Zoe berjalan dengan cepat memasuki ruangan Zacklee dengan raut wajah yang kesal. Perempuan itu tampak sudah kehilangan kendali karena yayasan yang di kepalai olehnya di ambil alih oleh seseorang yang bahkan tak di kenalinya.
Ia membuka pintu ruangan Zacklee dengan keras, membuat Zacklee dan sekretaris nya terkejut. Zoe menatap Zacklee dengan tajam dan sekteretarisnya, hingga sang sekretaris pun peka untuk segera meninggalkan ruangan.
“ Kau sudah gila? Kau memberikan yayasan itu pada orang lain? “ Teriak Zoe sembari membuang tasnya ke depan meja Zacklee.
“ Kau tau kan? Itu yayasanku! Aku yang mengurusnya selama bertahun-tahun. Dan kau dengan mudah membuang yayasan itu begitu saja? “ Tambahnya.
“ Ahhh sialan, aku memang sudah tak pernah tenang semenjak menikah denganmu. Semua hartaku seolah-olah menjadi hartamu. Gila! “ Gerutu Zoe.
“ APA KAU TIDAK BISA DIAM?! AHHH SIAL” teriak Zacklee membalas dengan nada yang semakin tinggi.
“ Kau membentakku? Dasar laki-laki tak tau malu. “ Seru Zoe.
“ PERGI! “ Ucap Zacklee.
Zoe mengambil tasnya dengan kasar, ia melangkah keluar. Saat ia kembali membuka pintu ruangan, tampak seorang Steve berdiri dengan wajah sedih dan diam membisu.
Matanya berkaca-kaca, memerhatikan kedua orang tuanya bertengkar dan membuat gaduh bahkan di usianya yang sudah beranjak dewasa.
Steve kemudian membalikkan badan, menyeka sebulir air matanya yang jatuh dan ibunya mengejarnya. Tangan Zoe tak henti-hentinya menahan kepergian sang putra namun naas Steve menepis tangan ibunya karena terlanjur hanyut dalam rasa kecewa.
“ Steve, putraku sayang. Jangan pergi dahulu, ibu..ibu akan menjelaskan ya? “ Desis Zoe.
“ Lepaskan tanganmu bu, aku ingin sendiri “ jawab Steve.
Steve masuk ke mobilnya, diam meratap tanpa kata. Pikirannya terus di penuhi dengan teriakan kedua orang tuanya yang tak pernah berhenti bertengkar.
“ Pak, tolong antarkan saya ke alamat ini “ ucap Steve.
***
Tibalah Steve di tempat Irene bekerja, namun tampak dari arah Luar kedai Bubbletea itu tengah tutup. Entahlah apa yang terjadi, mungkin karena hari ini dj liburkan.
Dan kini, Steve mulai pergi ke rumah Irene dengan tergesa-gesa. Hanya dia bagi Steve yang mampu membuat dirinya kembali luluh, dan membuat hatinya yang panas kembali dingin.
Sesampainya di rumah, Irene pun sedang tak ada. Pikiran Steve semakin kosong, air matanya terus berjatuhan. Berjalan kesana kemari seperti seseorang yang tengah kehilangan arah.
Tiba-tiba pintu gerbang gubuk tua Irene terbuka. Wanita itu adalah Irene, Steve dengan segera mendekat ke arah Irene dan menempatkan kepalanya ke bahu Irene. Steve menangis sejadi-jadinya, dan Irene pun mulai kebingungan.
“ Hei bocah, kau kenapa? “ Tanya Irene
Steve terus menangis, tanpa mengucapkan sepatah katapun karena bibirnya kaku dan tak mampu melontarkan kata-kata.
“ Hei, bocah jelek. Kau terus menangis ada apa? “ Tanyanya lagi.
“ Jangan, jangan semakin bertanya aku kenapa. Aku akan semakin sedih mendengarnya “ kata Steve sembari menyeka air matanya.
“ Baiklah, kenapa kau kemari? “ Ketus Irene.
“ Ahh baiklah aku akan pulang “ sahut Steve dan melangkah pergi.
Irene menghadang Steve, “ baiklah, ayo masuk ke dalam” kata Irene sok baik
Steve melongok dan menatap Irene, “ benarkah? “
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Mata Steve memerhatikan seisi rumah Irene lalu ke arah langit-langit rumah.
“ Ini buruk, tak cocok denganmu kan? “ Ucap Irene menyindir.
Steve duduk ke sofa Irene dan berkata, “ tapi aku lebih suka tinggal disini” jawabnya.
Irene duduk di samping Steve sembari membawa sebotol soju, “ ahh benarkah, tinggal di sarang tikus seperti ini? “
“ Ini surga bagiku, berbeda dengan di rumahku. “
Irene meneguk soju, “ kau bilang rumahmu mirip seperti neraka? “
“ Kurang lebih “ ujar Steve sambil mengerdikkan bahunya.
“ Kau tinggal sendirian? “ Tanya Steve.
Irene mengangguk pelan, “ aku lebih suka tinggal sendiri”
“ Menyenangkan? “ Tanya Steve.
“ Aku menyukainya” jawab nya sembari meneguk soju lagi.
“ Jika seandainya aku di lahirkan kembali, akupun ingin hidup sendirian.” Kata Steve.
“ Mengapa wajahmu muram? “
“ Aku benci tinggal bersama orang tuaku, mereka semua tak pernah mengerti keadaanku. Mereka selalu bertengkar di hadapanku, aku benar-benar muak “ ucap Steve.
“ Mengapa tak melawan? “ Ucap Irene.
“ Apa aku harus melawan mereka? “
Irene memberikan Steve segelas soju, “ Jika kau tidak memberontak, mereka tidak akan pernah mendengarkan mu. Seperti pejabat negara, Jika rakyat tak memberontak dan memberi suaranya. Pejabat negara tidak akan pernah mengerti, dan tetap tak akan mendengarkan suara rakyat” ucap Irene.
Steve menaruh segelas soju itu ke meja, “ ya kau benar”
“ Tapi aku harus bagaimana? “ Tanya Steve lagi.
“ Kau harus berbicara pada orang tuamu. Mereka itu orang tuamu kan? Seharusnya mereka bisa mengerti tentang situasimu.”
“ Sudah sepuluh tahun lebih, aku tak bisa merasakan kasih sayang orang tua. Walau mereka ada, tapi mereka hanya memikirkan kekuasaan mereka. Aku benci jika mereka berbicara soal harta” desis Steve.
Irene memalingkan wajahnya dari Steve, “ oh, seperti itukah kehidupanmu? Dan seperti itukah orang tuamu? “
Steve merotasikan kepalanya pada Irene, “ hmm bagaimana maksudmu? “
“ Minumlah, kau sedang kacau. Itu membantumu melayang dan menenangkan pikiranmu” kata Irene.
Dan pria itu hanya merotasikan matanya ke arah soju, Irene mengambil alih gelas itu dan memberikan Steve minuman itu.
“ Ayo buka mulutmu, aku akan menuangkan ini ke mulutmu “ kata Irene lagi.
Steve hanya diam dan mendengarkan perintah Irene, ia membuka mulutnya. Dan Irene menuangkan soju itu.
“ Telan” ketus Irene.
“ Ini sangat tidak nyaman “
Irene menuangkan soju lagi ke gelas Steve, “ terus minum, sampai pikiranmu tenang” ucap Irene.
***
Louis masuk ke ruangannya, matanya terus tersihir dengan ruangan yang di berikan Zacklee untuk di jadikannya kamar. Rapi, bersih, luas, dan wangi tak seperti kamarnya di rumahnya sendiri.
Bahkan sepertinya ini tak seperti kamar pengawal, tapi seperti kamar tamu yang di perlakukan bak raja. Pantatnya mulai duduk dan menepuk-nepuk ranjang nya yang lembut.
“ Wah, bagaimana dengan kamar Zacklee? Pasti sudah seperti hotel bintang lima” gumamnya.
Seseorang mengetuk ruangan paviliun Louis, dia sama halnya seperti Louis. Yaitu seorang pengawal yang mengenakan kaos hitam ketat di lapisi dengan jas hitam dan mengenakan Kacamata.
“ Ada apa? “ Tanya Louis.
Orang itu kemudian memberikan sebuah setelan pada Louis. Kaos hitam dan Jasnya, lengkap dengan kacamata hitam mengkilap tersebut.
“ Bukankah aneh jika mengenakan kacamata seperti ini? “ Kata Louis sambil memasang kacamatanya.
“ Sebaiknya, lakukan saja peraturan ketika bekerja bersama tuan Zack “ ketus si pengawal.
“ Ya” jawab Louis.
Louis membuang muka dan menutup pintunya, mencoba setelan kerja yang di berikan oleh Zacklee dan menatapnya ke cermin. “ Akhirnya aku mengenakan pakaian ini juga”
***
Bukankah kalian telah lama tak mengenal kabar mengenai Tiffany bibiku? Biar kuceritakan hari ini. Wanita jalang itu mengakui perbuatannya yang salah terhadapku.
Dia merengek meminta maaf. Jujur, aku masih terus menyimpan sakit hatiku terhadapnya. Sikapnya padaku dahulu sulit di maafkan bagi seorang psikopat seperti diriku.
Dan tepat hari ini, adalah hari pertama Tiffany pergi ke rumah sakit Oxford. Dan pada saat itu, Vincent pun juga berada di rumah sakit besar itu, mereka bertemu secara tidak sengaja.
Berpapasan dan Tiffany tak sengaja menabrak Vincent saat ia sibuk berjalan untuk menyiapkan pelantikannya sebagai kepala yayasan. Namun Vincent mengabaikannya setelah mereka saling membungkuk meminta maaf.
Tiffany menemui Dokter, wajahnya pucat dan semakin pelai. Ia mengeluh sering merasakan sakit pada perut di bagian bawah. Lalu ia setuju untuk bertemu dengan dokter di rumah sakitku.
“ Apa ada gejala lain, selain merasakan nyeri pada perut di bagian bawah anda? “ Tanya Dokter yang cukup cekatan di sana.
Lalu Tiffany menjawab, “saat buang air kecil, aku merasakan panas “
Si Dokter menatapnya serius dan bertanya lagi padanya, “ berapa kali anda sering berhubungan intim? “
“ Sering kali, dengan banyak pria. “ Jawab Tiffany.
“ Sudah pasti, anda mengalami Infeksi Klamidia”
“ Hah? Apa itu Infeksi Klamidia? “ Tanya Tiffany.
“ Sebuah Penyakit yang timbul saat melakukan seks bebas, lebih tepatnya anda mengalami Infeksi di bagian saluran kemih, serviks, dan rahim anda. Ini serius, ini harus di tangani dengan baik “ jawabnya.
“ Lalu apa yang harus saya lakukan? “ Kata Tiffany semakin Gugup.
“ anda perlu minum antibiotik selama 7 hari, atau cukup minum antibiotik dosis tunggal, Penderita Klamidia tidak boleh melakukan hubungan seksual sampai 7 hari setelah pengobatan selesai. Dan anda harus istirahat total” ucap si Dokter.
Bibiku mulai membisu, dan tertegun memikirkan penyakitnya. Lalu, jika ia harus istirahat bagaimana ia harus hidup. Karena, sumber pendapatannya berasal dari caranya melayani berbagai p****************g.
Akhirnya setelah melakukan Pengecekan, Jalang itu keluar dari ruangannya. Dan memegangi bagian bawah perutnya yang kesakitan setengah mati. Dan kebetulan, Vincent berjalan di area itu lalu melihat jalang itu mengeluh sambil memapahkan dirinya ke dinding.
“ Maaf, apa anda baik-baik saja” kata Vincent.
“ Hmm iya, saya baik-baik saja” jawab Tiffany jalang.
Vincent menolong Tiffany dan ini adalah pertemuan mereka yang tak di sangka-sangka. Vincent memanggil perawat untuk mengantarkan Tiffany ke luar.
***
Aku sendiri tengah duduk di sofa rumahku sembari ku hisap rokok dan menaruh kaki ku ke meja sambil ku awasi Steve yang pingsan di sampingku.
Mataku menyoroti Foto ayah dan ibu yang ku pasang di Wallpaper ponselku. Ku ratapi masa lalu itu, dan ku ingat-ingat kembali wajah orang yang menghardik kedua orang tuaku seperti hewan.
Ku lirik lagi Steve cecunguk itu, Semakin hari aku menjadi semakin membencinya. Semakin jijik ketika di dekatnya, walau aku harus berpura-pura baik dan memberikan kecupan untuknya.
Itu hanya untuk membuatnya percaya. Pria yang mengejarku satu ini, akan ku jadikan alat untuk menumpas Zacklee. Bahkan jika perlu akan ku koleksi darah-darah Zacklee dan satu keluarga nya untuk ku jadikan sejarah.
Terbesit di otakku, bagaimana jika aku membunuh Steve saja tanpa menunggu apapun lagi. Karena sejatinya aku adalah wanita yang minim kesabaran.
Tapi aku kembali mengingat ucapan Louis yang menyuruhku untuk tidak gegabah. Tapi, apa seseorang yang tengah emosional masih memikirkan perkataan orang lain? tidak!
Steve masih pulas, setelah minum beberapa gelas soju yang selalu ku tuangi. Dan saat ini, aku tidak akan menunggu lagi. Sasaranku telah berada di depan mata, hanya tinggal selangkah dan satu bunyi tembakan aku bisa membuat Zacklee hancur karena kehilangan putra kesayangannya.
Ku ambil senapan yang ku simpan di dalam peti kamarku, senapan tua yang ku gunakan saat itu untuk menumpas puluhan anak buah Zacklee yang berusaha membunuh Vincent.
Lalu ku tempatkan diriku di sampingnya, dan mengangkat senapan. Lalu membidik senapan itu ke arah kepalanya. Tetapi pikiranku saat itu kacau balau, rasa ingin balas dendamku dan ucapan Louis campur aduk seolah-olah ingin membatalkan rencanaku.
Jari telunjukku sudah hampir menekan, dan satu peluru akan keluar dari senapan itu untuk mengenai kepala Steve. Diriku bergetar, jari telunjukku mulai panas ingin cepat-cepat menghabisi seorang Steve.
Dan akhirnya setelah berlama-lama aku memikirkan itu, keluarlah satu peluru tajam dari senapan usang ini.
Dorrr