bc

Amara: Mencintai Tunangan Sepupuku

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
boss
heir/heiress
drama
sweet
bxg
bold
city
polygamy
wild
like
intro-logo
Uraian

Kedatangan Dirja Rana Manggala dan keluarga Manggala ke rumah kakeknya membuat Asmara Danya Wisesa bertanya-tanya. Pasalnya, ia baru saja memutuskan hubungan dengan lelaki itu. Bukan karena ada hal buruk yang dilakukan Dirja. Bukan karena lelaki itu selingkuh, bukan juga karena Dirja tega memukulnya.Tidak.Mereka berpisah karena Amara yang tidak percaya kalau cinta harus dibuktikan dengan menikah.Pernikahan Mama dan Papanya dulu memang indah dan bahagia, namun pernikahan itulah yang membuat Amara menjadi sebatang kara seperti sekarang. Kawin lari mereka adalah bencana yang membuatnya jadi hidup sendirian di tengah keluarga kakeknya yang beracun. Kakeknya yang memaksakan semua yang diinginkannya pada hidup Amara, Tante Indi yang selalu memandangnya dengan sinis, perebutan posisi CEO di Wise Corp dengan Sakala, dan Nalika yang ramah pada semua orang namun selalu mengabaikannya.Semua itu sudah cukup untuk membuatnya tidak percaya pada pernikahan itu bisa membawa kebahagiaan dalam hidup. Mama dan Papanya mungkin bahagia, tapi bagaimana dengan ia sekarang?Namun Dirja yang datang bukan untuknya melainkan untuk Nalika Radia Wisesa, sepupunya itu, membuat hatinya tercabik. Ia menghadang Dirja tanpa ragu hari itu. Ia menatap apa Dirja benar sudah tidak mencintainya dan memilih sepupunya. Tapi pertanyaan Dirja padanya membuat semua sisa pertahanannya runtuh.

“Aku menawarkan cinta, Amara. Tapi kamu memilih luka. Inikah yang kamu inginkan? Perasaan terluka seperti ini?”

