Sonia menjadi sedih, mengingat tekad ayah dan kakaknya yang ingin merayakan pesta ulang tahun mewah, tujuh belas tahun memang spesial untuk remaja yang akan menginjak usia dewasa, tapi dirinya sudah pernah melalui momen itu dan menyesal seumur hidup.
Di hari ulang tahun dirinya melakukan kebodohan dengan Thomas, semakin perburuk hubungan dengan keluarga. Dia tidak mau hari itu datang. Tapi, apa yang harus dia lakukan? Ah, kenapa otaknya yang bermasalah ikut mengulang?
"Aku dengar anak aneh itu menang lomba."
"Bukannya wajar dia menang lomba? Aku selalu melihatnya di perpustakaan sampai malam."
"Aneh sekali hahaha..."
Sonia yang duduk tidak jauh dari para penggosip, di dalam kelas, memiringkan kepalanya. Mungkinkah dirinya bisa mengasah otak dengan baca di perpustakaan?
Sonia mengambil tas dan semua buku, berjalan ke luar kelas menuju perpustakaan, lupa kalau sebentar lagi kelas akan dimulai.
Tanpa terasa waktu berlalu, Sonia sibuk baca di perpustakaan, meskipun kadang kala buat matanya pedih atau mengantuk, dia menghalaunya dengan cubitan keras.
Sonia kembali menguap lalu melihat pemandangan di luar jendela. "Oh, sudah sore." Kepalanya bersandar di jendela, perhatikan para siswa yang sudah dijemput sopir. "Rasanya menyenangkan sekali, pulang bertemu orang tua."
"Jadi duduk di sana lebih menyenangkan daripada pulang?"
Sonia menoleh dan melihat Yuge berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk, sementara di belakangnya ada seorang anak perempuan duduk di kursi sedang menulis. "Sepertinya memang benar."
Yuge menutup arah pandang Sonia dan bertanya dengan nada tidak sabar. "Kenapa kau di sini? Mau menyakiti Georgia lagi?"
Sonia menghela napas panjang. "Aku hanya baca buku dari tadi, kenapa dapat tuduhan tidak berdasar? Lagipula kenapa kau di sini?Bukannya temani adik kesayangan itu."
"Kau sendiri, kenapa di sini? Bukankah kau benci buku?" tanya Yuge yang masih tidak percaya dengan Sonia. "Sejarah? Ksu selalu tidur saat Ryo baca buku dongeng, dan sekarang kau malah baca sejarah tanpa tidur? Berarti hari ini memang benar kau bolos?"
"Dia memang baca buku dari awal."
Yuge dan Sonia menoleh ke Georgia yang sedang membalik buku.
"Dia memang baca."
Yuge menghela napas. "Baiklah, kalau kau memang begitu."
"Lihat kan." Sonia memutar mata dengan kesal. "Lebih percaya dia daripada aku."
"Yang jadi pertanyaan, kenapa malah baca buku sejarah? Buku dongeng saja kau mengantuk,"ucap Yuge dengan raut wajah bigung, lalu memeriksa dahi tunangannya dengan punggung tangan. "Tidak panas."
Sonia menepis tangan Yuge dengan kesal. "Tidak perlu ikut campur, kita bukan siapa-siapa. Apa pun yang aku lakukan, tidak ada urusannya dengan kalian."
"Oh."
Sonia baru menyadari kesalahannya, menoleh ke arah Yuge yang raut wajahnya tidak terbaca.
"Aku lupa kalau kau punya kekasih," cibir Yuge.
Sonia menghela napas panjang. "Memangnya kenapa? Anak seusiaku wajar mencari pengalaman baru."
Georgia tertawa mendengar ucapan Sonia. "Seperti orang tua, mengingatkanku pada seseorang."
Sonia mendengus kesal. "Pergi, jangan ganggu aku. Pergi ke sana saja."
Yuge duduk di samping Sonia dan bertanya. "Kau ada tugas rumah?"
Sonia menatap heran Yuge, biasanya pria itu bersikap dingin dan tidak mau diganggu. "Pergi ke sana saja, jangan ganggu aku di sini."
"Dia bisa mengatasi tugasnya sendiri, kau tidak bisa kan?"
Sonia melirik Georgia yang kembali menulis. "Tugas dia banyak?"
"Dia anak akselerasi."
Sonia mengangguk paham. "Oh."
"Jadi, kau punya tugas sejarah?"
Sonia menggeleng.
"Ada ujian sebentar lagi?"
Sonia kembali menggeleng.
"Terus?"
Sonia berpikir. Di masa lalu, Yuge hendak bantu dirinya sebelum meninggal, akankah pria itu membantunya?
Sonia merasa bimbang, karena di masa lalu hubungan mereka berdua renggang meskipun status bertunangan.
"Ada apa?" tanya Yuge yang terlihat peduli.
Sonia merasa tidak nyaman dengan kelakuan Yuge. "Menjauh, aku hanya menghabiskan waktu dengan baca."
"Itu sebabnya kau bolos? kau mulai bosan sekolah?" tanya Yuge yang tidak paham jalan pikiran Sonia. "Sekolah sangat penting, berapa kali aku harus menjelaskan padamu."
"Aku sekolah atau tidak bukan urusan kau, pergi dan jangan ganggu aku." Sonia mendecak kesal, dia hanya ingin sendiri untuk sementara.
"Aku hanya ingin bantu dan mendapat perlakuan kasar?" tanya Yuge yang masih tidak percaya dengan perilaku Sonia.
"Aku tidak butuh bantuan siapa pun, aku bisa mengatasi semuanya sendiri."
"Tidak, kau tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa? aku bis.."
"Hentikan, jangan bertengkar di perpustakaan." Georgia menengahi mereka berdua lalu jalan mendekat. "Tanya baik-baik."
"Kau sudah dengar dari tadi, dia saja tidak mau menjawab."
Sonia cemberut mendengarnya. "Menyebalkan."
Georgia menatap Sonia, lalu menjelaskan. "Teman-teman kau mencari dan Yuge semakin cemas, dia ikut cari, menyuruh orang juga. Tidak disangka malah di perpustakaan, dia mau bantu kau menyelesaikan dan antar pulang."
Alis Sonia bertaut. "Kau kenal baik Yuge, sangat baik, aku yang tunangannya saja tidak tahu apa pun."
Georgia mengangguk paham.."Aku hanya mencuri dengar percakapannya dengan Kyo."
Sonia melirik Yuge yang menutup wajah dengan satu tangan. "Kau khawatir?"
Yuge tidak menjawab pertanyaan, hanya berdehem, menutupi kegugupannya.
Sonia menatap Yuge dan Georgia bergantian. Di masa lalu harga dirinya sangat tinggi dan enggan bertanya, tidak ada yang bantu mengarahkan. Setiap jatuh, hanya bisa menyalahkan tanpa memikirkan kesalahan, perlahan setelah Thomas menyuruhnya istirahat di dalam rumah tanpa akses internet atau hubungan dunia luar, dia jadi sadar dan bertanya pada diri sendiri.
"Aku..."
Yuge dan Georgia menatap Sonia dengan antusias.
"Aku hanya ingin mengasah otak." Tidak masalah bicara jujur ke mereka berdua kan?
Yuge dan Georgia terkejut dengan ucapan Sonia.
Sonia bertaruh, di masa lalu Georgia dan Yuge terlihat membantunya, akankah di masa sekarang mau bantu? Mengingat kesalahan masa lalu yang dilakukannya pada mereka berdua.
Yuge menyemburkan tawa sementara Georgia melirik tajam pria itu.
"Apa? Ada yang lucu?" tanya Sonia dengan nada kesal.
Yuge menjawab terus terang. "Aku tidak menyangka kau akan melakukan itu."
Georgia melihat buku di pangkuan Sonia. "Mengasah otak dengan baca buku sejarah?"
"Bukankah bagus banyak baca?"tanya Sonia sambil sesekali melirik tajam Yuge yang tidak berhenti tertawa. "Ini di perpustakaan," tegurnya.
"Tenang saja, tidak ada orang." Georgia melihat jam tangan. "Lebih baik kita pulang, masalah mengasah otak, sebaiknya ditemani Yuge."
Yuge tidak setuju. "Kau..."
"Aku ada Daniel dan lain, tidak ada salahnya menemani tunangan."
Sonia sedikit sedih, melihat Yuge menolak, rupanya perasaan itu masih tersisa.
"Tidak, bukan begitu. Kau bisa bantu dia, mungkin dia juga bisa memenangkan olimpiade." Yuge menunjuk Sonia dengan dagu.
Sonia jadi kesal dibuatnya. "Aku hanya ingin mengasah otak, bukan menang olimpiade."
"Lalu tujuan mengasah otak untuk apa? Bukan olimpiade?"
"Aku hanya ingin hidup mandiri dan tidak diganggu siapa pun, suatu saat aku pasti keluar rumah dan tidak bergantung pada siapa pun." Sonia tanpa sadar menyuarakan isi hatinya.
Suasana di sekitar menjadi dingin dan diam, mungkin jika ada peniti jatuh, mereka bertiga bisa mendengarnya.