lupa pula, seseorang yang masih familiar di benak Irene, walau ia telah memutuskan tali persaudaraan dengannya datang juga di club hari ini. “ P*lacur itu datang lagi “ pikirnya. Bibinya menatap Irene dan terus menatapnya. Namun, Irene membuang mukanya yang tak sudi menatap wanita yang dahulu pernah menyiksanya seperti b***k itu. Hari ini masih pagi sekali, memang tak terlalu ramai orang-orang menikmati Club pada pagi ini. Bukankah hal-hal yang menyenangkan memang lebih menarik di lakukan di malam hari? “ Hai gadis cantik, boleh ku tanya sesuatu? “ Tanya seorang lelaki tua berjenggot pada Irene . Dan dia hanya menatapnya saja. “ Emmm begini, apa kau tau dimana wanita jalang yang biasa menjadi penari tiang di club ini? “ Tanyanya lagi sambil berdehem “ Dia sedang berada di kamar bar “ kata Irene “ Dimana biasanya dia memesan kamar? “ “ Ayo biar ku antar” Irene mengantarkan pria berjenggot dengan penampilan necis itu ke kamar yang biasa bibinya pesan. Tiffany terlihat tengah merapikan sesuatu, sesuatu seperti baju yang biasa di gunakan untuk malam pertama. “ Permisi nona, dia mencarimu” ucap Irene seolah ia tak mengenalinya. Tiffany menatap Irene dan menatap sang Pria. “ Baiklah tuan, ini dia penari tiang yang biasa melayani pria di bar ini. Selamat menikmati” Ujar Irene berusaha menyindir. Irene kemudian merotasikan matanya pada sang bibi. Menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian, lalu dia membuang muka dan membalikkan badannya untuk keluar dari kamar. *** Zacklee memantapkan dirinya untuk menelpon Vincent. Salah satu cara yang ada di benaknya kali ini adalah berdiskusi hersama Vincent dengan kepala dingin dan secara kekeluargaan. “ Aku tidak ingin basa-basi, bisakah kita bertemu hari ini? “ Kata Zacklee membuka obrolan. Di seberang, Vincent tertawa pelan diiringi dengan Smirk khasnya. “ Kau ingin menemuiku? “ “ Ya, kita luangkan waktu untuk mengobrol secara sehat sore ini “ Vincent berjalan menjauhi kerumunan karyawannya yang tengah hendak pergi ke kantin kantor untuk sarapan. “ Bagaimana, aku tidak dengar “ sahut Vincent. “ Aku bilang, aku ingin mengobrol denganmu secara sehat sore ini. Kau dengar? “ Lanjut Zacklee dengan nada yang di naikkan. Vincent mendengus pelan, berjalan ke arah ruangannya. “ Tentu saja, aku akan menemuimu. Haha “ jawabnya. Zacklee terdiam dan langsung menutup teleponnya di seberang. Pikirannya sedang kacau dan tak menentu. Entah cara apa lagi yang harus ia lakukan untuk membuat kepala Vincent menunduk. “ Ahh aku benci k*****t itu “ gerutunya lagi sembari membanting beberapa barang yang di pegangnya. *** Hari minggu adalah hari yang paling di idam-idamkan seluruh umat. Karena di hari ini semua orang bisa tenang tanpa memikirkan beban yang ada di pikirannya. Dan tentu saja, ini berlaku untuk seorang pengangguran yang selalu menantikannya. Ya, itulah Louis. Padahal setiap hari baginya seperti hari minggu. Yang selalu membuat rilex dan menenangkan pikirannya walau tak ada beban sama sekali di kehidupannya. Karena kakaknya hanya ingin Louis hidup dengan tenang. Ia menggeliat di atas tempat tidurnya, lalu mengangkat tangannya ke atas untuk relaksasi sebangun tidur. Mulutnya menguap, dan sekarang ia tak perlu memikirkan soal Zacklee lagi. “ Irene sudah pergi? “ Katanya mencari-cari keberadaan Irene yang di mulai dari ruang tamu hingga kamar kakaknya. Tiba-tiba suara ponsel Louis dari kamarnya bergeming, membuat kepala Louis yang sibuk celingak-celinguk di rotasikan ke arah kamarnya. “ Zacklee? k*****t ini “ seru nya yang melotot ke arah ponselnya. Tetapi ia teringat sekali, saat tadi malam Irene menyuruhnya untuk menjauhi Zacklee untuk mempermudah aksi. Dengan spontan, Louis mematikan ponselnya agar Zacklee tak sering menelponnya. “ Aku harap kau kebingungan mencari cara, bersenang-senanglah dengan pengawal naifmu. Cuih “ Tok tok tok Selang beberapa waktu kemudian, seseorang tampak mengetuk pintu dari arah luar. Louis mengintip dari jendela, tampaknya seorang wanita muda yang di duga sebaya dengannya. “ siapa yang kau cari? “ Tanya Louis sembari membuka pintu. “ Hai, aku Adrianna. Rekan kerja Irene “ jawabnya menjulurkan tangan. “ Tidak, dia tidak sedang di rumah. Jika kau tak ada perlu lagi, silahkan pergi “ “ Eumm, aku hanya ingin mengajaknya jalan-jalan. Tapi jika dia sibuk, yasudah aku permisi. “ Jawabnya. Louis menutup pintu tanpa mengiyakan jawaban dari Adrianna. Sesuatu yang muncul di benak nya adalah sejak kapan kakaknya akrab dengan manusia, dan bagaimana orang itu bisa mengetahui Alamat rumah Irene. Karena selama ini Louis tahu betul, bahwa kakaknya sangat anti sosial. Bagaimana ia bisa memberi alamat pada seseorang sedang dirinya segan berbicara dengan orang lain. *** Cahaya Orange menghiasi seluruh kota dengan senjanya yang hadir dan bersinar semakin terang, semua orang yang asik berjalan-jalan kini mulai pergi sedikit demi sedikit. Beberapa orang meninggalkan taman kota karena malam hampir menjelang. Dua tiang yang sama-sama kuat dan angkuhnya, merencakan pertemuan pada sore ini. Zacklee dan Vincent, bersiap untuk pergi ke tempat tujuan. Mereka sama-sama memantapkan diri untuk bertemu satu sama lain. Vincent akhirnya tiba di Restoran mewah yang di pilih langsung olehnya. Zacklee duduk dengan tegap sembari melipat kakinya dan menggoyang-goyangkan gelasnya yang berisi minuman. “ Kau berangkat awal sekali Zacklee “ sapa Vincent sok ramah. “ berbicara perihal masalahmu soal yayasan Oxford, sepertinya aku merasa keberatan” ucap Zacklee to the point. Vincent memposisikan dirinya duduk di hadapan Zacklee sembari mengambil gelas yang tersedia di depannya. “ Mengapa kau keberatan? Apa yang memberatkanmu? “ “ Aku sama sekali tidak menyukai seseorang yang mengambil alih yayasanku secara paksa. Vincent, jika kau bermental baja. Bangunlah yayasanmu sendiri tanpa merampas apa yang menjadi milik orang lain punya “ “ Hehehehe..sejak kapan kau berbicara seolah-olah kau adalah pembisnis yang membangun dengan cara yang bersih? Zacklee..apa kau pernah mencuci otakmu hingga kau lupa bahwa kau mendapat perusahaan itu karena kau membunuh ayahmu sendiri? Apa itu bukan merampas? “ Sahut Vincent yang membuat Zacklee diam mematung. “ Aku kesini ingin memberimu penawaran lain “ ujarnya. “ Aku ingin menawarkanmu beberapa yayasanku yang lain, yayasan Ordo Escape. “ Tambah Zacklee. “ Hahahah, kau fikir aku bodoh? Yayasanmu yang sama sekali tak maju itu? tidak aku tidak mau “ jawab Vincent tertawa lepas, “ Yayasan Ordo escape itu adalah yayasan yang kau bangun sendiri. Pantas jika itu tak pernah maju, karena letaknya yang tidak Strategis dan kau yang tak bisa mengelola yayasan karena otakmu dangkal” Ketus Vincent “ hmm..aku membawa berkas persetujuan. Aku harap kau menandatangi ini ya “ lanjutnya sambil meminum segelas minuman dengan gayanya. Zacklee menatap berkas yang di lempar oleh Vincent ke arahnya, ia membuka berkas itu sambil menahan amarah. Sesekali ia ingin menendang wajah Vincent, tapi ia ingat bahwa ia harus bersikap sopan untuk membuat kakak tirinya luluh. “ Kau bisa meminta yayasan lain, atau bekerja sama denganku untuk meraih keuntungan. Bukankah itu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini? “ Ujar Zacklee di sertai dengan tawa kecilnya yang di paksakan. Vincent menaikkan alis kanannya, ia berdehem dan berkata, “ aku tidak menginginkan yayasan lain, Oxford tetap dambaanku. “ “ Ahh sial, aku tak punya banyak waktu. Waktu tersisa 2 hari lagi, pasti kau bisa mempertimbangkan dengan matang. Selamat mempertimbangkan keputusanmu Zacklee haha “ imbuhnya lagi sembari menepuk pundak Zacklee. “ Sialan, dasar b*****h” sentak Zacklee seraya membanting kertas persetujuan Vincent keluar dari tempat duduknya dan pergj meninggalkan Restorant. Zacklee menyoroti Vincent hingga bayangannya pun tak kelihatan lagi. Ia menggingit bibir bawahnya yang menandakan bahwa ia semakin merasa kebingungan. Lalu, ia melayangkan tangannya dan memukul meja dengan keras, Sontak membuat pengawal yang berdiri di sampingnya terkejut. “ Kau, cari Louis sekarang. Cepat “ Sentak Zacklee pada pengawal nya. *** Menjadi barista wanita memang bukanlah hal yang mudah, beberapa kali para pria menatapku yang selalu bisa membuat semua mata terpesona. Dan tak sedikit pula para lelaki yang ingin mengajakku bercinta di sebuah hotel. Ahhh, meskipun aku memiliki kesulitan ekonomi, tapi aku bukanlah wanita murah yang bercita-cita ingin menjadi kupu-kupu malam. Berbeda dengan bibiku yang kini sibuk menari-nari di tiang dan dikelilingi oleh kerumunan lelaki hidung belang untuk bertahan hidup. Semua orang malam ini tampak menikmati alunan musik hiphop yang di putar oleh disk jockey bar. Beberapa lainnya sudah mabuk dan masuk ke area kamar di susul dengan beberapa wanita. Lalu, tak disangka lagi bocah cecunguk yang semalam di beri sekecup ciuman datang mengagetkanku. “ Yang benar saja “ ucapku kaget. “ Kau terkejut? Aku menemuimu? “ “ Ada apa lagi? “ “ Tidak, aku hanya ingin menemanimu bekerja “ “ Tapi aku bukan anak kecil, pulanglah. Area ini tidak baik untukmu “ “ Tak apa, aku akan duduk disana dan menunggumu “ “ Kau bukan pacarku, tapi kau terus mengangguku. Kau ingin mati? “ Ketusku dengan logat dingin. “ Jika aku mati setelah menjadi pacarmu, aku ikhlas “ jawabnya. Steve melangkahkan kakinya pergi dan duduk di sofa yang tersedia di bar tempatku bekerja. Tiba-tiba musik berhenti pertanda bibiku telah selesai menyelesaikan tariannya. Kemudian, ia dengan sangat berani duduk di hadapanku dan bertanya soal kabar. “ Bagaimana kabarmu? “ Katanya pelan. “ Baik “ “ Lalu adikmu? “ “ Baik “ “ Sampai kapan kau akan seperti itu pada bibimu? “ Aku menaruh gelas yang kupegang ke meja bar, dan aku duduk di hadapannya. “ Mengapa kau peduli, bukankah aku sudah bilang untuk mengurus hidup masing-masing. Lagipula aku malu mempunyai kerabat yang bekerja menjadi p*****r seperti dirimu “ kataku menegaskan. “ meminta maaf terbaik adalah dengan merubah sikap. Aku akan mencoba untuk mengubah sikapku menjadi baik terhadapmu. Tak apa...kau belum menerima aku sebagai bibimu. “ Ucap bibiku yang kemudian ingin mengusap kepalaku. “ Berhenti, jangan mengarahkan tanganmu ke arahku. Lebih baik kau layangkan saja tanganku ke arah pakaianmu yang terbuka. Kau seperti sedang telanjang! “ Tiffany menurunkan tangannya dan menutup bajunya yang tampak terbuka. Steve datang mencoba mencari tau tentang apa yang terjadi kepadaku. “ Irene, kau tidak apa? “ tanyanya. Steve melirik bibiku, dan sesuatu yang tak ku duga terjadi. Mereka saling kenal dan saling bertegur sapa. “ Bibi Tiffany, kau sedang disini? “ Tanya lagi Steve sambil memberikan senyum manisnya. “ Ya, kau sedang apa kesini? “ “ Ahh, saya hanya ingin menemani Irene. Bibi kenal dengan teman saya? “ “ Iya, dia adalah kepona...” “ Tidak, dia p*****r disini. Aku tidak mengenalnya “ celetukku memotong pembicaraan membuat Steve kebingungan. “ Pe-p*****r? “ Tanya lagi Steve. Bibiku diam membeku, setelah ku keluarkan kata-kata frontal untuk dirinya. Bahkan Steve pun terkejut dan terbata-bata seolah-olah ia tak menyangka bahwa wanita yang dikenalinya bekerja keras menjadi seorang wanita dengan harga diri rendah. Dan, setelah Steve ingin memastikan omonganku. Bibiku pergi meninggalkan kami berdua tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku pun pergi kembali menyelesaikan pekerjaanku. Yang tersisa hanyalah Steve dengan rasa kebingungan nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN