Mata Elli berkedip, “Kenapa?” tanyanya melihat Amara yang mengerucutkan bibirnya.
“Tapi orang itu kayak robot,” jawab Amara mengingat suara Dirja yang sungguh tidak ada ramah-ramahnya. Tidak ada nada-nadanya juga.
“Hah?” wajah tidak mengerti Elli menjadi pemandangan Amara selanjutnya.
Amara menceritakan apa yang baru saja terjadi. “Ngomongnya gak pake nada.”
“Dia emang terkenal gitu, kan?”
“Oh, ya?”
Tangan Elli mengibas di depan wajahnya, “Tunggu, lu tau gak Dirja itu siapa?”
Amara menggeleng, tidak berniat mencari tahu juga. Kalau Sakala pasti sudah tahu. Sepupunya itu memang lebih cocok menjadi CEO. Koneksinya banyak, perjalanannya sebagai orang yang selalu ada di Wise dari bawah, dan ia lelaki. Meski Amara sangat menghormati bagaimana Kakeknya melibatkan dirinya dalam pemilihan ini, yang seorang perempuan, tapi ia sudah tahu tempatnya di mana.
Di Kupu.
“Dia kandidat terkuat untuk menggantikan CEO Gala Gold sekarang,” bisik Elli lagi.
Amara mengangkat jari telunjuknya. “Gue pake Gala,” katanya pelan, lalu membulatkan mulutnya, “Jangan bilang-“
Alis Elli terangkat pelan, “Lu bilang mau punya line perhiasan buat Kupu, kan?”
“Lu masih inget?” haru Amara lagi.
“Kalau ngomongin bisnis otak gue lancar banget,” jawab Elli dengan kibasan rambut soft pinknya itu. Merasa bangga dengan ingatannya yang tajam. “Jadi, kayaknya lu bisa mulai dari ngobrol sama dia.”
“Pinter banget, Neng Elli. Gue yang baru aja selesai dengan semua keributan ini gak dikasih napas, ya,” Amara bertepuk tangan pelan.
“Kalau lu gak napas, asma lu kumat. Neng.”
“Bener!” Amara terkekeh pelan lalu menoleh lagi ke arah di mana Dirja dan lelaki tadi pergi.
“Cari waktu buat ngobrol lagi,” bisik Elli yang kali ini terlihat lebih serius.
Yang Mulia Ratu Kobam ini memang beda. Ia bisa saja setiap malam mendatangi satu club ke klub lainnya, tapi anak dari pemilik salah satu pabrik kain terbesar di Bandung itu adalah gadis yang selalu semangat dengan semua hal tentang perkembangan bisnisnya. Amara selalu belajar banyak dari Elli. Ia berani membuat line pertama Kupu juga karena dukungan penuh dari Elli.
Sebanyak itu mereka sudah berbagi.
Tahun lalu saat Elli meluncurkan Hey! jenama tas dengan desain quite luxury, yang bekerja sama dengan para pengrajin tas lokal. Membawa kulit lokal jadi bahan utama dalam produknya. Kualitas yang nomor satu dan asli buatan tangan itu menjadikan Hey! langsung jadi incaran para sosialita, para publik figure, dan tentu saja para influencer dan selebgram.
Elli adalah contoh nyata dari privilege yang digunakan dengan benar.
Sedangkan Amara, ia hanya ingin membawa Kupu tanpa embel-embel Wisesa. Tanpa bantuan Wise Corp. Itulah kenapa butuh dua tahun untuk Amara membawa Kupu dikenal orang-orang. Ia benar-benar membawa Kupu dari hanya stand di acara kebudayaan, sampai ia punya line Atire pernikahan yang bekerja sama dengan beberapa makeup artist terkenal di Bandung.
Semua kesibukan itu membuat Amara bisa keluar dari semua hal yang membuat kepalanya berisik. Ia tidak lagi memikirkan ucapan Tante Indi yang memojokannya terus. Ia bisa dengan bangga berdiri di belakang nama Kupu karena ia tidak menumpang nama pada keluarganya.
Itu sebabnya ia jadi lebih percaya diri sekarang.
Meski ada beberapa hal yang tidak bisa ia kontrol. Seperti JFWnya tahun kemarin yang disabotase dengan menghilangnya beberapa kebayanya. Ia yakin itu adalah perbuatan curang Kakeknya. Karena sebelumnya ia menolak untuk masuk Wise Corp dengan Sakala. Itulah kenapa tahun ini, ia punya perjanjian dengan Sakala. Bahwa ia tidak akan menuntut untuk bersaing dengan Sakala tentang menjadi CEO dan hal seperti itu.
Karena berada di Kupu adalah kebebasannya.
Memajukan Kupu dari semua line adalah impiannya. Termasuk mempunyai line sendiri dalam perhiasan. Ia ingin punya cincin yang bisa dipamerkannya kalau itu adalah cincin Kupu.
Benar. Ia suka kupu-kupu. Itu sebabnya ia memberi nama Kupu untuk butiknya.
Dan sekarang, matanya sudah melirik Dirja yang masih berdiri bersama lelaki ramah tadi. Ada lelaki yang lebih tua juga di sana. Seorang seorang perempuan yang melingkarkan tangannya di lengan lelaki ramah. Lalu ada lelaki berkacamata yang ikut bergabung dengan lingkaran itu, yang tangannya digelayuti manja oleh Dinda, Adinda Winata. Influencer yang sedang naik daun.
Tentu saja Amara kenal siapa lelaki berkacamata yang bersama Dinda. Karena lelaki itu sering masuk di tiap video tiktoknya. Raja, pacarnya.
Ada yang kontras dari lingkaran itu, bagaimana Dirja terlihat lebih hidup daripada saat berada di depannya tadi.
Amara menunggu waktu. Ia bergabung dengan beberapa perancang busana lain yang juga datang dalam pesta penutupan ini. Bercengkerama dengan ramah dan ceria. Elli sendiri yang baterai sosialnya selalu lebih penuh daripada Amara sudah berkeliling lagi dengan papanya. Sedangkan Amara sendiri mundur sebentar untuk mengambil minumnya lagi.
“Saya kenal ini.”
Satu suara di sampingnya membuat Amara menoleh, “Oh?” pekiknya pelan saat melihat Dirja berdiri di sampingnya. Jantungnya melonjak kaget, karena tadi ia masih melihat lelaki itu ada di seberang ruangan.
Lelaki itu tersenyum kecil.
Amara lalu menunduk mengikuti arah pandang Dirja yang menatap cincin yang melingkari telunjuk kanannya. Amara tersenyum, “Ini koleksi Ombak-nya Gala Gold,” jawabnya sambil mengangkat tangan kanannya itu.
Dirja mengangguk, “Salah satu series best seller Gala Gold. Anda juga ternyata punya,” timpalnya. Kini mengalihkan pandangannya pada wajah Amara.
“Koleksi sejuta umat, gak, sih? Saya suka karena simple dan bisa di stack dengan mudah dengan seri Gala yang lain,” jawab Amara setuju dengan betapa seri Gala Gold yang ini adalah seri sejuta perempuan.
Senyum Amara menular, Dirja juga tersenyum.
Senyum itu membuat Amara tetiba merasa canggung dengan mata menyipit di depannya.
“Kita belum sempat berkenalan tadi. Saya Dirja,” lelaki itu mengulurkan tangan kanannya yang tadi dipakai menunjuk telunjuk Amara, “Dirja Rana.”
Amara berdiri lebih tegak, lalu menghadapkan dirinya lebih lurus dengan Dirja, “Amara,” katanya sambil menjabat tangan Dirja yang terasa kokoh dan lebih besar dari tangannya. Hangat juga. “Nama saya Asmara Danya, tapi panggil aja saya Amara,” lengkapnya dengan senyum yang mengembang lebar.
Pandangan Dirja turun menatap tangan Amara dalam genggamannya, senyumnya kembali naik, “Sepertinya kamu sudah tau siapa saya?” tebaknya.
Bibir Amara mengatup dengan mata melebar, ia mengangguk, “Teman saya yang memberi tau,” jawabnya sambil mengarahkan telunjuknya ke belakang bahu, “maaf tadi saya gak mengenali anda,” pelannya dengan senyum meminta maklum.
Melihat kilat tidak nyaman itu, Dirja terkekeh pelan lalu menggeleng, “Tidak semua orang kenal saya, Amara.”
Oh? Mata Amara mengerjap pelan, kenapa ia merasa suka pada bagaimana Dirja mengucapkan namanya? Kenapa rasanya ada yang istimewa dalam namanya itu?
“Bisa dibilang identitas saya masih tersembunyi,” lanjut Dirja lalu melepaskan tangan Amara setelah mengeratkan genggaman jabat tangannya sekali lagi.
Amara menatap tangan kanannya, menariknya pelan, lalu memegang tas dengan kedua tangannya. Sisa hangat tangan Dirja masih terasa di telapak tangannya. “Maksudnya masih tersembunyi?”
Bahu Dirja terangkat pelan. “Kamu tau saya yang mana?”
Pertanyaan itu membuat dua jawaban muncul di kepala Amara. Lalu pandangan mata cemerlangnya menatap Dirja dengan tatapan yang membuat lelaki itu lagi terkekeh.
“Dunia ini kecil, kan?”
Kepala Amara mengangguk, “Apalagi dunia fashion ini juga saling berhubungan, Pak Dirja,” jawabnya setuju, “tapi saya baru ingat dengan itu saat anda bertanya. Karena begitu anda ada di depan saya, yang saya lihat adalah calon CEO Gala Gold.”
Mata Dirja melebar, “Biasanya yang lebih menarik adalah skandal bukan?”
Lagi, Amara mengangguk, “Menarik hanya untuk dibicarakan sekarang. Ada orang yang mungkin akan menganggap itu hal yang seru untuk dibahas. Namun kemalangan orang lain bukan hal yang bisa saya anggap hal yang menarik. Saya sendiri tidak suka saat kemalangan saya jadi bahan seru-seruan orang.”
Jawaban Amara membuat tatapan Dirja terpaku. Menatap perempuan yang senyumnya hilang sedetik itu.
“Saya lebih tertarik dengan identitas anda yang lain.”
Lanjutan ucapan Amara membuat Dirja tersenyum lagi.
“Benar. Saya sudah lama berniat menghubungi Gala Gold,” potong Amara dengan lebih antusias.
Dirja mengangkat kedua alisnya. Perubahan nada suara Amara yang tadi terasa sendu jadi penuh semangat membuatnya terpana sekali lagi.
-o0o-