BATALKAN ULANG TAHUN

1031 Kata
Sonia menguap dan meregangkan tubuh, tidak lama, menyadari dirinya sudah di kamar. "Nona." Sonia menoleh lalu mengerutkan kening begitu melihat kepala pelayan duduk di lantai dingin, dekat tempat tidurnya. "Saya minta maaf karena sudah menjual buku resep kesayangan Nona." Sonia mendengus lalu balik badan. Kepala pelayan sesuka hati memanggil dirinya, dulu dia tidak terlalu peduli karena benci keluarga ayahnya, sekarang dia tidak mau diremehkan lagi. Kepala pelayan tidak menerima jawaban, hanya menatap punggung Sonia, tanpa sadar merasa kesal dan menyuarakan pikirannya. "Hanya buku lama dan berdebu." Sonia yang mendengar itu, otomatis bangun dan menatap rendah kepala pelayan. Kepala pelayan menunduk, berharap Sonia akan marah dan memakinya seperti biasa, sehingga bisa keluar dari masalah. Sonia menatap marah kepala pelayan, berusaha menahan marah, supaya tidak kena masalah di masa lalu. "Nona, saya minta maaf... saya hanya menjalankan tugas dan..." Sonia menghela napas panjang, jika diteruskan mendengar omong kosong lagi, dia tidak akan bisa menahannya. "Nona..." Sonia turun dari tempat tidur lalu pergi ke ruang makan, melihat Stefan dan Ryo, kakak Sonia, makan malam bersama. Ryo menaikkan kedua alis. "Sonia, ada apa?" Sonia tertegun melihat wajah kakaknya yang menjadi muda. Stefan yang melihat putrinya terlihat sehat, bertanya. "Kau tidak sakit?" Sonia bingung dengan pertanyaan ayahnya. "Tadi pagi aku keluar bersama dad, bagaimana bisa dibilang sakit?" Tatapan Stefan beralih ke dua anak tirinya yang melapor tadi dan sekarang sembunyi di belakang sang ibu. "Jadi?" "Kakak, maaf. Aku kira kakak sakit, tidak bisa dibangunkan." Sonia menoleh dan menatap Silvia yang hampir menangis. "Aku tidak bisa dibangunkan? Aneh sekali, tadi aku mendengar suara kepala pelayan menangis dan berlutut di kamarku." Ryo yang sedang makan, menghentikan kegiatan dan mengerutkan kening, menatap kepala pelayan yang berdiri tidak jauh di belakang ibu tiru dan anak-anaknya. "Bagaimana bisa kepala pelayan masuk ke kamar adikku sembarangan? Apa selama ini adikku tidak punya pelayan pribadi?" "Ini mengingatkanku... putriku tidak punya pelayan pribadi?" tanya Stefan pada istrinya. Seinna hendak menjawab, namun Sonia duduk dan tidak berikan wanita itu alasan. "Aku anak bermasalah, jika aku memakai pelayan pribadi... takutnya buat masalah, bibi dan anak-anaknya pasti takut terseret." Kedua tangan Seinna mengepal, menatap tidak percaya anak tirinya. "Sonia, bagaimana bisa kau bicara seperti itu?" "Ibu tiri pemilik sekolah, sangat dekat dengan Bibi." Sarah tidak suka dengan ucapan tidak sopan Sonia. "Kakak..." Silvia langsung menutup mulut Sarah. "Jangan," bisiknya." Sarah terpaksa menelan ucapannya dengan kesal. "Dad, aku ingin bicara." Sonia mengalihkan perhatian ke Stefan, dia tidak ingin buang waktu. "Penting? Kita bisa bicara di ruang kerja." Sonia menggeleng cepat. "Aku ingin bicara bertiga," Ryo menatap Sonia dengan tatapan tidak percaya. "Aku juga?" Sonia mengangguk tanpa ragu. Stefan mengusir orang-orang di ruang makan. "Tuan..." Sienna berharap tidak diusir. "Hanya bertiga." "Tapi kita sudah jadi keluarga, dan selama ini aku mengurus anak-anak selama Tuan tidak ada." Sonia putar kepala lalu memiringkan kepalanya. "Lho, kenapa kau panggil ayahku, Tuan sekarang?" Ryo jawab dengan senyum kesal. "Dia ketahuan menjual buku resep mom." Sonia menaikkan kedua alis, di masa lalu tidak ada yang tahu di mana hilangnya buku resep dan dia baru menemukan buku itu tidak sengaja, setelah menikah. Ayahnya baru ingat dan mencari buku itu sebentar dan tidak ada kabar lagi, karena hubungan renggang di masa lalu. Setelah memastikan semua orang keluar dan hanya tiga orang tersisa, Sonia mulai bicara. "Sebentar lagi ulang tahun aku, sebaiknya dibatalkan." Ryo dan Stefan terkejut dengan permintaan Sonia. "Kau sudah menantikannya, bahkan semua sudah disiapkan. Bagaimana bisa..." Ryo tidak melanjutkan kalimatnya begitu mendapat tendangan kaki di bawah meja dari Stefan. Sonia menghela napas dramatis. "Aku tidak ingin menyeret kalian dan merusak reputasi, hanya karena ulang tahun." "Ulang tahun ke 17 sangat spesial," ucap Ryo. Sonia terdiam, berusaha mencerna reaksi ayah dan kakak kandungnya. Tidak menyangka mereka berdua bereaksi seperti itu. "Kalian... mendukung?" "Ulang tahun sangat spesial untuk anak-anak, aku selalu menyuruh kepala pelayan untuk mengadakan pesta pada kalian." "Aku sudah dewasa, tidak perlu dirayakan, aku juga tidak mau bertemu penjilat," ucap Ryo dengan nada dingin. Sonia mendengus kesal. "Kakak pewaris, wajar saja banyak ngengat mendekat." Ryo terkejut dengan ucapan Sonia lalu tertawa keras.. Sonia menggembungkan pipi dengan kesal. "Ad apa? Ada yang lucu?" "Aku tidak menyangka, kau akan menggunakan ungkapan itu, padahal kau sendiri senang menjadi pusat perhatian," jawab Ryo, tanpa berpikir. Sonia tersenyum kecut, setelah menikah dengan Thomas, punya anak dan tidak mendapat timbal balik dari hubungan, dia menyadari kalau menjadi pusat perhatian itu tidak selalu menyenangkan. Masyarakat akan selalu membandingkannya dengan orang lain, jika tidak sesuai, dirinya akan dihujat. Pada awalnya, dia berani melawan dan orang-orang di sekitar selalu menutup kesalahannya, tapi... semakin lama, orang-orang di sekitar menjadi muak dan memunggunginya. Sonia tidak berani menunjukkan perubahan drastis, dia mencari alasan yang tepat. Sayang sekali, otaknya jarang diasah, sehingga tidak bisa berpikir jernih, mengingat masa lalu pun harus berjuang keras. Ryo menyesali ucapannya. "Sonia..." Sonia cemberut dan menjawab dengan nada malas, energinya terkuras banyak begitu dibuat berpikir. "Aku tidadk terlalu suka bertemu banyak anak-anak penjilat, tidak bisakah kita melewatkannya?" Stefan jadi merasa kasihan dengan anak gadisnya. "Bagaimana kita bisa melewatkan hari spesial untukmu? Kita tetap merayakannya." Sonia menghela napas panjang, manatap kosong piring yang belum diisi makanan. Normalnya rumah bangsawan, piring makanan sudah disiapkan oleh para pelayan, tradisi lama yang tidak mungkin mereka hapus demi gengsi. Namun, di tempatnya berbeda. Pemilik kastil dan anak-anaknya mengambil sendiri lauk yang sudah disiapkan di atas meja. "Kenapa tidak ambil makan? Kau harus makan banyak," ucap Ryo. "Supaya kau punya tenaga mengurus pesta ulang tahun nantinya." Sonia hendak mengucapkan sesuatu, namun ditahannya begitu melihat wajah ayahnya yang tersenyum sedih. "Kenapa kau berubah pikiran? Ada masalah di sekolah?" tanya Stefan dengan nada lembut. Sonia tidak menyangka, bisa mendengar nada ayahnya selembut ini seharian. Biasanya hanya mendapat tatapan kecewa atau helaan napas. "Keuangan keluarga kita... tidak baik-baik saja kan?" Ryo dan Stefan terkejut, begitu mendengar ucapan Sonia. "Dari mana kau tanya?" tanya Ryo dengan curiga. "Ada yang beritahu?" Stefan menolak bicara jujur. "Memang ada beberapa masalah, tidak membuat kita miskin." "Sekolahku mahal." "Sekolah bagus, sangat baik untukmu." Stefan memegang erat tangan putrinya. "Tidak perlu memikirkan keuangan keluarga kita." Ironisnya, di masa lalu Sonia harus mendengar ucapan para bawahan ayahnya yang setia kalau dirinya tidak pernah peduli pada keuangan keluarga. "Dad, bukankah kita keluarga?" Stefan dan Ryo tetap menentang ide Sonia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN