Bab 1: Eve

2434 Kata
Aku mengamati sekali lagi, gaun berwarna putih yang melekat di tubuhku. Tanganku menjentik di beberapa tempat, bayangan debu selalu menggangguku. Aku ingin gaunku selalu bersih. Hari ini waktuku untuk menemuinya, di gedung tua sebuah kota yang dulu bernama Batavia, setua namanya. Kakiku melangkah ringan, keluar dari tempatku berteduh selama ini. Rambutku terurai panjang, bukan berwarna hitam legam seperti layaknya wanita-wanita yang sering lalu lalang di depan rumahku. Rambutku hitam kemerahan, aku ingin membuat ikal ujung rambutku, tapi Raka pernah berkata dia menyukai rambut panjang yang lurus. Dan ucapannya adalah sabda bagiku. Aku menunggunya, di sini, di depan gedung kuno bertuliskan ‘Stasiun Kota’. Berdiri dengan senyuman manis yang selalu ada di wajahku. Menunggu Raka bukan pekerjaan berat bagiku, walaupun satu jam, dua jam, atau selamanya, aku akan menunggu. Hiruk pikuk pejalan kaki dan pengunjung stasiun ramai ini mengalihkan pikiranku sejenak dari rasa rindu yang selalu menggebu pada laki-lakiku. Mataku menatap seorang pria tua, berjualan es cendol, hanya dua meter dari tempatku berdiri. Sesekali matanya menatap lurus ke arahku, tapi tak ada senyum. Matanya menatap kosong seakan aku tak ada dalam penglihatannya. Miris. Inikah kota tua yang katanya ramah dulu itu? Di sebelah kiriku, dua orang penjual rujak buah saling berkelakar. Kelakar jorok yang membuatku tersenyum. Laki-laki. Aku paham dunia mereka. Namun aku tak paham ketika…. oh! Sialan! Salah satu dari mereka melempar segepok kulit mangga tepat ke arahku! Aku bersungut-sungut, bajuku masih bersih, tapi aku kesal pada mereka berdua yang masih terus menerus bercanda. Tidak ada kata maaf keluar dari mulut mereka. Aku sekali lagi seakan tidak ada walaupun aku berdiri hanya setengah meter dari mereka berdua. Sekali lagi aku memperhatikan gaunku, bersih. Aku yakin suara berisik yang mendominasi tempat ini, namun terkadang aku begitu hanyut ke dalam lamunanku. Suara berisik itu akan berangsur-angsur menghilang, lalu akan kudengar suara diriku sendiri. Menyusun rapi apa yang akan kulakukan nanti, apa yang ingin kulakukan nanti. Memikirkan dirinya saja sudah membuatku merasa bahagia. Dia satu-satunya pria yang membuatku tersenyum hanya dengan mengingat namanya. “Eve! Eve!” Aku mendongak. Suara yang aku tunggu-tunggu! Suara kencang yang mengalahkan pluit kereta api –kataku pada suatu waktu padanya. Raka datang! Raka memarkir mobilnya di tepi jalan, aku rasa tepat di bawah tanda ‘S coret’. Aku tersenyum menyambut dirinya yang setengah berlari menghampiriku. Langkahku ringan menyambut uluran tangannya. Dia menggenggam tanganku erat, lalu menarik kepalaku, menciumi pipi, hidung, kening dan bibirku. Aku tertunduk malu, di tempat umum pun Raka tak pernah sungkan memperlakukanku dengan romantis. Beberapa orang yang duduk di bangku tukang bakso, mengangkat kepala mereka, menatap Raka yang sedang memeluk pinggangku. Mereka menoleh ke arahku dan Raka dengan wajah seribu tanya dan mengernyit. Aku tidak peduli. Ini Jakarta, Bung! Aku membalas kernyitan mereka dengan pelukan erat lenganku di pinggang Raka. “Ayo, Eve …” ajak Raka, membalas pelukanku. Aku mengangguk padanya. Ada yang aneh, Bang? Bisikku tepat di telinga salah satu dari mereka, saat melangkah mendekat pada orang itu. “Gua tiba-tiba merinding …” sebuah kalimat tertangkap oleh telingaku, suara orang yang baru saja aku bisikin. Sialan …! Aku memaki dalam hati. “Kamu baik-baik saja, Eve?” tanya Raka saat dia memasangkan sabuk pengaman di tubuhku. “Iya, aku nggak apa-apa. Kenapa?” “Orang yang duduk makan bakso di sana tadi …” Raka menggantung kalimatnya. “Orang iseng, Ka. Kita jadi ke mana?” Raka tidak menjawabku, dia terlihat berpikir dan langsung melajukan mobilnya. Dari kaca spion mobil aku perhatikan seorang pria lainnya berdiri di tepi jalan, menatap ke arahku. Aku mengeluarkan kepalaku dari jendela, mata kami berdua saling menatap. Wajahnya datar, namun matanya berkilat. “Siapa?” Aku mengendikkan bahuku. Aku benar-benar tidak mengenal orang itu. Raka menutup kaca jendela mobil di sisiku. “Makan dulu?” tanya Raka. “Yap. Aku lapar,” sahutku. Raka menyeringai. Aku mengelus pipinya dengan rasa sayang. “Sate?” tanyanya lagi. “Boleh, sate.” Raka kerap membawaku ke tempat penjual sate langganannya ini. “Biasa, Bang. Duapuluh. Pisah sepuluh-sepuluh. Nasi dua. Es teh manis dua.” Raka langsung memesan pada penjual sate yang sudah dikenalnya. Penjual sate itu tersenyum ganjil pada Raka, setengah tersenyum setengah memperlihatkan rasa heran. Aku mengikuti Raka masuk ke tenda tempat duduk, dia menggeser kursi plastik untukku, agar aku duduk dekat dengannya. Kami tidak banyak berbincang, Raka memusatkan pikirannya pada hapenya. Mungkin dia sedang melihat pesan-pesan penting dari kantornya. Hanya sesekali aku bertanya ini itu, dan Raka menjawab pendek. Aku memaklumi hal itu, Raka tergolong orang sibuk di kantornya, dan mungkin dia telah meninggalkan beberapa pekerjaan hari ini hanya untuk bertemu denganku. Pesanan kami datang, Raka menutup hapenya lalu menikmati makanannya dengan lahap. Aku menatapnya diam-diam sambil mengunyah makananku. Entah seberapa besar cintaku padanya, yang pasti aku tidak akan pernah bisa jauh darinya. Di sebelahku seorang gadis cantik melirik-lirik ke arah Raka. Bukan lirikan diam-diam, lirikan terus terang. Raka memang terlalu menarik untuk diacuhkan, tapi Raka adalah milikku. Mata gadis jalang itu berbicara banyak, aku tahu sebentar lagi dia akan berpura-pura melakukan sesuatu yang akan menarik perhatian Raka kemudian tak akan jauh-jauh dari tebakanku, dia akan mengajak Raka berkenalan. Gadis jalang itu menjatuhkan sendoknya ke bawah. Aku melirik Raka, Raka tidak terpancing, masih sibuk menikmati satenya. Ok, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku menggeser kursiku, berbalik menghadap dia. Kutatap lekat tepat dimatanya. Kusorot mataku tajam padanya. Sedetik kemudian, tubuhnya menegang, bias pucat di wajahnya tampak seketika. Aku menyeringai padanya. Raka adalah milikku. Dia, tanpa berbasa-basi, berdiri dengan lutut gemetar dan bergegas pergi meninggalkan makanannya yang masih bersisa. Aku pandangi terus sosoknya hingga tenda tempat ini menghalangi pandanganku. Berhasil! Hanya dengan tatapan mata, tak perlu seribu kata makian dari mulut. Sudah kutunjukkan siapa pemilik laki-laki di sisiku ini. Makanan kami habis, Raka membayar makanan, lalu menarik tanganku ke mobil. Aku menoleh ke belakang, penjual sate melongokkan kepalanya keluar tenda, berbisik-bisik kepada rekannya, lalu terus mengamati kami dari kejauhan. Aku tidak peduli, aku bahagia. Aku bahagia apabila bersama Raka, aku tidak peduli pandangan orang lain. Mobil Raka memasuki halaman rumah luas, tempat kos-nya. Dia membukakan pintu mobil bagiku. Begitu Raka membuka pintu paviliunnya, aku langsung masuk ke dalam. Aku duduk di kasurnya, Raka membuka sepatu dan melemparkan tas kerjanya ke sofa tunggal yang ada di sudut kamar. Paviliunnya adalah ruangan yang hanya berisi satu ranjang berukuran kecil, sofa, lemari es, lemari pakaian, dan meja kursi di sisi kasur. Sebuah kamar mandi menjadikan ruangan ini rumah mungil Raka. Aku merasa sempurna ketika bersamanya, itu yang membuatku tersenyum ketika memandangi sosoknya yang tinggi, kurus, mungkin 175 sentimeter atau mungkin lebih, sementara aku perlu mendongakkan kepalaku setiap kali berbicara padanya. Hidungku tepat berada di dadanya. Seingatku dulu dia sepantaran tingginya denganku, entah bagaimana dia sekarang jauh melampauiku. Rambut Raka sedikit ikal, kulit tubuhnya berwarna cokelat, cokelat seksi menurutku. Hidungnya mancung, bibirnya tipis bergaris tajam. Bentuk rahangnya tidak keras, Raka hanya ‘keras’ pada saat-saat tertentu saja, di bagian tertentu juga. Aku tersenyum sendiri. Matanya. Tatapan mata yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Tatapan tajam dan dingin. Bukan tipe suka main-main. Raka selalu menganggap serius dalam segala hal yang menyangkut hidupnya. Tegas. Dia memiliki segala yang aku inginkan. Aku membaringkan tubuhku di kasurnya yang empuk, mengerlingkan mataku ke arahnya. Raka tersenyum, dia meraih sebuah botol minuman dari kulkas, lalu menegaknya langsung. Dia menghampiriku, duduk di sebelahku. Matanya menatapku dalam, membuatku meleleh. Aku menunduk, semriwing kehangatan menjalar di wajahku. Jarinya membelai lenganku, dan … sialan! Setiap sentuhannya adalah sentuhan Midas bagi gairah dalam tubuhku. Aku tersenyum lemah, tersenyum pasrah sebenarnya. Senyuman dalam mupeng-muka pengen. “Kamu cantik Eve … dan wangi. Selalu wangi mawar …” kata Raka pelan. Dia berbisik di dekat telingaku, dan malah terdengar seperti suara desahan yang semakin memancing gairahku. Jarinya terus menaiki lenganku hingga tiba di pipiku. Aku memejamkan mataku, menikmati setiap mili gerakan jarinya. Menikmati gerakan puluhan kupu-kupu berterbangan di dalam perutku. Aku membuka mataku, tepat disaat bibirnya sudah menyentuh bibirku. Bibir kasihku yang terasa manis menggairahkan. Dia merengut bibirku dalam, menghisap lembut, aku membalasnya, saling berpagutan. Raka menaiki tubuhku tanpa melepaskan ciumannya dariku. Aku mengalungkan lenganku di lehernya. Kuingin selamanya seperti ini. Ciumannya masih dalam dan hangat, begitu lembut. Tubuhnya bergerak lagi, memindahkan bagian tubuhnya yang mengeras tepat di atas bagian tubuhku yang melembab. “Raka…” desahku. Tanganku kini mengelus punggungnya dan dengan sekali sentak kutarik kemejanya keluar dari celana panjangnya. Raka melepaskan ciumannya, menatapku dalam. Bagian dirinya masih menekan diriku seakan mengundang dan menggoda. Aku mendorongkan pinggulku ke atas, menjawab ajakannya. Aku menginginkan dirinya. Aku menginginkan dirinya dalam diriku. Dia menarik tubuhnya, kembali ke posisi duduknya. Dan aku tidak peduli nafasku sudah tersengal-sengal. “Kamu mau sayang?” tanyanya padaku serak, sembari mengusap pahaku yang masih tertutup gaunku. Dia terus mengelus ke bawah, hingga kulit betisku menyentuh kulit tangannya Aku seperti anak kecil yang ditawari sebatang coklat, ‘sebatang coklat yang keras’. Aku mengangguk berkali-kali, tanpa malu, dan mengangguk sekali lagi saat tangannya sudah berada di balik gaunku, membelai pahaku langsung tanpa penghalang lagi dengan lembut. Mengelus paha dalamku, semakin naik dan mengitari pinggiran celana dalamku. Aku bergerak, mengharapkan dia menyelinapkan jarinya ke dalam sana. Aku ingin protes saat dia menarik keluar tangannya, aku sudah kepalang basah, benar-benar basah. Namun protesku tak pernah aku keluarkan, Raka memaksa gaunku lepas dari tubuhku. Menarik paksa ke atas dan melemparnya asal ke belakang dirinya saat lolos dari kepalaku. Aku tersipu malu, matanya memandang terus terang ke arah dadaku, jakunnya naik turun. Dengan gerakan tidak sabar, dia mengalungkan lengannya ke belakang tubuhku, melepaskan kaitan bra-ku, dan sekali lagi melemparnya asal. Dia menggeram, matanya tak lepas dari dua titik milikku, yang berdiri tegak menunggunya. Kedua tangannya meraup keduanya. Bak kehausan, mulutnya menyerang dua puncak bukitku. Bergantian kiri dan kanan. Saat mulutnya sibuk memainkan yang kanan, jari tangannya memanjakan diriku dengan memainkan puncak bukitku yang lainnya. Kau tahu rasanya? Seperti terbang ke langit ketiga! Ini membuatku bisa lupa untuk bernapas. Hanya erangan nikmat yang mengganti nafasku. Tanganku tidak suka menganggur, jadi kucari apa yang seharusnya bisa aku ajak bermain. Raka berhenti sejenak dan mengeluarkan suara lenguhan sekali, saat tanganku yang entah bagaimana caranya berhasil membuka ikat pinggang, kancing celana, dan menurunkan resletingnya sekaligus! Aku rasa master David Copperfield pun tidak akan sanggup melakukan hal itu-tidak pada pria mungkin. Ujung jariku sudah memainkan ujung kejantanannya, mengelus mulut mungilnya dan mengoleskan cairan bening ke seluruh bulatan kepalanya yang halus. Tanganku makin masuk ke dalam, Raka mengangkat bokongnya, memberi akses tanganku bisa masuk lebih leluasa. Aku meraih kedua bolanya dan seluruh dirinya yang keras, memaksanya menyembul keluar dari belitan celananya. Mata Raka sudah menggelap. Dia membiarkan aku asyik dengan bagian dirinya, tangan kirinya masih mengelus dadaku sementara tangan tangannya dia selipkan ke balik celanaku. Oh! Ini … yang … disebut … langi t… ke … lima …. Aku menggelinjang saat Raka menyentuh titik sensitifku! Aku melentingkan tubuhku, mengejar jarinya agar memainkan titik itu lebih lagi. Tiba-tiba Raka berdiri, membuka sendiri semua pakaiannya dengan tidak sabar. Dan pemandangan di hadapanku inilah yang akan membawaku ke final nanti. Kejantanannya … benar-benar … tegang! Tegak keras, sedikit urat samar terlihat di balik kulit coklat gelapnya. Dia menunduk, melepaskan celana dalamku dan entah ke mana dia melemparkannya. Yang kuingat hanyalah dia mulai berjongkok di antara kedua pahaku. Dia menekuk kedua kakiku, lalu membentangkan kedua lututku selebar mungkin. Ini …. langit … ke … lima … setengah …. Aku mengangkat kedua tanganku ke atas kepalaku, menggenggam erat bantal beraroma Raka yang ada di bawah kepalaku. “Bilang kamu mau, Sayang…” katanya dengan suara bertambah serak, telapak tangannya membelai ringan permukaan labia mayora-ku yang bersih dari rambut, menggoda diriku disana. “Aku mau Raka … aku mau … puaskan aku …” aku merengek. Raka tahu persis bagaimana membuat diriku merengek, mengemis sentuhannya. Dia tersenyum, senyum kemenangan. Dia menekan kedua lututku melebar, dan kedua tangannya membuka lebar daerah intimku. Begitu lebarnya hingga kurasakan hembusan napas Raka di sana. Aku menunggu, lalu … aku menggelinjang! Ujung lidahnya tepat di ujung titik sensitifku, mengelus berulang kali. Aku menjadi liar! Aku … sedang … di … langit … ke … enam …. Raka menghentikan gerakannya, memandangku yang semakin mencengkram bantal di atas kepalaku. “Begini suka kan?” tanyanya nakal masih dengan suara berat. Aku menggangguk seperti robot mainan, saat jari telunjuknya mulai memasuki celahku yang basah. “Kalau begini?” dia menambah satu jari lagi. Jari tengahnya menyelinap masuk. Aku makin mengangguk, bibir bawahku kugigit erat, mencegah diriku sendiri berteriak karena rasa nikmat. Raka menunduk lagi, jarinya bergerak pelan, keluar masuk tubuhku. Dia melengkungkan sedikit jarinya ke atas, menekan teratur titik sensitif bagian dalamku. Tubuhku bergetar, dan suara mendesisku keluar tanpa bisa dicegah lagi. Seperti kucing yang terlena oleh usapan manusia di lehernya. Kepalanya mendekati pangkalku, dan dia semakin menurunkan kepalanya. Ketika dia memainkan lidahnya di ujung intiku, semuanya menjadi sempurna! Aku merayap menaiki gairahku, cengkeraman tanganku di bantal semakin kuat. “Sekarang, Ka … Sekarang …” pintaku. Dia menghentikan lidahnya, mencabut kedua jarinya dari celahku, lalu memasukkan kedua jarinya itu ke mulutnya sendiri. Aku merasakan denyut mendesak dari dalam diriku. Ya ampun ... dia seksi sekali …. Dia mulai menaikiku, mengulum bibirku dengan ganas, bau diriku tercium dari mulutnya. Lututnya membuka kedua kakiku, dengan sekali dorong, miliknya sudah berada dalam diriku. Dia mulai memompa, pelan, lalu semakin cepat. Aku merasakan gairahku sudah berada di tepi jurang kenikmatan, kini Raka sedang mendorongku ke arah ngarai tak berdasar itu. “Raka! Raka!” panggilku. Tanganku menahan pinggulnya agar terus menekanku ke bawah dan pinggulku menyamai gerakan memutarnya. Kedua titik kepuasanku tersentuh dengan sempurna. Gerakannya semakin cepat, dan dia menancapkan hujaman terakhirnya sangat dalam. Inilah … yang … disebut … langit … ketujuh! Aku memekik puas, dan denyutan ejakulasi dirinya sangat terasa di dalamku. Untuk beberapa detik dia terdiam. Dia menjatuhkan tubuhnya di atasku dan seperti biasa –lalu dengan perlahan menggulingkan dirinya ke sebelahku dan membuatku miring-, mempertahankan kejantanannya dalam diriku hingga terlepas sendiri, entah kapan nanti. Kami berdua terdiam. Aku memeluk tubuhnya yang berkeringat aromanya, yang membuatku tergila-gila. Aku mencintainya. Aku ingin memilikinya selamanya. “Aku cinta kamu, Raka … sebesar orgasmeku …” bisikku lirih sambil tersenyum. Raka tertawa ringan, mengetuk dahiku dengan telunjuknya. Kudorong pinggulku semakin menempel padanya, merasakan dirinya masih berada di dalam diriku membuatku bahagia. “Aku juga, Eve…” balas Raka. Dia menciumi seluruh wajahku dan mencium bibirku hangat. Rrrtt! Suara dari handphone Raka, di atas meja kamar tepat disisinya. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukanku, namun aku menahannya, jadi dia berusaha meraih handphone-nya dengan tangan kirinya. Matanya tertuju pada layar besar handphone miliknya. Wajahnya tampak serius pada entah apa yang sedang dibacanya. “Siapa?” tanyaku penasaran. Dirinya sudah lepas dariku, aku merebahkan kepalaku di dadanya. “Istriku,” jawabnya singkat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN