3. Masih Kamu

1497 Kata
“Kamu membalasnya, Cantik,” bisik Dirja di bibir Amara yang bergetar dan basah. Pelan Amara membuka matanya, saat merasakan kening lelaki itu mendarat di atas keningnya, merasakan ujung hidung mereka yang saling menyentuh, merasakan napas mereka yang saling bersahutan. Pandangan matanya langsung tertuju pada tatapan yang ia rindukan. Tatapan penuh cinta yang bisa membuat hatinya menghangat. Bukan tatapan penuh amarah seperti tadi. Bukan tatapan permusuhan seperti tadi. “Kamu baru saja bertunangan dengan sepupu aku, Dirja!” desis Amara. Napasnya baru kembali setelah tadi seakan ditarik habis oleh ciuman Dirja yang sama sekali tidak berubah. Masih sama seperti ciuman Dirja yang biasanya. Lembut, pelan, tapi membuat semua kewarasan yang ada di kepalanya tersedot keluar. Mereka masih di dalam powder room, masih di rumah Kakek Amara, masih dalam acara perkenalan perjodohan yang ternyata dilanjutkan dengan pertunangan yang mengikat Nalika dan Dirja di awal hubungan mereka. Tapi dengan gilanya ia membalas ciuman itu dan membuat dirinya ada dalam situasi seperti ini. Dirja menyeringai kecil, “Dan kamu baru saja membalas ciuman tunangan sepupu kamu, Amara!” balasnya. Ia menarik diri, memberi jarak pada wajah mereka. Tangan kanannya merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sapu tangan dari sana. Dengan lembut, jemari Dirja naik, mengusap bibir basah Amara dengan sapu tangannya. Lalu beralih mengusap bibirnya sendiri dengan lembar yang sama. “Kamu gak bermoral!” Amara menaikkan suaranya. “Dan kamu pikir kamu bermoral.” Amara mendorong d**a Dirja, kali ini berhasil membuat lelaki itu mundur, menabrak pelan meja marmer yang terpasang wastafel di atasnya. Dirja terkekeh pelan, ia berdiri dengan santai, tangannya melipat sapu tangan dan memasukan kembali ke dalam saku celananya sebelum melipat tangannya di depan d**a. “Keluar! Aku gak mau ada yang lihat kita disini. Aku gak mau jadi pelakor,” Amara mengendik pada pintu di belakang pungungnya. Setelah anak hasil kawin lari, Amara tidak mau menambah julukan dirinya di rumah ini dengan sebutan pelakor. Ia sudah cukup dengan itu sekarang. Kepala Dirja memiring, menatap wajah memerah Amara di depannya. Wajah yang selalu merona setiap kali mereka selesai berciuman. Wajah yang selalu cantik di matanya. Wajah yang selalu ingin ia lihat. “Bagaimana kamu bisa jadi pelakor saat kamu jadi pemiliknya sejak awal?” Amara yang sejak tadi mehindari tatapan Dirja menoleh sekali lagi. “Keluar atau kita akan ketahuan seperti ini dan mengacaukan semuanya?!” marah Amara. “I loved you enough to let you ruin me, Amara. Aku bahkan sudah kacau sekarang!” balas Dirja. Bibir Amara bergetar, ia memohon sekali lagi. “Keluar, Akang, aku mohon!” Ia takut ketahuan sampai tidak sadar memakai panggilan yang selama ini ia pakai untuk Dirja. Matanya menutup sebentar, ia mengutuk diri sendiri yang ceroboh. Seringai kecil Dirja naik lagi. Kali ini kembali mengalah pada Amara mungkin tidak akan terlalu merugikannya. “Pikirkan semuanya baik-baik sekali lagi, Sayangku,” ucapnya sambil melangkah mendekat. Tangannya naik mengusap sisi kepala Amara. Salah satu kebiasaan yang sepertinya akan sulit ia hilangkan. Karena jika tidak mengusap sisi kepala Amara, ia merasa pamitannya belum komplit. Mata Amara menutup merasakan sentuhan lembut itu mengusap rambutnya. “Belum terlambat untuk berubah pikiran dan menarik aku kembali,” tutup Dirja sebelum membuka pintu dan keluar setelah sekali lagi menatap sisi wajah Amara yang berbalik memunggunginya. Tangannya menyelipkan benda kecil ke tangan Amara sebelum ia berbalik. Blam! Tangan Amara menutup pintu dan langsung menguncinya. Kakinya yang lemas tidak bisa menopang dirinya. Ia merosot terjatuh, membiarkan dirinya terduduk di lantai marmer yang dingin. Tangan kirinya naik menekan dadanya yang sesak. Tapi ini bukan sesak karena asma-nya. Ini karena harapan yang masih ada di dalam diri Dirja yang tidak bisa ia jadikan kenyataan. Kenapa jadi seperti ini? Lalu dengan terlibatnya Nalika, ia merasa hal ini sudah diluar kendalinya. Ia memang sudah seharusnya pergi. Ia memang sudah seharusnya menolak. Ia hanya berisi kekacauan yang akan tambah membuat Dirja-nya kacau. Ia sudah selesai. Kepalanya menunduk menatap benda berwarna biru di tangan kanannya yang gemetar, benda yang diberikan Dirja padanya. Bunyi napasnya membuatnya menutup mata. -o0o- Setelah tenang, tangan Amara terulur meraih meja marmer yang dipakainya untuk menopang dirinya bangun. Ia berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin bulat di depannya. Wajahnya pucat. Lipstriknya menghilang dari bibirnya. Ulah panas Dirja yang tidak bermoral itu. Ia mengeluarkan lipstik dari dalam tas di bahunya, lalu mengoleskannya ke bibirnya. Tapi otaknya yang sama tidak bermoral dengan lelaki yang baru saja keluar dari sini malah mengingat apa yang sudah mereka lakukan. Bibir Dirja yang meraih bibirnya, melumatnya pelan, mengecup, mengecap, menjelajah lidahnya, dan tidak memberinya waktu untuk menolak. “Mau nolak atau mau lagi?” ejek kepalanya sendiri. Amara mengatupkan bibir, meratakan lipstik dengan jarinya. Lalu menatap kembali dirinya. Tangannya membuka keran dan mencuci tangan. Ia memastikan tampilannya baik-baik saja. Lalu baru bertenaga untuk membuka pintu, menarik napas, dan melangkah keluar dari sana. Dan langkahya berhenti saat mendapati seorang yang ada di luar sana. “Kak Amara?” Kafka mengerutkan keningnya, “kok keluar dari situ?” Adik sepupunya lagi, Kafka, anak bungsu dari Tante Cintia, adik Khaira, duduk di anak tangga paling bawah dengan ponsel di tangannya. Amara bisa melihat game online yang sedang dimainkannya. “Aku emang masuk ke sana tadi buat cuci tangan,” jawab Amara dibuat ringan. “Tapi tadi aku liat Kak Dirja dari sana juga,” ucap remaja lelaki yang baru saja lulus SMA itu. Tangan Amara menunjuk ponsel Kafka, “Kamu dari tadi serius main, jadi gak liat aku lewat dan masuk,” halus Amara menjawabnya. Kafka mengangguk-angguk. “Kamu udah makan?” tanya Amara yang kini malah ikut duduk di samping Kafka. “Nanti aja,” jawab Kafka yang kembali menunduk ke ponselnya. Kali ini Amara yang mengangguk. Matanya melirik permainan yang dimainkan adik sepupunya itu. Ia memang biasa berbasa-basi dengan adik-adik sepupunya. Bahkan dengan Sakala Rangga, kakaknya Nalika, yang dalam kacamata Kakek sedang berebut kekuasaan di Wise Corp untuk memantaskan diri menjadi CEO di sana. Amara dan Sakala cukup dekat untuk saling membantu. Semua berbeda saat dengan Nalika dan Tante Indi Jandra. Amara tidak pernah dekat dengan keduanya. Tante Indi yang selalu sinis padanya dan mengungkit kalau ia adalah anak hasil kawin lari. Juga Nalika yang sama-sama dekat dengan semua orang tapi selalu menghindari dirinya. “Kak Mara udah makan?” tanya Kafka di sela waktu mainnya. Kepala Amara menggeleng, “Belum,” jawabnya jujur. Ia memang tidak ingin makan apapun. Ia hanya ingin acaranya cepat selesai dan ia bisa pulang ke apartemennya. Ia menoleh ke ruang tamu yang masih ramai. Lalu mengembuskan napas pelan. “Makan dulu, Kak, pasti belum makan dari pagi, kan?” tanya Kafka perhatian, “kamu butuh banyak energi untuk bisa senyum di acara kayak gini. Soalnya dulu, Kak Khai suka ngeluh capek dan lapar tiap kali datang ke acara tunangan temennya.” “Dan apa yang selalu dikeluhkan Kak Khai?” Kafka menoleh dan memutar bola matanya jengah. Lalu membuat suara yang dimiripkan dengan Khaira, “Gue kapan dilamar? Capek banget ditanya-tanya terus kapan kawin!” Ujung bibir Amara terangkat melihat tawa Kafka meroasting kelakuan kakak sulungnya. “Sekarang dia udah kawin dan keluhannya beda lagi,” lanjut Kafka. “Apa?” tanggap Amara. Kafka berdeham bersiap meniru suara Khaira lagi, “Kapan gue tidur? Kok Aidan nangis terus?!” kekehnya pelan. Ditimpali Amara yang juga mengekeh. “Ekhem!” Kafka dan Amara menoleh, Khaira ada di sana dan menatap Kafka murka. “Lu emang udah kangen sama cubitan gue, ya, Kaf?” tanyanya horor. Tangan kanan Kafka membuat gestur hormat lalu berdiri dan naik ke atas menghindari amukan kakaknya. “Gue gak ikutan, Khai,” Amara mengangkat tangan. Tatapan penuh permusuhan Khaira menghilang begitu menatap Amara, “Gue diminta cari elu, Kak. Kakek bilang belum liat lu makan,” ucap Khaira pelan. Meski Khaira lebih tua setahun darinya, sepupunya itu tetap memanggilnya ‘kakak’. “Oke, ini baru mau makan,” jawabnya sambil bangkit berdiri. Amara menarik napas, berjalan berangkulan dengan Khaira, kembali ke ruang tamu besar yang masih penuh dengan kedua keluarga yang berbahagia itu. -o0o- Tanpa mengganti bajunya, Amara menglemparkan dirinya sendiri ke atas kasur. Biasanya, ia adalah orang yang akan mengurus diri sendiri terlebih dulu sebelum naik ke atas kasur. Baginya, kasurnya adalah tempat paling bersih dari urusan luar. Tapi kali ini, ia hanya ingin membiarkan dirinya beristirahat sebentar. Tubuhnya kehilangan banyak energi, hatinya masih sakit, kepalanya kosong, dan ia merasa serba salah. Ia berbaring, lalu terlentang, menatap langit-langit kamar. Memikirkan apa yang salah sampai jadi seperti ini? Memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Amara bangkit dari berbaringnya. Saat seperti ini, ia harus bisa mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Ia melangkah ke walk in closet. Sebenarnya kamar kedua di apartemennya ini, tapi ia mengalih fungsikannya jadi walk in closet yang menampung semua baju-bajunya. Setelah mengganti setelan kebaya dan celana panjang dengan celana pendek dan kaus oversizenya yang nyaman, Amara masuk ke dalam kamar mandi. Bukan untuk mandi, tapi tangannya mengambil sikat dan sabun pembersih kamar mandi. Sambil menggosok setiap sisi keramik, ia akan memikirkan apa yang harus ia lakukan dan apa yang bisa ia selamatkan dari dirinya. -o0o-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN