MELELEH

1012 Kata
Alis Sonia bertaut, tersenyum masam begitu mendengar ucapan tidak sopan dari pemilik toko buku. Harga dirinya sebagai anggota bangsawan merasa terhina. Dirinya di masa lalu pasti akan marah dan menegurnya, namun sekarang dia harus bersikap tenang dan tidak membuat ayahnya marah. "Bagaimana kalau saya masak untuk Anda." Kurk dan Andre saling menatap heran, tanpa bicara. Stefan yang sedang memegang buku, bertanya pada putrinya dengan nada bingung. "Sonia, kau tidak pernah turun ke dapur. Bagaimana bisa..." Sonia mendecak kesal. "Tidak pernah ke dapur, bukan berarti tidak bisa masak. Aku selalu melihat kalian masak." Andre tertawa. "Hanya melihat, bukan berarti bisa masak." Sonia cemberut mendengar sindiran Andre. "Rasakan dulu baru menyindirku." "Tidak, terima kasih." Andre menolak undangan Sonia. "Baiklah, aku akan menjaga buku resep ini." Kurk bertanya pada Andre. "Kau yakin? Bukankah buku resep ini berharga untukmu?' Andre tersenyum masam. "Semua buku di sini berharga untukku, ada sejarah dari pemilik sebelumnya." Sonia menatap curiga Andre dan bertanya di dalam hati. Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa tahu sejarah dari sebuah buku? Stefan tidak mau terlalu lama di toko buku, dia bertanya pada putrinya. "Bagaimana kalau semua buku, ditaruh di rak buku ruang kerja Daddy?" Kedua mata Sonia membulat. "Bolehkah?" Ruang kerja Stefan memiliki dokumen penting, dijaga dua pengawal di depan pintu, lalu hanya orang tertentu yang diizinkan masuk, bahkan kepala pelayan tidak boleh masuk. Itu gosip yang selalu didengar. Sonia mengerutkan kening. "Kepala pelayan..." "Kepala pelayan tidak pernah masuk." "Di sana.." "Anakku ada tiga, tentu saja boleh masuk. Kalian mau melapor ke mana, kalau tidak di ruang kerja." Sonia tersenyum kecil, merasa hangat di hatinya. "Bagaimana kalau di kamar Daddy? Bolehkah aku ke sana?" Di masa lalu, Sonia tidak berani ke kamar atau ruang kerja Stefan, setelah mendengar peringatan dari kepala pelayan mengenai pencurian barang dan Sam, dihukum. Tunggu! Benar, ada kejadian itu. Sam dihukum masuk asrama sekolah yang paling dibencinya setelah dituduh mencuri dari ruang penting Stefan. Sonia mengacak rambutnya dengan kesal, berusaha menggali ingatan tapi tidak berhasil. Di masa lalu dia memang tidak peduli pada dua saudara kandungnya. "Sonia?" "Dad, jika terjadi apa-apa pada kami bertiga di masa depan. Daddy percaya pada kami kan?" tanya Sonia dengan hati-hati. Stefan menatap sedih Sonia, merasa bimbang untuk menjawab. "Kalian memang anakku, tapi ada beberapa hal yang harus dipertegas, kalian juga harus bisa bertanggung jawab." Sonia kecewa begitu mendengar jawaban Stefan. Stefan bisa melihat sorot mata kecewa anaknya, dia tersenyum, hatinya meleleh, berarti anak perempuannya masih mengharapkan kasih sayang darinya. Dia menepuk lembut kepala Sonia. "Ayo, beli bukunya. Aku suruh orang taruh buku di ruang kerja, kau bebas keluar masuk. Tidak akan ada yang bisa bertindak sembarang di luar kendaliku." Sonia mengangguk pelan. "Oke." Dia balik badan dan mengambil uang di dalam tas. "Berapa harganya? Aku beli semua buku resep itu." Andre menghela napas panjang dan menyebut harganya. Kurk hanya diam menyaksikan transaksi, menggeleng sedih. Beberapa menit kemudian, Sonia dan Stefan keluar dari toko buku, pengawal di belakang membawa buku-buku resep milik ibu kandungnya. Sonia merasa kesal begitu melihat banyaknya buku resep yang sudah dijual orang tidak bertanggung jawab, dia mulai malas menghitung begitu mencapai hitungan ke dua puluh. Yang membuat Sonia kesal sekaligus terharu begitu melihat salah satu buku resep bertuliskan gagal. "Sebenarnya ada begitu banyak resep gagal, ibumu sangat menghargai kebersihan, jadinya hanya ada sedikit coretan berantakan dan ditulis gagal." Stefan menjelaskan pada Sonia lalu menghela napas panjang, berusaha menyembunyikan amarah. "Tapi orang bodoh yang menjual buku itu, tidak tahu bahasa Indonesia.Jika buku ini berakhir di sampah, aku tidak bisa menjamin hidupnya." Sonia mengangguk setuju setelah naik ke mobil mewah bersama Stefan. "Daddy tidak curiga pada kepala pelayan?" "Ada apa dengannya?" tanya Stefan sambil perbaiki jasnya yang berantakan setelah duduk di dalam mobil. "Kau menemukan sesuatu?" Sonia tidak punya bukti dan ingatannya sangat buruk, tidak bisa sembarang menuduh orang. Dia belajar dari masa lalu setelah menjadi istri Thomas. "Tidak ada, tapi... bukankah para pelayan selalu bertanya pada kepala pelayan jika membersihkan suatu barang dan..." "Dan?" Stefan menunggu kalimat Sonia selanjutnya. Sonia melanjutkan dengan hati-hati, sekaligus melihat reaksi Stefan. "Kepala pelayan tidak mungkin sembarangan buang jika tidak ada izin dari penguasa rumah." Raut wajah Stefan mengeras, tidak mengatakan apa pun. Sonia melihat kedua tangan ayahnya mengepal erat, seolah berusaha menahan amarah yang tidak bisa dibendung, dia beranikan diri menyentuh tangan yang digenggam erat itu. "Daddy." Stefan menoleh dan tatapannya melembut begitu melihat wajah Sonia yang mirip dengan dirinya. "Hm?" "Jangan marah, jangan keluarkan marah untuk orang yang tidak penting, lebih baik potong semua dan.. oh... Berhenti!" Sopir menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Yang mulia?" Stefan mengalihkan tatapan ke luar jendela, mengikuti arah pandang Sonia. "Ada apa?" Dia baru paham begitu melihat sosok di luar. Thomas memeluk bahu Silvia dengan erat, di depannya terlihat Brenda sedang tertawa. Stefan tahu nama-nama teman Sonia, termasuk kekasih anaknya, setiap hari tangan kanan selalu melapor kegiatan ketiga anaknya. "Sepertinya mereka sangat dekat." Di masa lalu, Sonia selalu percaya alasan Thomas memeluk Silvia, menganggapnya sebagai adik meskipun hanya beda beberapa bulan? sangat lucu, lebih konyolnya, dia sangat percaya pada ucapan mereka. "Ya, sangat dekat. Mereka lebih dekat di belakangku." "Kau baik-baik saja?" Sonia memiringkan kepala. "Ini selalu mengingatkan aku, kenapa buku hukumanku jauh lebih banyak dari Silvia?" "Kau sering bolos dan.." "Aku selalu bolos bersama Silvia." "Dia juga tidak naik kelas." "Tidak naik kelas dengan alasan sakit?" Stefan mengangkat dua alis, menatap putrinya. "Sonia, kau ingin mengatakan sesuatu? atau ingin bergabung di sana?" "Tidak." Sonia meletakkan kepala di tangan ayahnya. "Jauh lebih nyaman di sini." Hati Stefan meleleh mendengarnya. "Kau ingin belanja?" Sonia menutup mata, tidak mendengar jawaban ayahnya, lalu tidak lama tertidur. Stefan tidak ingin mengganggu tidur Sonia dan perintahkan mobil jalan keliling, sampai anaknya bangun. Dia tidak tahu alasan anaknya berubah dan ingin dekat dengan dirinya, namun dia tidak permasalahkan hal itu. Mau alasan apa pun, Sonia tetap anaknya. Stefan menghela napas panjang, menatap punggung sekretarisnya yang duduk di samping sopir. "Cari tahu mengenai Thomas dan Brenda." "Sepertinya sulit, mengingat mereka juga anggota keluarga kerajaan." "Aku tidak peduli, biarkan mereka tahu kegiatan kalian. Toh, mereka tidak bisa berbuat apa pun." Sekretaris mulai menghubungi seseorang dan menjalankan perintah Stefan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN