Ara berdiri di depan cermin besar, menatap tubuhnya yang berbalut gaun putih dengan riasan wajah yang tidak terlalu tebal. Gadis itu tersenyum kecil, mengagumi dirinya yang ternyata sangat cantik dengan gaun pernikahan. “Iya, gue tahu lo cantik. Itu kaca kasian banget, insecure gara-gara lihat lo.” Ara menoleh mendapati Feri yang tengah berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di ambang pintu. “Akhirnya lo mengakui kalo gue cantik, kan?” Feri mendengkus. “Dari dulu, gue udah tahu lo cantik, Ra. Cuma, gue emang gitu. Secantik apapun lo kalo bukan pacar gue, ya pasti gue bilang jelek.” Ara hanya memutar bola mata malas. “Yaudah, karena Arden lagi sakit perut, dia suruh gue jemput lo. Di depan udah rame, tuh. Kasian, mereka pasti lagi nunggu biar cepat-cepat bisa makan prasmanan.”

