Aku menatap rumah mungil di hadapanku. Kecil namun terlihat asri. Pandu, anakku yang baru berusia tiga tahun berlarian ke sana kemari dengan sebuah mainan di tangannya.
“Pandu! Sini, Sayang ….” panggilku pada anakku semata wayang.
Pandu menghampiriku, membuka mulutnya dengan lebar, menerima suapan makan sorenya. Aku memberikan senyuman bangga padanya. Dia kembali berlari, berputar mengelilingi taman rumah yang sempit. Aku sedang duduk di bangku semen di depan pagar rumahku. Angin dingin daerah Lembang, semilir menyentuh wajahku.
Aku mencintai kota ini. Saat menikah dengan Raka, tinggal di kota ini menjadi syarat saat aku menerima lamarannya. Dingin, tenang, membuatku merasa nyaman.
Raka.
Dia menerima syaratku tanpa ada perlawanan sedikitpun, dia bisa kubilang, bertekuk lutut di kakiku. Kami berdua bahagia. Raka mendapatkan pekerjaan sebagai akuntan di Bandung kota. Kebahagiaan kami semakin lengkap saat Pandu lahir setahun kemudian.
Hanya beberapa bulan, setelah itu cobaan menerpaku.
“Mama… Anju mau mobil lagi!” teriak anakku tiba-tiba dalam logat dan Bahasa Sunda yang kental, membuyarkan lamunan panjangku. Aku menarik badannya mendekat untuk mencium pipi montoknya dengan gemas.
“Nanti minta papa beliin ya?” sahutku.
“Papa kerja?” tanyanya lagi.
“Iya, cari uang.”
“Di dompet mama banyak uang!”
Aku tertawa mendengar keluguannya.
Aku memasukkan suapan terakhir makanan ke dalam mulut anakku. Seorang tetangga melewati tempat aku duduk, menyapaku dengan halus dan sopan. Aku membalas menyapanya dan sedikit berbasa-basi.
Langit sudah memerah. Matahari sudah purna melaksanakan kewajibannya. Aku beranjak ke dalam rumah setelah kukunci gerbang depan, tak ada tamu yang kuharapkan datang hari ini.
Hembusan angin terasa lebih dingin lagi, menembus sweter tipis yang kugunakan.
Kubiarkan Pandu bermain sendiri lagi di depan tivi. Aku mencuci piring bekas dia makan, lalu bergelung di sofa berwarna biru tua –warna yang kupilih karena Raka suka warna biru.
Acara National Geographic menghiasi layar lebar di hadapanku. Kelihatannya acaranya bagus. Namun tak mampu menarikku untuk tetap terpaku padanya. Anganku kembali pada Raka. Aku rindu padanya. Kangen. Sangat.
Lamunanku berlanjut. Raka terkena PHK masal saat Pandu belum berusia satu tahun. Sebulan … dua bulan … berlalu tanpa panggilan pekerjaan atas belasan surat lamaran yang dia kirimkan.
Ego seorang laki-laki, suami, dan ayah menghantam dirinya. Tawaran pekerjaan di Jakarta akhirnya diterimanya.
Apakah aku menyetujuinya? Tidak! Tapi aku juga tidak mau suami dan keluargaku terpuruk.
Dengan janji kalau ada pekerjaan di Bandung dia akan ambil pekerjaan itu, dan janji untuk pulang ke rumah setiap seminggu sekali, aku melepasnya pergi. Raka adalah laki-laki tegas penuh tanggung jawab. Setahun penuh dia tidak pernah melewatkan hari Jumat malam hingga Senin subuh di rumah. Saat-saat aku mendapatkan kehangatan laki-lakiku.
Tetapi sejak setahun lalu, jadwalnya mendadak berubah. Suamiku pulang dua minggu sekali, dan dia pindah dari rumah orangtuanya di daerah pinggiran Jakarta ke rumah kos di sekitar kantornya. Alasannya, dia mulai kelelahan dan pekerjaannya menuntutnya untuk sering lembur. Ok, aku bisa terima.
Hanya sebatas itu saja yang aku bisa telan. Namun tidak untuk enam bulan belakangan ini, Raka hanya sebulan sekali pulang. Alasannya masih sama.
Sikapnya?
Tidak ada yang berubah, namun memang dia terlihat lebih pucat dan kurus. Aku merasa trenyuh setiap kali menatap dirinya seperti itu.
Dia masih sangat mencintaiku dan Pandu. Sangat terlihat dari perlakuan dirinya pada kami berdua. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti ketika Pandu baru lahir.
Di ranjang?
Raka hebat. Aku selalu puas saat berhubungan dengannya. Dia adalah suami ideal, selalu memuaskanku, selalu mendahulukan kepentinganku.
Bayangan Raka mencumbuku membuat wajahku terasa panas dan ada bagian diriku yang tergugah. Aku melirik Pandu sekilas, betapa bodohnya aku, aku takut Pandu mengetahui pikiran kotorku.
Anganku masih melayang-layang, di seputar dirinya, seputar kehidupan kami bertiga, dan impian-impian yang tak terlaksana. Sesekali Pandu merecokiku dengan pertanyaan dan aksinya.
Saat jam dinding menunjukkan mendekati angka delapan, aku sudah kehabisan stok lamunan.
Aku mematikan tivi, belum terlalu larut, namun Pandu sudah menguap berkali-kali. Aku menggendongnya, mematikan lampu, masuk kamar, dan kukunci pintu kamarku.
Kurebahkan anakku di ranjang kecil sebelah ranjangku. Tidak sampai semenit dia sudah terlelap. Aku mematikan lampu kamar. Belum terlalu mengantuk dan tubuhku merasa gelisah. Bayangan Raka mencumbuku tadi sudah membangunkan sel tubuhku yang lain.
Aku memeluk guling yang biasa Raka pakai, berusaha mengendusi bau tubuhnya yang semakin tersamar oleh wangi pewangi kain. Aku menarik guling Raka ke atas tubuhku, tarikanku menyebabkan daster panjangku terangkat. Kulit pahaku menyentuh kain guling. Aku melenguh. Aku menginginkan suamiku. Bagian intimku berdenyut.
“Raka …” bisikku pelan pada guling yang membisu.
Aku mulai menggesekkan gulingnya pada paha bagian dalamku dan hal itu membuatnya menyentuh bagian bawahku juga. Memberikanku efek luar biasa, aku terangsang.
Mataku melirik Pandu, masih pulas, terlihat di keremangan kamar yang hanya menggunakan lampu tidur kecil.
Aku duduk, lalu perlahan kubuka dasterku, mataku setengah terpejam membayangkan Raka yang melakukannya. Tanganku membelai dadaku sendiri, meremas-remas kedua bukitku bergantian. Aku mulai membuka penutupnya dan penutup bagian bawahku.
Aku berbaring telanjang, kupeluk guling Raka dengan sepenuh hatiku. Sentuhan guling di sekujur tubuhku, d**a, p******a, perut, pusat, dan pahaku menambah sensasi di geloraku.
Kupeluk erat hingga titik sensitifku tersentuh. Aku melenguh lagi. Sejak Raka jarang pulang, ini yang sering kulakukan.
Aku membayangkan kulit Raka yang menyentuh kulitku. Kedua kakiku kubentangkan lebar-lebar, gulingnya masih berada di atas tubuhku. Kugerakkan pelan, seakan Raka yang berada di atasku saat ini.
Aku mendesis oleh rasa nikmat, jariku menyentuh puncak bukitku yang teratas, bagian paling sensitif di sana. Aku menggelinjang. Tangan kananku mulai mengelus daerah intimku yang sudah basah. Jari tengahku mulai menyentuh tonjolan kecil di sana, sedangkan kedua jariku yang lain membentangkan kedua bibirku, yang tebal dengan pubis lebat, lebar-lebar.
Aku mulai mengelus, pelan. Sesekali kucolek cairanku dari lubang milikku dan membawanya membasahi titik sensitifku itu.
Tubuhku mulai bergerak, kedua kakiku menahan guling agar tak terjatuh. Gesekan-gesekan guling di kulitku hanya menambah gairahku. Seperti Raka yang sedang berada di atasku.
Jari tengahku masih memainkan intiku, dan aku tahu sebentar lagi aku akan k*****s. Aku memasukkan dua jariku ke dalam lubangku yang basah, lalu kukocok perlahan. Aku membayangkan kejantanan suamiku yang kini berada di dalamku.
“Raka …” bisikku lagi. Semakin dekat. “Oh Raka …” Gulingku sudah terjatuh ke lantai, tangan kiriku menahan membuka bibir bawahku, jari tangan kananku masih sibuk keluar masuk lubangku.
Aku tak tahan, kukeluarkan jariku, dan mulai berputar-putar ringan tepat di atas intiku. Pinggulku bergerak … jariku berputar semakin cepat … dan ....
Hantaman o*****e menyergapku! Kutekuk telapak kakiku, menikmati rasa yang luar biasa itu. Aku memejamkan mataku, denyutannya secepat napasku yang memburu.
Kubayangkan Raka tersenyum puas padaku, dan aku membalas senyumannya dengan pelukan hangat.
Aku menunggu beberapa saat, hingga gelombang orgasmeku berubah menjadi riak yang lebih tenang, lalu menghilang menjadi obat penenang bagi tubuhku.
Tubuhku terasa nyaman, rasa kantuk yang tadi tertunda, kini seakan menyanyikanku lagu menjelang tidur.
Kutarik selimutku, menutupi tubuh telanjangku, menyelimuti bak malam yang sepi, menyelimuti sekelumit sedikit rasa malu karena aku tidak mampu menahan gairahku sendiri.
***
Entah rasa bersalah atau apa, aku merasa telah menghianati suamiku dengan perbuatanku semalam. b******a dengan guling. Tapi otakku berdalih, aku berselingkuh dengan diriku sendiri, tak ada yang salah. Kebutuhan biologisku adalah bagian dari diriku sebagai wanita yang masih normal.
Aku mengirim pesan pada Raka, rangkaian ucapan rasa rindu, cinta, doa, dan beberapa foto Pandu. Bagian dari menutupi rasa bersalah? Hahaha... Entah.
Mengirimkan foto seksiku pada Raka? Tidak! Belum terbersit sedikitpun untuk melakukan itu. Aku bahkan masih merasa canggung untuk berbicara tentang hubungan ranjang kami secara terang-terangan. Kehidupan ranjangku dengan Raka bukan kehidupan liar mengikuti berbagai fantasi.
Tak sekalipun aku pernah memberitahu dirinya aku pernah memuaskan diriku sendiri dengan jariku, bahkan beberapa kali sebelum kami menikah.
Raka menjawab pesanku tidak sampai tiga menit berikutnya: Miss you and Pandu.
Aku tertawa. Raka tidak pernah berubah. Pria yang tidak pernah suka basa-basi. Ketika dulu aku membanjirinya dengan ucapan-ucapan romatis, dia hanya menjawabku dengan satu kata : ok.
Itu yang memancing berkali-kali pertengkaran kecil kami.
Suara telepon masuk menghentikan senyuman di wajahku. Kevin. Sahabatku sejak masa SMA dulu.
“Hai…” sapaku.
“Mau ajak Pandu jalan-jalan?” suara Kevin terdengar ceria.
“Nggak kerja?” aku balik bertanya. Ada kebimbangan yang menyembul keluar tiba-tiba.
“Lupa hari ini Minggu?”
Aku berhenti diam berpikir sejenak. “O iya, minggu, aku lupa Kev.” Jawabku, lalu terdiam-menimbang.
Sudah sebulan lebih sejak kedatangan Raka yang terakhir aku tidak pernah membawa Pandu bermain di luar rumah. Tapi aku juga menjaga diriku dari omongan miring tetangga.
Seorang istri yang ditinggal suaminya bekerja, berjalan-jalan dengan laki-laki lain? Siapa yang akan berpikir lurus bahwa jalinan pertemanan antara aku dan Kevin itu murni?
“Halo? Billa?”
“Aku ….”
“Aku jemput kamu pakai mobilku, deal?”
Aku tersenyum, Kevin tidak akan mengerti alasan penolakanku, karena memang tidak ada apa-apa di antara kami berdua. “Baik.” Aku menyerah.
“Dua jam-an lagi aku sampai. Kamu dan Pandu siap-siap dulu.”
“He eh.” kataku menyetujui.
Dua jam waktu yang cukup bagiku untuk bersiap-siap, untuk memandikan anakku dan menyuapinya sarapan.
Lebih cepat dari waktu yang diperkirakan, Kevin muncul di depan pintu rumah, tersenyum lebar padaku. Kevin, sosok hampir setinggi Raka, berkulit putih bersih. Tubuhnya berisi, tegap. Modis, sangat berbeda dengan Raka. Dia pusat perhatian para wanita.
Dia langsung duduk di sofa, matanya menatap ke setiap sudut rumahku.
“Jangan ngomong macem-macem!” desisku padanya dan berpura-pura melotot padanya. Kevin hanya tersenyum.
“Bersih, di sini bersih, nggak ada apa-apa. Masih bersih.”
Aku tertawa. Kevin Lukito, si anak indigo. Kemampuan indra keenamnya melekat hingga kini. Aku pernah mengusulkan agar pindah profesi menjadi paranormal. Dia hanya tergelak waktu itu.
Sepuluh menit berikutnya aku sudah di dalam mobilnya.
“Raka nggak datang?”
“Nggak, sibuk katanya. Biarinlah mungkin dia juga capek.” Kataku.
“Sudah aku bilang seharusnya kamu memilih aku dulu, bukan dia. Cowok yang kamu temui saat ke Dufan? Please deh!”
Bertemu Raka yang sedang mengantarkan kedua keponakannya, justru membuatku sangat–sangat– terkesan.
Aku tertawa. Kevin berkali-kali menyatakan cintanya padaku, tapi entah, tak ada rasa cinta pada Kevin. Ini juga yang menjadi bahan pertimbanganku tadi, aku takut Kevin makin berharap padaku.
“Kamu sendiri, bagaimana sama pacar kamu? Siapa namanya? Clara?” tanyaku.
“Sudah putus Billa. Kutunggu jandamu aja…” jawabnya sembari menatap lurus ke jalan raya.
“Gila.” Makiku pelan. Ujung bibirnya tersenyum. Aku tertawa. Bersama Kevin aku bisa bercanda, tertawa bersama, berbincang tanpa batasan topik.
“Aku masih nunggu kamu, Nabilla Hassa. Sampai kapan pun,” katanya serius.
“Anjrit.”
“Kecuali kamu mau poliandri…” sambungnya, kali ini dengan kerlingan mata nakalnya.
“Goblok.” Makiku sekali lagi.
“Kalau cowok bisa poligami, cewek boleh berpoliandri dong?”
Aku melotot padanya.
“Tak ada kamus poligami dan poliandri di hidupku, Kev. Aku nggak sudi dimadu, di-dua-kan. Jadi aku juga nggak mau menduakan suamiku,” kataku serius. Itu memang prinsip hidupku. Kesetiaan. Kekuatan dari pondasi pernikahan–kesetiaan.
Kevin tersenyum, lalu memutuskan membicarakan hal lainnya.
Ting!
Pesan masuk dari Raka. Singkat namun mampu membuatku redup.
Aku nggak bisa pulang Sabtu ini, aku kecapekan.
Aku menatap Kevin yang memandangku dengan mata bertanya-tanya.
“Kenapa?” tanyanya.
“Raka. Sabtu ini dia nggak bisa pulang, kecapek-an katanya …” jawabku. Aku mengelus kepala Pandu yang duduk tenang di pangkuanku dengan sebuah mainan di tangannya.
“Masih seminggu lagi, sudah bilang dari sekarang? Kecapek-an yang direncanakan??” kata Kevin pelan, namun menusuk.
“Hush! Mungkin memang capek…” kataku, namun tak elak kalimatnya hinggap melekat begitu saja dipikiranku.
“Jangan-jangan … dia ….” Kevin menggantung kalimatnya.
“Apanya jangan-jangan??” kejarku.
“Suami kamu seorang laki-laki normal, bisa saja dia terpikat dengan cewek lain…” kata Kevin dengan senyuman culas di wajahnya.
“Sialan!” aku mencubit lengannya keras. Dia mengaduh, lalu tertawa. “Aku nggak ada toleransi sama sekali tentang pengkhianatan dan perselingkuhan!” sambungku.
“Asyik! Kutunggu jandamu …!” Dia tertawa lepas.
Aku terbahak mendengar tanggapannya.
Raka berselingkuh? Memang, menurut artikel yang k****a, Raka sudah menunjukkan tanda-tanda awal sebuah perselingkuhan dalam hubungan LDR*. Semakin jarang pulang ke rumah.
Tetapi aku merasa Raka bukan tipe laki-laki flamboyan, yang begitu mudah lari ke pelukan seorang wanita ke wanita lainnya. Dia juga bukan tipe playboy yang suka mempermainkan wanita.
Aku rasa aku cukup mengenal Raka. Dia lurus. Raka adalah pria yang selalu memegang komitmennya.
“Pendapatku, bicarakan hal ini serius sama suamimu.” Katanya sambil sekilas menoleh padaku. Aku mengangguk. Tiba-tiba dia menepuk jidatnya sendiri, “bodoh pisan urang!** Ngapain nasehatin kamu, justru baguslah kamu ninggalin dia nanti!”
Aku hanya tertawa, namun aku tahu aku harus melakukan nasehatnya yang masuk akal itu.
Catatan :
*LDR : Long Distance Relationship (hubungan jarak jauh)
** Bodoh pisan urang : bahasa sunda, Bodoh sekali diriku!
***