Sonia terpaksa pulang bersama Yuge dan Georgia, dia duduk di samping tunangannya yang sedang menyetir sementara Georgia tidur pulas. Dia menatap pemandangan luar jendela mobil.
"Kau sudah makan?" tanya Yuge yang mendengar suara di perut Sonia.
Sonia menepuk pelan perutnya. Lihatlah, karena terlalu banyak berpikir, jadi lupa makan. "Belum," jawabnya dengan jujur.
"Mau makan dulu?"
Sonia mengerutkan kening lalu melihat jam tangan. "Tidak, sudah malam."
"Takut gendut?"
Di masa lalu, Sonia selalu beralasan takut gendut setiap ada yang menawari makan, memang ada sebagian kecil benar, tapi alasan utamanya tidak mau makan larut malam karena tidak mampu menelan makanan.
"Ada apa?" tanya Yuge yang melirik ke samping dan melihat Sonia diam melihat perutnya. "Berat badan bertambah?"
"Tidak," Sonia menjawab singkat.
Yuge menghela napas panjang. "Aku belikan burger, kamu makan saja, dari tadi perut bunyi."
"Nanti berat badanku bertambah." Sonia menjawab tanpa sadar.
"Oh." Yuge menjadi canggung dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Makan bisa bantu nutrisi otak kita."
Sonia menoleh ke belakang, melihat Georgia menatapnya sambil berbaring di kursi penumpang. "Apa?"
"Cari saja di buku, tentang pentingnya makan."
Sonia menoleh ke Yuge dengan gugup.
Di luar dugaan, Yuge merasa terhibur begitu melihat sikap Sonia yang terlihat manusiawi. Yuge tersenyum kecil. "Setelah ini ada makanan cepat saji, kau bisa pilih yang mudah."
Sonia mengangguk cepat sementara Georgia menatap curiga Sonia.
***
Silvia menangis di hadapan Stefan, merasa bersalah karena meninggalkan kakaknya di sekolah, dia yakin Sonia pasti akan berkencan dengan Thomas di malam hari. "Aku tidak tahu kakak pergi ke mana, sopir sudah mencari keliling sekolah. Tidak ada, aku kira kakak pulang diantar kekasihnya."
Stefan dan kedua anaknya duduk di ruang tamu, meski reputasi Sonia buruk, dia tidak pernah pergi lama tanpa kabar atau pulang larut malam.
"Dia masih muda, mungkin cari jati diri." Seinna tersenyum sedih sambil mengusap sudut mata dengan sapu tangan. "Biasanya memang pulang malam."
"Kadang kala saudaraku memang pulang malam, tapi dia selalu beri kabar pada kami, sekarang dia tidak beritahu apa pun... sebagai ibu, bukankah harusnya kau khawatir? Ah, aku lupa.. hanya ibu tiri. Biasanya lebih suka suami daripada anak-anak suaminya.
Seinna menatap Sam yang duduk di samping sofa Stefan sambil melipat kedua tangan di depan, seolah akan menantangnya. "Anak itu sudah dewasa, punya kekasih. Kita tidak bisa ikut campur."
Ryo mengerutkan kening tidak setuju, tapi terlalu malas berdebat.
Tidak lama, seorang pelayan muda muncul dan melapor. "Nona sudah kembali."
Stefan, Ryo dan Sam spontan bangkit dari sofa dan lari ke luar rumah. Seinna dan Silvia mengikuti dari belakang.
Ketiga pria Augustina, tidak menyangka bisa melihat pemandangan langka.
Yuge terlihat buka pintu sementara Sonia turun dari mobil sambil memegang burger dan sebuah buku.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Stefan yang masih tidak paham.
"Kak." Sam menyapa Sonia.
Sonia yang sedang naik tangga, menyadari keluarganya sudah berdiri di depan pintu rumah, pemandangan langka. Tidak, bukan pemandangan langka, hal itu tidak pernah terjadi sepanjang ingatannya. "Kenapa kalian?"
"KAKAK..." Silvia hendak menuruni tangga dan mendekati Sonia.
Yuge tidak setuju dengan tindakan Silvia dan menegur keras. "Jangan turun tangga seperti itu, kau ingin bunuh tunanganku?"
Silvia berhenti dan menatap Yuge, terkejut karena bukan Thomas yang datang. "Di mana kak Thomas?"
Sonia menatap sinis Silvia. "Apa urusanku dengannya?"
"Kakak bukannya bersama.."
Sonia memutar mata dan cepat-cepat menghampiri keluarganya. "Kalian bertiga kenapa di sini?"
"Masih tanya?" tanya Ryo sambil mengacak rambut adiknya. "Tentu saja kami khawatir padamu, ini sudah jam satu pagi. Besok kau harus sekolah."
Stefan menatap Sonia dan Yuge bergantian. "Kalian berdua dari mana?"
"Perpustakaan, setelah itu aku mengajaknya makan, dia lapar."
"Perpustakaan?" tanya Stefan yang tidak yakin.
"Dokter."
Stefan menoleh ke mobil Yuge, kaca jendela penumpang dibuka dan dia bisa melihat pasien kecilnya. "Georgia?"
"Dokter, kami bertiga memang di perpustakaan."
"Karena Georgia sudah bicara, aku percaya." Stefan mengangguk paham, lalu bicara ke Yuge. "Sudah pagi, bawa Georgia pulang, angin malam tidak baik untuk tubuhnya."
"Iya." Yuge mengangguk kecil lalu melirik Sonia.
Sam menyenggol tangan Sonia lalu menunjuk dengan dagu setelah kakaknya hendak berkomentar sambil menatap tajam dirinya.
Sonia balik badan dan melihat Yuge masih berdiri di tempat. "Tidak pulang?"
"Kau tidak menyimpan nomorku?" tanya Yuge tanpa basa basi.
Di masa lalu, Sonia selalu mengejar Yuge dan tidak punya kesempatan punya nomor handphone tunangannya, melakukan berbagai upaya supaya mendapatkannya, namun semua sia-sia.
Sonia hanya bisa mendapat nomor bisnis Yuge, bukan pribadi.
"Kenapa memangnya?"
"Kau bisa menghubungiku dan.."
"Tidak, aku hanya punya nomor bisnismu, tidak tertarik nomor pribadi."
"Kau bisa minta bantuan padaku jika ada masalah di masa depan."
Sonia menghela napas panjang. "Selama ini aku sudah buat banyak masalah di sekolah dan kau juga harus bekerja di sana, bagaimana bisa aku merepotkanmu?"
Sam dan Ryo spontan menoleh ke Sonia yang bicara seperti itu. Bagaimana bisa saudara perempuan mereka tiba-tiba berubah?
Stefan merasakan hal yang sama, Sonia selalu mengejar dan membuat Yuge tidak nyaman, meski tidak pernah diucapkan.
"Tidak apa, kau bisa menghubungiku secara pribadi." Yuge mengambil ponsel di saku jas, lalu menghubungi Sonia.
Sonia merasakan getaran handphone di dalam tas, lalu mengambilnya.
Sam melirik dari samping, ternyata pria gila itu benar benar menghubungi kakaknya. "Wow."
Sonia yang merasa tidak nyaman, segera menghapus dan blokir nomor itu.
Ryo dan Sam yang melihat proses itu, terkejut dan saling bertukar tatapan. Di masa lalu, saudara perempuan mereka pasti bahagia kesetanan begitu dapat nomor pribadi, tapi sekarang?
Stefan mengusir Yuge secara halus lalu mendorong anak-anaknya masuk ke dalam, mengabaikan Sienna dan Silvia yang melihat mobil Yuge dengan kagum.
"Aku tidak menyangka, pria Asia itu punya mobil mewah, aku kira selama ini dia miskin," ucap Seinna.
"Mom, boleh aku mendekatinya?"
Seinna menggeleng. "Tidak."
"Sayang sekali, padahal dia sangat tampan."
"Apa gunanya tampan kalau tidak bisa membelikan kita barang mewah."
"Tapi dia pakai mobil mahal."
"Kau pilih mana, mobil atau status?"
"Status," jawab Silvia dengan hati sedih. Status bangsawan harus dia dapatkan, sehingga dapat hidup dengan mudah, pengusaha tidak selamanya berjalan mulus.
"Ayo masuk, jangan sampai daddymu marah."
Silvia menggigit bibirnya dengan kesal. "Kenapa mom tidak menikah dengan bangsawan?"
"Waktu itu aku berpikir, pengusaha lebih baik, sekarang begitu dipikir ulang, lebih baik menikah dengan bangsawan," jawab Seinna dengan suara kecil. "Besok izin saja dari sekolah, sepertinya kau sangat kelelahan."
Silvia memutar mata dan masuk ke dalam kastil.