"Baiklah, tapi tidur di kamar belakang, jangan di kamar anak-anakku. Dan dengan satu syarat, ceritakan apa yang terjadi pada kalian. Aku hanya ingin tahu dan tak akan ikut campur urusan rumah tanggamu. Aku hanya memikirkan ibu," sahut Rama.
Ragil hanya diam, bahkan sekarang dia menundukkan kepalanya. Naura merasa tak nyaman dengan suasana saat ini, mencoba membantu suaminya yang masih menahan emosi.
"Ragil, istrimu tadi siang ke rumah memesan nasi bento untuk acara temannya. Kamu tahu sendiri kalau aku tak mau menerima pesanan di akhir pekan. Dia marah, dan ibu akhirnya ke sini membujuk kami agar mau menerima pesanan Amanda. Bahkan ibu sampai memohon pada kami, kasihan sekali ibu. Ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi, siapa tahu Mas Rama bisa membantu. Aku akan ke kamar, bicaralah pada kakakmu. Apa kalian mau aku buatkan kopi?"
"Hemm ... boleh, kopi hitam tanpa gula seperti biasanya." Rama menjawab tawaran Naura, wajahnya sudah mulai terlihat tenang.
"Aku juga sama, Mbak." Mereka berdua sama-sama penggemar kopi hitam tanpa gula. Naura pun berlalu membuatkan apa yang mereka mau. Berharap adik iparnya itu bersedia menceritakan masalahnya pada kakaknya.
Setelah mengantar kopi hitam untuk mereka, Naura langsung ke kamar untuk melaksanakan sholat isya' lalu merebahkan badan. Biarlah mereka berdua berbicara dari hati ke hati, dirinya hanya ipar dan tak ingin ikut pembicaraan mereka. Saat ini digunakan waktunya untuk memejamkan mata. Besok pagi dia harus menyiapkan tenaga untuk menyelesaikan pesanan Amanda.
***
Duduk saling berhadapan, ditemani dua buah cangkir kopi hitam tanpa gula, Rama mulai bertanya pada adik satu-satunya. Wajah Ragil yang tampan, kusut tak terawat, badannya tampak lebih kurus dari biasanya. Pandangan matanya pun sayu, tersirat kesedihan dan penuh dengan beban pikiran.
"Ada masalah apa sebenarnya dengan kalian? Amanda semakin berani dengan kami dan bersikap seenaknya pada ibu. Kamu sebagai suami kenapa sekarang hanya diam saja? Harusnya kamu tegur istrimu itu. Sikapmu itu membuat kamu seperti laki-laki yang lemah."
"Aku memang sudah lemah, Mas. Sudah beberapa tahun ini, aku merasa tak bisa lagi membahagiakannya, aku tak bisa memuaskannya di ranjang. Bahkan dia sering meminta pisah tapi ibu memohon agar dia tak meneruskan niatnya."
Ragil berhenti bicara, helaan napas panjang terdengar jelas, seolah ingin melepas beban yang dirasakannya. Rama sangat terkejut mendengar pengakuan dari adiknya. Rasa sesak dan sesal datang, dirinya merasa malu dan juga marah karena sama sekali tak mengetahui masalah besar yang dihadapi adik dan ibunya.
"Mengapa masalah sebesar ini tak ada yang memberitahuku? Sampai kapan kalian akan menyembunyikannya? Apa itu yang menyebabkan kamu diam saja melihat Amanda berlaku seenaknya?" tanya Rama dengan wajah yang mulai terlihat geram.
"Iya, Mas. Ibu tahu apa yang menimpa kami. Dan ibu memohon pada Amanda agar tak meneruskan gugatan cerai dan berjanji akan memenuhi apa saja permintaannya. Ibu malu kalau di sidang nanti alasan perceraian kami karena aku yang lemah syahwat. Apalagi aku pejabat pemerintahan, pasti sedikit rumit urusannya. Ibu hanya ingin menjaga harga diriku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, Mas. Aku bingung harus bagaimana. Aku masih mencintai Amanda, aku juga sudah berusaha berobat ke dokter mana saja, sampai sekarang belum ada hasilnya."
Rama hanya diam, suaranya seolah tercekat tak mau dikeluarkan. Dia hanya memandang adiknya dengan rasa prihatin dan kasihan. Membayangkan dirinya di posisi Ragil, harus kehilangan keperkasaannya di usia yang masih muda, sungguh miris rasanya. Sementara dirinya di usia yang hampir kepala empat, semakin membara hasratnya. Realita kakak beradik yang berbanding terbalik.
"Aku tadi tak sengaja melihat Amanda dengan seorang laki-laki yang tak kukenal di sebuah rumah makan. Dia terlihat sangat bahagia bersamanya. Makanya, aku tak ingin pulang ke rumah, Mas. Aku ingin di sini sebentar menjernihkan pikiran."
"Kenapa nggak tidur di hotel saja? Uangmu juga lebih-lebih, kenapa malah ke sini?"
Rama memang prihatin dengan keadaan adiknya, tapi dirinya tahu kalau istrinya pasti merasa tak nyaman jika ada laki-laki lain di dalam rumahnya, meskipun itu adalah adik kandungnya.
"Aku hanya kepikiran ke sini, Mas. Kalau Amanda tahu aku tidur di hotel, dia pasti akan berpikiran macam-macam."
"Lalu sekarang, apa keputusanmu?"
"Aku nggak tahu, Mas. Aku sebenarnya ingin menyerah, melepaskan Amanda biar dia bahagia tapi ibu selalu menolak keinginanku. Ibu tak ingin berpisah dengan Rayhan. Kalau kami bercerai, Amanda pasti akan membawanya."
"Apa kamu nggak takut kalau malah istrimu yang ke hotel dengan laki-laki itu?"
"Aku yakin Amanda tak mungkin berbuat seperti itu. Aku yakin dia masih ingat dosa."
"Kalau dugaanmu salah, bagaimana? Zaman sekarang banyak wanita bersuami tidur dengan laki-laki lain, bahkan yang baru dia kenal. Kamu jangan terlalu naif."
Ragil pun membenarkan ucapan kakaknya tapi dia sangat yakin dengan istrinya. Amanda bukanlah wanita yang mau berbuat rendah hanya untuk sekedar melepas hasrat birahinya.
"Tidurlah, tenangkan diri dan pikiranmu. Jika memang kamu ingin melepaskan Amanda, aku akan membantu bicara dengan Ibu. Kasihan istrimu, tak pernah mendapatkan nafkah batinnya selama bertahun-tahun. Dia juga masih muda, kita akan sangat berdosa jika dia sampai berzina."
"Tapi jika kamu masih ingin mempertahankannya, kita cari dokter yang terbaik, bila perlu pergilah ke luar negri. Aku yakin tabunganmu pasti cukup, bahkan harta ibu juga lebih. Jangan sibuk mengurusi pekerjaanmu saja, pikirkan juga masalah pribadi dan keluargamu. Maaf, kalau selama ini aku lalai jadi seorang kakak. Aku akan mencoba membantu semampuku."
Rama memberi penjelasan pada adiknya agar segera mengambil keputusan. Urusan ranjang terlihat sepele tapi jika dibiarkan akan mengakibatkan masalah yang lebih besar ke depannya. Beberapa temannya ada yang rumah tangganya berantakan, salah satu penyebabnya justru masalah ketidak puasan nafkah batin salah satu pasangan.
"Oh, iya, tidurlah di kamar belakang. Jangan khawatir, meskipun tak pernah ada penghuninya, kamarnya bersih dan nyaman."
"Iya, Mas. Terima kasih. Sudah diijinkan bermalam di sini saja, aku sudah sangat berterima kasih. Maaf kalau merepotkan. Soal Amanda, nanti aku akan memikirkannya."
"Aku tidak merasa direpotkan, kamu sudah dewasa. Mau minum atau kopi, bikin saja sendiri. Kalau kamu belum makan, biar aku pesankan online saja. Kalau libur, aku tak pernah mengizinkan istriku masak."
"Aku sudah makan, Mas. Tadi ada urusan kerjaan sama teman di rumah makan dan di situlah aku melihat istriku."
"Ya, sudah. Tenangkan dirimu. Pikirkan dulu sebelum mengambil keputusan. Terserah kamu mau pulang kapan tapi besok pagi-pagi sekali ibu pasti sudah ke sini membantu Naura. Kasihan ibu, membela putranya sampai merendahkan dirinya di depan menantu."
"Tolong, jangan bicara apa-apa dulu dengan ibu. Aku tak ingin ibu tahu kalau aku menceritakan semuanya padamu, Mas. Aku akan berusaha mengambil keputusan secepatnya."
"Baiklah, aku tunggu. Aku rasa waktu dua minggu sangat cukup untukmu mengambil keputusan."