Gama duduk sambil memegangi tangan Ara yang dingin. Matanya tidak lepas dari wajah pucat istrinya. Tidak tahu apa yang harus dia katakan ketika Ara bangun nanti. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikannya. Gama hanya bisa menangis dalam diam, berharap Ara bisa menerima apa yang terjadi pada bayi mereka. Sebagai seorang suami, ia gagal menjaga Ara. Harusnya tidak usah ia izinkan Ara datang ke rumah Nenek. Tentu saja penyesalan itu menyakitkan. "Gama," panggil Ara dengan suara pelan. Gama langsung mendongak dan menghapus air matanya. "Kenapa nangis?" tanya Ara yang kebingungan. Gama ingin diam, tapi bagaimanapun juga, Ara harus tahu. Kebohongannya beberapa hari lalu tentang kehamilan Ara membuatnya sangat bersalah. Dia tidak ingin merasakan itu lagi. "Ra," panggil Gama dengan suara pe

