Ara melotot ketika Feri mengajaknya masuk ke sebuah kelab malam yang bahkan tidak pernah Ara datangi selama ia hidup di bumi. Feri—pria terkutuk itu menariknya dan memaksanya masuk lalu duduk di sebuah sofa panjang. Suasana yang ramai dan musik yang diputar dengan volume keras. Beberapa orang menari seperti kesetanan. Ara bergidik ngeri. “Feri! Lo titisan dakjal, ya? Lo ngapain ngajak gue ke sini?” omel Ara agak sedikit berteriak karena suara musik yang mendominasi ruangan. “Senang-senang, Ra. Tenang aja. Cuma senang-senang, enggak pakai minum. Gue jagain lo.” Ara memutar bola mata malas. Jika begini, malah membuat mood nya hancur seketika. Ara duduk menyandarkan tubuhnya sambil menyilangkan tangan di d*da. Ia melihat Feri tengah menari dengan tiga orang perempuan dengan pakaian yang sa

