Aku menundukkan kepalaku di atas meja. Kepalaku pusing, leherku terasa pegal bukan main. Pendaran sinar dari layar laptopku hanya menambah parah sakit kepalaku. Aku menggelapkan layarnya lalu kembali meletakkan kepalaku di atas meja. Mungkin sebutir obat penghilang sakit kepala bisa menolongku, pikirku, akhirnya menyerah.
“Pucat banget lo Ka! Sakit?”
Aku mengangkat wajahku, salah seorang temanku beranjak pergi dari meja kerjanya, dia memberi kode tangannya sebagai tanda pamit. Aku hanya mengangguk. Tinggal aku sendirian di sini.
Pucat? Mungkin aku terlalu lelah.
Aku membuka laciku, seingatku masih ada sebutir aspirin di sana. Aku mengacak-acak laciku dan kutemukan butiran kecil berwarna putih di sana.
Tanpa ragu aku menyelipkan obat itu di antara bibirku dan mendorongnya dengan air minum.
Masih ada satu pekerjaan malam ini, butuh waktu sekitar satu jam lagi untuk menyelesaikannya. Aku menyandarkan punggung dan kepalaku ke kursi. Meregangkan semua otot tangan dan kakiku, lalu kupejamkan mataku –mencoba rileks.
Hampir aku tertidur, namun langsung terjaga, saat kurasakan hembusan angin kencang di bagian kepalaku. Aku membuka mataku. Otakku masih cukup waras untuk berpikir bahwa ruangan ber-ac ini seharusnya tidak berangin kencang seperti yang tadi kurasakan.
Aku menegakkan tubuhku, mencoba merasakan lagi hembusan itu. Tidak ada angin, bahkan pita kecil yang tergantung di pinggiran lubang ac pun tenang tak bergerak.
Aku menganggapnya halusinasi. Tanganku meraih kertas berisi neraca keuangan yang harus kuselesaikan. Saat pikiranku mencoba berkonsentrasi, hembusan angin itu terasa lagi!
Aku terdiam. Sekarang aku yakin aku tidak sedang berhalusinasi. Hembusan itu datang sekali lagi dari belakang kepalaku, aku menoleh cepat, namun tidak ada apa-apa di sana. Tetapi sebuah kertas melayang jatuh tepat di mejaku.
Aku hanya menatap aneh kertas itu. Pasti berasal dari atas meja rekan kerjaku yang lain.
Aku mengernyitkan dahiku, menatap tulisan di sana. Iklan sebuah rumah, agen property. Aku mengambilnya, lalu melipatnya menjadi dua, dan menyelipkannya ke dalam tasku.
Kepalaku masih tegak, aku bukan orang yang percaya takhyul, pasti ada penjelasan teknis yang masuk akal. Lubang ac central tepat di atas kepalaku, pasti hembusannya dari sana –dengan tidak mengindahkan kenyataan ac central sudah mati secara otomatis setiap jam sembilan malam– itu setengah jam yang lalu. Atau jendela gedung ini tiba-tiba terbuka? Mataku melirik sekilas, tak ada celah sedikit pun di sana.
Aku memaksakan diri berkonsentrasi lagi, namun balasan pesan dari Nabilla kemarin menyita lagi pikiranku. Dia merasa keberatan atas jadwal pulangku ke Bandung yang katanya makin lama makin mirip karet kolor –selalu molor. Aku hanya bisa menjawab, aku capek.
Aku tidak bohong, aku capek, lelah dan terkuras tenagaku –karena Eve.
Eve-ku.
Hari Sabtu nanti itu, aku pasti kelelahan, karena
aku terlanjur berjanji padanya untuk bersamanya seharian.
Aku tidak bisa melihat wajah cantiknya merengut kesal. Sempat bayangan Nabilla membuatku berpikir lagi, tapi entah mengapa aku seperti kerbau dicucuk hidungnya saat kedua lengannya memeluk diriku erat dan kepalanya menciumi dadaku dengan manja. Wangi tubuhnya yang menggoda, matanya yang penuh rayuan, membuatku menyerah.
Tiba-tiba saja aku berpikir, Nabilla pasti mengerti aku. Cintanya padaku pasti membuatnya penuh pengertian.
Nabilla
Eve
Dua wanita cantik. Kutub Utara dan Kutub Selatan. Langit dan Bumi.
Billa, aku mencintai dirinya, cantik –aku akui itu yang menarik perhatianku pertama kali-, penuh prinsip, pintar, tipe serius. Aku bertemu dengannya dua tahun sebelum aku berhasil mengajaknya ke pelaminan.
Eve, penuh gairah dan semangat, riang, ceria, humoris, tekadnya sekuat baja, aku mengenalnya sejak kami berdua masih kecil. Aku terhibur dan bahagia setiap kali bersamanya. Dia mirip mercon, mercon banting, tidak berbahaya namun selalu memberi efek kejut.
Aku dan Eve, kami berdua terpisah begitu saja saat usia kami duabelas tahun. Setiap hari aku menunggunya, berdiri di depan pagar rumahnya yang kosong. Eve kadang menyebalkan, namun entah mengapa aku malah memilih bermain bersamanya daripada bermain dengan teman yang lain.
Aku mulai kehilangan harapan, saat rumahnya, lambat laun tak terurus. Eve tidak pernah datang. Bahkan tidak ada seorangpun yang datang untuk bersih-bersih. Akhirnya harapan itu lenyap saat orang tuaku memutuskan pindah rumah.
Aku hanya mampu menatap rumah Eve dari dalam mobil yang bergerak, aku mengeluarkan kepalaku di jendela mobil, terus memperhatikan rumah Eve hingga menghilang dari pandangan.
Rumah baru, teman baru, lalu aku sudah melupakan bayangan Eve.
Jadi, saat bertemu kembali dengan Eve dewasa, aku seperti memenangkan lotre tanpa perlu membeli lotre itu terlebih dahulu. Jackpot! Tak terbersit sedikit pun di kepalaku aku akan bertemu lagi dengannya.
Dia jauh lebih cantik dari yang pernah kuingat, dan tubuhnya … molek. Hanya dengan membayangkan lekukan mulusnya saja, aku sudah bisa tegang.
Seperti saat ini.
Ugh!
Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku, mencoba menggantikan bayangan Eve dengan wajah atasanku yang menunggu laporan ini berada di mejanya besok pagi.
Bagus! Berhasil, namun ngilu menyakitkan.
Beberapa menit selanjutnya aku sudah tenggelam dalam tumpukan angka-angka yang melayang-layang merebut perhatianku.
***
Pagi hari.
Badanku remuk. Aku baru keluar kantor jam sebelas lebih semalam.
Aku masih ingin bermalas-malasan, datang ke kantor sedikit telat. Aku yakin tidak menjadi masalah. Toh aku sudah menyelesaikan pekerjaanku sesuai deadline. Pembenaran diri, mungkin sekalimat sindiran dari atasanku akan menyapaku nanti.
Rrrtt!
Aku meraih handphone-ku di atas meja. Dari Nabilla.
“Hallo Billa…” sapaku, kini dalam posisi duduk.
“Raka, sudah bangun?”
Aku menguap lebar, “Sudah,” jawabku.
“Capek?”
“Banget. Habis lembur.”
“Aku mau ngomong.”
Ok, ini salah satu kalimat pamungkas kaum hawa. ‘Aku mau ngomong’. Ini membuatku mendadak menjadi terdakwa dan eksekutorku sudah menyiapkan tuduhan dan hukumannya sekaligus.
Otakku secepat kilat menggali lagi apakah ada hal penting yang aku lewatkan. Ulang tahun Billa? Pandu? Atau aku melewatkan perayaan lainnya yang pasti dianggap penting oleh Billa?
“Ada apa?” tanyaku, menyerah setelah aku merasa yakin aku tidak membuat kesalahan.
“Tentang jadwal pulang kamu.” Nada Billa terdengar ketus.
Bukannya dia sudah ngoceh panjang lebar lewat pesan kemarin?? Pikirku tak percaya.
“Aku kan sudah bilang aku butuh istirahat minggu ini, Billa… Cobalah mengerti aku….”
“Bukan itu! Masa kamu nggak lihat point pentingnya di sini?? Apa menurut kamu??” nada suaranya naik.
“Aku kecapek-an, itu aja …” jawabku, mengeluarkan satu-satunya alasan dan kalimat yang ada di otakku.
“Apa???”
Aku berdiri, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Ini semakin terdengar seperti penyakit komplikasi. Dia sudah mengeluarkan jurus ‘apa’-nya dengan nada naik dua oktaf seakan aku salah besar dalam memberikan jawabanku.
Apa sih maksudnya??
Kata kedua setelah kata “terserah” yang selalu membuatku kebingungan, saat kata itu keluar dari mulutnya.
Aku membuka jendela kecil kamar kosku, membiarkan asap rokokku melayang jauh keluar dari ruangan sempit ini.
Suara dengusan terdengar dari istriku, yang aku yakin sedang mondar-mondir antara dapur dan ruang makan.
“Raka, aku mengerti kamu capek. Makasih kamu sudah berusaha menjadi kepala rumah tangga yang baik. Point yang aku maksud adalah, sadar nggak kalau kamu setahun ini semakin jarang pulang?” suaranya melemah.
Aku menghisap rokokku dalam-dalam. Entah. Aku tidak begitu mengingatnya.
“Kamu janji seminggu sekali, lalu jadi dua minggu sekali. Enam bulan belakangan kamu pulang hanya sebulan sekali. Dan sekarang kamu sudah lima minggu nggak pulang!”
Aku mengiyakan dalam hati.
“Jujur saja sekarang Raka, kamu punya yang lain di sana …?”
Hening.
Eve.
“Nggak,” kataku singkat. Suara lega terdengar dari mulut Nabilla.
“Aku nggak mau kamu asal-asalan di pekerjaan kamu, Raka… Tapi aku juga pengen hidup normal, bertemu suami setiap hari…”
“Aku mengerti Billa, aku janji, aku akan menyelesaikan masalah ini, tapi tolong pengertian kamu.”
Istriku terdiam, tarikan panjang nafasnya terdengar.
“Iya, Raka ... Aku pasti mengerti kamu,” katanya tegas. “I love you …” bisiknya.
“Love you and Pandu …” aku menutup handphone-ku.
Aku baru saja mematikan rokokku saat handphone-ku bergetar lagi. Pesan dari Eve.
Kangen Raka.
Aku tersenyum.
***