Feri dan Natasya kini duduk di sofa. Kedua kakak laki-laki Feri duduk di hadapan mereka dengan wajah datarnya. Sedangkan di sofa sebelah kanan duduklah sang Nenek yang dengan kacamata tuanya itu menatap Feri seolah tengah melihat seorang pencuri. “Jadi, dia pacarmu?” tanya Neneknya dengan suara khas yang selalu Feri ingat setiap kali bermimpi buruk. Suara berat yang begitu mengintimidasi. “Eng, i-iya, Nek. Ini pacar Feri. Beneran pacar Feri ini, boleh Feri dapet sendiri, enggak dapet dari gosok Ale-Ale.” Kakak pertamanya, pria dengan rambut ikal yang agak lebat tu langsung tersenyum. “Cantik, Fer. Orang bule, ya?” tanyanya dengan nada keponya seperti biasa. Natasya hanya bisa tersenyum. Dia mengikuti perintah Feri yang katanya tidak boleh berbicara apapun selain tersenyum. Natasya suda

