"Dipanggil dari tadi kok kamu nggak denger, sih? Apa memang sengaja menghindar?"
Seorang laki-laki berbadan atletis, tinggi dan tampan, menghampiri mereka. Yasmin terlihat enggan menatap wajah tampan itu. Sementara Naura hanya memperhatikan kedua orang yang ada di hadapannya.
"Aku 'kan sudah bilang, jangan ngikuti aku terus, Danial! Kamu ngerti nggak, sih?" Yasmin berkata dengan nada tinggi pada laki-laki yang bernama lengkap Danial Syahreza--sahabatnya.
"Heii, santai dong, Sayang. Aku nggak ngikutin kamu, kok. Aku nggak sengaja melihat kamu keluar dari toko ini."
Danial berkata sambil tersenyum menggoda. Dia selalu seperti itu pada sahabatnya, tak peduli meskipun berada di tempat umum. Itulah yang membuat Yasmin tak suka karena malu dengan sikap dan juga ucapan sahabatnya itu.
"Sayang ... Sayang ... ngomong jangan sembarangan! Nanti kalau orang lain yang denger bisa salah paham." Yasmin langsung cemberut, membuat Danial semakin menggodanya.
"Biarkan saja salah paham, siapa tahu bisa bikin kamu cepat menerima lamaranku."
"Sudah, yuk, Naura. Kita lanjut ke kafe itu, nggak usah peduli sama dia." Yasmin langsung menggandeng tangan Naura dan berjalan menuju kafe yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Aku ikut, ya ...." Danial mengikuti langkah mereka.
"Terserah!"
Ucapan Yasmin membuat Danial tertawa senang. Sikap sahabatnya itu selalu membuatnya rindu. Yasmin suka marah, jutek, tetapi terkadang bersikap manja. Namun Yasmin tetap menjaga jarak dengannya, apalagi semenjak wanita cantik itu memutuskan untuk berhijrah.
Danial adalah sahabat Yasmin semenjak remaja, mereka sudah seperti saudara. Semasa hidupnya, orang tua mereka juga sangat dekat meskipun berbeda keyakinan. Namun setelah orang tua mereka meninggal dunia, Danial mulai berpindah agama. Dia mulai belajar tentang Islam, dibantu sahabatnya itu.
Di balik keinginannya berpindah agama, selain karena hidayah yang menyapa, dia juga ingin bisa menikah dengan Yasmin. Ya ... Danial sangat mencintai Yasmin. Namun sayang sekali, ungkapan cintanya pada wanita itu langsung ditolak karena Yasmin tak bisa menerima cinta seseorang yang sudah dianggap seperti saudara.
Setelah duduk dan memesan minuman favorit masing-masing, mereka pun mengobrol dengan santai, sesekali tertawa karena lelucon yang dibuat Danial. Naura sangat senang dan merasa cocok dengan mereka, apalagi selama ini dia tak pernah memiliki teman akrab, apalagi sahabat.
"Oh, jadi putramu sudah dua, sudah besar-besar lagi. Tapi kamu masih kelihatan seperti usia dua puluhan lho, Naura, awet muda." Yasmin yang ramah berkata pada Naura sambil sesekali menyeruput teh lemon hangat miliknya.
"Bisa saja kamu, awet muda dari mana? Aku sudah tua, sudah kepala tiga." Naura tersipu malu dengan ucapan Yasmin. Tak dimungkiri, banyak yang bilang seperti itu padanya dan sekarang Yasmin mengatakan hal yang sama.
"Beneran, deh, tanya aja sama Danial. Dia 'kan play boy kelas teri, pasti setuju dengan pendapatku. Bener, nggak, Dan?" Danial langsung melotot ke arah Yasmin saat mendengar wanita itu meledeknya.
"Play boy cap teri, nggak keren banget, sih. Tapi betul sekali apa yang Yasmin bilang tadi, aku setuju. Naura terlihat awet muda dan sikapnya juga lemah lembut. Beda sekali sama dia! Ha ha ha ...." Danial tertawa sambil menunjuk ke arah Yasmin.
"Ish, ujung-ujungnya pasti begitu! Aku juga lemah lembut, tahu!"
"Iya ... iya ... kamu memang lemah lembut. Bahkan lembuuuutt sekali, sampai nggak terlihat. Ha ha ha ...."
"Emangnya aku makhluk halus? Awas kamu, ya, nggak aku buatin kopi lagi kalau main ke rumah!"
"Ya ... gitu aja ngambek. Jangan begitu dong, kopi buatanmu selalu bikin aku rindu. Aku mohon maaf, Sang Ratu."
"Males ...."
Naura hanya tersenyum dan sesekali tertawa melihat tingkah kedua orang itu. Dia sangat terhibur dengan perdebatan kecil mereka. Sedang asyik menikmati gurauan Yasmin dan Danial, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dengan nada dering khusus, pertanda panggilan dari sang suami.
"Astaghfirullah ... aku lupa kirim pesan sama Mas Rama, gimana ini?" gumam Naura yang membuat Yasmin heran. Ekspresi wajah Naura langsung terlihat cemas.
"Assalamu'alaikum ...." Naura pun langsung mengucapkan salam pada Rama.
"Wa'alaykumussalaam ... sudah sampai mana? Kok belum kasih kabar? Lagi di mana sekarang?" Sesuai dugaan Naura, Rama pasti bertanya tentang keberadaan dirinya saat ini.
"Maaf, Mas ... aku belum sampai rumah. Aku sedang di kafe sama teman." Naura menjawab pertanyaan Rama dengan jujur.
"Teman? Teman siapa? Awas, jangan mudah akrab sama orang yang baru kamu kenal. Laki-laki atau perempuan?"
"Hemm ... perempuan, kok, Mas. Tapi dia sama teman laki-lakinya juga. Nanti aja aku ceritain di rumah, ya, Mas. Ini aku mau pulang, kok."
"Baiklah, hati-hati, ya, Sayang. Aku tunggu."
"Iya, Mas. Assalamu'alaikum ...."
Setelah menjawab salam, Rama langsung memutus sambungan telepon mereka. Naura merasa jantungnya berdebar tak beraturan, karena lupa belum minta ijin pada suaminya kalau dia akan terlambat pulang. Apalagi kalimat terakhir yang disampaikan Rama padanya, membuat dirinya yakin kalau suaminya saat ini sudah di rumah.
"Siapa Naura, suamimu? Kenapa wajahmu sepucat itu?"
"I ... iya, suamiku. Aku yang salah, aku belum minta ijin kalau mau ngobrol di kafe dengan kalian. Maaf, ya, aku ijin pulang dulu. Sepertinya suamiku sudah pulang. Maaf, lain kita bisa lanjut ngobrol lagi. Kamu sudah save nomer ponselku, kan?"
"Posesif banget, sih, suamimu." Danial langsung berkata dengan ketus pada Naura.
"Bukannya posesif, dia hanya mengkhawatirkan keadaanku saja. Mas Rama orangnya juga tertutup, jadi dia kurang setuju kalau aku berbicara dengan orang yang baru aku kenal. Maaf, jangan tersinggung, ya?" Naura berusaha membela suaminya.
"Iya, sudah. Aku tahu, dia pasti sangat mencintaimu. Apalagi istrinya secantik kamu, wajar kalau posesif. Terima kasih, ya, Naura. Insyaa Allah kalau diijinkan, kapan-kapan aku mau main ke rumahmu. Boleh, kan?" Yasmin mengerti Naura sedang terburu-buru saat ini.
"Tentu saja boleh, aku pasti senang sekali."
Setelah mengucap salam, Naura pun melajukan kendaraan roda duanya pulang. Sesampainya di rumah, Naura melihat motor sport yang sudah terparkir di teras. Jantungnya kembali berdebar, dia takut suaminya akan marah padanya.
Sementara Rama yang saat ini duduk di ruang keluarga, hatinya gelisah menanti kedatangan Naura. Rama selalu panik jika Naura pergi sendirian walaupun itu hanya sebentar. Padahal Naura sudah meminta ijin padanya sebelum berangkat kerja.
Setelah mengucap salam, Naura langsung mendekati Rama yang terus memandangnya. Dia pun mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
"Maaf, Mas, aku pulang terlambat. Mas kok sudah pulang?" Mendengar suara lembut Naura, Rama pun hanya menghela napas panjang. Wajah ayu serta tatapan teduh istrinya selalu bisa membuat hatinya luluh seketika dari rasa marah.
"Iya, Sayang, tadi aku bisa memenangkan tender untuk pengiriman barang yang ke Kalimantan, jadi Pak Bos sangat senang. Dia menyuruhku pulang setelah meeting dengan kliennya. Ayo, sekarang kita ke rumah ibu. Tadi ibu telepon, katanya masak banyak sekali hari ini. Kebiasaan ibu kalau cucunya datang."
"Baiklah, aku mau ke belakang dulu, ya. Mau naruh barang belanjaanku sekalian sholat dhuhur. Mas, mau dibuatkan minuman?"
"Nggak usah, aku sudah kenyang. Habis ini di rumah ibu pasti juga dipaksa makan."
Naura segera berjalan ke belakang lalu membersihkan badan terlebih dahulu sebelum melakukan kewajiban empat rakaat. Setelah berganti pakaian, mereka berdua pergi ke rumah Erna.
***
"Mas, sepertinya Ragil sudah pulang, mobilnya ada di garasi, tuh." Naura menunjuk ke arah mobil berwarna hitam milik Ragil, di samping mobil berwarna putih milik Erna, yang terparkir di garasi.
"Kata ibu mereka pergi bulan madu kemarin, mana mungkin sekarang sudah di rumah?"
"Mungkin saja Ragil ada pekerjaan mendadak yang mengharuskan dia pulang."
"Mungkin saja, yuk, kita masuk."
Mereka langsung masuk ke dalam rumah mewah milik Erna setelah mengucap salam. Namun, Naura dan Rama terkejut melihat pemandangan yang sama sekali tak menyenangkan di hadapan mereka. Erna duduk di sofa dengan pipi yang basah karena air mata. Ragil duduk di sampingnya dengan kepala yang tertunduk. Sementara Amanda berdiri di hadapan mereka dengan angkuh.
"Pokoknya, Pa, aku mau cerai!! Dan Ibu, jangan coba-coba menghalangi keinginanku lagi!!"