"Ada urusan penting apa malam-malam ke sini?"
Ragil duduk berhadapan dengan Rama. Dia sama sekali tak menjawab pertanyaan kakaknya itu. Hanya bola matanya yang sesekali melirik ke arah dalam rumah, membuat Rama kesal dan mulai marah.
"Ditanya kok dari tadi diam saja. Ada apa?"
"Anu ... maaf sebelumnya, Mas. Aku ada perlu tapi tolong jangan tersinggung." Akhirnya Ragil berbicara.
"Iya, ada apa?" tanya Rama yang sudah tak sabar.
"Ragil, ada perlu apa malam-malam ke sini? Ibu dan anak-anak baik-baik saja, kan?"
Naura yang sudah berganti pakaian, langsung menemui mereka yang duduk di ruang tamu. Hatinya tiba-tiba merasa cemas karena kedatangan Ragil di waktu yang tak biasa. Keadaaan anak-anak dan ibu mertuanya yang dia khawatirkan.
Bukannya menjawab pertanyaan Naura, Ragil malah memperhatikan kakak iparnya itu. Wajah Naura tampak segar alami. Bahkan tanpa make-up sedikit pun, sangat menarik baginya. Meskipun rambutnya tertutup khimar panjang, tetapi harum shampo tercium oleh hidungnya.
Ragil benar-benar merutuki dirinya sendiri dan mengumpat dalam hati. Tak dipungkiri, wajah segar Naura benar-benar mengganggu pikirannya saat ini. Dia menjadi gelisah, bingung mencari alasan yang sebenarnya sudah disiapkan dari rumah.
Tujuan Ragil datang ke rumah sang kakak sebenarnya hanyalah ingin melihat wajah Naura kembali. Hanya cara inilah yang membuatnya bisa memberikan nafkah batin untuk istrinya malam ini. Dia pun sudah menyiapkan dari rumah, sebuah alasan yang menurutnya tepat meskipun di waktu yang salah.
"Anu, Mbak ... aku ... aku mau minta ijin masuk kamar belakang, mau mencari jam tanganku yang hilang. Barangkali aja ketinggalan di kamar waktu itu. Ibu dan anak-anak semua baik-baik saja, kok." Akhirnya Ragil memberi jawaban yang justru membuat Rama dan Naura heran.
"Jam tangan? Kenapa kamu baru mencarinya sekarang? Dan malam-malam begini?" tanya Rama tak percaya.
"Iya, Mas. Aku baru ingat sekarang kalau jam tanganku nggak ada." Ragil pun mencoba meyakinkan kakaknya.
"Aneh ...." Rama memandang heran wajah adiknya. Ragil menundukkan kepala, takut ketahuan kalau dirinya sedang berbohong.
"Sudahlah, Mas, biarkan Ragil masuk dulu ke dalam kamar belakang. Biar dicek sendiri sama dia." Naura menenangkan Rama.
"Bukannya begitu, Sayang, ini sudah larut malam. Tapi ya sudah masuk sana, cari sendiri!" Rama terpaksa mengalah biar urusan Ragil cepat selesai.
"Semoga ada, ya. Soalnya terus terang, semenjak kamu pulang dari sini, setiap hari aku bersihkan tapi aku nggak menemukan apa-apa. Kalau ada jam tanganmu yang ketinggalan, pasti langsung aku kembalikan." Ragil memandang kagum wajah kakak iparnya. Suara Naura begitu lembut, membuatnya ingin berlama-lama berbincang berdua saja.
"Begitu, ya, Mbak." Ragil tersenyum dan dibalas Naura dengan anggukan.
"Iya, aku juga nggak mungkin mengambil yang bukan milikku." Bahkan Naura berbicara tanpa emosi sama sekali.
"Eh, maaf, bukan maksudku menuduh Mbak. Tolong jangan tersinggung. Itu oleh-oleh dari teman kantor yang dinas di Jepang. Aku bingung mencari ke mana lagi, di rumah nggak ada. Lalu aku ingat pernah menginap di sini. Barangkali saja ketinggalan di kamar waktu itu." Ragil pun menjadi salah tingkah karena merasa salah bicara.
"Tapi ... aku masih ingat, waktu kita minum teh lemon hangat sebelum kamu pulang, kamu pakai jam tangan kok. Soalnya aku perhatikan kamu seperti orang gelisah, sedikit-sedikit lihat jam tanganmu yang mahal itu. Bener, nggak?" Ucapan Naura membuat Rama kembali emosi.
"Ragil, kamu jangan aneh-aneh, ya! Istriku nggak mungkin mengambil barang yang bukan miliknya. Kalau memang ketinggalan di sini, pasti dia bilang padaku!"
"Sudah, nggak apa-apa, Mas, aku mengerti. Sekarang kamu periksa saja lagi di kamar, barangkali ada. Aku tahu mungkin jam tangan itu sangat berharga." Naura tak ingin terjadi keributan di antara mereka.
"I ... iya, Mbak. Maaf, bukannya aku menuduh Mbak Naura tapi waktu itu aku bawa dua jam tangan. Yang satu aku pakai dan yang satunya aku masukkan ke dalam tas." Ragil bersyukur memiliki otak yang cerdas. Dengan cepat dia bisa membuat alasan lain.
"Ooh, begitu. Ya, sudah, kamu langsung masuk saja."
"Cepetan masuk sana, cari sendiri! Merepotkan saja kamu ini!" perintah Rama.
Akhirnya Ragil melangkah masuk ke dalam rumah Rama menuju kamar belakang. Suasana kamar yang sepi tapi bersih dan nyaman, membuatnya betah berlama-lama di dalamnya.
"Kamar ini benar-benar membuatku nyaman. Tenang tapi membuatku bergejolak. Sama seperti sifat kakak iparku itu, diam, lembut, tapi energik. Andai dia bukan kakak iparku ...."
Ragil merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memeluk sebuah guling yang ada di dekatnya. Matanya terpejam, membayangkan wajah kakak ipar yang ayu dan lembut dengan senyum manisnya. Ragil begitu menikmati suasana kamar itu sampai beberapa menit berlalu. Teriakan Rama pun akhirnya membuatnya tersadar dari lamunan.
"Hei, malah tiduran di sini! Sudah ketemu belum yang kamu cari? Kalau sudah ketemu, pulang sana!"
"Mas, yang sabar dong. Jangan kasar begitu sama adiknya sendiri." Naura menenangkan Rama yang sedang emosi. Hampir lima belas menit menunggu di ruang tamu, mereka akhirnya menyusul Ragil ke kamar belakang.
"Habisnya jengkel, malam-malam begini ke rumah kita cari barang. Besok pagi 'kan bisa? Seperti nggak ada waktu aja," gerutu Rama yang membuat Ragil tersenyum. Dia tak peduli dengan kakaknya yang mengomel dari tadi.
"Maaf, Mas. Alhamdulillah ketemu, ada di atas lemari. Aku langsung pulang saja, terima kasih. Maaf mengganggu," ucap Ragil sambil menunjukkan sebuah jam tangan mewah merk terkenal yang ada di tangannya. Dia memang sudah mempersiapkan semuanya dari rumah dan sengaja mengelabui kedua orang yang berdiri di hadapannya.
"Ya ... lain kali kalau ada barang penting gitu jangan ditinggal. Kalau tahu di atas lemari ada jam tangan mahal, pasti sudah aku jual. Lumayan hasilnya buat jajan."
"Mass ...." Naura menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya.
"Aku hanya bercanda, Sayang."
"Aku pulang dulu. Sekali lagi, maaf kalau aku mengganggu," pamit Ragil pada Rama dan Naura.
"Jelas kamu sangat mengganggu!" Naura berulang kali mengelus lengan suaminya. Jemari tangan mulus Naura tak luput dari pandangan Ragil.
Dari ekspresi wajahnya, Ragil mengerti kakaknya ingin dia segera pergi dari rumahnya. Dia pun bergumam sendiri sambil berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.
