Permintaan ibu mertua

1121 Kata
"Temanku nggak mau. Dia hanya ingin buatan Mbak Naura, sudah cocok katanya," sahut Amanda tak mau kalah. "Aku suaminya, aku yang menentukan saat ini karena aku sedang di rumah. Kalau mau pesan juga jangan dadakan, seenaknya saja. Pulanglah! Sampaikan pada temanmu itu kalau suaminya tak mau kalau istrinya menerima pesanan di hari Minggu. Selama ini kamu juga sudah tahu 'kan? Kamunya saja yang sengaja mengganggu kami," ucap Rama dengan tatapan tajam ke arah Amanda. Naura hanya diam, membiarkan mereka berdebat berdua. Walaupun Amanda keras kepala tapi akhirnya dia menyerah. Dia pun pulang dengan wajah yang merah karena menahan kesal dan marah. Setelah memastikan Amanda sudah berlalu bersama mobil mewahnya, Rama langsung menggendong istrinya dan membawanya ke kamar. Terjadilah apa yang diinginkan Rama, berlayar dalam lautan asmara yang membara. Sudah satu jam lebih mereka melakukan permainan. Setelah puas, Rama mengecup kening istrinya dan mengucapkan kata cinta. Rama adalah suami yang sangat romantis, selalu berterima kasih setelah Naura melayaninya. Naura pun bergegas mandi kemudian melaksanakan sholat dhuha. Naura mandi di kamar mandi yang ada di kamar dan sholat dhuha pun dilakukannya di kamar juga. Rama duduk di atas ranjang sambil bermain game favoritnya. Naura segera berlalu keluar kamar berencana menyiapkan makan siang. Saat membuka pintu, Naura sangat terkejut karena Erna sudah duduk di kursi yang ada di ruang keluarga. Kamar mereka tepat di depan ruang keluarga, ruang tempat melihat televisi dengan sofa bed, model sofa yang bisa dijadikan tempat tidur juga. "Ibu ...." Naura berjalan mendekati ibu mertuanya dan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Kebiasaan buruk kalian berdua masih saja nggak hilang, membiarkan pintu pagar dan rumah nggak dikunci. Kalau ada maling bagaimana? Kalau mau gulat, dikunci dulu semua pintunya," ucap Erna yang sudah hafal dengan kebiasaan mereka. Setelah Amanda pulang, mereka lupa tak mengunci pagar dan pintu depan, malah langsung ke kamar. Naura hanya tersenyum malu pada Erna. "Ibu sudah lama?" tanya Rama yang sudah keluar dari kamar dan duduk di sebelah ibunya. "Nggak, baru saja kok. Jangan khawatir, ibu tak mendengar keributan kalian di kamar," ucap ibu yang semakin membuat pipi Naura merona. Erna selalu ceplas-ceplos kalau berbicara pada mereka. Rama hanya tersenyum mendengar sindiran wanita yang sudah melahirkannya. Rumah ibunya memang dekat, perjalanan sekitar lima belas menit saja dengan kendaraan roda dua atau roda empat. "Tadi Amanda ke sini, ya? Katanya pesan nasi bento tapi kalian menolaknya. Dia pulang dan langsung bilang sama Ibu. Dia marah dan langsung menyuruh Ibu memohon pada kalian agar menerima pesanannya. Rama, tolong kali ini ijinkan istrimu menerima pesanannya, Ibu mohon, Nak," kata Erna dengan mata yang berkaca-kaca. Naura dan Rama saling memandang dengan tatapan heran tapi tak berani bertanya. Wajah cantik Erna terlihat sangat menyedihkan, baru kali ini mereka melihatnya. "Bu, sebenarnya ...." "Tolong jangan bertanya apapun untuk saat ini. Terimalah, Nak, bila perlu Ibu akan membantumu besok pagi," sahut Erna memotong ucapan menantunya. "Baiklah, Bu, aku akan menerimanya. Nanti aku akan mengirim pesan pada Amanda." Terpaksa Naura menerima karena tak tega melihat ibu mertuanya. "Terima kasih, ya, Sayang. Kamu memang putri Ibu yang baik hati." Erna memeluk erat tubuh Naura, sangat erat, seperti ada beban yang ditahan dalam hati. Rama hanya diam memandang ibunya. Tatapannya mengiba, rasa khawatir dan penasaran bercampur menjadi satu. Tak lama kemudian, ibunya pun pamit pulang. Wajah Erna kembali tenang dan terlihat lega, terlepas dari sebuah masalah. "Sebenarnya ada apa, ya, Mas? Apa yang terjadi pada ibu? Sepertinya ibu tak bisa membantah apalagi menolak apapun permintaan Amanda. Apakah kamu tahu sesuatu, Mas?" tanya Naura pada suaminya yang masih diam. "Aku sendiri juga nggak tahu apa yang terjadi, Sayang. Sudah hampir dua tahun ini aku perhatikan sikap Amanda berubah dan beberapa bulan ini semakin menjadi. Yang aku heran, Ragil dan ibu hanya diam saja. Jika aku tanya, mereka selalu menghindar." Rama pun heran dengan sikap ibu dan adiknya. "Biarkan saja seperti ini, aku akan mencari tahu perlahan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan, percuma memaksa kalau mereka tak mau cerita. Suatu saat nanti pasti semua rahasia yang ditutupi akan terbongkar juga," kata Rama melanjutkan ucapannya. Naura hanya mengangguk, beranjak dari tempat duduk tapi langsung dihalangi oleh Rama. "Mau ke mana?" Rama menarik tubuh Naura sampai terduduk di pangkuannya. Kembali dirinya menghujani ciuman di wajah dan leher istrinya. Naura terpaksa mendorong tubuh Rama, berusaha menolak. "Aku lapar, Mas. Mau menyiapkan makan siang sebentar. Habis sholat dhuhur saja kita lanjutkan, ya?" Naura kembali memohon. Dirinya masih merasa lelah. "Sebentar saja, Sayang. Nggak usah masak, setelah ini kita makan siang di luar saja. Aku ingin memanjakan istriku hari ini." Rama pun langsung menggendong istrinya kembali ke kamar. "Mas, jangan lupa kunci pintu dan pagar." Naura mengingatkan. Rama pun berjalan ke teras rumahnya, mengerjakan apa yang Naura perintahkan, kemudian kembali masuk kamar dan melakukan apa yang dia inginkan. Naura sangat lelah dan langsung tertidur setelah melayani sang suami. Seperti tak pernah puas, Rama berulang kali meminta haknya. Apalagi di hari libur seperti ini. Itulah mengapa dia tak menginginkan Naura menerima pesanan. Dia hanya ingin istrinya melayaninya seharian. Entah berapa lama Naura terlelap, yang dia rasakan tubuhnya remuk redam. Tak dilihatnya Rama di sampingnya, Naura pun lanjut memejamkan mata. Rasanya tak ingin bangun, tubuhnya hanya ingin istirahat saja. Tanpa terasa air mata Naura kembali berlinang. Lelah ... rasa itu selalu datang tanpa dia minta. Segera ditepisnya semua perasaan yang hadir, dihapusnya air mata yang mengalir. Naura terus beristighfar memohon ampunan. Pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok laki-laki tampan dengan senyumnya yang menawan. Di tangannya membawa dua buah piring yang di atasnya sudah terisi sendok dan juga sebuah bungkusan. "Sudah bangun ternyata, kamu tidurnya lelap sekali, Sayang. Aku tak tega membangunkanmu. Ayo, makan dulu. Sudah aku belikan nasi padang dengan daging rendang kesukaanmu." Rama meletakkan kedua piring di atas meja kecil di ujung kamar, mendekati istrinya dan membelai pipi mulus kekasih halalnya. Naura hanya menundukkan kepala, tak berani melihat ke arah Rama. Matanya sudah sembab karena air mata. "Aku mau ke kamar mandi dulu, kita makan di meja makan saja. Mas duluan, ya, aku akan segera menyusul setelah mandi." Naura beranjak dari tempat tidur tanpa memandang suaminya. Baru saja kakinya menapaki lantai kamar, Rama langsung merengkuh tubuh Naura ke dalam dekapannya. Dia mencium kening istrinya lama ... sangat lama seakan mengerti apa yang dirasakan Naura. "Maafkan aku, ya, Sayang. Aku tahu kamu habis menangis. Sekali lagi, maafkan aku. Akhir-akhir ini aku selalu tak bisa mengendalikan diri, rasanya aku tak ingin berhenti memadu kasih denganmu. Sekali lagi, maafkan suamimu." Rama tahu istrinya menangis dan memeluk tubuh langsing istrinya dengan erat. Setelah melepas pelukan, kembali dia mencium kening Naura. Rama tersenyum dan memandang wajah Naura, menyembunyikan gurat kesedihan yang terpancar dari sinar matanya. Dia pun berlalu keluar kamar sambil membawa kedua piring yang tadi dibawanya. Saat ini, Naura merasa menjadi istri yang durhaka dan penuh dosa. "Maafkan aku, Mas ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN