Mengapa Irene memberikan hadiah pada seseorang padahal dirinya adalah seorang psikopat yang anti sosial. Karena di area bandrol yang menjuntai di ikat rambut Adrianna terdapat penyadap yang sengaja Irene pasang untuk melacak kemana perginya Adrianna dan apa yang di bicarakan oleh Adrianna.
Anggaplah ikat rambut itu sebagai mata-mata Irene yang akan memberikan Suara lewat earphone yang telah dilacak di ponselnya. Jadi apapun yang Adrianna bicarakan baik dengan dirinya atau pun seseorang, Irene bisa mendengarnya lewat earphone itu.
Irene terus mendengarkan earphonenya hingga langkahnya hampir tiba di rumah. Suara akhirnya terdengar sedikit demi sedikit hingga menjadi nyaring. Suara seseorang tengah berlari pun ikut terdengar. Dan Adrianna akhirnya mengucapkan sepotong kalimat dari bibirnya.
“ Semalam aku sudah menjalankan tugasmu, maaf tapi aku sudah tidak bisa lagi berusaha keras dekat apalagi berteman dengan Irene. Aku sangat takut padanya “
“ Mengapa? Apa dia bersikap keras kepadamu? “
“ Aku tidak bisa, aku takut berhadapan dengan Irene”
“ Lalu, apa kau menemukan informasi seputar Irene dan Steve “
“ Aku mendengar semalam saat ku coba ingin membuka pintunya, tetapi Irene sedang berbicara dengan seseorang. Dia bilang dia akan menghancurkan Steve dan menghancurkan keluarga Zacklee “
“ Benarkah? Jadi Irene mendekati Steve untuk menghancurkannya saja? “
“ Iya, dan Steve adalah putra dari pengusaha kaya itu. Dia adalah Putra kandung Zacklee”
“ APA? BENARKAH “ kata salah seseorang yang di duga lawan Bicara Adrinna. Tampaknya ia sangat terkejut.
“ Ini tidak bisa di biarkan Adrianna, aku akan memberi tahu Steve soal ini. Irene, dasar! Wanita itu benar-benar kejam “
“ Silahkan saja memberitahu, tapi jangan melibatkan ku. Kau akan memberiku uang karena ini kan? “
“ Ini uang untukmu, terima kasih telah menjadi pesuruhku. Aku akan mencari alamat Steve untuk ini. “
“ Terimakasih jessi, selamat bertemu di kedai besok “
“ Ya, aku benar-benar membenci Irene”
Irene memberhentikan langkah yang sudah tiba di dalam rumahnya. Matanya terbelalak lebar saat mendengar Adrianna menyebar tentang rencananya semalam. Louis menyadari bahwa Irene telah tiba di depan rumahnya. Ia mencoba mencegat Irene yang mencoba untuk pergi lagi.
“ Irene, mau kemana lagi kau?” Teriak Louis menarik tangan kakaknya.
“ Kau dengar sendiri kan? b*****h itu menyebarkannya. Sudah ku duga dia mengetahui semuanya” teriak Irene.
“ Ya aku dengar, aku pun sangat kesal. Jangan gegabah” jawabnya.
Irene menepis tangan Louis dan mencoba pergi dari hadapannya dengan emosi, “ ku bilang jangan gegabah” teriak Louis.
Irene menghiraukan teriakan dari adiknya. Otaknya sudah mulai buntu, hal ini membuatnya gelap mata. Louis hanya memandangi Irene yang sama sekali tak menggubris perkataannya.
“ Ayo kita bunuh mereka “ teriak lagi Louis berharap kakaknya mendengarkan.
Irene memberhentikan langkahnya, dan membalikkan badannya ke hadapan Louis. Dia mendekat dan menanyakan keseriusan Louis tentang rencananya. “ Apa kau yakin polisi tidak akan mencurigai kita jika kita membunuhnya?”
“ Ayo simpan rahasia ini dengan rapi. Dan tolong jangan gegabah. Kita harus memikirkannya secara matang”
“ Tapi aku tidak mau kita berfikir terlalu jauh. Itu akan memakan waktu, kita tak punya waktu”
“ Aku paham, cobalah tenang terlebih dahulu. Kau harus mendinginkan kepalamu”
Irene menatap kedua mata Louis. Dia masuk ke dalam dan mendobrak pintu dengan keras. Dan satu hal lagi yang membuatnya semakin tidak menyangka, yaitu Adrianna memberikan informasi ini pada Jessi yang Irene kenal bahwa Jessi adalah seseorang yang paling membencinya. Apa gunanya ini?
“ Adrianna, bocah itu benar-benar “ Ucapnya yang diselubungi oleh emosi dengan tangan nya yang kian mengepal.
“ Pantas saja, wanita itu datang kesini terus menerus” kata Louis.
“ Apa? Maksudmu dia kesini berkali-kali?”
“ Iya kak, katanya dia ingin bertemu denganmu”
“ Alasan! Dia sudah merencanakan ini sejak awal”
“ Lalu apa rencana kita? “ Tanya Irene pada Louis.
Louis mendekat dan berbisik di telinga Irene, “ apa rencana itu akan berhasil? “
“ Ayolah, kita tidak punya banyak waktu. Yang terpenting adalah keduanya mati kan?”
Irene mengangguk dan menyetujui semua perintah adiknya, “ jadi aku yang mengurus Adrianna?”
“ Iya “ jawabnya.
Louis membawakan segelas air untuk menenangkan kakaknya, “ ayolah, berfikir dengan matang sebelum kau benar-benar menjalankan rencana. Terkadang sifatmu yang gegabah harus kau buang jauh-jauh.”
“ Entahlah, aku sangat gemetar. Jika Steve mengetahui semuanya, habislah kita “ ucap Irene.
“ Tenanglah, besok kau harus beraktivitas seperti biasanya. Dan setelah hari mulai gelap kita akan menjalankan misi kita”
“ Serahkan semuanya padaku. Kau hanya tinggal menjalankan perintahku. Kau paham?” Tambah lagi Louis dan Irene mengangguk tanda mengerti.
Suara ponsel Irene bergeming, menghentikan pembicaraan soal persiapan rencana antara keduanya. Vincent menelpon Irene untuk melaporkan bahwa Zacklee telah menandatangani surat persetujuan untuk yayasan Oxford.
“ Halo , kau ada dimana? Aku ingin membicarakan soal yayasan kita” kata Vincent membuka obrolan.
“ Bicara saja di telepon Vincent”
“ Mengapa tidak bertemu saja? Kau ingin aku yang memegang berkasnya?”
“ Beberapa hari kedepan, kau saja yang mengendalikan soal yayasan itu. Aku sedang berada di situasi genting”
“ Butuh bantuan?”
“ Tidak perlu jika kau masih mengharap imbalan”
“ Ahh baiklah” ujarnya.
***
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Irene terus mengikuti komando dari Louis. Setelah semalaman risau dan khawatir soal rahasia yang akan di bocorkan oleh Jessi, mereka tertidur lelap bersiap memulai rencana dan misi baru.
Seperti apa yang di katakan Louis, bahwa hari ini bersikaplah sewajarnya dan jalani aktivitas seperti biasanya. Karena misi akan di mulai saat langit mulai gelap.
Louis kali ini bersiap-siap berangkat ke kantor Zacklee untuk menjalankan misinya. Misi kali ini adalah membuat Zacklee mengangkatnya menjadi pengawal pribadi atau pimpinan pengawal.
Setelah memberhentikan taksi dan tiba di depan kantor, mata Louis melihat Vincent yang baru saja keluar dari kantor Zacklee.
“ Ahhh, Vincent morgant sudah menjalankan misinya. Kali ini aku harus berhasil “ Desis Louis menyemangatkan diri.
Dengan berani ia melangkahkan kakinya masuk dan membuka pintu ruangan Zacklee. Zacklee membulatkan matanya melihat kedatangan Louis yang tak di duga-duga.
Ia pun melempar berkas kantor yang di pegangnya dengan keras, membuat Louis sedikit tidak percaya diri dengan rencananya.
“ Kau..setelah beberapa hari menghilang. Kau berani lagi menemuiku? “ Teriak Zacklee yang sedang kesal.
“ Aku tidak menghilang, aku hanya sedang pergi keluar negeri untuk mengunjungi kerabatku “ jawab Louis sok tenang.
“ Dasar kau b******n, bisa-bisanya kau datang setelah asetku jatuh ke tangan Vincent? “
“ Hei, mengapa kau memarahiku terus menerus? Memangnya kemana pengawal mu. Apa mereka tidak bisa di andalkan? “
“ Cukup ! Jangan berbicara lagi, aku sudah muak. Keluarlah aku benci melihat mu datang “
“ Jika seandainya kau mengangkatku menjadi pengawal tetap, kau mungkin tidak akan seperti ini “
“ Maksudmu? “
“ Kau hanya mengandalkan pengawal naifmu yang sama sekali tak bisa bertindak untuk menyelesaikan masalahmu? Dan setelah aku berhasil mengambil Flashdisk itu, kau tidak mengangkatku menjadi pengawal? Mungkin Vincent akan terus memanfaatkanmu “
“ Ya kau benar, jadi maksudmu aku harus menetapkan mu sebagai pengawal pribadiku agar kau bisa selalu bisa ku andalkan? “
“ Ya tentu saja “
Zacklee berfikir keras dan mencoba membuat keputusan untuk mengangkat Louis sebagai pengawal nya. Pengawalnya sudah banyak, apakah ia harus mengangkat Louis sebagai pengawal tambahan?
Louis hanya mengerjapkan matanya berkali-kali, berharap rencana murahan dengan modal memaksa ini mampu membuat Zacklee menerima dan mengangkat dirinya.
“ Tetapi tampangnya babi ini tidak akan menerimaku. Benar kata Irene ini hanya rencana murahan “ kata hatinya sadar diri.
“ Baiklah, kau bisa menjadi pengawalku “ Ujar Zacklee.
Louis menganga dan tak menyangka jawabannya akan menjadi seperti ini, “ yeah, akhirnya kau jatuh ke dalam perangkapku”
Louis membawakan segelas air untuk menenangkan kakaknya, “ ayolah, berfikir dengan matang sebelum kau benar-benar menjalankan rencana. Terkadang sifatmu yang gegabah harus kau buang jauh-jauh.”
“ Entahlah, aku sangat gemetar. Jika Steve mengetahui semuanya, habislah kita “ ucap Irene.
Louis mendekap dan merangkul Irene, kemudian ia berbisik pada kakaknya. “ Ahh rencanamu spektakuler “ jawab Irene setelah mendengar Strategi dari Louis.