Ragil hanya diam. Dua minggu sangat cepat baginya. Dia belum rela melepas istrinya, tetapi benar kata kakaknya. Dia pasti akan berdosa jika Amanda sampai berzina, kebutuhan batinnya selama bertahun-tahun tak pernah terpenuhi. Sebagai wanita normal, dia pasti masih membutuhkannya. Ragil harus bisa mengambil keputusan dengan segera.
Berjalan ke arah belakang, menuju kamar yang dekat dengan dapur dan taman. Rumah kakaknya memang sederhana, tetapi sangat asri dan bersih.
Dibukanya pintu kamar berwarna coklat tua, ruangan yang cukup lebar dengan tempat tidur ukuran sedang dan sprei bermotif bunga. Di ujung kamar terlihat lemari kayu jati dua pintu, meja kecil dan satu kursi di sampingnya, kipas angin yang menempel di tembok tepat di atasnya, serta televisi tabung dengan ukuran yang cukup besar di dekat pintu.
"Ternyata nyaman juga kamar ini, aku pikir tadi seperti kamar pembantu, ruangan dan tempat tidurnya sempit. Dugaanku ternyata salah. Kalau seperti ini kamarnya, aku mau tinggal di sini saja sementara. Malas kembali ke rumah ibu. Aku akan segera melepaskan Amanda. Dan aku akan tinggal di sini sampai urusan perceraian selesai."
Ragil merasakan kenyamanan. Bahkan dia berniat untuk tinggal sementara di rumah kakaknya, sampai surat perceraian berada di tangan. Niat melepas Amanda pun sudah bulat tanpa ada keraguan.
Ragil memang jarang sekali berkunjung ke rumah Rama, apalagi sampai bermalam. Kesibukannya di kantor pemerintah membuatnya hampir tak pernah berkumpul dengan keluarga, terutama kakaknya yang selisih usianya cukup jauh dengannya.
Rama pun masuk ke dalam kamar, membersihkan diri lalu mendekati istrinya yang sudah memejamkan mata. Mengingat kembali cerita adiknya, dia tak habis pikir, bagaimana bisa syahwat adiknya menjadi lemah? Padahal selama ini dia baik-baik saja, bahkan bisa memiliki seorang putra.
Sementara dirinya, bahkan hanya dengan melihat istrinya yang saat ini terlelap, sudah membuat hasratnya meningkat. Diperhatikan istri tercintanya, daster sederhana bercorak abstrak berwarna gelap, memperlihatkan kulit tubuhnya yang putih bersih semakin bercahaya. Gerakan dalam tidur Naura saat membalikkan badan, membuat pakaiannya tersingkap. Paha mulus Naura terpampang jelas di depan matanya.
Rama menelan saliva, hasratnya pun tak bisa ditahan lagi. Didekati istrinya dan membuat sentuhan-sentuhan di area sensitif kewanitaannya. Melihat Naura membuka mata, Rama mengutarakan isi hatinya, meminta pelayanan istimewa, tanpa mempedulikan lagi rasa lelah wanita yang dicintainya.
Walaupun dalam hati dia kasihan melihat Naura, tetapi hasratnya sudah menutupi mata hati. Keinginannya sudah tak bisa ditahan lagi. Rama pun menuntut haknya lagi sebagai suami dan memberikan nafkah batin pada istrinya untuk kesekian kalinya dalam sehari.
"Aku ingin menikmati malam panjang ini. Besok pasti kamu tak ada waktu buatku, aku mau sekarang kamu melayaniku. Aku janji tak akan seperti tadi siang. Tolong, jangan menolakku, Sayang."
Rama mengucapkan kata-kata yang lembut dengan tatapan penuh nafsu. Naura hanya diam, mencoba tersenyum dan melayani hasrat sang suami. Kembali, Naura yang sudah sangat mengantuk harus terjaga. Bahkan area bawah miliknya masih terasa nyeri karena perlakuan Rama tadi siang yang marah.
Saat ini, Naura tak berani menolak keinginan Rama. Dia pun mencoba menikmati sentuhan hingga melupakan rasa sakit yang tersisa.
***
Ragil keluar dari kamar, berniat mengambil berkas di dalam mobilnya yang ada di depan rumah. Melewati pintu kamar Rama, tanpa sengaja samar-samar terdengar suara lenguhan dan desahan wanita. Dia pun seketika menghentikan langkahnya karena suara itu terdengar sangat indah di telinga.
Bukannya segera beranjak dari tempat dia berdiri, Ragil semakin mendekatkan telinganya ke daun pintu kamar Rama. Dia semakin mempertajam pendengaran, ingin lebih jelas mendengar desahan kakak iparnya.
Dia tahu tindakannya adalah salah tapi dia tak ingin segera berlalu dari tempatnya. Lama dia berdiri di depan pintu, dengan hasrat yang tertahan dan napas yang mulai ikut tak beraturan.
Tanpa mempedulikan berkas yang ingin diperiksanya, Ragil melangkahkan kaki kembali ke kamarnya. Dia berjalan mondar-mandir di sisi tempat tidur, sambil sesekali menjambak kasar rambutnya. Dia mengepalkan kedua tangannya, mencoba mengendalikan hasrat yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam dirinya.
"Astaghfirullah ...."
Ragil duduk dan mengucap istrighfar berulang kali. Dia merasakan sesuatu yang salah pada dirinya. Bahkan dia menguping kakaknya yang sedang memberikan nafkah batin pada istrinya. Semua itu membuat dirinya semakin merasa berdosa.
"Ya Allah ... ada apa denganku? Mendengar desahan Naura bisa membuat diriku kembali normal. Bahkan selama ini aku selalu mencoba berulang kali dengan Amanda. Mendengar desahan istriku sendiri tak pernah bereaksi seperti ini."
Ragil kembali merutuki dirinya sendiri sambil mengusap kasar wajahnya. Hasratnya semakin tak terkendali saat ini. Tangannya kembali mengepal, menahan sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya. Sesuatu yang menuntut untuk dituntaskan dengan segera.
"Ini salah! Ini tidak benar! Aku harus pulang sekarang juga!" kata Ragil dengan rasa bersalah yang amat sangat. Segera dirinya melangkahkan kaki dan keluar dari rumah Rama, tanpa berpamitan dengan pemiliknya.
Rama pun masuk ke dalam mobil dan segera melajukan kendaraan roda empatnya. Memasuki halaman rumah ibunya, dia pun langsung masuk dan berjalan menuju kamar tidurnya. Melihat Amanda yang terlelap dengan baju tidur yang tipis dan berenda, Ragil langsung mendekat, mencumbui istrinya dengan nafsu yang dari tadi sudah tertahan.
Amanda terkejut dengan kehadiran dan perlakuan suaminya yang tiba-tiba. Saat ini Ragil pun sudah melepas baju tidurnya. Dirinya yang sudah lama memendam hasrat, mulai membalas dan menikmati. Pergumulan panas pun terjadi, bahkan berulang kali Ragil berhasil memuaskan sang istri.
Amanda kali ini merasa bahagia. Nafkah batin yang bertahun-tahun tak diperolehnya, malam ini Ragil berhasil memberikannya dengan permainan yang berbeda. Dia tak ingin mengetahui apa penyebab suaminya bisa berhasrat kembali. Bisa merasakan nikmatnya surga dunia bersama suami yang masih dicintainya saja sudah cukup baginya saat ini.
Amanda bahkan tak peduli apa yang terjadi, yang penting sekarang suaminya sudah normal kembali. Tak ingin menduga-duga sesuatu yang belum pasti. Amanda pun mengucapkan kata sayang dan terima kasih. Ragil hanya tersenyum, mengecup bibir Amanda yang merah alami.
Ragil pun merasakan kebahagiaan yang sama dengan Amanda. Namun, dalam hati kecilnya ada rasa bersalah, merasa membohongi sang istri yang sudah lama tak disentuh. Dia bisa kembali memberikan nafkah batin pada istrinya, hanya dengan membayangkan suara desahan dan juga wajah kakak iparnya.
Biarlah semua ini menjadi rahasia dirinya sendiri. Dia pun yakin jika rumah tangganya akan terhindar dari kata pisah. Entah itu untuk sementara atau selamanya, biarlah waktu yang akan menentukannya.
"Aku harus kembali ke rumah Mas Rama secepatnya, sebelum ketahuan kalau aku pulang."