Irene pergi ke kedai seperti biasanya. Walaupun emosinya kian membubung tapi ia tak melupakan apa yang dikatakan oleh Louis. Jangan bersikap gegabah, katanya. Dan dia mengingatnya dengan baik.
“ Apa kau ada waktu luang nanti? “ Tanyanya dan Adrianna mengangguk.
“ Dimana rumahmu? Kita harus menghabiskan waktu luang bersama “
“ Emmm tapi aku tidak bisa, aku sibuk hehe “ jawabnya mencoba menjauhi Irene.
“ Ayolah” Kata Irene memaksa.
“ Tidak, aku tidak bisa “ Jawab Adrianna dengan tegas dan melangkahkan kaki menjauhi Irene.
“ Sejauh apapun kau menghindar, aku akan menarikmu kembali “ gerutu Irene dalam hatinya.
Pelanggan laih silih berganti berdatangan, tak terkecuali Steve yang selalu hadir setiap Irene melakukan pekerjaan. Jessi menatap Steve dari kejauhan, ia akan mencoba berbicara pada Steve agar ia bisa tau bahwa Irene hanya akan menjadi penghancur untuknya.
Jessi melangkah mendekati Steve, tetapi mata elang Irene melihatnya dan membuatnya sigap untuk mengajak Steve pergi menjauhinya. Jessi terus mengejar, hingga Steve berhenti sejenak. “ Ada apa? “ Tanya Steve.
“ Aku ingin berbicara padamu “ ucap Jessi.
“ Steve, ayo ikut aku. Seperti inikah kau setelah mendapat kecupan dariku kau malah ingin berbicara dengan wanita lain? Padahal aku sedang mengajakmu keluar “ celetuk Irene merayu Steve untuk mengalihkan pandangannya.
Steve tersipu malu, pipinya semakin memerah dan membuat kedua bola matanya berbinar menatap Irene yang sedikit gemas. “ Ayoo, kau mau kemana? “ Jawab Steve yang terlihat salah tingkah sembari menggaruk-garuk rambutnya.
“ Hari ini, aku harus menahan dan mencegah Steve. Ku mohon Steve, jangan masuk lagi ke kedaiku. Aku tidak ingin rencanaku hancur. “
“ Ngomong-ngomong aku akan berbicara soal apa dengan cecunguk ini? “ Gumam hati Irene sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
“ Apa yang ingin kau bicarakan? “ Tanya Steve.
“ Tidak, aku hanya ingin mengajakmu keluar dan menghirup udara segar “ Jawab Irene tersenyum tipis tapi terpaksa.
“ Ya, disini indah dan segar tapi bersama orang yang kita cintai membuat pemandangan disini jauh lebih indah dan segar “ kata Steve membalas senyum Irene.
Beberapa menit kemudian, saat mereka berdua asik berdiri menikmati pemandangan. Membuat kaki Steve menjadi sedikit pegal, “ bagaimana jika kita bicara di kedai? “
Sontak membuat Irene berkata, “ TIDAK, JANGAN PERGI KESANA “ ketusnya.
“ Ada apa? “ Tanya Steve.
Bola mata Irene melirik ke kanan dan ke kiri, membuatnya sedikit bingung dengan cara apa lagi yang bisa di lakukan untuk mencegah Steve masuk ke kedai dan Jessi menemui nya.
Seketika terlintas di benaknya, yaa walau rasanya sedikit aneh dan membuatmya sedikit jijik. Karena seumur hidupnya ia tak pernah melakukan ini pada seorang pria.
Irene melangkah mendekati Steve dan berjinjit untuk mendekati arah wajah Steve. Kemudian Irene mencium bibir Steve sambil memejamkan matanya. Mata Steve terbuka karena tak menyangka Irene akan melakukan ini.
Sentuhan bibir Irene yang lembut membuat sekujur tubuh Steve menjadi hangat. Mata Steve di pejamkan dan mulai membalas ciuman manis Irene lalu tangannya mendekap tubuh Irene.
“ Mengapa harus seperti ini, astaga menjijikkan” ucap Hati Irene menahan perilakunya.
“ Nafas Irene yang segar semakin membuatku terkesima. Aku makin mencintaimu “ balas hati Steve.
Sepuluh detik berlalu, ciuman itu akhirnya usai. Wajah Steve kembali memerah sedangkan Irene hanya biasa saja. Karena mereka berbeda, Steve mencintai Irene tapi Irene tidak mencintainya.
“ Ayo ke kedai “ kata Steve canggung dan malu.
“ Tidak, “ Sentak Irene dengan dingin.
“ Mengapa? “
“ Kau masih berani ingin menemui wanita itu setelah aku menciummu? Jika kau ingin menemuinya silahkan, tapi jangan mencoba-coba menemui aku lagi“ ketus Irene
Steve tertawa kecil dan tersenyum tipis, “ Kau cemburu? “
“ Entahlah, sana pergi dan temui wanita Itu “
“ Ahhh tidak, aku tidak mau. Yasudah aku akan pulang dan beristirahat. Kau..jangan lupa istirahat ya “ sahut Steve sambil mengusap-usap rambut Irene dan Irene pun mengangguk.
Steve beranjak ke mobil sembari melambaikan tangannya pada Irene, wanita itu membalas. Setelah Steve menancap Gas, Jessi keluar dan mencoba mengejar mobil Steve.
“ Ingin mengejar ya? “ Ucap Irene dingin di iringi dengan senyum smirknya.
“ Kau sengaja kan? Membuat Steve menghindar dariku? “ Teriak Jessi sambil menunjuk-nunjuk Irene.
“ Memangnya kenapa? Apa salahnya. “
“ Kau pikir aku tak tau jika kau ingin menghancurkan Steve dan keluarganya. Kau fikir siapa kau? Hingga berani-beraninya menghancurkan orang kaya seperti Steve? “ Teriak lagi Jessi.
“ Ow ingin mengatakan itu pada Steve ya? Silahkan katakan “ ketus Irene dan melipat tangannya.
“ Kau akan tau jika aku sudah memberi tahu Steve dia bahkan akan menjauhimu “ gerutu Jessi.
“ Coba saja cuih “ bisik Irene mendekati telinga Jessi dan melangkah menuju kedai.
“ Sialan!”
***
Seusai pulang dari kedai, aku berencana untuk pergi ke rumah Adrianna. Walaupun ia sendiri menghindar dan tidak akan pernah menyambutku dengan baik.
Malam ini, adalah malam dimana aku akan berusaha menghabisi sumber informasi alias Adrianna yang diam-diam menyebar rencanaku pada Jessi yang dikenal sebagai Lawanku.
Aku akhirnya tiba di rumah Adrianna yang tak terlalu besar namun sedikit kumuh. Dan tanganku mencoba untuk mengetuknya.
Tok tok tok
Dari dalam Adrianna membuka pintunya, Dan dia tampak terkejut melihatku datang ke rumahnya. Aku tidak langsung menyapanya, aku dengan sigap melangkah kan kakiku masuk ke dalam, walaupun ia belum menyuruhku masuk.
“ Waw rumahmu indah sekali “ puji ku meski rumah Adri terlihat kumuh.
“ Me-mengapa kau kesini Irene? “ Tanya nya ketakutan
“ Ya, tadi saat aku berada di rumah, aku tidak sengaja memikirkanmu jadinya aku pergi kesini “ jawabku sembari menaruh Tumbler yang berisi air.
“ oh ya, bisakah aku menaruh Tumbler ku kedalam lemari pendinginmu?” Tanyaku.
Aku memberikan Tumbler yang berisi es batu itu kepada Adrianna.” Tapi mengapa, es batu ini sudah membeku “ gumamnya.
“ Ah ya, aku hanya ingin membuatnya menjadi lebih beku “ jawabku.
Adrianna terheran-heran melihat tingkahku, tetapi ia tetap mengerjakan apa yang ku mau. Ku ulur waktu dengan melihat isi ruangan Adrianna beserta foto masa kecilnya.
“ Ngomong-ngomong, ini musim dingin kenapa kau tidak memakai jaket tebal? “ Tanya Adrianna.
“ Aku sudah kebal “
Beberapa menit setelah aku menyusuri isi ruangan Adrianna, aku duduk di sofa yang berada di ruang tamunya untuk menghilangkan penat. Ku tatap Adrianna dari ujung rambutnya yang masih terlihat ketakutan dan canggung.
“ Apakah jalanan di rumahmu selalu sepi? “ Tanyaku sambil menyalakan rokok.
“ Emm, tidak ada siapapun disini. Tetanggaku pun semua sibuk bahkan mereka tidak pernah menyapaku “
“ Jadi kau di perlakukan seperti sampah oleh mereka? “
“ Hemm sepertinya begitu, karena aku hanya gadis cupu dan tinggal di tempat kumuh seperti ini “
“ Bolehkah aku bermalam disini? “ Ucapku.
“ Hah? Maksudku, emm kau serius? “ Katanya membulatkan mata dan aku mengangguk.
Jam mengarah pada pukul 23.15 malam, Dan aku masih kuat membuka lebar mataku di sofa ini. Beberapa kali Adrianna bertanya kapan aku akan tidur tetapi aku selalu menyanggah.
Sorot matanya tak bisa dipalingkan kepadaku, aku tau di gadis lugu dan cupu. Sekarang saatnya aku membunuhnya.
Pertama-tama ku ambil tumbler yang memang sengaja ku isi Air dan ku biarkan membeku. Pernahkah kalian menonton televisi dan menyaksikan film-film layar lebar atau kartun yang berada di musim dingin?
Di kartun atau film itu biasanya kalian sering melihat serpihan atau bunga es yang membeku membentuk kerucut tajam. Kau tau gunanya aku mengisi Tumbler ini dan ku minta Adrianna untuk membekukannya? Karena bunga es atau es batu ini akan kujadikan alat membunuhnya.
Tak perlu memakai pisau ataupun senapan yang akan meninggalkan jejak di tubuhnya. Dengan tumbler dan serpihan es tajam ini akan ku tancapkan pada tubuhnya dan membuat darahnya keluar.
“ Adrianna bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu? “
“ Hmm? “
Aku menaruh rekaman suara saat Adrianna membocorkan rahasiaku pada Jessi, “ bocah macam apa kau ini? Hingga berani-beraninya mendekatiku hanya untuk membocorkan rahasia orang lain? “
“ A-aku ti-tidak bermaksud membocorkannya Irene. Aku hanya terpaksa “
“ Tidak, kau menerima uang itu hanya untuk kau berikan pada pacarmu yang selama ini hanya memanfaatkanmu kan?”
“ Bagaimana bisa kau tau? “ desis Adrianna semakin ketakutan.
“ Kau pikir aku mengetahui alamat rumahmu dari siapa, jika tidak ada orang yang memberitauku. Itu artinya dia juga mengetahui tentangmu “ dan orang itu adalah Louis adikku sendiri yang sengaja ku perintahkan untuk membuntuti Adrianna.
“ Sekarang kau membuatku kehilangan akal, “ Teriakku.
“ Kau akan berbuat apa kepadaku? “ Kata Adrianna mengeluarkan setetes air mata.
“ Menurutmu, aku akan melakukan apa? “ Tanyaku memberikan wajahku yang dingin dan mendekatinya.
“ Tidak, Irene kumohon kali ini ampuni aku “ teriaknya menangis.
“ Lalu, kau terus akan memata-mataiku dan membantu Jessi membocorkan rahasia ini hemm? “ Sahut ku yang membuat tangisnya semakin menjadi-jadi.
Adrianna melarikan diri dan keluar dari rumahnya untuk kabur. Aku hanya melangkahkan kaki ku dengan pelan tanpa mengejarnya, Karena aku tau tak akan ada orang yang menolongnya.
Adrianna, dia adalah Salah seorang yang dikucilkan oleh tetangganya karena cara berpakaian nya yang cupu dan tinggal di tempat kumuh. Membuat semua tetangganya jijik melihatnya.
Adrianna terus melarikan diri sembari menyeka Air matanya. Beberapa meter ia berlari menjauhiku dengan tergesa-gesa membuatnya jatuh dan berteriak kesakitan.
Aku menghampirinya dengan santai dan menarik kerah bajunya lalu menyeretnya kembali ke rumahnya. Ku lempar tubuh Adrianna masuk ke dalam rumahnya dengan kasar.
Lalu ku dorong dirinya ke dinding rumah. Teriakan Adrianna mengisi seisi ruagan di rumahnya.
“ Mengapa kau menjadi bocah lugu yang melakukan tugas receh ini hanya demi secuil uang yang bahkan tak kau gunakan sendiri hah? Kau...sering datang ke rumahku hanya untuk menjadi mata-mata Jessi b******n itu. Bodoh! “ Kataku sambil melotot.
Adrianna menangis ketakutan, “ siapa lagi yang akan menyayangiku jika bukan pacarku? “
“ Kau mengandalkan lelaki yang hanya terus-terusan meminta uang padamu? Sadar diri dan perbaiki pola pemikiranmu sekarang! “
“ Ku mohon kasihani aku Irene “
“ TIDAK! AKU SUDAH BERSUMPAH ATAS NAMA ORANG TUAKU YANG TELAH DI HABISI OLEH KELUARGA STEVE. JADI INI ALASANKU INGIN MENGHABISI KELUARGANYA KAU PAHAM? “ Teriak ku diiringi dengan Amarahnya yang membubung.
“ Lalu kau datang seenaknya menghancurkan rencanaku yang selama ini bertahun-tahun ku pendam sendirian hanya demi seorang pacar? “ Lanjutku.
Ku lempar lagi tubuhnya yang ku lempar ke dinding dan ku mendorongnya ke arah lantai. Adrianna mengesot ke belakang untuk menjauh dariku dengan tangisnya yang menggelegar.
Dan ku ambil es batu yang sengaja ku bentuk menyerupai kerucut di dalam Tumbler. Es beku ini masih segar, dan masih tajam untuk kujadikan senjata untuk membunuhnya dan..
Cratttt
Darah pun menyembur dari pergelangan Adrianna yang telah kutancapkan Es beku.