Sonia terpaksa menerima pengaturan suami, hanya bisa di rumah dan ke rumah sakit, dia menyadari wartawan selalu menguntit dan mengikuti perkembangannya, kali ini dia mengikuti pengaturan Thomas.
Dia tidak punya teman untuk mengeluh, semasa sekolah hanya Brenda, Silvia dan Thomas yang selalu berada di sisinya. Namun, sekarang mereka bertiga lebih suka menjauh dan bertengkar dengannya.
"Kak Billy, tunggu aku."
"Ayo, cepat. Nanti bibi Silvia mengomel."
Sonia yang sedari tadi duduk di ruang tengah sambil baca koran ekonomi, menjadi waspada. "Billy, bagaimana bisa Silvia mengomel padamu?"
Billy yang berdiri di depan pintu ruang tengah, terkejut melihat sosok Sonia. "Mama bukannya di rumah sakit?"
"Dokternya tidak ada, Mama ada jadwal ulang. Kalian mau ke mana?" tanya Sonia sambil bangkit dari sofa empuk, lalu dihalangi oleh pelayan pria bertubuh besar. Dia menaikkan salah satu alis.
"Maaf, Earl beritahu kami untuk menjauhkan Anda dari anak-anak."
Sonia tertawa muram. "Mereka anak-anakku."
"Kami hanya menjalankan perintah."
Sonia menyisir rambut ke belakang dengan frustasi, dia bisa melihat wajah anak-anaknya yang ketakutan lalu berlari keluar tanpa pamit. "Siapa yang sudah cuci otak mereka?"
Sonia mendengar suara dari luar, dia jalan ke jendela dan melihat pemandangan menyakitkan. Billy digendong Thomas sementara Ariana digendong Silvia, terlihat bahagia. Dia teringat pemandangan yang selalu dirindukan di masa lalu, berusaha mengejarnya dengan Thomas.
"Nyonya, dokter menghubungi kami kalau penerbangan dibatalkan, Anda bisa ke rumah sakit sekarang."
Sonia menghela napas panjang dan bersiap, ini hanya sementara, mereka pasti akan bersama lagi dan jadi keluarga bahagia.
***
Tiga jam kemudian, setelah bertemu dengan Dokter, Sonia bergegas pulang ke rumah, dan tidak disangka bertemu dengan pria yang tidak ingin ditemuinya sepanjang hidup.
"Sonia."
Suara yang dulu Sonia rindu dan harapkan untuk masa depan. "Jas putih itu cocok untukmu."
Yuge terlihat tidak mengatakan apa pun, dia menyingkir dan biarkan seorang wanita berjalan menuju Sonia.
Alis Sonia berkerut. "Kalian..."
"Bisa kita bicara sebentar?"
Sonia terpaksa menuruti mereka berdua, entah kenapa insting mengatakan, mereka tidak akan berbuat jahat.
Setelah masuk di ruangan kerja Yuge, Sonia bertanya tanpa ragu. "Apa yang kalian inginkan?"
"Kau tidak melihat berita panas sekarang?" tanya Yuge setelah menutup dan mengunci pintu kantornya. "Media melakukan banyak hal gila."
Sonia menatap tidak percaya Yuge. "Untuk apa media cari tahu tentangku? Aku baik-baik saja."
"Duduk, kita bicara bertiga."
Sonia melihat Georgia duduk di sofa, koran berserakan di atas meja. Dia terkejut melihat foto-foto dirinya terpampang jelas dengan judul berita bombastis. "Istri calon perdana menteri dipastikan punya masalah mental?" Bacanya dengan nada tidak sabar. "Mereka bilang aku punya masalah mental?"
"Untuk apa kau ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter..."
Sonia melihat Georgia terlihat enggan dan jijik menyebut nama dokter itu. "Ada apa dengannya? Bukankah dia dokter kejiwaan terbaik?"
"Sonia, dia ahli jiwa. Kau tidak gila, bagaimana bisa kau pergi ke dokter itu? Dia menipu kau demi uang?" tanya Yuge.
"Tidak perlu khawatir padaku, Thomas akan membantuku." Sonia mundur selangkah, tidak suka dengan kepedulian Yuge. "Aku baik-baik saja, ini hanya meredakan gosip."
"Gosip semakin kuat, ada juga yang bilang kau berkali-kali hendak bunuh Ariana." Georgia melempar salah satu majalah gosip.
Sonia ambil dan membacanya dengan kedua tangan gemetar. "Bagaimana.. bisa..."
"Pelayan juga buka suara, kau memang agak sedikit gila tapi kau tidak pernah melukai orang lain," ucap Yuge dengan nada tegas. "Pulanglah ke rumah."
Sonia melempar majalah gosip di atas meja. "Mereka sudah mengusirku, bagaimana bisa aku kembali?"
"Tidak ada yang mengusir, kau hanya keras kepala." Yuge memijat kening. "Kami tunggu.'
Sonia mengerutkan kening. "Buat apa? Kalian hanya pura-pura peduli, terutama kau..." Dia menatap marah Georgia yang masih duduk di sofa. "Jangan lupakan masa lalu buruk kita."
"Aku tidak peduli padamu, aku hanya peduli pada perasaan Dokter."
"Georgia." Yuge menegur Georgia dengan nada lembut.
Tanpa sadar, tumbuh perasaan iri di benak Sonia. "Aku tidak pernah percaya pada kalian."
"Sonia." Yuge menari tangan Sonia. "Thomas punya hubungan dengan Silvia, kau tahu kalau dia sudah mencuri banyak barang peninggalan Ibumu?"
"Tahu dari mana?" tanya Sonia yang mulai goyah.
"Karena ketahuan, dia tidak bisa kembalikan barang yang dicuri, akhirnya coba dekat dengan Thomas dan Brenda, menjilat mereka dengan harta keluarga Augustina. Menjijikan."
Sonia menggigit bibir, masih tidak percaya dengan ucapan mereka berdua. Namun, sepertinya Tuhan menunjukkan jalan, Sopir yang tadinya antar ke rumah sakit, hilang. Dia naik taksi ke kantor suami dan melihat pemandangan tidak menyenangkan di depan gedung.
Sopir taksi yang juga melihat, berkomentar. "Anak muda yang hebat, punya dua anak lucu, sayang sekali istrinya bermasalah."
Sonia menaikkan salah satu alis. "Bagaimana bisa istrinya bermasalah?"
"Kau tidak tahu? Sudah menjadi rahasia umum kalau istri Thomas bermasalah sejak muda, bahkan adik tirinya selalu disiksa. Video saat adik tirinya melindungi Ariana, tersebar luas, banyak yang bilang kalau istri Thomas cemburu buta dan tidak peduli pada anak-anaknya."
'Thomas bilang begitu?" tanya Sonia dengan nada merendahkan.
Sopir tidak menyadari nada suara Sonia yang berubah, menjelaskan dengan santai. "Aku tahu, dia pria bijak yang tidak akan menjelekkan istri, tapi sudah banyak yang mulai angkat topik ini, disertai bukti."
"Bukti," gumam Sonia.
"Banyak bukti di media sosial."
Sonia teringat ucapan manis Thomas mengenai bahaya media sosial dan artikel internet. "Begitu ya. Maaf, aku ingin kembali ke rumah sakit."
"Eh, padahal sebentar lagi kita sampai."
"Saya masih ada urusan di sana."
Hari itu juga kedua mata Sonia mulai terbuka, dia baca bukti yang diserahkan Yuge dan memutuskan pergi dari rumah itu. Sayang, saat pelarian di malam hari, dia melihat Ariana jatuh dari tangga, para pelayan di sekitar mendengar teriakan dan bergegas mendekat.
Sonia melihat Ariana tergeletak di lantai dengan kepala berdarah sementara di atas tangga, Silvia sedang memeluk barang-barang belanja.
"Silvia, apa yang kau lakukan?" tanya Sonia sambil berlutut di samping Ariana dan memeriksa kondisinya.
"Apa yang kakak lakukan di sana? Merasa bersalah setelah dorong Ariana dari tangga?" tanya Silvia dengan nada sedih.
"Kau..."
"Ugh.."
Perhatian Sonia beralih ke Ariana. "Sayang."
"ARIANA1" teriak Thomas yang membelah kerumunan para pelayan. "PANGGIL DOKTER!"
"Sudah," jawab kepala pelayan, lalu beri salam ke Sonia. "Nyonya, ini sudah tengah malam. Anda mau ke mana?"
Perhatian orang-orang di dekat tangga, otomatis beralih ke Sonia.
Sonia yang tadinya hendak ke luar diam-diam, menjadi bingung. "Aku..."
Thomas tersenyum begitu melihat Ariana buka mata. "Gadis kecilku..."
Tiba-tiba tangan mungil Ariana menunjuk Sonia. "Mama... jahat..."
Thomas menatap marah Sonia dan memakinya, kepala pelayan memerintahkan para pelayan pria menangkap Sonia dan berlutut, Sonia hanya bisa diam.