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Asmara Danya, Si Anak Hasil Kawin Lari
Parkiran luas di dalam area rumah kakeknya, rumah besar keluarga Wisesa itu sudah penuh oleh mobil-mobil yang ia kenali. Asmara Danya Wisesa –atau yang biasa dipanggil Amara, memarkirkan Audi A5 berwarna putihnya di tempat yang masih kosong. Ia menurunkan sunvisor, menatap pada cermin, menatap wajahnya yang sudah dirias. Make up tipis sehari-hari yang tidak mencolok. Tangannya meraih pouch make up yang selalu ada di sana, mengambil lipstik berwarna nude, lalu mengoleskannya ke bibirnya yang penuh. Ia mengatupkan bibir dan merapikan dengan jari telunjuknya. Lalu terpaku menatap dirinya sendiri. “Cantik banget pacar aku.” Telinganya masih mendengar satu pujian dari orang yang sudah ia dorong begitu jauh. Pujian yang biasa ia terima saat sedang membereskan make up-nya, saat ia sedang tersenyum, atau setiap kali mereka selesai berciuman. Pujian yang selalu sukses membuatnya merasa dicintai. Tapi itu dulu. Itu kemarin. Sebelum Amara tahu bahwa ada satu hal yang tidak akan bisa mereka sepakati bersama. Satu hal yang sulit untuk Amara mengerti sendiri. Bahwa ia tidak ingin menikah. Ia tidak ingin terikat dengan sebuah janji yang hanya akan membawa kesengsaraan. Ia pikir begitu. Itulah yang membuatnya mendorong lelaki itu jauh-jauh. Memutuskan hubungannya dan menghindarinya selama hampir seminggu ini. Kepala Amara menggeleng kemudian, menggerakan mutiara yang tergantung di tusuk konde berkepala kupu-kupu yang menyangga sanggulan rambutnya. “Jangan dipikirin lagi!” perintahnya pada diri sendiri. Amara menatap matanya yang hari ini memakai softlens minus tanpa warna, yang memperlihatkan warna mata aslinya. Cokelat terang yang cemerlang. Menatap matanya sendiri untuk meyakinkan dirinya. Meyakinkan hatinya. Tangannya bergerak menutup sunvisor. Ia beralih pada tasnya hari ini, Chanel 25 medium berwarna burgundi yang menjadi hadiah ulang tahun ke dua delapan dari kakeknya, Darja Hadi Wisesa. Merapikan yang ada di dalamnya, memindahlan lipstik yang dipakainya, menyemprotkan parfum sekali lagi. Juga memastikan inhalernya ada di sana. Asma-nya selalu kambuh jika ada di sini. Karena rumah kakeknya berada di wilayah dingin Lembang, yang selalu berhasil membuat jalan napasnya menutup. Kini Amara beralih pada sandalnya yang bergambar bunga matahari, menunduk menggantinya dengan Manolo Blahnik Maysli berwarna hitam. Ia meraih kunci lalu membuka pintu mobil. Turun dengan tangan mengamit tasnya. Lalu menutup kembali pintu mobil, terakhir menekan kunci. Saat berbalik, ia menyipit menatap matahari pagi yang terasa hangat menyentuh kulit wajahnya. Amara menarik napas, wangi segar udara pagi dan sekelilingnya yang ditumbuhi pohon pinus membuat jalan napasnya lega. Matanya menutup sebentar, merasakan hening, damai, yang terdengar beberapa cicit burung dan suara dari rimbunan pohon yang ada di sisi kiri kanan rumah. Kepalanya menunduk, membuka matanya menatap kebaya berpotongan kutubarunya hari ini. Kebaya organza berwarna pink blush yang sederhana, dengan kamisol senada. Ia padukan dengan celana panjang bahan berwarna cream. Tidak mencolok. Dan tidak akan membuat Nalika kalah dari penampilannya yang biasa-biasa ini. Yah, benar. Tujuannya datang ke kediaman kakeknya adalah untuk menghadiri acara pertemuan sepupunya, Nalika Radia Wisesa. Yang akan bertemu dengan calon suaminya. Calon suami? Amara tidak yakin ingatannya benar. Tapi yang ia tahu adalah Nalika hari ini akan bertemu dengan seorang lelaki. Dijodohkan dengan entah siapa. Kemarin seluruh keluarganya datang dadakan untuk fitting baju di butik miliknya, Kupu. Acara pertemuan dadakan ini membuatnya rela direpotkan karena semua orang jadi memuji bagaimana pelayanan Kupu untuk semua orang. Jadi, disinilah ia sekarang. Menjadi anggota keluarga yang baik. Langkahnya kemudian membawa ke arah tangga rendah yang menjadi jalan menuju teras lebar dengan tiang tinggi di kedua sisi tangga. Ada dua patung singa juga di sana. Amara melewatinya begitu saja, lalu terus berjalan menuju pintu tinggi yang pagi ini sudah terbuka lebar. Ada beberapa orang asisten rumah yang menyapanya di pintu masuk. Amara tersenyum ramah mengangguk pelan. Begitu masuk ke dalam, tangga yang berada di foyer sudah dihias dengan cantik. Wangi bunga-bunga langsung terhidu olehnya, membuat hidungnya gatal. Tangannya naik untuk menggosok ujung hidung macungnya. Sementara kepalanya menoleh ke lorong sebelah kanan tangga, di mana pintu menuju ruang tamu yang biasanya tertutup, kini terbuka lebar. Ruangan itu sudah terang benderang, juga seperti di foyer ini, di dalam sana sudah penuh oleh hiasan bunga. Amara tidak yakin bisa bertahan berapa lama di sana tanpa bersin. Mengalihkan pandangannya, Amara berjalan ke arah kiri tangga, melewati pintu tertutup menuju ruang kantor Kakek, melewati pintu powder room, lalu berbelok di lorong menuju ruang keluarga di sisi kiri. Sebelum masuk ia sudah mendengar obrolan-obrolan dari dalam. Dan benar saja, semua keluarga besar sudah ada di sana. Ia mengucapkan salam sekenanya lalu berjalan ke arah semua orang. Senyum lebar ia pasang di bibirnya, menyapa dengan ramah dan mencium tangan kakeknya, tantenya, omnya, dan bertegur sapa dengan semua adik-adik sepupunya yang juga datang di acara hari ini. “Kalau lu rencananya kapan, Kak?” tanya Khaira yang sedang menggendong bayi laki-lakinya yang berusia enam bulan, Aidan. Mata Amara melirik adik sepupunya, anak pertama dari Tante Cintia. Tante Cintia adalah anak ketiga kakeknya, adik Papa Amara. Melirik Khaira dengan lirikan tidak berminat. Kapan dalam pertanyaan ini sudah Amara kenal sekali kemana tujuannya, “Gue sih gak niat menikah, Khai,” jawabnya sambil menghempaskan diri ke sofa. Menyimpan tas di samping kirinya. “Gak baik bilang gitu, Mara,” Cintia menimpali dari sofa sebelah Kakek, di seberang duduknya. Pandangan Amara kini menatap bergantian Cintia dan Kakek yang sedang sama-sama menatapnya. Ia mengangkat bibirnya, tersenyum sampai terlihat giginya yang putih bersih. Matanya dibuat menyipit sebagai bentuk meyakinkan kalau ia hanya tersenyum pada keduanya. “Asal gak kawin lari kayak Papanya dulu,” sahut satu suara di belakang. Suara yang menimpali ucapan itu sambil berjalan menjauh. Amara sangat mengenal suara ini. Suara Indi Jandra, tantenya yang kedua, ibu dari Nalika. Cengirannya turun, menghilang tanpa jejak. Ia menarik napasnya. Berusaha menahan diri untuk tidak menjawab apapun. “Gak usah ditanggapi,” Cintia berbisik dengan tangan kanannya naik membawa jemarinya ke sisi bibirnya yang dihiasi lipstik merah maroon. Matanya menyipit-nyipit dengan lirikan yang mengikuti gerakan kakak iparnya kembali ke lantai dua. Bibir Amara dipaksa melengkung lagi, ia membuka tasnya, “Oh, inhaler aku ketinggalan, aku ambil dulu ya, Tante, Kakek,” pamitnya sambil berdiri, menyampirkan tas di bahu kiri. Ia tersenyum juga pada Khaira dan menoleh pada Aidan yang sedang tertidur pulas. Kakinya melangkah berbalik kembali keluar rumah besar itu. Asmanya tidak kambuh. Tapi ia merasa sesak di dalam sana. Berdiri bersandar di samping mobilnya, Amara tidak mau masuk sebelum acara dimulai. Sedikit menyesal karena sudah datang lebih awal. Tapi jika tidak begitu, Kakeknya pasti akan menatapnya dengan tajam dan memberinya wejangan kesopanan sekali lagi. Setelah itu Amara bisa mendengar lagi bagaimana kakek akan kembali memintanya tinggal di rumah supaya bisa lebih menjaga sopan santun. Itu tidak akan terjadi. Ia tidak bisa menukar kebebasannya begitu saja. Sudah cukup ia berada di dalam rumah besar yang menyesakkan ini. Amara menunduk menatap ponselnya. Tangan kananya menopang ponsel sementara tangan kirinya masuk ke saku celana. Menunggu waktu sambil mengecek beberapa pekerjaanya. Tiga bulan lagi sebelum Jakarta Fashion Week dan apa yang ia siapkan sejak awal tahun sudah selesai satu per satu. Beberapa brand yang bekerja sama dengan Kupu juga sudah mengirimkan hasil pekerjaan mereka. Senyum Amara naik di bibirnya saat melihat laporan dari Tita, salah satu anggota tim di Kupu. Bahwa mereka sudah selesai quality control. Amara menghentikan gerakan jarinya di atas layar saat telinganya mendengar suara yang sudah ia kenal. Suara mobil GClass yang ia yakin ia kenali. Kepalanya terangkat, mengalihkan pandangannya dari layar ponsel di tangannya. Matanya berkedip saat ia benar-benar mengenali mobil hitam itu. Nomor polisinya juga. Dan siluet lelaki yang berada di balik kemudi itu juga. Mercy Gclass itu berhenti tepat di belakang mobilnya. Jantung Amara berdebar hanya dengan melihat siluet lelaki yang memakai kacamata hitam di balik kemudi. Melihat tangan kekar yang biasa menggenggam tangannya naik dan melepas kacamata hitam itu, seperti yang biasa Amara lihat. Ia bisa menebak apa yang selanjutnya dilakukan lelaki itu. Menyugar rambutnya, menarik poni yang menutup keningnya ke belakang, menyisakan berhelai-helai rambutnya di dahi. Itu adalah kebiasaan Dirja, pacarnya. Mantan, koreksinya. Karena ia baru disadarkan kalau lelaki itu bukan lagi pacarnya. Tapi Amara baru menyadari satu hal lainnya saat matanya mengedarkan pandangan. Bukan hanya mercedes Dirja yang datang. Tapi juga beberapa mobil di belakang yang juga ikut berhenti di parkiran. Ada apa sebenarnya? Siapa yang dijodohkan dengan Nalika? -o0o-

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.8K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Kali kedua

read
220.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook