[Dirja Gala Gold: Selamat pagi, Amara.]
[Dirja Gala Gold: Hari ini kembali ke Bandung?]
[Dirja Gala Gold: Bisa kabari saya jika kamu sudah ada waktu kosong?]
[Dirja Gala Gold: Supaya bisa saya sesuaikan dengan jadwal saya juga.]
Mata Amara berkedip-kedip.
“Ada apa, Bu?” tanya Tita. Si Sosial Media Specialist di Kupu yang memegang akun dan memanage semua postingan di akun-akun sosmed Kupu Official. Tugasnya cukup banyak, selain menjadi orang yang akan selalu memegang ponsel dan powerbank. Ia juga yang paling peka dengan keadaan sekitar.
Amara menoleh pada Tita, sedang kepalanya memutar lagi ingatan tadi malam.
-o0o-
“Benar. Saya sudah lama berniat menghubungi Gala Gold,” cetus Amara dengan lebih antusias.
Dirja mengangkat kedua alisnya. Perubahan nada suara Amara yang tadi terasa sendu jadi penuh semangat membuatnya terpana sekali lagi. “Untuk?”
Tatapan Amara melirik kiri dan kanannya. Menatap sekitarnya lalu kembali menatap Dirja lagi, “Apa boleh saya bilang di sini?”
“Kita bisa bertemu di luar kalau kamu tidak bisa membahasnya di sini,” tawar Dirja dengan anggukan pelan.
Amara mengatupkan bibirnya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan binar cemerlang di matanya. “Tapi pertama-tama, saya mau bilang dulu kalau saya suka model perhiasan Gala.”
Dirja mengangguk. Ia berusaha jadi lebih serius. Tapi bagaimana Amara berbicara, matanya yang cemerlang menatapnya dengan semangat, dan tangannya yang kini membiarkan tas tangannya menggantung di lengan kiri sementara kedua tanganya sibuk ikut berbicara. Semuanya membuatnya ingin terus tersenyum.
Telunjuk Amara kembali terangkat, “Karena saya suka cincin, saya koleksi semua cincin Gala. Sampai saya punya impian untuk punya line cincin sendiri buat Kupu.”
“Saya mengerti,” Dirja mengangguk.
“Hm?”
“Kita memang harus bertemu lagi di luar.”
“Gimana?”
“Sepertinya saya tertarik.”
Amara berkedip, “Saya belum memberi penawaran, Pak Dirja,” katanya dengan kening berkerut samar.
“Kita harus atur jadwal bertemu. Berapa nomor kamu?”
-o0o-
Sekarang pesan Dirja benar-benar datang ke ponselnya dan bertanya tentang pertemuan mereka.
“Tentang yang saya bilang tadi malem,” Mara memang langsung mengadakan rapat dadakan di grup chat mereka. Bertanya tentang apakah mereka masih ingat dengan keinginannya membawakan Kupu lini perhiasan? Meski itu jarang mereka bahas, tapi Amara yang dapat kesempatan ini di depan mata merasa harus segera membahasnya.
“Tapi Mas Diki bilang gitu ya, Bu?”
Amara mengangguk. Mas Diki. Diki Prasetyo. Orang yang selalu kritis tentang semua yang Amara lakukan untuk Kupu. Lelaki yang lima belas tahun lebih tua darinya itu adalah salah satu dari banyaknya alasan Amara untuk membuka Kupu. Master Pattern Maker yang sesungguhnya. Ahli sekali membuat gambar Amara jadi hidup dan nyata.
Tapi begitulah, ia adalah orang yang paling bisa melihat apa untung rugi buat Kupu.
Dan untuk konsep yang Amara bicarakan tadi malam, Mas Diki bilang kalau Kupu gak perlu punya line perhiasan. Meski peluang ada di depan mata.
Ia kembali menunduk menatap ponselnya, “Ketemu dulu gak apa-apa kali, ya?”
“Ketemu sama siapa, Bu?” kepo Tita. Gadis dua puluh tiga tahun itu masih menoleh.
“Pak Dirja,” jawab Amara jujur. “Mas Diki bener, tapi ini peluang yang terbuka lebar kan, Ta. Apa saya ketemu dulu aja biar tau apa yang harus dipersiapkan untuk kita?” tanya Amara ikut menoleh pada Tita.
Kepala Tita mengangguk, membuat rambut pendek sebahunya bergoyang, “Bertemu gak untuk membicarakan bisnis juga bisa, Bu,” jawabnya dengan cengiran kecil.
“Dia orang sibuk, Ta. Kalau saya cuma mengiyakan ajakan bertemu tanpa tujuan apa-apa, itu kayaknya ganggu banget, kan?”
“Mungkin memang tujuannya bukan untuk bisnis, Bu,” timpal Tita.
Alis Amara bertautan, “Ngapain orang sibuk mau ketemu tanpa tujuan keuntungan?”
“Keuntungannya kali ini ketemu seorang Asmara Danya, mungkin?”
“Tita, jangan meromantisasi segala hal,” tegur Amara dengan gelengan pelan.
Giggle kecil Tita terdengar, “Siapa sih yang gak pengen ketemu Bu Amara lagi setelah ketemu sekali?”
“Gak ada! Karena klien kita setidaknya punya tiga kali fitting sampai kebayanya selesai,” jawab Amara dengan senyum tipis di bibir, tangannya kembali membawa naik ponselnya. Menatap layar yang masih menampakan chat yang masuk dari Dirja. Kepalanya mengangguk.
“Itu dia, semua orang paling enggak ketemu tiga kali sama Bu Amara,” jawab Tita dengan anggukan kecil.
Amara terkekeh. Benar sekali. Apa salahnya bertemu? Ia mengetik balasan untuk chat bertubi yang dikirimkan Dirja pagi ini padanya.
[Amara: Selamat pagi, Pak Dirja.]
[Amara: Benar sekali, saya masih di jalan menuju Bandung.]
[Amara: Jadwal saya kosong besok sore.]
Amara masih mengetik lanjutannya, tapi balasan Dirja datang lebih cepat dari apa yang sedang ditulisnya.
[Dirja Gala Gold: Besok sore mau sambil makan malam?]
Alis Amara bertaut di tengah. “Cepet banget,” gumamnya.
Tita tersenyum dan melirik Amara sekilas sebelum kembali menatap ponsel yang sedang memutar beberapa footage video kemarin malam.
[Amara: Boleh.]
[Dirja Gala Gold: Kamu suka makan apa?]
Amara mengatupkan bibir, sebelum mengetik.
[Amara: Saya gak pilih-pilih makanan.]
[Dirja Ceo Gala Gold: Gimana dengan Senti? Besok pukul 19.00.]
Tangan Amara naik menutup mulutnya. Menahan senyum. Tidak butuh waktu lama untuk menentukan kapan bertemu ternyata. Ia menghitung jarak tempuh dari butik.
[Amara: Baik, Pak Dirja. Sampai besok malam.]
Amara kembali tersenyum saat balasan sampai jumpa dikirim dari Dirja. Ia menunduk, menyimpan ponsel dan mengambil tabletnya. Mengeluarkan arsip coret-coretannya yang pernah ia buat di waktu luangnya.
Sebelum pergi besok sore, ia sudah merancang rencana dalam kepalanya untuk bisa bicara dengan Mas Diki siang ini. Mas Diki bisa saja menolaknya malam tadi, tapi kalau ia bicara lagi, mungkin Mas Diki bisa memberi insight tentang keinginannya ini.
Amara mengangguk, tangannya kembali menggulir layar, mencari file tempatnya menyimpan gambar rancangan yang dulu. Ia menemukannya, membukanya lalu mengirimkan pada Mas Diki. Ia hanya harus sedikit menggelitik si Tangan Emas-nya itu.
-o0o-
Sekarang …
“Pagi,” sapa Amara sambil membuka pintu kaca dengan ukiran sayap kupu-kupu itu. Ia masuk dan melepaskan pegangan pintu. “Sorry saya telat lebih banyak, ya, Teh Manda,” katanya lagi dengan nada menyesal. Ia tersenyum pada Manda yang sudah sampai butik lebih dulu darinya. Hari ini ia memang bilang akan datang lebih siang pada Manda.
Tapi siapa yang menyangka kalau Dirja akan datang dan membuatnya lebih telat. Karena ia harus menyelesaikan masalah hatinya dulu sebelum datang ke butik dengan wajah yang lebih segar. Ia tidak mungkin datang dengan wajah sedih dan merana seperti tadi. Amara tidak pernah membawa urusan pribadinya ke dalam butik.
Seperti yang ia inginkan, Kupu adalah tempat amannya.
Manager butiknya, Manda Febiya, yang selalu berpenampilan rapi dan cantik itu tersenyum pada Amara. Ia menghampiri Amara dengan langkah percaya dirinya dalam bautan sepatu high heels tiga centi berwarna hitam, dengan setelan kebaya putih polos dengan celana panjang berwarna butter yellow. Seragam butik Kupu dengan warna khas Kupu, butter yellow yang cerah.
“Pagi, Bu Amara,” sapanya balik. Perempuan tiga puluh tahun itu mendekat dengan mata melirik ruang fitting yang berada di sisi kiri lobi itu. Ia melepaskan tas di tangannya, menyimpan di balik meja counter resepsionis.
“Ada siapa?” tanya Amara mengerti dengan lirikan Manda.
“Ibu Sari,” jawab Manda dengan anggukan kecil.
Salah seorang pelanggan di butiknya, istri dari seorang pejabat yang selalu ingin terlihat lebih anggun dari selingkuhan suaminya. Kali ini, ternyata datang lebih pagi dari waktu janjian.
Amara mengangguk pelan.
“Kayaknya ada yang terjadi, Bu,” bisik Manda yang sudah mengerti dengan keadaan.
“Udah di kasih teh chamomille? Kebayanya udah disiapkan?” tanya Amara yang kini melangkah ke arah pintu ruang fitting. Ia melewati light sign Kupu dengan warna kuning, di atas tembok butik yang berwarna butter yellow juga.
“Sudah, Bu,” Manda mengangguk mengikuti Amara.
Amara menarik napas, selain untuk merasakan napasnya yang lega, itu juga ritualnya untuk meninggalkan semua masalah pribadinya dan jadi lebih profesional seperti yang selama ini ia lakukan. Senyumnya mengembang sempurna dengan tatapan matanya yang cemerlang sebelum membuka pintu dan bersiap menyapa Bu Sari.
-o0o-