"Pasti Mas Rama sedang menginginkan Naura sekarang, makanya dia mengusirku terus menerus. Jemari tangan istrinya terlihat halus. Sayang sekali aku tak pernah bisa menyentuhnya, Naura tak pernah mau berjabat tangan denganku. Ah ... aku juga harus pulang, aku sudah nggak tahan lagi. Ternyata aku harus sering-sering melihat wajah kakak iparku itu agar aku bisa membahagiakan istriku. Biarlah untuk sementara seperti ini, aku akan berusaha mencari solusi yang lain. Aku tak ingin berpisah dari Amanda."
***
Sesampainya di rumah, Ragil mendekati Amanda yang sudah terlelap. Dia mencoba memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada tubuh mulus istrinya yang hanya berbalut lingerie berwarna merah. Ternyata Amanda membalas semua sentuhan itu karena dia juga sedang menginginkannya. Mereka akhirnya mengarungi lautan asmara yang sempat tertunda. Ragil tersenyum, bersyukur bisa membuat Amanda merasakan lagi kenikmatan surga duniawi.
"Ma, aku mencintaimu, jangan lagi minta berpisah, ya. Aku akan menuruti apa saja yang kamu minta. Aku juga akan berusaha selalu memenuhi kebutuhan batinmu. Bagaimana dengan yang baru saja kita lakukan, apakah kamu puas, Sayang?" Ragil mengecup lembut bibir Amanda sebelum berbaring di sampingnya.
"Iya, Pa. Aku sangat puas malam ini. Tapi ... kenapa kemarin waktu di hotel kamu nggak bisa?" Pertanyaan Amanda membuat Ragil berpikir keras mencari jawaban.
"Entahlah, Ma. Mungkin saja aku masih dalam masa penyembuhan. Jadi ya begitu, kadang sembuh, kadang kambuh. Kamu yang sabar, jangan minta pisah lagi. Aku berjanji akan membuatmu puas setiap malam." Ragil tersenyum menggoda Amanda yang berbaring menghadapnya.
"Ya jangan tiap malam juga, dong. Aku capek ...." Jawaban Amanda membuat Ragil kecewa.
"Terserah kamu saja, Ma. Harusnya setelah lama kita tidak melakukannya, kamu minta setiap hari. Sebenarnya mau kamu seperti apa, sih, Ma? Aku bisa membuatmu puas tiap hari, kamu nggak mau. Aku tak bisa melakukannya, kamu minta pisah. Aku bingung ...."
"Maksudku ... ya biasa sajalah seperti dulu. Aku juga nggak bisa ke mana-mana kalau kecapekan melayani kamu tiap malam." Ragil tak menduga istrinya masih sama seperti dulu. Dia sempat berpikir, keadaannya yang pernah mengalami lemah syahwat dan sekarang sudah mulai sembuh, membuat istrinya berubah.
"Katanya seorang istri itu nggak boleh menolak ajakan suami untuk ...."
"Itu alasan kuno. Sekarang itu zaman sudah modern. Masih saja suami pakai alasan seperti itu hanya untuk meminta hak pada istrinya. Emangnya aku Naura?" Amanda tidak suka dinasihati meskipun oleh suaminya.
"Kenapa kamu sebut-sebut nama Mbak Naura?" tanya Ragil heran.
"Dia itu 'kan istri SHA-LI-HAH. Pasti dia mau aja tuh diajak suaminya main tiap hari. Sekarang zamannya emansipasi, Pa. Wanita juga punya hak menolak kalau dia nggak mau," jelas Amanda dengan nada tinggi.
"Bukannya seorang istri itu yang benar seperti Mbak Naura? Dia cantik, alim, lembut, penurut, melayani suami dengan baik ...." Tanpa disadari, Ragil terus memuji Naura.
"Dari kemarin kamu mulai memuji-muji dia. Aku yakin kamu sudah terkena guna-guna kakak iparmu itu. Padahal kamu dulu nggak pernah seperti ini. Aku nggak suka, Pa!" Teriakan Amanda menyadarkan Ragil.
"Ma ... aku minta maaf, aku nggak berniat memuji dia. Kamu sendiri yang pertama ngomongin Mbak Naura. Kenapa kamu jadi marah?"
"Pokoknya aku nggak mau lagi mendengar Papa memuji wanita kampungan itu!"
"Iya, Ma, aku janji. Sekarang ... kita nikmati malam ini lagi, ya?" Ragil kembali meminta haknya, tetapi Amanda langsung menolak.
"Aku capek!"
Amanda langsung membalikkan badan membelakangi suaminya. Ragil hanya menghela napas panjang, menenangkan hasrat yang mulai kembali bergejolak.
Amanda memang seperti itu dari dulu, dia tak akan mau melayani hasrat sang suami kalau dia sedang tak menginginkannya. Bahkan waktu Ragil masih normal, istrinya seringkali menolak keinginannya. Namun, jika Amanda yang ingin, Ragil harus menuruti sampai istrinya merasa puas.
Ragil duduk melamun sambil memandang punggung istrinya. Kehidupan rumah tangganya memang sangat berbeda dengan kakaknya. Rama terlihat sangat mesra dengan Naura dan Naura selalu menurut. Berbeda sekali dengan istrinya. Amanda wanita modern yang tak mau diatur dan bertindak sesuai keinginannya sendiri sesuka hati.
Bayangan Naura pun terlintas dalam pikiran Ragil saat ini. Naura yang lemah lembut, sopan, tiba-tiba membuatnya tidak bisa tenang. "Kalau begini caranya, aku nggak mungkin bisa tidur malam ini. Aku takut nanti memimpikan dia lagi dan menyebut namanya. Ah ... kenapa bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa aku sudah jatuh cinta pada kakak iparku sendiri?"
Ragil bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Melampiaskan hasratnya sendiri dengan bayangan kakak iparnya. Istrinya benar-benar tak mau mengerti dirinya sama sekali. Namun, jika dia memaksakan kehendaknya, Amanda akan marah dan pergi dari rumah berhari-hari, berfoya-foya menghabiskan uangnya tanpa peduli dengan suami dan putranya.
"Aaahhhhh ...."
Ragil pun berteriak, mengeluarkan cairan kenikmatan sekaligus meluapkan emosinya yang terpendam.
***
"Mas ... sebentar lagi anak-anak sudah waktunya kembali ke pondok. Tolong dong, ajak mereka pulang. Aku juga rindu dengan mereka. Bener sih mereka sering ke sini kalau siang atau sore, tapi aku ingin mereka tidur di rumah." Naura kembali meminta Rama agar anak-anaknya bisa pulang.
"Iya, Sayang, nanti aku akan menjemput mereka sepulang kerja." Rama sudah rapi, bersiap berangkat kerja.
"Mereka itu sudah besar, bisa pulang sendiri naik sepeda. Ibu saja yang terlalu memanjakan mereka. Aku takut kalau mereka jadi nggak bisa mandiri kalau kelamaan di sana, Mas."
"Jangan khawatir, Sayang. Mereka tidak akan seperti itu. Di sana juga mereka tetap membantu Bi Sari menyapu kadang juga mencuci piring. Sudahlah, aku yakin anak-anak kita nggak ada yang manja." Rama memegang kedua pundak Naura yang berdiri di hadapannya.
"Katanya hari Sabtu kemarin, anak-anak diajak Ragil pergi ke mall, ya. Nggak biasanya Ragil seperti itu. Selama ini dia selalu cuek dengan anak-anak kita, bahkan dengan anaknya sendiri. Akhir-akhir ini dia juga jadi sering ke rumah kita, ya, Pa. Aku sebenarnya jadi sedikit takut."
"Takut kenapa? Mungkin dia memang ingin berubah. Jangan suudzon." Rama berusaha menenangkan hati istrinya. Dia tahu, istrinya selalu tak nyaman dengan kedatangan laki-laki lain di rumahnya.
"Dia sering menatapku lama dengan pandangan mata seperti ...."
"Seperti apa?" Rama pun penasaran, istrinya bukan wanita yang mudah berprasangka buruk pada orang lain.
"Seperti apa, Sayang? Bicaralah, jangan takut."
"Seperti kalau kamu sedang menginginkanku ...."