"Berhentilah Sayang, jangan berjualan lagi. Aku akan berusaha mencari usaha yang lebih menghasilkan. Tadi siang ibu telepon, menawarkan bantuan lagi untuk biaya Affan dan Azam. Kalau kita mau, hasil dari sepuluh pintu rumah kontrakan yang ada di dekat alun-alun kota buat kita. Bagaimana kalau sekarang kita terima saja? Kita sudah sering menolak tawaran ibu."
Erna dari dulu selalu menawarkan bantuan untuk membiayai pendidikan kedua putranya. Mereka berdua pun selalu menolak karena ingin berjuang sendiri untuk putra-putra mereka tanpa bantuan siapapun. Ditambah dengan saudara ipar yang terkesan iri, Naura tak ingin membuat keributan karena masalah materi.
Amanda, istri dari Ragil, adik Rama, walaupun hanya seorang menantu tapi dia selalu berani dan tak terima jika ibu mertua memberikannya sesuatu. Naura sendiri heran, Amanda bisa seperti itu dengan ibu mertuanya.
Ragil pun tak pernah menegur, selalu diam mendengar ocehan istrinya walaupun di depan mereka semua. Erna seperti tak berdaya di depan Amanda. Naura dan Rama merasa curiga dengan sikap mereka, merasa ada yang sengaja disembunyikan.
"Lalu bagaimana dengan istrinya Ragil? Mas tahu sendiri kalau Amanda selalu protes kalau ibu memberikan uang pada Affan dan Azam. Aku hanya tak ingin ribut dengannya. Kasihan ibu nanti malah kepikiran mendengar ocehannya. Meskipun ibu tak pernah cerita tapi dia akan mewawancaraiku kalau tahu aku sudah tak jualan lagi."
Rama terdiam, lalu berdiri dan menggandeng tangan Naura, berjalan ke belakang. Rama pun pergi ke kamar mandi, sementara Naura menyiapkan makan malam. Mereka makan sambil mendengar cerita Rama tentang teman-temannya. Rama adalah suami yang sangat baik, tak pernah marah, selalu bercerita semua yang dialaminya di tempat kerja, dan setia.
"Ibu tadi ke sini, Mas, nganterin nasi padang buat aku sarapan. Ibu juga bilang kalau mulai besok mau mengirim orang untuk membantuku cuci piring. Apa kamu setuju, Mas?" tanya Naura dengan hati-hati. Rama adalah orang yang tak suka jika ada orang lain seperti asisten rumah tangga di rumahnya.
"Waktu meneleponku tadi, Ibu sudah bilang dan kali ini aku menyetujuinya. Yang penting langsung pulang kalau pekerjaannya selesai, jangan menginap. Makanya Sayang, kamu berhenti saja, nggak usah jualan lagi. Ibu selalu meneleponku dan membicarakan hal yang sama. Ibu sangat menyayangimu melebihi anaknya sendiri. Mungkin kalau aku menyakitimu, ibu akan langsung membunuhku."
"Astaghfirullah ... bisa saja kamu, Mas." Naura tahu ibu mertuanya memang sangat menyayanginya melebihi anak kandungnya sendiri.
"Habisnya setiap menelepon yang dibahas kamu, tiap ke sini ngobrolnya juga sama kamu. Aku anaknya nggak pernah ditanyain kabarnya," ucap Rama sambil mengerucutkan bibir sehingga membuat istrinya tertawa.
"Ya Allah, kamu cemburu sama aku, Mas?" tanya Naura pada Rama yang wajahnya seperti anak kecil yang sedang merajuk
"Ya, nggak juga, cuma jengkel aja. Aku ini anaknya kebagian dimarahi terus. Tapi wajar juga sih, kamu itu memang pantas disayang sama ibu. Istriku ini 'kan cantik, baik, shalihah, pintar melayani suami lagi," kata Rama sambil mencolek gemas dagu istrinya. Wajah kesalnya sekarang berubah menjadi ceria dengan tatapan mata yang menggoda.
"Kamu itu bisa saja, Mas. Soal wajah lebih cantik Amanda, dong, Mas. Dia juga seksi, penampilannya modis. Beda sama aku yang seperti ibu-ibu pengajian katanya."
Amanda adalah wanita yang cantik dan modis, jika dibandingkan dengan penampilan Naura sangat jauh berbeda. Dirinya yang memakai gamis dan khimar panjang selalu dibilang Amanda seperti ibu-ibu pengajian, kampungan.
"Cantik kalau nggak bisa jaga kelakuan juga percuma. Nemu di mana Ragil itu dapat istri seperti itu," ucap Rama yang kurang suka dengan adik iparnya.
"Jangan begitu, namanya sudah jodoh mau bagaimana lagi. Bagiku yang penting ibu jangan sampai terganggu dengan ocehannya mengenai kita, kasihan. Aku rela bekerja keras demi keluarga kita. Eh, aku mau lanjut dulu biar urusan dapur cepat selesai. Mas tunggu aku di sini saja, biar aku ada temannya."
"Oke Sayang, aku temani. Tapi sambil lihat youtube, ya?"
"Iya, yang penting aku ditemani di sini." Naura pun tersenyum dan segera berlalu menuju dapur yang masih satu ruangan dengan meja makan.
Naura langsung mengeksekusi bumbu-bumbu dan bahan-bahan lainnya yang sudah dicuci. Semua sayuran yang sudah selesai dipotong dan dibersihkan langsung dimasukkannya ke dalam kulkas, besok tinggal mengolahnya saja.
Rama suka sekali melihat youtube masalah otomotif, cara-cara modifikasi motor atau mobil dan sejenisnya. Selain itu, Rama juga sangat suka bermain game. Naura pun membiarkannya daripada suaminya keluyuran tak jelas dengan temannya.
Tepat pukul sepuluh malam, pekerjaannya sudah selesai. Besok jam tiga pagi Naura bangun untuk melanjutkan. Agak siang dari biasanya karena jika ada pesanan nasi kotak, dia tak lagi berjualan di depan rumah. Naura langsung ke kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat, demikian juga dengan Rama.
Hujan pun masih belum berhenti tapi tak selebat tadi, membuat hawa dingin semakin menjadi. Suasana yang sepi, ditambah suara rintiknya hujan, membuat malam semakin terasa syahdu dan romantis bagi makhluk hidup yang berpasangan.
Permintaan Naura agar libur tugas malam ini akhirnya tak dihiraukan suaminya. Dengan terpaksa Naura melayaninya. Hawa dingin yang menyelimuti malam, semakin membuat hasrat Rama bergejolak. Seperti mempunyai tenaga lebih, Rama tak ingin menghentikan permainan. Naura lelah tapi hanya bisa pasrah dan berusaha menikmati.
Setelah mencapai puncak kenikmatan surga dunia bersama, Rama tersenyum memandang wajah cantik Naura. Dia mengecup kening istrinya lama, mencium kedua pipi dan bibir, kemudian merengkuh Naura dalam dekapan.
"Maafkan aku, Sayang, terima kasih sudah melayaniku dengan baik meskipun aku tahu kamu lelah. Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu. Istirahatlah ...." ucap Rama dengan suara yang lembut dan terdengar romantis di telinga.
Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus pertanda Rama sudah terlelap. Naura beranjak dari ranjang lalu ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dia pun membuat air madu hangat, duduk sendiri menikmatinya. Melamunkan sesuatu yang dia sendiri tak tahu apa. Meneteskan air mata yang dia sendiri juga tak mengerti apa sebabnya.
"Ya Allah ... ada apa denganku? Apakah aku sudah tak ikhlas lagi melayani suamiku? Mengapa akhir-akhir ini aku selalu melayaninya dengan terpaksa?" tanya Naura dalam hati.
Dalam diam Naura menangis, mencoba tak bersuara agar tak terdengar oleh Rama. Tubuh yang lelah, tulang-tulang yang seakan mau patah, seakan hilang tak lagi dirasakan. Bahkan Naura merasa tubuhnya sangat kuat dan kembali bertenaga.
"Kenapa aku tak pingsan saja? Kenapa aku bisa langsung beraktivitas seperti biasanya walaupun sudah berulang kali melayaninya? Kenapa?"
Banyak sekali pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Walaupun fisiknya kuat tapi kembali lagi rasa lelah itu datang menghampiri. Hatinya seolah memberontak, ingin menyerah. Naura merasa lelah, lelah yang teramat sangat.
***
Matahari sudah mulai menampakkan sedikit sinarnya, menepis awan gelap dengan perlahan. Pancarannya mulai menciptakan detak nadi kehidupan, terutama bagi mereka yang ingin berjuang. Seperti halnya Naura, yang berjuang di dapur semenjak pukul tiga dini hari. Bersyukur bisa selesai tepat waktu dan pesanan sudah diambil oleh pemiliknya.
Naura segera membereskan semua kekacauan di dapur sekalian membersihkan rumah. Dilihatnya Rama sudah mandi dan wangi, memakai baju harian karena hari Sabtu termasuk salah satu hari liburnya.
Rama duduk di meja makan sambil menikmati kopi hitam tanpa gula. Naura pun segera mandi lagi menghilangkan bau keringat yang sudah bercampur dengan bau bumbu masakan. Apalagi suami ada di rumah, istri harus tampil cantik dan wangi 'kan?
"Hemm ... ini yang kusuka kalau aku libur, istriku selalu segar dan wangi. Di kamar saja, ya, Sayang, aku tak ingin ke mana-mana," Rama langsung memeluk Naura saat keluar dari kamar mandi dan akan duduk di kursi yang berada di sampingnya.
"Baru saja selesai mandi, nanti jadi mandi lagi dong. Duduk dulu, ya, Mas. Aku juga ingin menikmati teh lemon hangat," sahut Naura memberi alasan.
"Oke, Sayang. Tapi jangan lama-lama, ya," pinta Rama dengan tatapan menggoda.
Selama hampir dua tahun ini, beginilah jika hari Sabtu dan Minggu. Di saat Rama libur, Naura harus selalu siap menemani dan melayani sang suami. Naura tak diperbolehkan menerima pesanan pada akhir pekan, apalagi berjualan. Namun, jika tamu bulanannya datang, Rama akan mengajaknya jalan, pergi bertamasya berdua dengan mengendarai motor sportnya. Berkeliling kota ke mana saja asalkan tak di rumah.
Mereka menikmati minuman di pagi hari dengan sesekali tertawa karena guyonan yang diceritakan Rama. Tak lama kemudian terdengar suara wanita memberi salam dari teras rumah. Naura segera memakai gamis dan khimar panjang, menemui wanita yang sudah berdiri di depan pintu.
"Masuklah, maaf kami tadi sedang duduk di belakang." Naura mempersilakan adik iparnya yang cantik jelita masuk ke rumah.
"Mas Rama libur, ya? Makanya buka pintunya lama. Dari tadi aku teriak-teriak memberi salam tapi nggak ada jawaban, ya sudah aku masuk saja. Pagar rumahmu juga nggak dikunci." Amanda langsung mendudukkan tubuhnya di sofa minimalis yang ada di ruang tamu.
"Iya, Sabtu dan Minggu Mas Rama memang libur. Kamu juga ke sini sendirian saja, Ragil dan Rayhan mana?" Naura hanya basa-basi menanyakan keberadaan suami dan putra Amanda yang memang tak pernah terlihat bersama. Sudah biasa jika wanita cantik dan modis itu keluyuran sendirian seperti sekarang. Mereka tinggal bersama ibu mertua. Bukan karena tak mampu membeli rumah, tetapi untuk menemani Erna yang tinggal sendirian.
"Biasa, Ragil sedang ke kantor karena tugas yang menumpuk. Rayhan di rumah, dia lebih suka bersama neneknya. Mbak, aku besok mau pesan nasi bento seratus porsi buat jam empat sore," kata Amanda dengan pandangan mata yang tajam seolah tak menerima sebuah penolakan.
Naura memalingkan pandangan dari tatapannya. Amanda selalu seperti itu, suka memaksa. Padahal Amanda juga tahu kalau Naura tak menerima pesanan di akhir pekan.
"Besok kami ada acara, istriku tak bisa menerima pesananmu. Pesan saja di tempat lain, yang kelasnya lebih tinggi sesuai dengan selera teman-temanmu." Rama tiba-tiba menyahuti ucapan Amanda dengan tegas, sambil berjalan menghampiri mereka.