Hanya dalam hitungan jam lagi, Zacklee harus memberikan keputusannya atas yayasan yang belum lama ini di idam-idamkan oleh kakaknya.
Yayasan Oxford, sebuah Rumah sakit besar. Terletak di pusat kota, rumah sakit dengan fasilitas terjamin dan seluruh masyarakat mempercayakan rumah sakit ini. Tak heran, jika penghasilan yang di peroleh mencapai angka fantastis.
Bagaimana rasanya kehilangan aset berharga? Seperti itulah yang di rasakan oleh Zacklee di pagi buta ini. Salah satu aset berharganya akan jatuh ke tangan rival dengan mudah hanya dengan satu video.
Vincent morgant, seorang rival yang selama ini di kenal sebagai kakak tirinya. Sama-sama penikmat kekayaaan, pengejar kekuasaan dan segalanya. Inilah mengapa, dari dulu mereka telah memutuskan tali persaudaraan.
Ya... Karena mereka saling memperebutkan perusahaan besar yang saat ini berada di bawah kendali Zacklee.
Lalu Louis, yang selama 2 hari ini menghilang tanpa kabar. Salah satu pengawal magang Zacklee yang cukup pintar berbeda dari pengawal lainnya yang naif tak berakal. Hanya satu di antara berpuluh-Puluh pengawal yang memang handal.
Tangannya tak henti-hentinya menelpon Louis hingga akhirnya ia membanting ponsel nya karena jenuh.
“ Kenapa bocah sialan ini? “ Teriak Zacklee sambil memegangi kepalanya yang pening.
Zacklee merasa bodoh, karena tak bisa berkutik. Ingin membunuh Vincent pun ia tak tau caranya. Apa ada mata-mata di kantornya? Entahlah ia pun tak tau.
Beberapa lama kemudian, pintu ruangannya tiba-tiba di buka. Vincent muncul di iringi dengan senyum dengan gigi rapinya yang timbul. Wajah sumringah di ukir, pertanda bahwa ia sangat bahagia melihat adiknya tak bisa melakukan apa-apa.
Zacklee menatap Vincent kesal, tangannya kian mengepal. Dan disisi lain, Vincent mengitari Zacklee sambil membicarakan soal berkas persetujuannya.
“ Bagaimana kabarmu adik, apa kau sudah siap memberikan yayasan itu hemm? “ Ucapnya mengusap baju Zacklee memancing emosi.
Zacklee menahan napasnya,” tak bisa kah, kau berhenti memerasku b******n? “
“Hahahahahah, kau sangat mudah terpancing. Pagi ini aku ingin meminta keputusanmu. Cepat berikan yayasan itu, aku sudah membicarakan soal Video itu pada karyawan kepercayaanku. “
Zacklee tak bisa menahan amarahnya lagi, tangannya yang mengepal memukul dan meninju pipi Vincent beberapa kali. Hasil yang di peroleh adalah, Pipi Vincent yang kini di penuhi dengan bekas lebam berwarna ungu dan darah yang keluar lewat hidungnya.
“ Bukan kah aku sudah memperingatimu, untuk tidak bermain-main denganku? Kau k*****t, hanya bisa merampas apa yang menjadi aset orang lain. “ Teriak Zacklee sambil menarik baju Vincent.
Vincent meraba pipinya yang kesakitan. Sesakit-sakitnya luka itu, ia masih bisa tertawa kecil untuk mengejek adiknya.
“ Aku ingin melihat bagaimana kau membunuhku, aku sudah menunggu hari-hari bagaimana aku ingin melihatmu kesal. Kau...kau dalam situasi genting. Dan aku sangat menyukainya “
“ Seharusnya aku yang memperingatimu untuk tidak bermain-main denganku. Jika kau ingin membunuhku. Coba saja! Aku tidak bodoh, aku masih memiliki tangan kanan yang akan menghancurkanmu “ imbuh Vincent.
Zacklee mendorong Vincent ke dinding, “ seharusnya aku memang membunuhmu dari dulu “
Vincent akhirnya bertindak, dan satu ruangan itu terisi penuh oleh pertengkaran. Ia membalas dengan mendorong Zacklee ke dinding dan mencekik lehernya.
“ Aku menunggu keputusanmu malam ini, dan sekali lagi, jangan pernah berusaha membunuhku. Aku tidak main-main soal ini “ kata Vincent menitik tekankan pernyataan tegasnya.
Vincent pergi dari hadapan Zacklee setelah membuang wajah Zacklee dengan keras, dan keluar dari ruangan Zacklee dengan membanting Pintu.
***
Aku sibuk berkutat dengan para pelanggan yang sedari tadi mengantre di hadapanku untuk memesan Bubble tea legendaris ini. Seusai aku berkutat, aku menghela napasku dalam-dalam karena kelelahan.
Entah sampai kapan, aku akan seperti ini. Namun yang pasti, ini akan menjadi hari terakhirku bekerja part time di kedai. Karena aku yakin bahwa yayasan itu lambat laun akan jatuh ke tanganku juga.
Seseorang menepuk pundakku dengan pelan. Salah satu rekan kerjaku, bernama Adrianna tiba-tiba menyapaku dengan hangat. Ada apa ini? Dia tak seperti biasanya.
Gadis cupu dengan kacamata bulatnya melambaikan tangan kearahku, lalu ia mencoba memberikan senyuman untukku.
Tak satupun orang berani menyapa, bahkan pegawai kedaipun tak enak hati untuk menatapku. Karena memang aku keras dan anti sosial, bahkan aku tidak pernah mau berteman dengan seseorang.
“ Hai Irene, jika kau ada waktu bisakah kita menghabiskan waktu bersama? “ Ucapnya.
Dan aku pribadi, hanya bisa menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Menyebalkan, dan cukup membuatku risih.
“ Tidak “
“ Tak apa, aku hanya ingin berteman denganmu. Tapi jika kau sibuk mungkin lain kali “ jawabnya dengan lembut.
Kau pikir aku siapa? Bisa tidak curiga dengan seseorang yang tiba-tiba memberanikan diri untuk dekat denganku. Bahkan dia saja gadi cupu dan lugu.
Aku meninggalkannya tanpa mengiyakan perkataannya. Tak ada waktu untukku basa basi dengan orang lain. Apalagi, harus menghabiskan waktu bersama. Membayangkannya saja aku enggan.
***
Louis pergi berlari ke arah toko besar untuk membeli makanan. Sepulangnya dari toko, matanya melihat beberapa pengawal Zacklee yang tengah mencari-cari sesuatu.
Dalam benaknya, Louis merasa percaya bahwa pengawal-pengawal itu ingin mencari keberadaan Louis karena Zacklee membutuhkan nya.
Dan sepasang mata dari pengawal Zacklee tak sengaja menemukan keberadaan Louis. Louis segera lari dan menutup kepalanya dengan tudung jaket yang di kenakannnya.
Pengawal Zacklee terus mengejar, dan Louis pun tak kalah cepat untuk melarikan diri. Beberapa gang ia lewati, bahkan ia nekad melompat pagar agar terhindar dari pengawal berengsek itu.
Kakinya terhenti karena nafasnya tak kuat lagi untuk lari sejauh mungkin. Ia membuang nafas beratnya dan menekuk kakinya saat sedang bersembunyi.
“ Ahhhh....berengsek, pengawal itu menemukanku. Sudah ku duga mereka mencariku “ kata Louis dengan nafasnya yang engap.
Beberapa pengawal lainnya pergi melewati Louis, tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan Louis. Yaa..dia sangat lihai bersembunyi.
Mata Louis mengintip, memeriksa kemana langkah pengawal-pengawal naif itu. Tangannya memegangi dadannya yang rasanya hampir meledak sambil mengontrol nafasnya yang hampir hilang.
***
“ Temui aku pukul 12 malam. Di kantor, aku akan menunggumu “
Suara ponsel tuan Vincent berbunyi, itu adalah pesan dari Zacklee. Malam ini adalah malam Puncak. Malam dimana, Vincent akan mendapatkan kemenangan.
Beberapa kali ia berfikir sangat beruntung menemukan rekan kerja sepintar dan secerdik Irene. Baginya ini seperti simbiosis mutualisme, kedua pihak sama-sama diuntungkan dan mereka sama-sama memperoleh kemenangan.
“ Bocah itu, sangat ahli menyusun strategi “ gumamnya pelan.
Barisan giginya kembali timbul bersamaan dengan suara tawanya yang terkekeh tak sabar menanti aset berharga Zacklee yang akan jatuh ke tangannya.
Vincent menelpon Irene untuk bersiap-siap malam ini.
“ Halo, kau dimana? “
“ Aku sedang bekerja, ada apa? “
“ Zacklee memintaku untuk datang tengah malam nanti “
“ Ya, malam ini aku akan ke rumahmu “ Vincent mengangguk tanda memahami perkataan Irene.
***
Pengawal-pengawal Zacklee masuk ke ruangan untuk memberikan informasi seputar Louis. Mereka membungkukkan badan sebagai salam dan berdiri sembari mengepalkan kedua tangan di bawah perutnya.
“ Kami minta maaf tuan, kami tidak bisa menemukan Louis “
“ Kami sempat menemukan dimana Louis, tapi dia melarikan diri” imbuhnya.
“ Kau sudah mengejarnya?”
“ Iya tuan, tapi kami tidak berhasil”
Amarah Zacklee kembali datang, dan ia dengan ringan menampar para pengawal-pengawal itu hingga suara tamparannya memenuhi seisi ruangan.
“ Keluar! “ Sentak Zacklee.
Kepala Zacklee gemetar, tak sudi rasanya memberikan satu aset berharganya. Amarahnya tak lagi bisa di kontrol hingga rencana itu datang.
***
Malam ini cukup sunyi, tak ada lagi suara kendaraan melewati kota. Semua lampu di rumah orang lain di padamkan, hanya lampu-lampu jalan yang hidup dan menghiasi kota metropolitan.
Tak ada lagi orang-orang yang lalu lalang, hanya satu atau dua orang terlihat sudah pulang dari pekerjaannya dalam keadaan mabuk sempoyongan.
Pukul 00.00 tengah malam, seperti apa yang di janjikan oleh Zacklee ia akan menemui Vincent morgant di malam yang gelap ini. Vincent dengan mantap menapakkan kakinya ke arah kantor Zacklee.
Tidak ada seseorangpun yang masih hadir di kantornya. Semua lampu gemerlap, dan itupun terjadi di ruangan Zacklee. Tetapi Vincent tetap melangkahkan kakinya walau sepertinya momen ini terasa ganjil dan aneh baginya.
“ Jadi benar, dia menemuiku disaat gelap begini ya? “ Ujarnya
Vincent siap untuk menemui Zacklee, ia telah tiba di depan ruangan Zacklee yang tak terang lagi. Lampu di ruangan Zacklee di matikan, namun Vincent nekad untuk membukanya.
Tangan Vincent sedikit gemetar untuk membuka Pintu ruangan Zacklee, tetapi langkahnya terus maju untuk menghadap pada Zacklee. Ingat! Zacklee bukan tuhan, apa yang harus ditakuti?
Ckrek
Dan suara pintu ruangan Zacklee berbunyi saat dibuka oleh Vincent. Vincent maju selangkah masuk ke ruangan orang keji itu. Tak nampak satupun orang, bahkan benda di ruangan itu sama sekali tak terlihat bayangannya.
Cratttt
Sebuah pisau di tancapkan ke perut Vincent. Dan benar saja, Zacklee menancapkan pisau itu pada Vincent. Vincent jatuh tergeletak di lantai kerja Zacklee setelah beberapa detik matanya terbelalak lebar tak menyangka soal situasi yang menimpanya.
Ia masih berada di batas sadarnya, matanya di rotasikan ke arah perutnya yang telah basah oleh darah. Tangannya yang kaku berusaha untuk menggapai pisau yang menancap di bagian perutnya.
Lampu kemudian dinyalakan oleh Zacklee, matanya ingin melihat bagaimana Vincent akan mati dalam beberapa menit lagi. Ia tertawa jahat melihat Vincent yang lemas dan tak berdaya.
Tangan Vincent yang meraba bagian perutnya, di tepis oleh Zacklee. Dan ia menendang bagian kaki Vincent yang sudah tak kuat untuk menahan sakitnya.
“ Akkkkk.....” Teriak Vincent meringis kesakitan.
“ Aku sudah bilang kan, jangan menandingi aku “ ucap Zacklee.
Zacklee menendang kembali tubuh Vincent, hingga akhirnya Vincent mati di dalam ruangan nya. Kemudian ia menyeret Vincent ke luar setelah mayat Vincent di masukkannya ke dalam pembungkus mayat.
“ Halo, kau tolong bersihkan darah yang berada di ruanganku. Jangan sampai berbekas, aku tidak ingin karyawan kantorku tau” kata Zacklee memerintah para pengawalnya lewat ponsel lalu melempar ponsel itu ke sofa.
Zacklee terus menyeret mayat Vincent hingga sampai di tempat parkir mobil di kantornya.
“ Melelahkan..tapii menyenangkan “ gumamnya.
Akhirnya Zacklee membawa mayat Vincent itu ke suatu tempat. Tempat yang membuat mayat Vincent tidak meninggalkan jejak. Yaitu tempat pembakaran Jenazah menjadi abu.
Seorang penjaga tempat itu menatap Zacklee dengan sinis. Ia tampak memerhatikan seluruh bagian wajah Zacklee. Lalu Zacklee menyogoknya dengan sekepok uang tunai agar ia diizinkan masuk olehnya.
Siapa seseorang yang tak menyukai uang? Semua orang sangat menyukai uang. Bahkan di usia kita yang semakin dewasa, uang adalah prioritas utama. Dan tentu saja bapak itu menerima uang pemberian Zacklee.
Disinilah Wajah Zacklee kembali gembira, menyaksikan mayat yang dibawanya mati. Entahlah, Zacklee tak memastikan bahwa Vincent benar-benar mati.
Yang ia ketahui adalah, Vincent telah menutup matanya tak tidak sadarkan diri. Tapi jika api sudah di nyalakan, dan mayat telah masuk ke dalam peti pembakaran, di situlah ia mengerti bahwa Vincent tak akan pernah hidup lagi.
“ Hahahahahah tamat riwayatnu “ teriak Zacklee.
***
Di seberang, Pria berjaket hitam dengan wajah yang di tutupi oleh tudung menelepon seseorang dan memantau Zacklee dari kejauhan. Dia adalah seorang yang selalu handal menjadi seorang mata-mata.
“ Zacklee memasuki tempat pembakaran itu “ bisik sang pria.
“ Bagus,”
Lalu, pria itu memanggil sang penjaga tempat pembakaran dengan memberikan kode tangan hingga sang penjaga itu menghampiri si pria.
“ Uang tambahan untukmu, kerja bagus “ ungkap si Pria.
“ Jika ada pekerjaan seperti ini lagi, hubungi aku “ jawab bapak penjaga itu kegirangan.
“ Jika kau becus, aku akan menelponmu lagi “
Bapak penjaga itu mengangguk dan segera pergi ke tempatnya lagi untuk mengamankan tempat pembakaran. Sedangkan si Pria misterius itu pergi menumpangi mobil sedan untuk pergi pulang.