bc

PUTRI JAHAT MENGULANG WAKTU

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
HE
opposites attract
princess
drama
tragedy
rebirth/reborn
kingdom building
like
intro-logo
Uraian

Sonia dituduh menjadi pelaku penyebab kematian anaknya, suami setuju dengan hukuman sang istri demi karier di dunia politik. Alam sepertinya tidak mengabulkan keinginan sang suami, Sonia kembali ke masa lalu, perbaiki semua, balas dendam termasuk menghindari tunangan masa kecil.

chap-preview
Pratinjau gratis
AWAL
Hujan deras menyelimuti langit malam kota London, tidak menyurutkan semangat para warga yang antusias melihat pidato seorang politikus tampan yang dicalonkan menjadi Perdana Menteri tahun depan di layar televisi. "Jadi, menurut Anda. Kita harus kerja sama dengan negara-negara di Asia? Bisa jelaskan lebih spesifik?" "Saya tertarik dengan negara Indonesia, saya mengharapkan kerja sama lebih banyak dengan negara itu." "Memang saya melihat informasi kalau Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat banyak. Namun, bukankah kita bekerja sama dengan Amerika?" "Kita memang di pihak Amerika, tapi Indonesia negara netral. Tidak mungkin Indonesia menolak kerja sama kita." "Ah, benar." Sonia melihat layar televisi sambil berusaha menyambungkan telepon ke suami, yang ditayangkan di televisi adalah siaran rekaman, tidak mugkin sekarang dia sibuk. "Nyonya." "Ariana hilang, aku harus cari ke mana lagi?" "Tenang dulu, Nyonya. Para pelayan sedang mencari Nona kecil." Summer menuruni tangga, mengerutkan kening ketika melihat Sonia terlihat panik. "Apa yang kau lakukan di sini?" "Ariana hilang dari sore." Summer tertaawa mengejek. "Hilang di dalam rumah? Bagaimana bisa? Cepat cari lagi, Kau memang tidak becus jadi istri." Sonia berusaha menahan amarah lalu memberikan perintah ulang ke kepala pelayan, kembali menelusuri setiap sudut rumah. Tidak lama muncul suara cempreng di televisi. "Oh, Nona kecil." Sonia meliat layar televisi, anak perempuan yang dicari seharian, tersenyum lebar di dalam gendongan ayahnya. "Ternyata dia sama ayahnya, jangan buat panik orang rumah apalagi para pelayan." Summer menatap jijik Sonia. Sonia juga merasakan tatapan sama dari para pelayan.. "Nyonya." Sonia menghela napas panjang. "Kita pergi ke sana, jemput Ariana." "Tapi.." "Suamiku bilang lembur hari ini, sekalian kita bawa makanan untuknya." Sonia naik ke lantai atas terburu-buru mengabaikan percakapan yang terlihat bahagia di televisi.. *** Satu jam kemudian, Sonia tiba di kantor suami. Dia menaikkan alis begitu melihat para tamu penting masuk ke dalam gedung. "Jadi, suamiku sangat sibuk seharian?" "Nyonya, Tuan mungkin tidak ingin diganggu." "Aku hanya ingin menjemput Ariana supaya tidak mengganggunya kerja, sekalian berikan makanan. Ada yang aneh?" "Tidak," jawab pelayan yang jalan mengikuti Sonia. Sonia tahu gosip yang muncul belakangan ini dan banyak bangsawan, istri pengusaha, pejabat bahkan pelayan meremehkan dirinya. Dia menyakinkan diri sendiri kalau Thomas tidak akan melakukan hal seperti itu, gosip hanya ingin menjatuhkan reputasi suami, sebagai istri, dia harus kuat dan percaya. Namun, semesta sepertinya tidak mengabulkan keinginan Sonia, dia melihat seorang wanita cantik menggendong Ariana sambil mencium pipi anak mungil itu dengan lembut, sementara tangan Thomas memeluk bahu wanita itu dengan lembut. Pemandangan itu terlihat seperti keluarga bahagia. Sonia mencengkram erat tas mini merk mahal keluaran lama. "Nyonya." Pelayan di belakang Sonia tidak percaya dengan penglihatannya, gosip yang beredar selama ini benar. Sonia melangkah masuk ke dalam ruangan, tidak peduli tepuk tangann dan perhatian orang-orang ke suami dan anaknya serta wanita yang dia percaya selama ini. Senyum Ariana yang tadinya mengembang, perlahan memudar, bibir mungil dan merah itu cemberut ketika melihat sosok Sonia jalan menghampiri mereka. Silvia yang peka, mengalihkan perhatian ke tatapan yang dituju Ariana. Sonia tersenyum dingin, menatap suami, adik tiri dan anaknya yang terlihat bahagia. "Sepertinya aku melewatkan sesuatu di sini." Para tamu di dalam ruangan yang tadinya terlihat bahagia dan bertepuk tangan, mengalihkan perhatian ke Sonia dan menghentikan tepuk tangan. Sonia menatap panggung dengan senyum malas. "Jadi, ada acara apa di sini?" Silvia memeluk erat Ariana yang balik badan dan peluk lehernya. "Kakak." "Kakak?" tanya Sonia sambil menaikkan salah satu alis. "Berani kau panggil aku kakak?" "Sonia." Thomas turun dari panggung dan menarik tangan Sonia, hendak bawa ke ruang lain. Sonia berontak dan menarik tangannya. "Apa yang kau lakukan? Aku hanya ingin jemput Ariana." Kedua mata Thomas menyipit, tidak suka dengan kelakuan Sonia yang berontak. "Tidak bisakah kau taat pada suami?" Sonia menarik napas panjang lalu tertawa. "Taat? Aku hanya datang jemput Ariana setelah seharian berusaha mencarinya di rumah, tidak ada yang beritahu aku kalau kau bawa dia ke sini." "Kakak, aku yang bawa Ariana kemari." Sarah masih berdiri di atas panggung sambil membelai belakang kepala Ariana. "Aku minta maaf tidak beritahu kakak, aku lupa." "Lupa?" Sonia mengerutkan kening dengan kesal. "Aku ibunya dan kau bilang lupa?" Thomas mengeluarkan peringatan. "Sonia, jangan di sini. Banyak tamu." Perhatian Sonia beralih ke Thomas. "Kenapa jadinya aku yang salah di sini? Aku hanya datang dan jemput Ariana, sekalian bawa makanan untukmu." Ariana menjerit sedih. "AKU TIDAK MAU IKUT MAMA." "Ariana, tenang. Ada aku di sini." Silvia menenangkan Ariana dengan suara lembut. "Aku mau di sini, sama Bibi." Ariana memeluk erat leher Silvia, seolah tidak ingin lepas. Sonia menatap sedih putri yang selalu dimanja. "Ariana." "Mama pergi saja, jangan ganggu. Aku tidak mau ikut mama, jahat." "Ariana, bagaimana bisa..." Sonia tersentak, menyadari banyak mata melihat interaksi mereka. Samar-samar, dia bisa mendengar bisikan para tamu yang terlihat menyudutkan dirinya. "Lihat, anaknya saja tidak mau." "Kasihan, memang lebih baik Earl menikah dengan Silvia." "Bukannya Silvia saudara tiri Sonia?" "Reputasi Silvia jauh lebih bagus dari Sonia, aku dengar Sonia selalu melakukan hal buruk di masa lalu, menekan orang lain dengan statusnya." Sonia tidak ingin mendengar banyak omong kosong, dia jalan ke atas panggung dan berusaha menarik Ariana dari Silvia. "Sayang, ayo kita pulang." "Sonia, hentikan." Thomas jalan mendekati Sonia. "Jangan dipaksa, dia masih kecil." "Ini sudah malam, dia harus tidur." Sonia masih berusaha menarik Ariana, tanpa sadar posisinya berubah memunggungi para penonton di bawah panggung. "Ariana, ikut mama." "TIDAK MAU!" jerit Ariana sambil menangis. Silvia mengerutkan kening, takut gaunnya akan robek, terpaksa mendorong Ariana ke arah Sonia. Sonia yang tidak siap, jatuh ke belakang, memeluk erat Ariana supaya tidak terluka. Semua orang teriak ketakutan melihatnya. Tak lama, Sonia buka mata. Punggungnya tidak sakit, padahal dia jatuh dari atas panggung, hanya kakinya yang terkilir sakit. "Kau baik-baik saja?" Rupanya ada seorang pria yang berbaik hati menjadi bantal pendaratan, Sonia buru-buru berdiri tanpa sadar, menjatuhkan Ariana ke lantai. Ariana menangis kencang dan memarahi Sonia. Sonia merasa bersalah dan menenangkan Ariana, namun tidak berhasil. Silvia tidak mau turun dari panggung, dia tidak mau gaun mahalnya rusak, Thomas yang paham, bergegas memeluk putrinya. "Mana yang sakit?" "Mama jahat." Ariana menangis keras. "Maaf, Mama tidak sengaja." Sonia jadi panik. "Ariana sayang, maaf." "Pulanglah, biarkan Ariana bersamaku." Thomas berdiri sambil memeluk Ariana. "Ada Silvia di sini." "Aku istrimu, ibu Ariana juga." "Kau sudah buat masalah berkali-kali, jika kau ingin menyelamatkan karierku, jangan pernah ke sini lagi." "Thomas." Sonia menatap marah, pria yang sudah dinikahinya selama sepuluh tahun. Mereka sudah dikaruniai dua anak. Billy dan Ariana. Billy berusia sepuluh tahun dan Ariana berusia lima tahun. Billy lebih banyak masuk asrama, sementara Ariana suka di rumah, namun entah kenapa kedua anaknya sangat benci dirinya. "Ariana, besok kakak Billy pulang ke rumah. Ariana harus tidur cepat supaya bisa bertemu dengan kakak." Ariana masih tidak mau melihat Sonia, meski tangisannya sudah mereda. "Sayang tidak mau bertemu dengan kakak?" tanya Sonia dengan nada sedih. Thomas menegur keras Sonia. "Jangan di sini, pulang saja. Biar aku yang bawa pulang Ariana." Sonia sedih dengan ucapan Thomas. "Harusnya kau mendukungku." Thomas panggil pengawal dan menyuruhnya mengawal Sonia pulang. Sonia menaikkan dagu dengan angkuh. "Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri." Pelayan yang dari tadi mengikuti Sonia dan sembunyi di antara kerumunan, menyerahkan bingkisan dari Sonia ke sekretaris Thomas. "Nyonya masak tadi siang, sambil mencari Nona muda." Sekretaris tersenyum dan mengangguk paham, setelah Sonia dan pelayan sudah keluar, dia sampaikan pada Thomas. Thomas menatap jijik bingkisan di tangan sekretaris. "Masakan tidak jelas, buang saja." Sekretaris mengikuti perintah Thomas tanpa bertanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
315.8K
bc

Too Late for Regret

read
326.8K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
145.8K
bc

The Lost Pack

read
445.2K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook