KORBAN SELANJUTNYA

1840 Kata
Ku tancapkan es beku ini ke area pergelangan tangan Adrianna. Yang akan membuatnya segera mati karena Aku telah memutus aliran Nadinya. Dan.. Cratt Darah pun menyembur dengan cepat, menyembur ke arah wajahku. Aku hanya menatapnya yang sudah terlihat kaku tak berdaya. Bahkan bola matanya pun tak bisa di pejam. Ku tinggalkan Adrianna sendirian, dan aku pun segera beranjak pulang. Dengan ini misi ku sudah selesai. *** Keesokan harinya saat ku pergi bekerja dan berkutat dengan para pelanggan dengan tiba sirine ambulance di iringi dengan suara sirine mobil polisi terdengar nyaring di telinga saat hendak melewati kedai Tidak ada rasa curiga pada orang-orang kedai, karena gadis lugu yang dikenal rajin itu tidak pergi bekerja. Hanya ku lihat wajah kesal sang pemilik kedai yang duduk di ruangannya sembari memangku kepalanya dengan tangan. Aku yakin, dia telah membaca pesan itu. Adrianna, jika kau tidak pernah mengumbar aku bahkan tidak akan melakukan ini. Namun, hanya satu jejak yang ku tinggalkan. Bagaimana bisa aku akan membiarkan jejak itu berkeliaran sambil sibuk mencari-cari keberadaan Steve. Jessi tentunya, Lambat laun aku akan membunuhnya. Tak pernah terbayang di benak ku, entah apa yang akan kulakukan nanti pada mayat Jessi apa aku harus mengkremasi mayatnya atau bahkan akan ku robek bibirnya yang berusaha mengumbar rahasiaku. Dia sudah mengetahui kabar bahwa Adrianna telah tiada. Sedari pagi tatapannya tak pernah berhenti dialihkan dariku. Temannya yang sedaerah dengan Adrianna memberikan berita padanya, hingga ia pun mulai menuduhku. “ Kau pasti tau kan tentang kematian Adrianna? “ Kata Jessi yang berbisik di belakangku. Aku membalikkan badan seraya berkata kepadanya, “ orang i***t mana yang menuduh seseorang sembarang tanpa bukti? “ Sahutku sambil ku lipat tanganku dengan necis nya. “ Kau bertanya soal alamat rumahnya kan? Kau pasti pelakunya. Bagaimana bisa kau menghabisi wanita lugu sepertinya hah?! “ Katanya sambil memukul meja dapur Jessi menarik tanganku, dan membawaku ke belakang kedai yang tak ada seseorangpun berlalu lalang. Aku dibanting ke pintu dengan keras, ragaku kesakitan tapi tak memudarkan diriku untuk membalasnya. “ KAU, WANITA KEJAM. KAU SENGAJA MENCARI TAU ALAMAT ADRIANNA UNTUK MEMBUNUH NYA KAN? DAN KAU BERUSAHA MENDEKATI STEVE UNTUK MENGHANCURKANNYA KAN? DASAR PSIKOPAT “ “ Hei Jessi, Adrianna mati karena ulahnya sendiri. “ Kataku tenang. Jessi menamparku, hingga suara tamparannya terdengar. Matanya semakin lebar menandakan bahwa dirinya emosi. “ Jika kau yang benar menghabisi Adrianna, aku benar-benar akan menghancurkanmu “ Ucapnya menunjuk-nunjuk dan meninggalkanku. Sepulang bekerja, aku dengan santai melewati kawasan rumah Adrianna. Rupanya mayat Adrianna sudah membusuk dan membuat bau yang menyebar hingga menganggu kenyamanan warga sekitar. Aku berdiri di belakang garis polisi sembari mendengarkan suara ricuh polisi yang tak menemukan jejak atas kematian Adrianna. Karena, memang aku sengaja menggunakan es beku itu untuk menghapus jejak. Ketika es beku itu menancap di tangan Adrianna dan memutus nadinya maka lama kelamaan es beku itu akan mencair seiring berjalannya waktu dan polisi pun akan bingung tentang kematian gadis lugu itu karena tak tau apa penyebab kematiannya. “ DUGAAN SEMENTARA ADALAH BUNUH DIRI, “ tegas si Polisi. Aku tersenyum tipis menyaksikan wajah-wajah para petugas keamanan itu kebingungan. Ku langkahkan kaki ku melewati rumah Adrianna untuk menuju ke suatu tempat. Dimana lagi kalau bukan ke apartemen Vincent. Beberapa kali ku ketuk pintu apartemennya ia tak membuka nya sama sekali. Dan setelah ku ketuk dengan keras hingga membuat orang di ruangan sebelahnya terganggu, Vincent pun membuka pintu. “ Setakut itukah kau untuk memberikan surat persetujuan kepadaku hingga tak membuka pintu hah? “ Sentakku sembari menghisap rokok. “ Aku sedang mandi, kau ingin aku membuka pintu dengan telanjang? “ Katanya sambil mengambil rokokku dan memintaku membakar ujung rokok itu. “ Ngomong-ngomong kemana kau hingga tak menemuiku? “ “ Ahhh, aku memiliki sedikit masalah dengan rekan kerjaku “ ucapku seraya merebahkan badanku ke sofa. “ Separah itu? “ Tanyanya lalu menempatkan tubuhnya di sampingku “ Tidak “ “ Jika kau butuh bantuan, jangan lupakan aku. Aku akan menolongmu “ katanya lagi sambil menyentuh daguku dengan lancang. Aku hanya menyoroti tangan Vincent yang mulai lancang menyentuh daguku. Hal itu membuatku sedikit risih hingga tekan bara di rokokku ke pahanya. Sontak membuatnya teriak. “ Sialan, panas! “ Teriaknya. “ Sekali lagi kau menyentuhku dengan lancang, mungkin bara ini tidak akan menancap di pahamu lagi. Tapi di kedua telurmu “ Kataku dingin dan melepaskan bara itu hingga pahanya membentuk bekas luka bakar. Vincent hanya mengangguk, dan menekan pahanya yang terluka. “ Dimana berkasnya? “ Tanyaku. Ia mengambil berkas itu dengan tertatih-tatih sembari menahan pahanya yang panas. “ Berkas ini akan menjadi peganganku, kau urus saja yayasan itu. Ingat keuntungan tetap di bagi rata “ “ Apa? Aku yang mengurusnya dan kau tidak memberikan tambahan keuntungan padaku? “ Teriak Vincent melunjak. “ Yang menyusun strategi ini adalah aku, dan kau selamat berkat aku. “ “ Sialan “ “ Lakukan saja apa mauku! “ Sentakku sambil mengangkat rokokku lagi untuk menakut-nakuti nya dan dia mengangguk lalu aku meninggalkan apartemennya. “ Dasar jalang “ gerutu Vincent. *** Hari sudah mulai malam, Jessi terus melangkah pulang menuju rumahnya. Ia berjalan sambil memegangi ponselnya yang sedari tadi mencari tahu alamat rumah Zacklee. “ Sial,kenapa tidak ada petunjuk ke arah rumah Zacklee? “ Katanya mendengus kesal. Alamat rumah Zacklee memang sampai saat ini menjadi Privasi. Hanya alamat kantor pusatnya saja yang di publikasikan. Tiba-tiba terbesit ide untuk mengunjungi kantor ayah Steve itu untuk mendapatkan peluang. Saking asiknya bermain dengan ponselnya, Jessi tak menyadari bahwa seseorang telah membututinya dari belakang. Jessi berdecak pinggang dan mengernyitkan ssnyumannya yang tiba-tiba lebar sebab menemukan ide untuk mengunjungi kantor Zacklee. Tapi langkah itu kemudian terhenti setelah orang yang membuntutinya memeluknya dari belakang dan menancap jarum suntik yang berisi obat bius di lehernya. Teriakannya pun tiba-tiba kabur setelah obat itu mulai bereaksi. Pria bertudung hitam itu kemudian menelpon Irene. Benar, Pria itu adalah Louis. Bukankah tak baik untuk membiarkan wanita jalang alias Jessi itu berkeliaran bukan? “ Halo, dimana kau? “ Tanya Louis pada Irene. “ Aa baiklah aku akan menunggumu “ lanjutnya. Di seberang, Irene menancap gas mobil Vincent yang telah di pinjamkannya untuk membawa Jessi ke suatu tempat. Dan selang beberapa menit, Irene sampai di tempat tujuan dimana ia melihat Louis di ujung jalan. “ Ayo cepat bawa masuk “ kata Irene bergegas. “ Kita akan membawanya kemana? “ Tanyanya. “ Sudah ikuti saja aku “ jawab Irene. Louis mengangguk pelan dan menuruti perintah dari kakaknya. Lalu ia mulai memberikan sebuah opini agar sewaktu-waktu polisi membidik atau mengautopsi jenazah nya, tak ada jejak yang mengusung ke arah Louis. “ Bagaimana kalau kita kremasi saja dia? “ Tanya Louis “ Tidak, Kita tidak punya banyak uang. Kita tidak mungkin menyogok bapak itu lagi “ Jawab Irene sembari mempercepat lajunya. “ Lalu kita akan kemana? “ Ucap Louis. Dan tibalah mereka di suatu tempat yang gelap, dan dan sepi. Beberapa bunyi hewan-hewan malam terdengar nyaring. Louis merotasikan matanya ke arah Irene dengan mulut terbuka. “ Kau gila? Membunuhnya di hutan? “ teriak Louis “ Habisi saja ! “ Louis menelan ludahnya pelan-pelan, ia mengeluarkan tubuh Jessi yang masih berada dalam pingsannya. Tubuhnya di kaparkan di tengah-tengah hutan, dan Louis mengeluarkan belati yang berada di sakunya. “ Maafkan aku, jalang. “ Ujarnya dengan mengangkat pisau itu. Tiba-tiba Jessi membuka matanya pelan-pelan. Matanya yang setengah terbuka tiba-tiba membulat dan terkejut terhadap sesuatu yang berada di atasnya. Jessi berteriak. “ Aaaa siapa kau? “ Teriaknya mengisi suasana tengah malam yang mrncekam. “ Diam, gadis bodoh. Apa kau mau aku semakin membunuhmu? “ Seru Louis membungkam mulut Jessi. Jessi menggigit tangan Louis, “ sialan, siapa kau? “ Teriak lagi Jessi. Irene terkejut mendengar suara teriakan Jessi yang masuk ke telinganya. Matanya melirik pada Spion mobil, disana mata elangnya melihat Jessi yang sedikit berakrobat. “ diam jalang ! “ Teriak Louis dan menempatkan pisaunya ke leher Jessi. “ Siapa kau, mengapa ingin sekali membunuhku? “ ujar Jessi. “ Hanya ingin menjalankan misi, “ sahut Louis. “ Misi? Misi apa yang kau maksud? “ “ Misi untuk merobek mulutmu yang akan menyebarkan kebenaran soal kakakku pada Zacklee “ kata Louis sambil menaik turunkan alisnya. “ Kakakmu? irene? “ Tanya Jessi kebingungan dan Louis pun mengangguk. “ Sial k*****t itu, katakan padanya jika ingin membunuhku tampakkan wajahnya dulu padaku. Bajing*n “ teriak Jessi memaki “ Kau, seharusnya diam saja sebelum menanti ajalmu. Jangan banyak bergerak “ Lanjut Louis. Jessi terus berakrobat dan berusaha pergi dari Louis yang menduduki perutnya. Seketika pikirannya terhenti untuk menggoda Louis. “ Kau adik Irene kan? Kau tidak akan membunuhku kan? Aku bersumpah jika kau tak membunuhku aku akan melakukan semua untukmu. Termasuk melepaskan keperawananku “ Goda Jessi memohon. “ Tidak mau “ ketus Louis. “ Aku mohon kepadamu, jangan bunuh aku. Aku...benar, aku tidak akan membocorkan rahasia kakakmu “ lanjut Jessi semakin takut dengan ujung pisau yang di tempelkan ke lehernya. “ Bohong ! “ “ Aku berjanji, jika aku di bebaskan. Aku akan melakukan semuanya untukmu. Termasuk menari dan memuaskanmu “ Jiwa Louis mulai terguncang mendengar godaan terkuat Jessi. Entahlah, yang memenuhi otak Louis kali ini adalah body bagus Jessi yang menarik perhatiannya disertai dengan tubuhnya yang kencang. “ Jangan berbohong “ “ Aku akan melakukannya untukmu sekarang “ teriak Jessi sambil meraba kancing bajunya. Louis perlahan-lahan berpindah tempat dan membebaskan tubuh Jessi yang di dudukinya. Jessi berdiri, dan menyerang Louis dengan kayu yang berada di sampingnya. “ Dasar k*****t gila “ teriak Jessi. Louis kesakitan, sedang Irene terus memantau mereka lewat Spion Mobil. Setelah melihat Jessi yang berusaha melarikan diri, ia membuka pintu mobil Vincent dan menembakkan pistol ke arah tubuh Jessi. Dorrr Peluru kecil menerobos perut Jessi, Darah menyembur dari perutnya. Jessi berdiri kaku, tak bisa melangkah saking lemahnya. Tubuhnya akhirnya terdampar dan jatuh ke tanah. “ A- apa yang k-kau lakukan? “ kata Jessi terbata-bata. Irene berdiri di atas Jessi, Pandangan mata Jessi perlahan-lahan mulai kabur. Saatnya ia bertaruh antara hidup dan mati. “ I-irene, k-kau memang perempua...” Sahut Jessi yang berusaha memaki. Makian dari Jessi putus, Setelah Louis menancapkan belatinya ke arah dahi Jessi yang berusaha berbicara. Darah Jessi pun terus menyembur dan mengenai arah wajah Louis. Akhirnya mata Jessi pun tertutup secara perlahan, “ Dia sudah mati “ ucap Louis. “ Jika aku tak menembaknya, dia tetap hidup “ gerutu Irene. “ Kurangi nafsumu, aku tidak ingin rencanaku gagal hanya karena nafsumu “ ucap Irene. “ Aku minta maaf “ kata Louis dengan nada rendah. “ Jika kau ingin meluapkan nafsumu, pergilah ke barku. Kau bisa memilih gadis yang lebih membuatmu terpukau daripada body Jessi “ kata Irene sembari meninggalkan Louis yang masih bersimpuh di samping Jessi. “ I - irene, bagaimana dengan jasad Jessi? “ Teriak Louis bertanya. “ Biarkan saja, ayo kita pulang “ Hutan yang awalnya gelap, tiba-tiba berubah menjadi sedikit terang dengan datangnya secercah cahaya. Cahaya itu berasal dari lampu Senter, yang terus mengarah ke Louis dan diriku. Dengan Spontan, mataku menjadi Silau karena Senter itu diarahkan ke wajahku, “ apa ada orang disana? “ Teriak seseorang ke arahku dan Louis yang sedang menghabisi seseorang. Senter itu tiba-tiba mengarah ke arah Louis dan Jessi yang sudah berlumuran darah, Orang itu terkejut tampak seperti seseorang yang ketakutan. “ Tolong...ada yang melakukan pembunuhan “ Teriak nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN