2. Asmara Danya, Anak Hasil Kawin Lari

1405 Kata
Amara menatap bagunan besar di depannya. Menarik napas pelan, meyakinkan diri sebelum masuk ke dalam sana. Langkahnya kemudian membawa ke arah tangga rendah yang menjadi jalan menuju teras lebar dengan tiang tinggi di kedua sisi tangga. Ada dua patung singa juga di sana. Amara melewatinya begitu saja, lalu terus berjalan menuju pintu tinggi yang pagi ini sudah terbuka lebar. Ada beberapa orang asisten rumah yang menyapanya di pintu masuk. Amara tersenyum ramah mengangguk pelan. Begitu masuk ke dalam, tangga yang berada di foyer sudah dihias dengan cantik. Wangi bunga-bunga langsung terhidu olehnya, membuat hidungnya gatal. Tangannya naik untuk menggosok ujung hidung mancungnya. Sementara kepalanya menoleh ke lorong sebelah kanan tangga, di mana pintu menuju ruang tamu yang biasanya tertutup, kini terbuka lebar. Ruangan itu sudah terang benderang, juga seperti di foyer ini, di dalam sana sudah penuh oleh hiasan bunga. Amara tidak yakin bisa bertahan berapa lama di sana tanpa bersin. Mengalihkan pandangannya, Amara berjalan ke arah kiri tangga, melewati pintu tertutup menuju ruang kantor Kakek, melewati pintu powder room, lalu berbelok di lorong menuju ruang keluarga di sisi kiri. Sebelum masuk ia sudah mendengar obrolan-obrolan dari dalam. Dan benar saja, semua keluarga besar sudah ada di sana. Ia mengucapkan salam sekenanya lalu berjalan ke arah semua orang. Senyum lebar ia pasang di bibirnya, menyapa dengan ramah dan mencium tangan kakeknya, tantenya, omnya, dan bertegur sapa dengan semua adik-adik sepupunya yang juga datang di acara hari ini. “Kalau lu rencananya kapan, Kak?” tanya Khaira yang sedang menggendong bayi laki-lakinya yang berusia enam bulan, Aidan. Mata Amara melirik adik sepupunya, anak pertama dari Tante Cintia. Tante Cintia adalah anak ketiga kakeknya, adik Papa Amara. Melirik Khaira dengan lirikan tidak berminat. Kapan dalam pertanyaan ini sudah Amara kenal sekali kemana tujuannya, “Gue sih gak niat menikah, Khai,” jawabnya sambil menghempaskan diri ke sofa. Menyimpan tas di samping kirinya. “Gak baik bilang gitu, Mara,” Cintia menimpali dari sofa sebelah Kakek, di seberang duduknya. Pandangan Amara kini menatap bergantian pada Tante dan Kakek yang sedang sama-sama menatapnya. Ia mengangkat bibirnya, tersenyum sampai terlihat giginya yang putih bersih. Matanya dibuat menyipit sebagai bentuk meyakinkan kalau ia hanya tersenyum pada keduanya. “Asal gak kawin lari kayak Papanya dulu,” sahut satu suara di belakang. Suara yang menimpali ucapan itu sambil berjalan menjauh. Amara sangat mengenal suara ini. Suara Indi Jandra, tantenya yang kedua, ibu dari Nalika. Cengirannya turun, menghilang tanpa jejak. Ia menarik napasnya. Berusaha menahan diri untuk tidak menjawab apapun. “Gak usah ditanggapi,” Cintia berbisik dengan tangan kanannya naik membawa jarinya ke sisi bibirnya yang dihiasi lipstik merah maroon. Matanya menyipit-nyipit dengan lirikan yang mengikuti gerakan kakak iparnya kembali ke lantai dua. Bibir Amara dipaksa melengkung lagi, ia membuka tasnya, “Oh, inhaler aku ketinggalan, aku ambil dulu ya, Tante, Kakek,” pamitnya sambil berdiri, menyampirkan tas di bahu kiri. Ia tersenyum juga pada Khaira dan menoleh pada Aidan yang sedang tertidur pulas. Kakinya melangkah berbalik kembali keluar rumah besar itu. Asmanya tidak kambuh. Tapi ia merasa sesak di dalam sana. Berdiri bersandar di samping mobilnya, Amara tidak mau masuk sebelum acara dimulai. Sedikit menyesal karena sudah datang lebih awal. Tapi jika tidak begitu, Kakeknya pasti akan menatapnya dengan tajam dan memberinya wejangan kesopanan sekali lagi. Setelah itu Amara bisa mendengar lagi bagaimana kakek akan kembali memintanya tinggal di rumah supaya bisa lebih menjaga sopan santun. Itu tidak akan terjadi. Ia tidak bisa menukar kebebasannya begitu saja. Sudah cukup ia berada di dalam rumah besar yang menyesakkan ini. Amara menunduk menatap ponselnya. Tangan kanan menopang ponsel sementara tangan kirinya masuk ke saku celana. Menunggu waktu sambil mengecek beberapa pekerjaanya. Tiga bulan lagi sebelum Jakarta Fashion Week dan apa yang ia siapkan sejak awal tahun sudah selesai satu per satu. Beberapa brand yang bekerja sama dengan Kupu juga sudah mengirimkan hasil pekerjaan mereka. Senyum Amara naik di bibirnya saat melihat laporan dari Tita, salah satu anggota tim di Kupu. Bahwa mereka sudah selesai quality control. Amara menghentikan gerakan jarinya di atas layar saat telinganya mendengar suara yang sudah ia kenal. Suara mobil G Class yang ia yakin ia kenali. Kepalanya terangkat, mengalihkan pandangannya dari layar ponsel di tangannya. Matanya berkedip saat ia benar-benar mengenali mobil hitam itu. Nomor polisinya juga. Dan siluet lelaki yang berada di balik kemudi itu juga. Mercy G Class itu berhenti tepat di belakang mobilnya. Jantung Amara berdebar hanya dengan melihat siluet lelaki yang memakai kacamata hitam di balik kemudi. Melihat tangan kekar yang biasa menggenggam tangannya naik dan melepas kacamata hitam itu, seperti yang biasa Amara lihat. Ia bisa menebak apa yang selanjutnya dilakukan lelaki itu. Menyugar rambutnya, menarik poni yang menutup keningnya ke belakang, menyisakan berhelai-helai rambutnya di dahi. Itu adalah kebiasaan Dirja, pacarnya. Mantan, koreksinya. Karena ia baru sadar kalau lelaki itu bukan lagi pacarnya. Tapi Amara baru menyadari satu hal lainnya saat matanya mengedarkan pandangan. Bukan hanya mercedes Dirja yang datang. Tapi juga beberapa mobil di belakang yang juga ikut berhenti di parkiran. Kini, penyesalannya bukan hanya karena ia datang terlalu pagi. Ia sekarang menyesal karena sudah datang kemari. -o0o- Acara dilanjutkan dengan jamuan makan siang yang sudah disiapkan catering. Amara melipir mundur saat semua orang sibuk dengan piringnya masing-masing. Tangannya meraih beberapa helai tisu dari atas meja samping. Lalu mundur keluar dari ruang tamu. Hidungnya yang selalu lebih sensitif di rumah ini, ditambah dengan banyaknya bunga yang menghias juga. Matanya yang berair tidak mungkin ia perlihatkan di depan semua orang. Ia ingin bergegas menjauhkan diri sebelum kelepasan bersin di tengah-tengah semua orang yang sedang makan. Langkahnya menjauhi ruang tamu, maju melewati lorong menuju foyer. Ia ingin membersihkan hidungnya. Ia ingin— Grep! Tangan kanan Amara dicekal. Gadis itu menghentikan langkahnya, menarik tangannya dengan otomatis. Tapi kakinya kembali melangkah dengan terpaksa saat tangannya ditarik maju. Ia melihat punggung yang ia kenal mendahului langkahnya, menjauhi ruang tamu, dengan tangannya yang ditarik. Ia tidak bisa berteriak dan menarik perhatian banyak orang. Jadi ia membiarkan langkahnya mengikuti Dirja yang menariknya. Benar, itu Dirja dan genggaman tangannya yang Amara kenal. Kepalanya menoleh pada pintu ruang tamu yang terbuka. Tidak ada yang menyadari kalau ia menghilang dari dalam sana. Tidak ada yang mencari Dirja juga dari sana. Ia kembali menatap punggung Dirja yang membawanya menjauh dari ruang tamu. Menatap nanar pada lelaki yang kini membawanya itu. Lelaki itu membuka pintu powder room, menarik Amara masuk dan menutup pintunya lagi. Kalah tenaga, Amara membiarkan dirinya terpojok. Punggungnya menekan pintu tertutup saat Dirja yang wajah marahnya terpaku menatap wajahnya. Tangannya maju, mendorong d**a bidang Dirja. Tempat dulu ia menyandarkan kepalanya. Kini ia dorong lagi seperti kemarin. Napasnya naik turun menahan marah. Menahan kaget. Menahan takut jika ada yang melihat mereka masuk kedalam sini berdua. Tangannya masih berusaha mendorong, namun kedua tangan Dirja meraih tangannya, menggenggamnya erat sekali. Amara yang tadi mendorong kini menarik tangannya dari cekalan Dirja. Tapi Dirja tidak membiarkannya, ia makin menariknya dan membawa kedua tangan itu naik ke atas kepala Amara, menahan menekan pergelangan tangannya di sana, menekannya ke pintu. “Apa yang kamu lakukan, Dirja!” desis Amara. Lagi-lagi menahan suaranya agar tidak bisa didengar orang-orang. Matanya melihat bagaimana wajah dengan rahang mengetat itu berada di depannya. Ia takut sekarang. “Aku melakukannya tepat seperti yang kamu bilang, Amara!” jawab Dirja dengan desisan yang sama. Jelas sekali amarah menguasai dirinya. “Apa ini yang bisa kamu lakukan? Membuat aku terpojok dan kesakitan?” tanya Amara masih menahan amarah yang sama. “Sama seperti yang kamu lakukan padaku,” jawab Dirja. Amara melihat bagaimana wajah Dirja menunduk di depan wajahnya. “Aku menawarkan cinta, Amara. Tapi kamu memilih luka. Inikah yang kamu inginkan? Perasaan terluka seperti ini?” Suara lirih Dirja membuat mata Amara berkedip pelan. Tangannya yang ditahan Dirja di atas kepalanya memang terasa sakit. Tapi melihat lelaki yang ada di depannya ini menunduk perlahan, matanya yang tadi berkilat marah sekarang berkedip lemah, kehilangan aura permusuhan, dan perlahan melepaskan cekalan tangannya. “Aku cinta kamu. Tidak bisakah kamu hanya percaya itu?” tanyanya sekali lagi. Tangan Amara yang diturunkan Dirja mengepal begitu saja, masih ada dalam genggaman tangan yang hangatnya sama. Hatinya makin tercabik dengan ucapan yang Dirja berikan padanya. Ia juga tidak mengerti hatinya ingin apa. “Kangen banget sama kamu,” bisik Dirja lagi, sebelum tambah menunduk, mengikis jarak lalu tanpa permisi mendaratkan bibirnya di bibir Amara begitu saja. Amara mengerjap kaget, tangannya mengeratkan kepalan di dalam genggaman tangan Dirja. Tapi dengan sintingnya, ia menutup mata dan membalas ciuman itu dengan sama rindunya. -o0o-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN