Seseorang yang ku duga menguping pembicaraan ku malam itu, adalah rekan kerjaku sendiri. Adrianna! Lagi dan lagi ia datang ke rumahku dan kabur saat ku coba mengejarnya.
Mengapa dia terlihat ketakutan? Dan apa alasannya hingga berani datang kerumahku? Sungguh aku sangat risih melihat wajahnya yang gemetar ketakutan saat ku tarik rambutnya.
“ K-kau? “ Teriakku melotot.
“ Mengapa kau datang kemari? “ Kataku lagi sambil melepas tanganku yang menarik rambutnya.
“ Ti-tidak, aku hanya ingin menemuimu karena kau tidak bekerja hari ini. Ku mohon jangan membunuhku “ ucapnya ketakutan.
“ Apa harus sampai ke rumahku?” Kataku dengan curiga.
“ Iya, aku hanya khawatir”
“ Sekhawatir itu? Kau....taukan apa yang akan ku lakukan jika kau berbohong?” Ucapku dengan melangkahkan kakiku pelan-pelan ke depan.
Dia menunduk dan membuang wajahnya dari hadapanku. Aku mengangkat dagunya ke atas, membuatnya untuk menatap wajahku dan menatap kedua mataku. Sungguh, aku yakin dia berbohong.
“ Aku pulang dulu “ lanjut Adrianna melarikan diri.
Aku hanya bisa terus menatapnya sampai badannya tak terlihat lagi. Aku semakin curiga padanya. Kecurigaanku terus membuncah dan membuat diriku sendiri ingin melakukan sesuatu untuk mencari tahu.
Dan sekarang, setelah aku menceritakan mengenai kejadian semalam. Aku sudah siap dan memantapkan diriku untuk bekerja di kedai hari ini. Karena apa? Karena aku ingin menjalankan misiku terlebih dahulu.
Dua hari yang lalu, aku dengan percaya diri mengatakan bahwa hari itu adalah hari terakhirku bekerja. Siapa sangka, cecunguk lugu itu membuatku ingin menapakkan kakiku lagi ke kedai.
Gerak-geriknya sangat tidak wajar. Ku pikir dia hanya pelayan lugu yang selalu takut kepadaku. Tapi mengapa dia seberani ini? Jika dia bermain-main denganku. Akan ku pastikan, dalam waktu dekat nanti akan ku buat dia menghembuskan nafas terakhirnya.
“ Irene........”
Teriakan itu sudah terdengar tak asing lagi di telingaku, suara teriakan pemilik kedai yang tak kelihatan marah tetapi malah meminta permohonan agar aku selalu rajin pergi ke kedai.
Seluruh mata menatap si pemilik kedai dan diriku keheranan. Sikap pilih kasih nya membuat semua pelayan semakin membenci ku. Tapi siapa yang akan melakukan komplain, jika diantara mereka tak ada yang ingin mendekat. Mereka hanya seperti orang-orang tak berdaya yang tak bisa melakukan apa-apa.
“ Ada apa? “ Kataku dingin.
“ Irene, sayangku. Mengapa kau tidak bekerja kemarin? Ibu sangat was-was takut terjadi sesuatu padamu. Lain kali, kau..harus lebih rajin lagi. Pelanggan tak seramai saat kau bekerja disini “ ucapnya.
“ Ya “ jawabku sambil melewatinya.
Sasaran mataku yang pertama adalah mencari letak Adrianna. Kemana bocah cemen itu? Aku selalu risau soal dia yang mendengar pembicaraanku semalam. Tentu itu bukan omong kosong, itu adalah sebuah strategi untuk melancarkan seranganku pada Zacklee.
Dan jika rahasia itu tersebar, aku benar-benar tidak bisa mengampuni orang itu. Adrianna, jika dia benar-benar tau. Ku harap dia bisa menyimpan rahasia itu dengan rapi.
Rupanya Adrianna tengah berada di dapur untuk mempersiapkan bahan-bahan lain. Aku menghampirinya dan memberikan sesuatu. Ya, aku memberikan tali rambut dengan bandrol bunga untuknya.
Terlihat sederhana, namun pasti. Tidak terlalu mewah tapi hadiah kecil ini berarti. Apalagi di tambah dengan bandrol yang membuat tali rambut ini tampak lebih imut membuat ini cocok untuk dipakai di rambutnya.
“ Hai “ kataku menyapa, Dan Adrianna tampak heran melihat tingkahku.
“ Aku minta maaf soal kejadian semalam, saat ku coba tarik rambutmu dan itu pasti sangat sakit bukan? “ Tambahku untuk sang gadis lugu.
“ Aku tidak apa-apa “ jawabnya tertekan.
“ Apa? Kau bilang tidak apa-apa? Walaupun diantara beberapa rambutmu rontok?”
“ I-iya, itu tidak sakit?”
“ Ini, aku sengaja membelikanmu tali rambut dengan untai tali yang polos dan satu bandrol kecil bermotif bunga. Ini sebagai permintaan maafku “ kataku sembari memberikan hadiah itu yang sedari tadi ku genggam di balik punggung.
Adrianna ragu untuk mengambil hadiah pemberianku, tetapi aku terus memaksanya. “ Kau harus menerimanya, agar aku bisa lega” lanjutku dengan memberikan senyum yang kupaksakan.
“ Ayo ambil ini spesial” tegasku lagi.
“ Ahh tidak, kau sendiri saja yang pakai?” Katanya.
“ Aku? Tidak, aku lebih menyukai rambut tergerai”
“ Baiklah, aku akan mengambil ini “ jawab Adrianna.
Kakiku melangkah perlahan-lahan ke arahnya, kendati mengangkat alis kanan dan berkata padanya, “ kau..harus memakai tali ini kemanapun untuk menghargaiku. Jika tidak....maka aku akan, aku akan menarik rambutmu lagi. Bahkan hingga rambutmu patah” bisikku menakut-nakuti.
“ Ahhh tidak aku bercanda “ imbuhku.
Adrianna semakin membeku dan menghindar dariku. Aku hanya bisa menantapnya yang lugu bak anak kecil yang tidak berdosa. Entahlah, aku tak peduli aku akan membuatnya depresi atau gila karena diintimidasi olehku.
Tapi satu hal yang pasti, jika dia mendengar rahasiaku dan mencoba menyebarkannya. Aku bahkan tak rela membiarkannya hidup lagi.
***
Lebih dari tiga hari Vincent menanti penandatanganan berkas yang di berikannya untuk Zacklee. Saat ini adalah puncaknya! Setelah kejadian saat itu yang hampir membuat Vincent kehilangan nyawanya.
Kali ini dengan gagah ia memantapkan diri pergi ke kantor Zacklee dengan sungguh-sungguh sambil memegangi berkas.
“ Permisi tuan, kali ini Tuan Zack tidak mengizinkan anda untuk memasuki kantornya “ cegat security yang berjaga di depan kantor Zacklee.
Vincent membuka kacamata hitamnya sambil berkata, “ apa peduliku? Kau pikir aku peduli. Tidak! “
Vincent melangkahkan kakinya ke depan, namun security itu tetap mencegatnya. “ Anda tidak bisa memaksa tuan “ ungkap si security.
Vincent menghela napas dan memanggil pengawalnya yang menunggunya di mobil. Lalu dua pengawal Vincent menendang bagian perut dan mengikat tangan si security ke pilar kantor.
Di samping itu, Zacklee usai melakukan pertemuan dengan rekan kerjanya yang lain. Setelah ia keluar dari ruang pertemuan, Vincent memasang badan di hadapannya.
“ Bagaimana kabarmu? “ Tanya Vincent basa-basi.
“ Dan bagaimana kabar Mengenai penandatanganan berkas itu hemm? “ Lanjutnya.
“ Berani-beraninya kau menampakkan wajah busukmu di kantorku lagi? SECURITY? “ Teriak Zacklee.
“ Jadi apakah kita harus membicarakan soal itu di sini? Soal kematian ayah kita? “ Serang Vincent.
Zacklee menatap kesal Vincent sambil mendengus, “ ikut aku ke ruanganku “
Vincent tersenyum tipis dan mengikuti Zacklee menuju ruangannya. Mereka duduk sejajar di sofa dengan berkas yang di suguhkan Vincent di mejanya.
“ Jadi, aku tidak akan memberimu waktu lagi. Cepat tanda tangan sekarang! “ Kata Vincent memulai pembicaraan.
“ Tidak, aku tidak mau “
“ Jadi kau sudah siap kehilangan reputasi mu ya? “
“ SECURITY... SECURITY...SIAL DIMANA ORANG ITU? “
“ Aku telah mengikat kambing itu di pilar depan kantormu “
“ Sialan!” Gerutu Zacklee.
Vincent menaruh bolpoin ke meja dengan kasar membuat Zacklee menatap teguh benda itu.
“ Cepat tanda tangani! “ Teriak Vincent.
“ TIDAK! “
“ Halo selamat pagi, bagaimana soal liputan berita hari ini. Oh baik-baik saja ya? Bagaimana jika kita meliput berita yang akan menggemparkan seisi dunia. Aku akan mengirimkan file video itu saat tiba di kantor yaa? “ Ujar Vincent yang menelpon karyawannya untuk menakut-nakuti Zacklee.
“ Baiklah, aku akan menandatangani” jawab Zacklee yang ketakutan dengan pasrah.
Tangan Zacklee mulai meraih bolpoin yang berada di hadapannya. Tangannya masih kaku untuk menandatangani berkas yang berisi surat penyerahan aset yayasan Oxford kepada pemilik baru.
Wajah tegang dan bimbangnya menbuat Vincent tertawa tipis dan membuat kebahagiaan di hatinya semakin membubung. Dan setelah hitungan menit kemudian, akhirnya berkas itu dengan resmi di tandatangani.
“ Tapi Vincent, jika kau berani-beraninya mengunggah Video itu. Mati kau di hadapanku “ Seru Zacklee.
Vincent mengangkat ponselnya dan memberikannya pada Zacklee. “ Silahkan, kau bisa menghapusnya jika mau “.
Zacklee merampas ponsel Vincent dengan kasar sambil memasang wajah kesal. Dan dengan demikian Video soal pembunuhan ayah mereka di hapus.
***
“ Tolong segera hidupkan pelacak yang telah ku pasang di tali rambut Adrianna” bisikku saat menelpon Louis.
“ Harus ku hidupkan sekarang?”
“ Tidak, tunggu aba-abaku. Di jam-jam aku pulang dari kedai. Tolong segera hidupkan pelacak itu “
“ Tapi bagaimana dengan misiku ke rumah Zacklee”
“ Bodoh, kau bisa menundanya. Ikuti saja perintahku”
“ Baiklah-baiklah”
Bahkan Louis sampai rela meninggalkan misinya untuk menjalankan perintahku. Kau tau? Aku memasang penyadap yang ku sembunyikan di bandrol motif bunga itu
Adrianna tidak akan pernah mencurigainya. Siapa yang akan mencurigai bandrol imut yang berisi penyadap itu?tidak mungkin kan!
Sedari tadi aku tak pernah berhenti melirik Adrianna. Sialan, rambutnya terus di ikat dengan tali rambutnya yang lama. Dia pikir aku memberikan hadiah itu untuk di jadikan pajangan? Benar-benar tidak bisa menghargai.
***
“ Jadi, dengan ini konflik kita sudah berakhir. Kau sudah menghapus aibmu sendiri kan? “ Kata Vincent dengan senyum yang membuat emosi Zacklee terpancing.
“ Aku harap aku akan menemukan aibmu Vincent “
“ Coba saja, jika kau bisa” ucap Vincent dengan santai sembari merampas ponsel itu lagi.
Vincent melangkah pergi untuk meninggalkan Zacklee dan kembali ke kantornya. Zacklee mengepalkan tangannya, merasa tak berguna karena tak bisa mengatasi masalah sekecil ini.
Beberapa berkas yang berada di atas mejanya menjadi berantakan karena Zacklee meluapkan emosinya dengan menendang meja dan menjatuhkan semua benda yang berada di atasnya.
Sedang Vincent tersenyum kegirangan melihat Zacklee kehilangan salah satu aset berharganya.
“ Zacklee beruntunglah kau, aku tak mengambil perusahaanmu” katanya.
***
Setelah seharian bekerja dan melayani pelanggan, Irene segera memakai jaket hangatnya dan beranjak pulang. Tetapi sebelum itu, Ia kembali menemui Adrianna dan menghampirinya.
“ Mengapa kau tidak memakai Ikat rambut itu “ tanya Irene dingin.
“ Emmm anu, aku akan memakainya nanti “ jawabnya.
“ Biar aku yang memakaikannya sekarang “ ketus Irene.
Irene mulai mengikat rambut Adrianna yang di gerai dengan lembut, “ dengan ini, kau akan semakin cantik “ ungkapnya berusaha berkata manis.
Adrianna hanya bisa tersenyum dengan ragu, lalu Irene pergi meninggalkan Adrianna sambil melambaikan tangannya. “ Sampai jumpa “
Di sepanjang jalan, Irene berjalan sembari memasang Earphone dan melacak sistem yang berada di ikat rambut Adrianna. Sikap Irene yang lembut dan penuh haru memiliki makna kelam di dalamnya.
“ Halo Louis kau dimana? “
“ Sudah siapkan Laptop dan semua benda yang dibutuhkan dalam melacak semuanya? “
“Iya, aku sudah berada di depan Laptop. Apa perlu melacak sekarang?” Kata Louis.
Aku mengangguk pelan, “ kerjakan sekarang, dan sambungkan ke earphone ku agar aku mendengar dan bisa tau kemana perginya bocah itu”
Louis mengangguk dan meregangkan kedua tangannya. Dia melacak semuanya dengan penuh ketelitian dan segera menyambungkan alat penyadap itu ke earphone Irene.
“ Aku juga ingin tau, apa yang gadis itu bicarakan “ kata Louis dengan serius.