Keputusan Amanda

2012 Kata
"Aku ...." Amanda bingung. Tiba-tiba dia merasa ragu dengan keputusan yang dia buat sendiri. Bagi Amanda, Ragil adalah suami idaman. Suaminya, bahkan ibu mertuanya selalu menuruti apa pun yang dia inginkan tanpa banyak pertanyaan. "Dan satu lagi, aku tak akan mengijinkanmu membawa Rayhan!" Amanda yang tampak ragu dengan jawabannya, membuat Rama menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dia tahu adik iparnya itu pasti tak akan terima dengan keputusannya. "Hei, tidak bisa begitu, dong! Aku ibu kandungnya. Aku yang merawatnya. Rayhan harus tinggal bersamaku!" teriak Amanda. "Merawat? Kapan kamu merawat putramu? Aku tahu kerjaanmu hanya shopping dan ikut arisan sana-sini. Berangkat pagi pulang sore. Sampai di rumah, Rayhan sudah mandi dan rapi. Jangan dikira aku nggak tahu kelakuanmu!" Rama kembali emosi mendengar ucapan Amanda. "Ibu pasti mengadu padamu ...." sahut Amanda sambil melirik Erna yang duduk di hadapannya. "Jangan salahkan ibuku! Ibu tak pernah mengadukan apa-apa padaku. Bahkan keadaan Ragil saja ibu sembunyikan, apalagi sikap burukmu yang tak pernah berubah. Kamu lupa kalau rumah kita dekat? Apa kamu juga lupa kalau aku sering pulang makan siang dan mampir ke rumah ibu?" Rama memandang tajam adik iparnya itu, Ragil pun hanya diam memperhatikan. Ragil sebenarnya tahu bagaimana keseharian istrinya. Namun karena rasa cinta dan tak ingin ribut, Ragil tak pernah menegurnya. Selain akhir-akhir ini merasa lemah, dia juga selalu sibuk bekerja, bahkan tak pernah ada waktu lagi untuk keluarga kecilnya. Amanda mendengus kesal mendengar ucapan kakak iparnya itu. Namun dia hanya diam, semua ucapan Rama yang benar tak mungkin dibantah olehnya. Rama menghela napas panjang menenangkan pikiran, karena baginya adik iparnya itu benar-benar menjengkelkan. Sementara Ragil, kembali mendekati dan merayu istrinya agar tak lagi meminta pisah. Bagaimanapun juga, Ragil masih mencintai Amanda meskipun hatinya saat ini sedang berkhianat. "Ma, ayo kita coba lagi. Tolong, berikanlah kesempatan satu kali lagi padaku. Aku akan berusaha membahagiakanmu, aku masih mencintaimu, Ma. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Mau, ya? Please ...." Amanda tersenyum mendengar kalimat terakhir yang terucap dari bibir suaminya itu. Tak dipungkiri, dia masih membutuhkan Ragil untuk memenuhi semua kebutuhan dan juga gaya hidupnya yang selalu haus akan barang-barang mewah. "Baiklah, aku akan memberikanmu kesempatan. Yang penting jangan lupa dengan janjimu itu!" Akhirnya Amanda menerima Ragil kembali. Cara licik yang selama ini dia gunakan selalu berhasil. Ragil tak mungkin menceraikannya, apalagi dengan keadaannya akhir-akhir ini. Amanda yakin, untuk urusan kebutuhan biologis, Ragil pasti akan terus berusaha. Baginya saat ini, kebutuhan rupiah dan barang-barang branded yang diinginkan, bisa selalu terpenuhi. "Iya, Ma, jangan khawatir, aku selalu ingat dengan janjiku." Tanpa pamit, Ragil dan Amanda pun berjalan berdua sambil bergandengan tangan meninggalkan ruangan. Rama hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang itu. "Nggak istrinya nggak suaminya sama saja. Sama-sama nggak punya sopan santun. Mentang-mentang sudah baikan, langsung pergi begitu saja." Rama menggerutu. Erna hanya mengelus lengan putra sulungnya dengan lembut. "Sudahlah, biarkan saja. Yang penting sekarang mereka sudah tidak ribut lagi." "Dari dulu Ibu selalu memanjakan Ragil. Punya istri seperti itu, Ibu juga memanjakannya. Sekali-kali tegurlah mereka, Bu. Semakin lama Amanda semakin tak menghargai Ibu. Aku tidak rela Ibu selalu tersakiti oleh mereka. Aku sayang sama Ibu." Rama duduk di lantai dan meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya. Erna mengusap rambut hitam putranya dengan penuh kasih sayang. Dia pun meneteskan air mata dan menangis haru karena sikap Rama padanya. Rama dan Ragil memang sangat berbeda, mulai dari segi fisik sampai sifat dan tingkah laku mereka. Ragil pendiam dan cuek tapi manja. Sementara Rama, meskipun pendiam dan tertutup pada orang lain, tetapi dia selalu menunjukkan rasa peduli dan juga perhatian pada ibu dan keluarga kecilnya. "Maafkan, Ibu, ya, Nak. Ibu juga sangat sayang padamu. Tolong jangan salah paham kalau Ibu terlihat membedakan kalian," ucap Erna setelah berhenti menangis. Sambil mengusap sisa-sisa air mata di pipi, dia tetap mengusap kepala putranya. Rama pun menikmati sentuhan lembut sang ibu. Dia sangat mengerti perasaan Erna saat ini. "Iya, Bu, aku mengerti." Rama memandang wajah senja di hadapannya lalu tersenyum. Dia tak ingin menambah kesedihan ibunya. "Terima kasih, Nak. Hanya kamu, istrimu, dan juga anak-anakmu yang membuat Ibu tetap semangat. Tapi Rama ... yang Ibu heran, minggu lalu Ragil sempat bercerita sama Ibu, dia bilang sudah sembuh. Makanya dia mengajak istrinya pergi berbulan madu. Dan di hotel kemarin, Ragil kembali kambuh. Rama ... ada apa sebenarnya dengan adikmu?" "Benarkah begitu, Bu?" tanya Rama tak percaya. Dia akhirnya mengerti alasan adiknya tak memberi kabar lagi mengenai keputusannya. "Iya, salah satu alasan Amanda marah tadi karena itu juga. Selain karena dia tak terima suaminya mengigau dan menyebut nama Naura," jawab Erna terus terang. "Harusnya Ragil ke dokter, Bu. Dia harus memastikan kembali keadaannya." Rama hanya bisa memberi saran karena dia pun tak mengerti. "Nanti biar Ibu yang menasehati dia agar ke dokter lagi. Sepertinya dia sudah lelah pergi ke dokter. Tapi ... apa hal seperti itu bisa terjadi?" "Mungkin karena faktor pikiran atau kelelahan, bahkan faktor radiasi juga bisa kata temanku. Apalagi Ragil pekerjaannya hanya di depan laptop seharian. Tapi kita lihat saja perkembangan mereka berdua beberapa bulan ke depan. Semoga dia bisa sembuh total dan tak ada keributan lagi. Kasihan Ibu dan juga Rayhan." Rama duduk kembali di samping ibunya. Tangannya menggenggam erat wanita yang sudah melahirkannya itu dengan penuh kasih sayang. "Semoga saja, aku hanya ingin suasana rumah ini damai dan tenang." "Atau Ibu mau tinggal bersama kami?" Rama sering mengajak Erna tinggal bersamanya, tetapi ibunya selalu menolak. "Ibu tidak bisa meninggalkan rumah ini. Ibu tidak mau jauh dari Rayhan. Kasihan kalau Rayhan Ibu tinggal. Kamu tahu sendiri, mama dan papanya selalu sibuk." "Terserah Ibu ... aku hanya ingin Ibu bahagia. Kalau Ibu ingin menginap di rumah, Rayhan diajak saja, Naura pasti senang. Sudah mau maghrib, Bu, aku mau pulang dulu. Anak-anak ...." "Tolong, biarkan mereka tetap di sini. Keberadaan mereka di sini sangat menghibur Ibumu ini, Nak." Rama pun mengangguk pasrah, tak tega dengan permintaan ibunya. *** "Mas, aku nggak enak sama Ragil dan Amanda. Ibu juga gitu, kenapa anak-anak nggak boleh pulang?" Naura mengeluh, Erna melarang anak-anak pulang bersama mereka. Setelah sholat maghrib, terpaksa mereka pulang berdua saja. Walaupun rumah Erna dekat, tetapi Naura juga rindu dengan kedua putranya itu. "Sudah biarkan saja, biar buat hiburan ibu, Sayang." Rama memeluk tubuh istrinya dengan mesra, tetapi Naura masih saja terus berbicara. "Tapi suasana di sana masih kurang menyenangkan. Aku juga nggak enak kalau main ke sana sendirian. Apalagi ada masalah seperti ini. Kok bisa-bisanya Amanda menuduhku seperti itu. Ragil juga begitu, ngapain coba sebut-sebut namaku waktu tidur? Aneh-aneh saja tingkah mereka. Tapi benar juga sih, kalau aku jadi Amanda, aku juga akan marah kalau sampai suamiku menyebut nama wanita lain dalam tidurnya." "Hemm ... aku nggak mungkin mimpiin wanita lain selain istriku. Kamu sudah menjadi candu bagiku." Rama mengusap lembut kedua pipi istrinya. "Mas Rama ini, aku lagi ngomongin apa kok yang dibahas apa. Amanda dan Ragil itu sedang bertengkar, suasananya nggak nyaman, kasihan anak-anak," protes Naura yang semakin membuat Rama gemas padanya. "Kamu kalau marah semakin manis, bikin aku gemeess. Begini lho, Sayang, jangan marah dulu. Bertengkar atau tidak, suasana di rumah ibu ya selalu seperti itu. Mana pernah suasananya ceria seperti di rumah kita? Makanya ibu nggak mengijinkan kita membawa pulang Affan dan Azam. Sudahlah, Sayang, biarkan saja. Kasihan ibu, dia hanya ingin menghibur dirinya bersama anak-anak. Dan yang paling penting ... kita bisa bersenang-senang sampai pagi." Rama memandang wajah ayu istrinya dengan tatapan menggoda. "Hemm ... mulai deh. Mas ini, adiknya ada masalah serius begitu kok masih sempet mikirin itu." Naura masih saja cemberut meskipun Rama sudah memberi penjelasan. "Yang punya masalah 'kan mereka, kenapa aku harus ikut-ikutan sedih? Lagi pula masalah mereka sudah selesai. Buktinya Amanda masih memberi kesempatan pada Ragil dan tak jadi minta cerai." "Benarkah? Kamu nggak bohong, kan, Mas? Alhamdulillah, Ya Allah ...." Wajah Naura yang cemberut berubah ceria. Dia ikut bahagia mendengar kabar tentang adik iparnya. "Iya, Sayang, mereka sudah baikan. Makanya, yuk kita langsung ke kamar saja." "Mas ...." Tanpa menunggu jawaban, Rama langsung menggendong istrinya. Direbahkan tubuh Naura di atas ranjang yang ada di kamar mereka. Naura pun pasrah dan menuruti apa yang diinginkan sang suami. Mengarungi lautan asmara berulang kali. Setelah Rama puas dengan permainan mereka, Naura baru bisa memejamkan mata dan melepas rasa lelah. Jam dinding berdenting menunjukkan pukul sembilan malam. Naura langsung bangun dari tidurnya dan mandi lalu melaksanakan kewajiban empat rakaat. Sementara Ragil hanya menggeliat tapi tangannya meraba-raba, mencari seseorang yang sudah tak ada di sampingnya. Dia lalu bangun kemudian membersihkan badan. Setelah mandi, Rama menemui istrinya yang sedang sibuk di dapur. "Aku mencarimu tadi. Kenapa nggak membangunkan aku, Sayang?" Rama memeluk tubuh Naura dari belakang. "Maaf, Mas. Aku habis mandi terus sholat isya' tadi. Aku juga lapar, butuh asupan gizi. Alhamdulillah ibu tadi membawakan sayur dan lauk buat makan malam. Ayo, kita makan dulu, Mas. Semuanya sudah aku hangatkan ...." "Setelah itu hangatkan aku, ya, Sayang ...." Rama masih tak mau melepaskan pelukannya. Naura pun membalikkan badan hingga mereka berdiri berhadapan. "Mas ... tadi 'kan sudah beberapa kali ...." Jemari Naura mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas. "Aku masih rindu, Sayang. Tolong jangan menolakku. Aku berjanji nanti nggak akan sampai pagi." Naura pun mengangguk pasrah. Mereka pun makan malam sambil berbincang santai. "Mas, aku lusa ada pesanan. Boleh aku ambil?" tanya Naura dengan hati-hati. "Kapan kamu berhenti berjualan?" Pertanyaan Rama membuat Naura sedikit ketakutan. "Bukannya aku tak mau mematuhi perintah suami, tetapi tolong beri aku waktu, Mas. Aku akan memberi tahu orang-orang yang biasanya memesan masakan. Apalagi ibu-ibu yang sudah biasa membeli masakanku, kasihan mereka. Bu Rukmi, Bu Mirna, Bu Atun, dan mereka yang selalu mencariku kalau libur. Kata mereka kalau aku nggak jualan, mereka bingung mau makan apa. Sayuran, bumbu dapur, dan kebutuhan pokok lain semakin mahal. Kalau beli di aku enak, tinggal makan, nggak usah masak, kata mereka lebih murah dan lebih hemat." Penjelasan Naura membuat Rama menghela napas. Dia tahu istrinya sering memberi lebih sayuran dan lauk kepada tetangga mereka yang kurang mampu. Naura tak hanya sikapnya yang lembut, tetapi hatinya juga baik dan dermawan. "Khusus buat mereka, buatkan saja setiap hari Jumat, nggak usah beli. Beres, kan?" "Insyaa Allah aku selalu begitu selama ini. Tapi ...." "Nggak ada tapi-tapian! Insyaa Allah bulan depan gajiku lebih besar. Jadi kamu nggak perlu khawatir lagi." Ucapan Rama membuat Naura terkejut. "Kok bisa begitu? Bukannya baru beberapa bulan yang lalu sudah kenaikan gaji." "Alhamdulillah mulai bulan depan pak bos akan memberikan aku fee di luar gaji kalau aku bisa ikut membantu memenangkan tendernya." Rama pun memberi penjelasan agar Naura tidak salah paham. Dia mengerti, istrinya tak mau jika dia mendapatkan uang dari cara yang tidak halal. "Alhamdulillah ...." "Makanya, tolong berhentilah berjualan. Insyaa Allah aku akan berusaha bekerja keras demi keluarga kita tercinta. Ibu juga selalu memintaku agar membujukmu tak lagi menerima pesanan." "Baiklah, aku akan berhenti tapi tolong beri aku menyelesaikan pesanan yang sudah masuk selama satu bulan ini. Aku sudah terlanjur mengiakan semuanya. Nggak banyak kok, sekitar sepuluh pesanan." Naura kembali memohon dan Rama pun mengabulkan permintaan istrinya. "Oke ... aku akan mengijinkan tapi kamu harus berjanji setelah selesai semua pesanan bulan ini, kamu benar-benar berhenti. Dan yang penting ... habis ini kita lanjut lagi, ya. Mumpung rumah sepi ...." "Bukannya tiap hari memang sepi? Alasan saja kamu itu, Mas." "Ha ha ha ... sekarang kamu duduk saja dengan manis, biar aku yang cuci piring." "Tumben ...." Belum selesai Naura berbicara, Rama langsung mengecup bibirnya. Cup!! "Ngomong tumben lagi, langsung aku gendong ke kamar." "Mas ini, bikin kaget saja. Iya deh, aku akan diam di sini. Terima kasih, ya, Mas." "Sama-sama, Sayang ...." Setelah Rama selesai mencuci piring dan Naura membersihkan meja makan, mereka melanjutkan obrolan di ruang keluarga sambil menonton televisi. Sesekali Rama menggoda Naura dengan membuat sentuhan pada area sensitif tubuh seksi istrinya. Naura hanya pasrah dengan perlakuan Rama. Bahkan saat ini, napas Rama mulai tak beraturan, hasratnya sudah tak tertahankan. "Assalamu'alaikum ...." Terdengar suara seseorang memberi salam dari luar pagar, membuat Rama menghentikan aksinya. "Siapa, Mas?" tanya Naura penasaran. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. "Nggak tahu, mengganggu saja! Tapi dari suaranya sih seperti Ragil." Rama menggerutu karena harus menahan hasratnya yang terlanjur menggebu. "Ragil? Ada apa malam-malam dia ke sini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN