"Amanda! Jaga sikapmu pada ibu dan suamimu!"
Teriakan Rama membuat semua orang terkejut. Amanda langsung memandang kedua orang yang berjalan ke arahnya dan menatap tajam pada Naura. Jari telunjuknya terarah pada kakak iparnya itu.
"Nah, ini dia biang keroknya! Aku akan jaga sikapku kalau adikmu itu bisa menjaga perasaanku. Adikmu sudah membuatku sakit hati!" Amanda membalas teriakan Rama dengan emosi.
"Ada apa sebenarnya, Ragil? Bukankah kata ibu kalian pergi berbulan madu? Kalian 'kan seharusnya sedang bersenang-senang." Nada suara Rama sudah tak tinggi lagi. Melihat Amanda yang semakin marah, dia pun mengalah karena tak ingin memperkeruh suasana.
"Bulan madu kami kacau dan aku jadi mengerti kalau Ragil tidak mencintaiku lagi. Istrimu itu sudah berhasil menggoda suamiku." Ragil yang hanya diam, membuat Amanda terpaksa memberi jawaban.
Ucapan Amanda membuat Rama dan Naura bingung dan terkejut. Amanda duduk dan menangis, membuat Ragil merasa bersalah. Dia mendekat dan menyentuh pundak istrinya, tetapi Amanda langsung menghindar.
"Apa maksud ucapanmu itu, Amanda?" tanya Rama sambil menggenggam erat tangan Naura yang gemetar dan berkeringat. Dia mengerti, istrinya selalu seperti ini jika melihat pertengkaran. Amanda mencoba menghentikan air matanya yang tiba-tiba berlinang karena merasa sakit hati.
Dengan suara yang gemetar, Naura memberanikan diri bertanya pada Amanda yang sudah terlihat tenang.
"Apa maksudmu, Amanda? Kamu jangan fitnah! Aku tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Ragil, apalagi sampai menggodanya. Selama ini, aku bertemu dengan suamimu saja baru beberapa kali."
Wanita cantik yang selalu bergaya modis itu pun langsung berdiri dan berjalan mendekati Naura. Tatapan matanya sangat tajam seolah berhadapan dengan musuh bebuyutan.
"Jangan munafik, kamu! Wajah lugu, penampilan alim, tapi aku yakin kamu berusaha menggoda suamiku."
"Amanda ... aku sudah menjelaskan semuanya dan kamu hanya salah dengar, kamu salah paham." Ragil langsung mendekati istrinya yang marah. Dia menarik tangan Amanda lalu menjauhkannya dari Naura.
"Lepaskan aku! Aku tidak tuli, Pa! Jelas-jelas kamu mengigau menyebut nama dia! Kamu pasti sudah terkena guna-guna. Rasanya aku ingin mencakar wajah kakak iparmu yang sok polos itu!" Teriak Amanda sambil menunjuk ke arah Naura. Rama dan Naura kembali dibuat terkejut.
"Apa?" Rama dan Naura serentak berteriak. Tak lama kemudian, Rama tertawa karena merasa lucu dengan cerita dari Amanda.
"Ha ha ha ... pasti kamu salah dengar, Amanda. Seandainya memang Ragil menyebut nama istriku saat dia tidur, bukankah itu wajar saja? Siapa tahu suamimu itu kebetulan sedang memimpikan aku dan Naura. Kamu sudah tanya dia mimpi apa? Ini pasti hanya salah paham. Kamu jangan lebay, sampai menuduh istriku menggoda suamimu. Apa hubungannya coba? Sudahlah ... janganlah perkara mimpi membuat kalian bertengkar apalagi bercerai."
Rama pun mencoba menghibur Amanda. Sementara Ragil tersenyum lega mendengar Rama yang menganggap semua ucapan istrinya bukanlah sesuatu yang serius.
"Tapi aku sakit hati, aku tak terima dia menyebut nama wanita lain dalam tidurnya. Baiklah, mungkin kamu menganggap ceritaku ini berlebihan dan alasanmu juga masuk akal. Tapi kamu nggak tahu 'kan kalau adikmu itu lemah ...." Ucapan Amanda berhenti, ibu mertuanya mendekat dan langsung menggenggam erat tangannya sambil memandang dengan tatapan memohon.
Amanda masih tak terima dengan alasan Rama. Dia berencana membuka rahasia Ragil tapi Erna mencegahnya. Erna belum siap kalau Rama dan Naura mengetahui keadaan putra bungsunya itu.
"Amanda, tolong, Nduk. Itu masalah pribadi kalian berdua, tak sepantasnya kalau kamu sebarkan aib suamimu di hadapan orang lain meskipun mereka saudara."
"Rama itu 'kan kakaknya Ragil, Bu. Sebagai kakak dia juga harus tahu!" Ekspresi wajah Amanda semakin terlihat kesal. Rama pun mencoba membuat adik iparnya itu tenang. Sementara Naura hanya berdiri diam karena tak tahu harus bagaimana. Bahkan dia juga tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Sebaiknya kita duduk dulu. Semuanya bisa dibicarakan dengan baik dan kepala dingin. Aku sudah tahu tentang masalah kalian. Sekarang juga ayo kita selesaikan dan aku akan mendengarkan apa yang Amanda inginkan. Ingat, ada anak-anak di rumah ini. Kasihan mereka kalau sampai mendengar dan melihat kita bertengkar."
Rama kemudian merangkul pundak Naura dan juga ibunya kemudian mengajak mereka duduk. Sementara Amanda akhirnya mengalah dan terpaksa duduk dengan raut wajah cemberut. Matanya masih melirik ke arah Naura dengan tatapan penuh kebencian.
"Anak-anak di mana, Bu?" tanya Naura pada Erna yang sedang menghapus sisa-sisa air mata. Dia pun mengusap lembut punggung ibu mertuanya itu.
"Mereka ditemani Bi Sari di kamar atas." Suara dan sentuhan tangan Naura yang lembut, membuat Erna tersenyum dan hatinya pun mulai tenang. Erna terlihat begitu menyayangi Naura, membuat Amanda semakin tak suka dan langsung membuang muka.
Sementara Ragil hanya menundukkan kepala, tak berani memandang wajah ayu kakak iparnya. Dia tak ingin semua orang di sekitarnya tahu kalau yang diucapkan istrinya benar. Bukan Naura yang menggodanya, tetapi hatinya yang sudah mendua. Bahkan perasaannya saat ini kembali bergemuruh, hanya karena Naura berada di dekatnya.
Harum pewangi pakaian yang dikenakan Naura, mengganggu pikirannya. Dia pun hanya bisa beristighfar dan merutuki dirinya sendiri. "Astaghfirullah ... wanita ini benar-benar sudah merusak akal sehatku. Jelas-jelas ini bukan bau parfum mahal. Dia hanya memakai pewangi pakaian yang murah saja sudah membuatku melayang. Ada apa denganku? Jauh dengannya membuatku tak b*******h sama sekali. Aku bahkan tak bisa membuat Amanda puas. Sementara saat ini ... gila! Aku benar-benar sudah gila!" Tanpa sadar, tangan Ragil memukul kepalanya sendiri. Semua orang pun memandang ke arahnya.
"Kamu kenapa, Ragil?" tanya Rama heran.
"Eh ... anu ... ti ... tidak apa-apa kok, Mas. Hanya pusing saja karena semalaman aku belum tidur." Ragil bersyukur bisa langsung menjawab dan mempunyai alasan yang tepat. Dia memang sama sekali belum tidur semalaman karena pertengkarannya dengan Amanda.
"Ayo, kita bicarakan semuanya, mumpung aku juga ada waktu. Sayang, kamu ke kamar atas dulu, ya. Tolong jaga anak-anak biar nggak turun. Ada hal penting yang harus kami bicarakan. Maaf, bukannya aku nggak mau mengajakmu ikut berdiskusi, hanya saja ...."
"Sudahlah, Mas, aku mengerti, kok. Aku akan menemui anak-anak dulu. Lanjutkan diskusi kalian." Naura mengelus lengan Rama dengan lembut dan tersenyum. Rama bersyukur karena istrinya selalu pengertian.
"Terima kasih, ya, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, aku akan menyusulmu." Naila mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju tangga.
Melihat pemandangan di hadapannya, Amanda mencebik lirih. Selama ini dia selalu iri melihat kemesraan Rama pada istrinya. Itulah alasannya dia sangat membenci Naura. Bukan karena dia menyukai Rama, tetapi dia hanya ingin diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri.
Sementara Ragil semakin salah tingkah saat melihat senyuman manis kakak iparnya itu. "Astaghfirullah ... senyumannya membuat pikiranku semakin kacau. Ke mana saja aku selama ini? Baru sadar punya kakak ipar semanis itu." Ragil berkata dalam hati, sesekali pandangan matanya melirik Naura yang berjalan menaiki tangga. Bersyukur semua orang tak memperhatikannya. Suara tegas Rama pun akhirnya membuyarkan lamunan Ragil dan juga Amanda.
"Bagaimana keputusanmu, Ragil, Amanda?"
"Rama ... apakah kamu sudah tahu masalah adikmu?" Erna memandang wajah putra sulungnya dengan heran.
"Tenang saja, Bu. Aku sudah tahu semuanya. Ragil waktu itu pernah bercerita pada Rama. Ibu nggak usah khawatir, semuanya bisa dibicarakan dengan baik tanpa ada pertengkaran. Makanya aku tak ingin istriku ikut bicara di sini karena aku juga harus menjaga nama baik adikku. Dia pasti malu kalau sampai Naura tahu. Begitu juga Naura yang pasti malu mendengar kita membahas masalah seperti ini." Rama menggenggam erat tangan Erna yang duduk di sampingnya.
"Idih, masak sih istrimu malu? Dia itu bukan ABG lagi, anak juga sudah besar-besar. Ngapain juga malu? Godain suami orang nggak malu!" Ucapan Amanda yang selalu merendahkan istrinya, kembali membuat Rama naik darah.
"Amanda! Aku nggak suka kamu menuduh istriku seperti itu! Naura itu wanita yang lugu, lembut, dan dia juga masih tabu kalau membahas hal seperti ini. Dia itu bukan kamu!"
"Memangnya aku kenapa? Meskipun tingkah dan ucapanku nggak selembut istrimu itu, pantang bagiku kalau harus merendahkan harga diriku jadi pelakor. Istrimu itu yang pakai topeng, berkedok wanita muslimah yang menutup aurat tetapi ...."
"Amanda!" teriak Rama. Ragil pun terpaksa ikut membujuk istrinya agar tenang.
"Ma, sudahlah, jangan berdebat lagi dan jangan menyebut Mbak Naura seperti itu. Dia wanita baik-baik, kamu salah kalau menuduhnya. Dia sama sekali tidak pernah menggodaku, Ma."
"Tuh, kan? Dan sekarang kamu ikut-ikutan belain kakak iparmu itu!" Bukannya tenang, ucapan Ragil semakin membuat Amanda emosi.
"Kalau begini terus, aku mau pulang saja. Capek aku lama-lama ngomong sama kalian." Rama berdiri dan berjalan menuju tangga.
"Iya ... iya ... aku akan diam. Tapi yang pasti aku ingin pisah!" Akhirnya Amanda mengalah. Dia juga sudah merasa lelah dengan pertengkaran yang tak ada habisnya. Apalagi dia juga sama seperti Ragil, belum memejamkan matanya dari semalam.
"Ma, kita bisa mencobanya lagi. Maafkan aku, maafkan aku yang sudah mengacaukan acara bulan madu kita. Tolong, berikanlah aku kesempatan lagi. Aku masih mencintaimu, aku nggak ingin kita berpisah."
Ragil duduk bersimpuh di hadapan istrinya dan memohon. Amanda hanya memandang wajah tampan Ragil. Dia tak bisa membalas ucapan suaminya itu. Tak dipungkiri, rasa cintanya sudah sangat dalam pada Ragil. Apalagi akhir-akhir ini, suaminya sudah memenuhi nafkah batin dan membuatnya sangat bahagia.
Kejadian saat mereka di hotel itulah yang kembali membuatnya marah dan ingin bercerai dari suaminya. Ragil tiba-tiba tak bisa memenuhi kebutuhan batinnya lagi. Apalagi Ragil menyebut nama Naura dalam tidurnya, membuat Amanda langsung marah dan akhirnya mereka pulang.
Melihat Amanda yang diam saja, Rama kembali duduk dan memberikan pertanyaan pada adik iparnya itu. Dia mengerti, Amanda sedang berpikir saat ini. Kalimatnya saat meminta cerai pasti terucap karena rasa cemburu dan emosi.
"Bagaimana denganmu, Amanda? Apakah kamu sudah tidak mencintai suamimu lagi? Atau mungkin kamu sudah memiliki kekasih? Kalau kamu siap bercerai, aku akan membantumu."
"Mas ... aku nggak mau bercerai ...." Tatapan mata Rama yang tajam, membuat Ragil berhenti bicara.
"Biarkan aku selesai bicara dulu, jangan menyela! Amanda, aku berjanji akan memenuhi keinginanmu. Tapi aku mohon, jangan menggunakan alasan perceraian karena suamimu tak bisa memberi nafkah batin lagi. Kami sebagai keluarganya, terus terang tak terima walaupun kenyataannya seperti itu. Apakah kamu bersedia?"