bc

Antara Ada dan Tiada

book_age16+
11
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
BE
reincarnation/transmigration
heir/heiress
scary
magical world
harem
like
intro-logo
Uraian

Raka dan Nabilla membangun keluarga kecil bersama. Kehidupan yang mereka miliki harmonis dan bahagia, namun semua itu terganggu sejak adanya Christina, teman masa kecil Raka yang dulu menjadikannya ‘pengantin’ saat masih kanak-kanak.

Hubungan jarak jauh yang juga terpaksa dijalani Raka dan Nabilla, menjadi salah satu kendala di dalam rumah tangga mereka. Tak hanya Raka, kini prinsip kuat Nabilla tentang cinta dan kesetiaan pun hampir goyah karena hantaman perhatian Kevin, teman sekolahnya dulu.

Saat Raka mulai mendengungkan prinsip Poligami, siapkah Nabilla menghadapinya?

Saat seorang wanita mengaku sebagai istri kedua suaminya, apa yang dilakukan oleh Nabilla?

Bagaimana mereka menyelesaikan kemelut yang seolah tak berujung?

Waktu bergulir dengan cepat dan kenyataan-kenyataan yang tak pernah mereka perkirakan sebelumnya muncul begitu saja.

Dan kini Raka harus memutuskan, siapa yang harus direlakannya untuk pergi, siapa yang harus tetap berada di sisinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Jakarta, tahun 1990            Apa jadinya jika sumpah setia sehidup semati dilakukan oleh sepasang anak manusia tanpa noda dosa? Rumah itu tampak asri, pohon besar Bintaro berjajar dua di depan pagarnya. Halaman di dalamnya pun indah karena taman yang terawat rapi. Bangunan rumahnya sangat besar, malah bisa dibilang mewah. Warna putih gading mendominasi rumah itu. Walaupun rumahnya besar, sekeliling rumah masih tersisa lahan kosong. Sebagian besar menjadi taman dan kebun kecil. Tidak kecil sebenarnya, karena di kebun itu ada dua pohon mangga, dua pohon jambu, dan sebuah gazebo kecil. Siang hari ini rumah terlihat sepi. Kepala keluarga sedang berada di kantor, sang ibu berada di dapur, hanya suara siaran televisi terdengar dari dalam rumah. Seekor burung di dalam sangkar pun terlihat tidur, mengantuk karena hawa panas kota Jakarta membuatnya enggan berkicau. Di tengah keheningan, ada suara tawa kencang anak kecil dari taman belakang rumah yang tampak teduh oleh pepohonan. Rumput gajah menutupi seluruh permukaan tanah, wanginya menguar samar. Dua titik bergerak kesana-kemari, berteriak, melompat. Bermain permainan yang hanya mereka berdua yang tahu. Suara cekikikan terdengar lagi, mereka tengah bercanda dengan memakai bahasa mereka sendiri. Kepolosan anak kecil yang tidak akan dimengerti oleh orang dewasa. Dua titik itu, dua orang anak kecil, cowok dan cewek. Menikmati masa kanak-kanaknya yang tanpa beban. Anak cowok itu putra tunggal pemilik rumah ini, bernama Raka. Di tengah gelak tawa tanpa dosa mereka, anak perempuan itu—Evelynne— meraba sisi samping bajunya, seakan hendak memastikan sesuatu masih ada di dalam kantong bajunya. “Aku capek, ” kata Raka  tiba-tiba lalu menjatuhkan bokongnya ke tanah. Sudah waktunya, pikir Evelynne . Panas matahari sore tak menyurutkan keinginan gadis kecil berusia enam tahun itu. Keringat mulai keluar di keningnya yang tertutup oleh poni pendek yang terlalu pendek hingga terlihat mirip boneka Jepang lucu. Wajahnya masih tersenyum, memperlihatkan dua buah bulatan lesung di pipinya yang montok. “Raka! Kamu tarik dus itu! Ayolah!” teriaknya pada anak laki-laki yang sebaya dirinya itu. Yang dipanggil menggaruk kepalanya karena dia sudah merasa lelah sekarang, tetapi menurut juga akhirnya. Dia menarik sebuah kardus bekas yang teronggok begitu saja di pojok taman. Matahari sedang garang-garangnya, untungnya angin berdesir mengusir sebagian hawa panas dan menggerakkan sebagian ranting kecil pohon mangga yang tinggi menjulang yang juga melindungi dari tangan-tangan panas sang mentari. Sesekali selembar daun kering melayang, jatuh perlahan ke tanah di dekat kaki-kaki mungil berbungkus sandal jepit berwarna-warni lalu bergabung dengan ratusan helai lainnya menutupi sebagian area kecil kebun tempat bermain mereka. “Sekarang isi dus pakai daun-daun, Raka. Cepetan!” “Buat apa, sih?” tanya Raka, bermalas-malasan tangannya memunguti ranting-ranting yang terjatuh ke tanah, ranting tanaman bunga kaca piring, dan bunga sepatu yang menjadi pagar hidup, lalu melempar sekenanya ke dalam dus. Eve berkacak pinggang, menatap ke dalam kardus yang jauh dari penuh. Matanya berputar, dia terdiam seakan berpikir. “Percuma. Ini seperti mengisi laut pakai sirop, itu kata mama ….” “Sirop? Aku haus,” potong Raka cepat. Eve menggerakkan kepalanya melirik Raka yang terlihat tersiksa, mungkin benar dia kehausan. Aku harus cepat-cepat! Pikirnya sambil mengembangkan senyum lebar. Senyuman yang biasa dia pakai apabila menghendaki sesuatu dari orang lain. Eve memasukkan tangannya ke dalam saku baju ‘monyet’ nya, mengeluarkan sesuatu berwarna putih. “Apaan sih?” rasa bosan yang hinggap secara tiba-tiba menemani gadis di hadapannya bermain seharian, dikalahkan oleh rasa penasarannya. “Mawar putih. Aku ambil dari vas di rumah aku!” jawab Eve sambil berusaha memperbaiki beberapa kelopak bunga yang terkoyak, bahkan beberapa helainya terlihat menghilang dari tempatnya. “Aku mau pulang. Aku haus,” kata Raka lagi. Rasa penasarannya sudah hilang. Tidak ada yang menarik dari bunga, mainan cewek. Dia sudah membalik badannya. “Tunggu dulu! Sebentar! Kamu nggak boleh pulang kalau belum kerjain ini!” pekik Eve. Raka mengernyitkan dahinya, lalu membalikkan badannya lagi di depan Eve. Dia tak pernah sanggup menolak permintaan teman seberang rumahnya itu. “Habis ini aku pulang,” jawab Raka pendek. Mendengar Eve berteriak kencang dan menangis adalah hal yang paling dihindarinya. Eve tersenyum lagi, rasa kesalnya tidak sempat berkembang. Lalu menganggukkan kepalanya menyetujui syarat Raka. “Sini, berdiri dalam dus. Kita mau kawin!” kata Eve dengan nada penuh semangat.  Raka terperangah, dan badannya tersentak oleh tarikan tangan Eve yang tiba-tiba. “Ini kamu pegang bunga ini.” Eve menyerahkan mawar putih yang ada di genggamannya –yang semakin tak menyerupai mawar. Raka menerima, godaan sirop dingin menguasai pikirannya saat ini. Sekarang hanya perlu mengikuti keinginan Eve saja, setelah itu, bebas! Eve menggapai tangan Raka, mereka berhadapan, sinar matahari membentuk bilah cahaya di wajah mereka berdua. “Bilang begini Raka…” Eve menarik napas panjang, masih dengan senyuman manis di wajahnya. Raka mengangkat alisnya tidak sabar. “Aku mau … sebentar, aku lupa…” senyuman di wajah Eve menghilang. Raka menggaruk keras kepalanya, merasa tidak sabar. “Ah! Begini aja! 'Christina Evelynne, aku Raka Agung Dinata sekarang jadi pengantin kamu, selamanya! Kayak papa-mama'!” Raka bengong, mulutnya terbuka lebar, tidak mengerti permintaan Eve. Cubitan kecil di lengannya dan mata Eve yang melotot membuatnya mengatupkan mulutnya seketika. “Christina Evelynne, aku … ng … Raka Agung Dinata … ng … sekarang jadi pengantin kamu, ng … kayak Papa-Mama….” Raka mengucapkan kalimat persis seperti yang diucapkan oleh Eve. “Selamanya!” tambah Eve. “Selamanya …” sambung Raka. Eve mengikik oleh rasa senang. “Kita suami istri!” kata gadis kecil itu dengan wajah berbinar. “Sudahan kan?” tanya Raka, kini wajahnya memelas. Eve mengangguk, tangannya asyik memainkan bunga di tangannya, tubuhnya berayun. Lesung pipinya masih tercetak jelas. Tak butuh menit bagi Raka untuk melarikan diri, melompat keluar dari kardus tivi, berhambur masuk ke dalam rumahnya sendiri. Eve melangkah keluar dari kardus ‘pengantinnya’. Dia merasa upacara sakralnya sudah selesai. Digenggamnya erat bunga putih saksi janji mereka berdua. Dia tersenyum puas, lalu berlari memasuki rumah Raka. Dia tidak melihat Raka. Di dapurpun Raka tidak ada, namun ada jejak tertinggal di meja dapur, gelas kosong dengan sedikit sisa air sirop di dalamnya. Eve tidak tertarik untuk melakukan hal lainnya, dia melesat keluar meninggalkan dapur ke arah luar. “Halooo tanteee, aku pulanggg….” Eve berteriak tanpa mengurangi laju langkahnya. Ibu Raka menoleh cepat, namun kalah cepat dengan gerakan Eve. Dia tersenyum geli sendiri melihat kelakuan anak tetangganya itu. Eve membuka gerbang rumah Raka dengan penuh semangat, lalu menutupnya lagi. Dia berhenti sejenak, menengok ke kiri dan ke kanan sebelum kaki kecilnya berlari lagi menyeberangi jalanan. Aku harus mandi dulu, setelah itu aku mau cari Raka, pikirnya sambil membuka gerbang rumahnya sendiri. Dia suka Raka, suka sekali. Dia ingin Raka terus bermain bersamanya. Hanya bersamanya. Selamanya. *** Lima tahun kemudian… “Eve … Eve … bangun sayang….” Aku mengerjabkan mataku. “Bangun sayang, ayo, kita mau pergi.” Pergi? Kemana? Aku terbangun, dengan mata masih terasa begitu sepat. Ketika aku berdiri, Mama secepat kilat mengganti bajuku. Ada apa ini? Aku melihat wajah mama yang begitu tegang. “Sudah. Ayo cepat. Papa sudah menunggu kita di bawah.” “Mau kemana, Ma?” “Ikut Papa. Ayo!” Lalu setengah menyeretku, aku mengikuti langkahnya keluar dari kamarku. Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku menyentak kuat dari gengggaman tangannya lalu kembali masuk ke dalam kamar, aku menyambar boneka pemberian Raka yang ada di atas ranjangku. “Eve!” Mama memanggil. Aku berlari menghampirinya. Papa sudah menunggu di bawah, dengan tiga koper besar di dekatnya. Papa menyuruhku langsung masuk ke dalam mobil. “Ma… kita mau kemana? Berapa lama?” “Ke Singapura. Kita pindah kesana.” Pindah? Itu artinya … aku tidak akan tinggal di sini lagi … artinya … aku tidak akan melihat Raka-ku lagi. “Aku nggak mau!” “Sayang …  kita ikuti Papa, jangan rewel, nanti Papa marah.” “Tapi, Ma ….” Mobil mulai berjalan, diantara gelapnya malam. Berselimut kesunyian. Mengapa terasa begitu mencekam bagiku? “Aku mau disini saja, Ma…” rengekku di tengah kepanikan yang tiba-tiba menyergapku. Mama diam. Aku menoleh ke belakang, memandang ke sebuah rumah yang tampak mengecil-mengecil-lalu hilang dari pandanganku. Aku menghempaskan diriku ke jok mobil, pikiranku bergumul. Raka… Aku melihat kedua orangtuaku hanya diam tak banyak kata. Merasa aneh. Aku memeluk boneka kecil yang berwarna kusam, dan tanpa kusadari, air mata menetes di pipiku. Aku tidak mengerti perasaan ini, aku hanya sedih, karena akan berjauhan dengan Raka. Bukannya aku sudah bersumpah setia bersama Raka?   ***  

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.3K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

After We Met

read
188.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
14.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook