Di pagi hari, Sonia bersikeras masak untuk sarapan, menghilangkan perasaan sedih semalam. Dia ingin marah, namun memkirkan posisi sang suami di depan umum, juga tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
"Masakan aneh lagi," bisik salah satu pelayan di dekat pintu.
Sonia terdiam dan menatap makanan di piring, dia bisa mendengar ucapan pelayan. Namun akhirnya tidak diambil hati, tetap menyiapkan sarapan untuk orang rumah dan menghidangkan sendiri di meja makan.
Tidak lama, ibu mertua dan saudara ipar duduk di kursi makan seperti biasa. Mereka mengernyit jijik ketika melihat makanan yang dihidangkan Sonia.
"Apa ini?" tanya Summer dengan alis berkerut.
Sonia menyilangkan kedua tangan di d**a. "Sarapan."
"Sarapan?" tanya Brenda dengan tawa kesal. "Kau ingin permainkan aku? Mana makananku?"
"Tidak baik makan seperti itu, lebih baik yang ini. Kenyang dan puas." Sonia duduk di kursi sambil mengambil nasi. "Kalau kalian ingin makan lain, bisa beli sendiri di luar."
"Kau pikir kau siapa? Berani sekali kurang ajar pada ibu mertua," gertak Summer. "Sonia, kau harusnya belajar dari Brenda."
"Menjadi pelakor?" tanya Sonia tanpa merasa bersalah.
Brenda menunjuk Sonia dengan kesal. "Kau... kau..."
Sonia menatap marah Brenda dan Summer. "Ini rumahku, terserah aku yang masak."
"Kau masih marah karena kejadian semalam?" tanya Brenda yang tidak percaya. "Memangnya kau masih kecil?"
Sonia menatap Brenda. "Ariana pergi tanpa sepengetahuanku, sebagai Ibu, wajar khawatir."
Brenda memutar bola mata. "Kau tidak mencintainya, Ariana bilang sendiri. Biarkan anak itu mencari kebahagiaannya."
"Aku menghukum dia jika nakal, tapi aku tidak pernah memukulnya. Kalian selalu di rumahku dan melihat sendiri bagaimana aku mendidik anak itu." Sonia menatap tegas ibu mertuanya. "Bagaimana bisa ada penilaian seperti itu?"
Summer meletakkan gelas dengan keras. "Kau memang tidak tahu aturan, tahu gitu aku tidak akan menikahkan kau dengan Thomas."
"Sebelum bicara itu, kembalikan mahar milik keluargaku yang kalian ambil, rumah ini juga pemberian Ayahku."
Brenda menatap tidak percaya Sonia. "Rupanya kau butuh psikiater."
"Hidup bersama kalian, memang butuh psikiater," jawab Sonia dengan santai. "Ngomong-ngomong, kalian akan tinggal di sini sampai kapan?"
Summer pukul meja makan dengan tangannya. "KAU TIDAK BISA DIATUR!"
Sonia berusaha menelan amarah dengan makanan.
"Brenda putri, dan aku istri dari raja. Statusmu di bawah kami."
Sonia menghela napas panjang. "Status bangsawanku mengikuti suami, berarti Thomas lebih rendah dari kalian?"
"Pantas saja kau tidak punya aturan sama sekali, Ibumu pergi tanpa jelas."
Tangan Sonia berhenti, perhatiannya beralih ke Summer. "Ibuku pergi karena ulah teman kau, lalu bagaimana dengan Brenda? Di mana ayahnya sampai bersedia melacur."
Brenda yang tidak tahan, berdiri lalu menerjang Sonia hingga terjatuh dari kursi.
Sonia yang di lantai berusaha menahan tangan Brenda dan teriak marah. "APA YANG KAU LAKUKAN?"
'AKAN AKU BUAT KAU MENYESAL HIDUP DI DUNIA INI!" bentak Brenda yang berusaha mencakar wajah Sonia dengan kuku palsunya.
"KAU SUDAH GILA!" balas Sonia yang berusaha mendorong sekaligus menahan sakit di punggung. "BRENDA!"
"HANYA KARENA KAU TERLAHIR SEBAGAI BANGSAWAN, KAU BISA MENGHINA KAMI?!"
"AKU TIDAK PERNAH MENGHINA KALIAN!" balas Sonia dengan kesal. Selama ini dia selalu menuruti semua perkataan mereka, inikah balasannya?
Brenda masih diliputi amarah dan berusaha menyerang Sonia, para pelayan yang berbaris, hanya diam dan menutup mata, mengikuti aturan jika ada pertikaian bangsawan di depan mata.
Sonia kecewa sekali lagi, para pelayan yang digaji dari uang keluarga Augustina, tidak membelanya, tapi lebih membela keluarga suami. Gaji Thomas sebagai politikus tidak akan mampu membayar biaya perawatan rumah yang mereka tempati.
"Apa yang kalian lakukan?"
Brenda berhenti dan melihat sang adik pulang bersama dua keponakannya. "Oh, kau baru kembali."
Dahi Thomas berkerut jijik melihat penampilan Sonia yang berantakan di lantai marmer. "Apa yang kau lakukan?"
Brenda menunjuk Sonia dengan marah, tanpa beri kesempatan untuk bicara. "Dia yang mulai duluan, bicara kasar pada kami, masak masakan tidak layak bahkan menghina kita."
Mata Sonia menyipit begitu melihat Brenda turun dari tubuhnya lalu menunjuk dengan kebohongan, dia menjelaskan sambil berusaha bangun dari lantai. "Aku tidak mengatakan apa pun, hanya bilang jika kalian tidak puas, bisa pulang atau beli makan di rumah, ini rumahku."
"Hah!" Brenda menatap marah Sonia. "Kau juga menghina Thomas sebagai bangsawan rendah, lebih rendah dari kami."
"Kalian yang mulai terlebih dahulu..." Sonia terdiam begitu melihat wajah anak laki-lakinya terlihat marah. "Sayang."
Billy menatap jijik Sonia. "Mama, tidak bisakah mengubah perilaku jahat di masa lalu?"
Sonia menatap bingung Billy. "Apa?"
Silvia mengalihkan perhatian semua orang. "Billy, temani Ariana ke kamar. Biar orang dewasa mengatasi masalah di sini."
Billy mengangguk setuju lalu memegang tangan Ariana. "Ayo."
Ariana yang sedari tadi sembunyi di belakang kaki Thomas, mengikuti langkah kakaknya. "Kakak, aku lapar."
"Kakak punya banyak camilan."
Sonia menatap sedih punggung ke dua anaknya yang sudah menjauh.
Thomas memijat kening dengan kesal. "Lebih baik kau ke dokter, aku akan bayar semuanya."
Sonia menatap bingung Thomas. "Dokter apa? Siapa yang sakit?"
"Kau, bukankah dari dulu kau memang sakit? Aku memang salah karena tidak paham, untung saja Silvia menjelaskan semua."
Silvia tersenyum sedih.
Sonia menatap tidak percaya Silvia. "Apa yang kau katakan pada Thomas?"
"Kakak, aku tidak bicara apa pun," ucap Silvia dengan nada lembut. "Jangan berpikiran buruk pada semua orang, kami hanya ingin berikan yang terbaik untuk kakak."
"Jangan panggil aku kakak." Sonia menatap jijik Silvia.
Thomas melindungi Silvia. "Dia adikmu, jangan bicara keterlaluan."
Sonia bisa melihat senyum kemenangan Silvia sekilas. "Dia memang adikku, tapi aku istrimu."
"Besok kau akan bertemu dokter, jangan keluar dari rumah, banyak gosip tidak enak beredar semenjak kemunculanmu di pesta." Thomas mengambil keputusan.
Sonia merasa bingung tapi juga tidak mengatakan apa pun, dia harus bertahan demi kedua anaknya. "Apa yang terjadi? Aku hanya datang ke sana menjemput Ariana."
"Terkadang, tidak semua mau mendengar sisi kita, Kak." Silvia menghela napas panjang, seolah melepas beban berat. "Thomas sudah berusaha menutup dan aku juga menjelaskan."
"Kenapa harus kau yang menjelaskan? Kenapa bukan aku?" Sonia berusaha berpikir positif, dia tidak ingin memikirkan hal buruk. Kebiasaan lamanya di masa lalu.
"Kakak, banyak orang yang tidak suka dengan sosok kakak karena masa lalu yang buruk. Kakak tahu, banyak saksi yang mulai muncul karena menjadi korban kakak semasa sekolah." Silvia menjelaskan dengan nada sabar dan lembut. "Sebaiknya kakak di rumah, lalu pergi ke dokter, tenang saja... ini hanya akting, hanya menunjukkan ke publik kalau kakak berubah."
"Aku berubah?" Sonia menatap tidak percaya Thomas. "Kejahatan apa yang aku lakukan sampai kalian seperti itu? Bullying di masa lalu? Bukankah kau, Thomas dan Brenda juga terlibat? Kenapa hanya aku saja yang diserang?"
"Sonia, kau harus menyadari kedudukan. Aku menikah dengan pangeran, status Silvia juga satu-satunya anak perempuan raja. Kau siapa? hanya istri adikku."
Sonia mengalihkan tatapan ke Brenda. "Posisi yang diklaim Silvia itu milikku, dia hanya anak tiri."
"Masalahnya, kau sudah bukan bagian dari keluarga mereka... meskipun, yah... mereka masih membiayai perawatan rumah ini." Brenda menatap kukunya yang sudah dihias cantik.
Tentu saja Sonia tidak akan melupakan hal itu, dia sengaja pisah dengan keluarga demi bisa menikah dengan Thomas dan pertahankan anak mereka.