"Sayang, apa kamu tak ingin kita memiliki anak lagi? Mungkin seorang putri akan membuat suasana rumah kita lebih berwarna," kata Rama setelah menghabiskan makan siangnya.
"Laki-laki atau perempuan sama saja, Mas. Kalau yang aku lahirkan perempuan, nggak masalah. Kalau ternyata aku melahirkan laki-laki lagi, bagaimana?" balas Naura membuat alasan.
Dua anak cukup bagi Naura tapi Rama selalu saja ingin menambah anak lagi. Dia sangat ingin memiliki seorang putri. Naura pun tak tahu mengapa dia tak kunjung hamil, padahal dirinya tak pernah memakai alat kontrasepsi.
Akan tetapi dalam diam, Naura selalu meminta pada Allah jangan diberi amanah lagi. Mungkin karena do'anya yang diijabah, sudah hampir dua belas tahun ini, dia pun tak hamil juga. Padahal Affan dan Azam waktu itu lahir dengan jarak yang cukup dekat, hanya dua tahun saja.
" Ya, nggak apa-apa. Aku jadi semakin semangat karena punya tiga jagoan," ucap Rama dengan wajah yang berbinar.
"Ya, do'akan saja aku bisa melahirkan seorang putri untukmu." Akhirnya Naura mengucapkannya, selama ini dirinya selalu menahan kalimat seperti ini. Dalam hati masih ada rasa takut dan trauma, sakit saat melahirkan.
"Aamiin .... semoga saja, ya, Sayang. Aku senang kamu ikut mendo'akan kita memiliki seorang putri. Pasti wajahnya cantik seperti mamanya. Affan dan Azam nggak telepon?" tanya Rama yang sudah rindu dengan putra-putranya.
"Jumat kemarin Affan menelepon, katanya dua minggu ini mereka sudah mulai ujian. Jadi minta maaf kalau nggak bisa telepon dulu. Nanti kalau sudah selesai, mereka pasti akan menghubungi kita. Affan dan Azam juga minta do'anya biar lancar ujiannya dan hasilnya bagus sesuai yang diharapkan."
"Aamiin .... aku yakin mereka pasti bisa. Kedua jagoanku pintar semuanya. Aku bersyukur memiliki anak-anak seperti mereka. Makanya aku ingin tambah satu lagi biar kita tak kesepian." Rama sangat bangga dengan kedua putranya yang pandai dan penurut.
"Kita lihat saja ke depannya nanti. Mas tahu sendiri kalau aku juga tak pernah memakai alat kontrasepsi. Kalau Allah memang memberikan kita amanah lagi, pasti aku akan menerimanya dengan senang hati."
Mereka pun melanjutkan obrolan sampai sore hari. Adzan ashar berkumandang, keduanya segera mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajiban. Kali ini Rama ikut sholat dan berdiri di depan Naura sebagai imam. Begitulah Rama, terkadang sholat, terkadang tak mau, Naura hanya bisa mengingatkannya saja. Namun, yang namanya hati dan juga hidayah, hanya Allah pemiliknya.
Rama dan Naura merebahkan diri di atas ranjang sambil bermain ponsel. Setiap hari libur selalu seperti ini, Rama tak mengijinkan istrinya beraktivitas apa pun. Tugas Naura hanya menemani dan melayaninya saja.
Naura berbaring dengan kepala berada di pangkuannya. Sementara Rama duduk bersandar, bermain game sambil sesekali mencium pipi dan bibir istrinya dengan gemas. Naura pun berselancar di dunia maya, membaca tausiyah yang lewat di beranda.
Poligami ini dibolehkan karena terkadang seorang pria kebutuhan biologisnya belum terpenuhi bila dengan hanya satu istri (karena seringnya istri berhalangan melayani suaminya seperti tatkala haidh). Maka Allah membolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri dan dibatasi dengan empat istri. Dibatasi demikian karena biasanya setiap orang sudah merasa cukup dengan empat istri, dan jarang sekali yang belum merasa puas dengan yang demikian. Dan poligami ini diperbolehkan baginya jika dia yakin tidak berbuat aniaya dan kezaliman (dalam hal pembagian giliran dan nafkah) serta yakin dapat menunaikan hak-hak istri.
Sebuah tulisan terbaca oleh Naura. Tiba-tiba sebuah ide konyol terlintas di pikirannya. Lalu wanita itu bangun dan duduk di hadapan Rama. Naura pun menanyakan sesuatu pada suaminya dengan sangat hati-hati.
"Hemm ... Mas, apakah kamu nggak ingin menikah lagi?" tanya Naura sambil memandang wajah Rama dengan sedikit rasa takut.
Rama menghentikan permainan di ponselnya. Keningnya berkerut dan tatapannya yang tajam tertuju pada istrinya.
"Maksudnya?"
"Hemm ... biasanya laki-laki itu selalu mencari yang lain jika usia pernikahannya sudah belasan tahun seperti kita. Banyak juga yang selingkuh karena tak merasa puas dengan istrinya. Aku hanya bertanya saja kok, jangan marah, ya?" jawab Naura dengan tersenyum.
Wajah Rama tiba-tiba berubah dan langsung saja dia beranjak dari ranjang lalu keluar kamar. Naura pun mengikuti Rama, tak ingin suaminya marah. Dilihatnya Rama duduk di kursi di ruang makan setelah menghabiskan segelas air putih dingin. Naura mendekati suaminya lalu memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku, Mas. Aku tak sengaja membuatmu marah. Sungguh aku tak bermaksud seperti itu. Maafkan aku."
Naura hanya bisa mengucapkan kata maaf. Bahkan dirinya masih bingung, apa yang salah dengan pertanyaannya. Namun, untuk saat ini Naura tak lagi menginginkan sebuah jawaban.
Rama berdiri dan kembali merengkuh tubuh Naura dalam dekapan. Wajah Rama sudah kembali tenang tapi Naura tak berani mengeluarkan suara.
Setelah melepas pelukan, Rama langsung menggendong istrinya dan membawa ke kamar tidur lagi. Naura hanya diam, mencoba tersenyum, melayani hasrat suaminya yang tak terbendung. Kali ini lebih dahsyat lagi, terasa ada pelampiasan amarah dalam permainan suaminya. Naura hanya bisa pasrah.
***
Naura: Assalamu'alaikum, Amanda. Aku terima pesanan temanmu, ambillah jam tiga besok sore.
Naura mengirim pesan pada Amanda, menerima pesanannya demi ibu mertua. Tukang sayur pun sudah ditelepon dan berjanji akan mengantar bahan-bahan yang dia pesan, besok jam lima pagi. Naura berharap, semoga bisa selesai tepat waktu. Apalagi Erna juga mengirim pesan, besok akan datang membantu.
Rama hanya bisa mengiakan, walaupun tidak rela karena ada yang mengganggu waktu liburnya. Namun, dia pun tak bisa berbuat apa-apa, permohonan ibunya membuatnya tak tega.
Ting
Amanda: Baiklah, setelah ini aku transfer uangnya. Dan ingat! Mulai sekarang, kalian tak akan bisa menang. Jangan coba-coba menolak permintaanku!
Naura menghela napas, menenangkan hati dan pikiran agar tetap waras. Menghadapi Amanda akhir-akhir ini, sungguh menguras emosi. Tak lama kemudian terdengar bunyi notifikasi, dilihatnya sebuah bukti transfer mobile banking dari adik iparnya.
Naura: Terima kasih.
Naura membalas pesan Amanda. Ucapan terima kasihnya murni karena urusan bisnis bukan urusan keluarga.
"Sayang, habis sholat isya' kita pergi makan malam di warung nasi bebek biasanya, mau? Aku ingin mentraktir istriku." Naura tak menyadari kehadiran Rama yang sudah duduk di sampingnya. Memikirkan Amanda membuatnya melamun.
"Sebenarnya aku malas ke mana-mana. Malam juga biasanya hujan. Tapi jika kamu ingin, baiklah," jawab Naura tanpa memandang wajah suaminya. Naura merasa masih sangat jengkel dengan Rama.
Rama pun memeluk istrinya, membisikkan kata maaf dan ungkapan cinta. Menghujani Naura dengan ciuman. Dia selalu seperti itu jika merasa bersalah.
"Maaf, ya, untuk yang tadi siang. Tolong jangan ulangi lagi pertanyaan konyolmu itu. Aku hanya sayang dan cinta padamu. Tak ingin yang lain."
"Maaf ...."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kalau kamu malas ke mana-mana, kita makan di rumah. Aku pesankan lewat online saja, ya?"
"Terserah kamu, Mas. Tapi aku sebenarnya ingin makan mie instan rasa kari ayam ditambah telur dan saus sambel yang pedas."
"Hemm ... tidak buruk. Baiklah, aku juga mau." Rama menuruti keinginan Naura sambil tersenyum.
Naura tahu, Rama terpaksa karena suaminya sangat menghindari makanan instan. Mungkin kali ini Rama hanya ingin menyenangkan hatinya, menghilangkan rasa bersalah.
Mereka menikmati mie instan berdua, dengan minuman teh lemon hangat. Terasa sangat nikmat, apalagi bersama kekasih tercinta. Tak sampai dua puluh menit, semuanya habis tak bersisa.
"Assalamualaikum ...."
Samar-samar terdengar suara laki-laki memberi salam. Rama beranjak dari duduknya, berjalan ke depan membukakan pintu pagar. Naura langsung ke kamar, memakai gamis dan khimarnya.
"Ayolah, Mas. Malam ini saja, lain kali aku tak akan mengganggumu," suara seseorang yang dikenalnya terdengar jelas di ruang tamu, Naura pun melangkah ke arah mereka.
"Nggak bisa! Pulanglah! Aku malas berurusan dengan istrimu," ucap Rama dengan tegas dan wajah yang sudah menegang.
"Eh, Ragil. Dari mana?" Naura mencoba meredam suasana yang terlihat mulai panas. Dirinya duduk di samping Rama, mengelus punggung suaminya agar tenang.
"Dari rumah teman, Mbak. Maaf kalau malam-malam mengganggu, aku ingin numpang tidur di sini satu malam saja," ucap Ragil dengan tatapan memohon.
"Ada masalah apa? Kalau ada masalah itu diselesaikan, jangan malah keluyuran," saran Naura pada laki-laki yang duduk di hadapannya.
Wajah Ragil terlihat kusut tak seperti biasanya. Dia laki-laki yang tampan, berkulit putih dan terlihat lebih kalem dari pada kakaknya. Kalau diperhatikan, mereka bukan seperti saudara kandung, wajah tak mirip, warna kulit tak sama, sifat pun berbeda. Tapi Rama meyakinkan Naura, mereka benar-benar adik dan kakak seibu-seayah.
"Ayolah, Mbak. Tolong bujuk Mas Rama agar mengijinkanku tidur di sini. Satu malam saja." Ragil memohon sekali lagi dengan wajah yang semakin memelas, membuat wanita itu tak tega.
"Mas, biarlah Ragil menginap semalam ...."