Tangannya menahan dan memegang kepala shower berbentuk kotak itu, menghapuskan semua sabun di cermin bulat di wastafel, menata kembali semua sabun, dan body care dan botol-botol skincare-nya. Menunduk menggosok lantai kamar mandi dengan lebih serius. Lalu setelah semua mendapat perhatiannya, ia tersenyum bangga.
Kamar mandinya kinclong dan menyenangkan mata.
Membuatnya ingin ikut membersihkan diri.
Amara keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambutnya. Perasaannya jauh lebih tenang meskipun belum sampai pada kesimpulan apapun. Kaus dan celana pendeknya sudah berganti dengan dress katun berwarna hijau pucat dengan aksen tali berbentuk daun-daun kecil di pundaknya. Kakinya melangkah ke dapur, di sisi kiri kamar mandi, menarik pintu kulkas bespoke dan mengeluarkan satu botol air mineral.
Ia melangkah ke ruang tamu dengan sofa two seat berwarna kuning dan meja rendah berbentuk bulat. Ruang tamu yang sekaligus jadi ruang menonton tv, karena ada smart tv yang menampilkan lukisan bunga matahari di sisi seberang sofa. Juga jadi ruang kerja, karena ada meja lebar dengan mesin jahit dan semua yang Amara butuhkan di sana.
Tapi langkahnya melewati semua itu. Melewati ruangan yang juga menyimpan semua kenangan dengan Dirja. Mereka sering duduk berdua dan membicarakan banyak hal. Mereka sering memasak bersama dan makan berdua. Mereka sering hanya duduk diam dan menatap tv yang memutar drama cina atau drama korea sambil berpegangan tanga, atau berpelukan.
Atau berakhir dengan berciuman.
Amara membuka pintu balkon. Membiarkan angin sore menerobos masuk, menerbangkan tirai tipis berwarna putih transparan. Tapi matanya mengarah pada awan-awan yang bergerombol di langit sore Bandung. Juga pada sinar matahari yang membentuk garis-garis di antara celah awan.
Seperti cahaya itu, Amara berharap ia bisa melewati awan-awan ini dengan baik. Karena sinarnya indah sekali.
Ia selalu menyukainya.
Pemandangan dari balik jendela unit apartemennya. Langit terbentang dan Tangkuban Parahu di kejauhan sana. Rasanya menyenangkan. Rasanya lapang.
Lalu denting suara ponselnya yang entah di mana membuat Amara mengalihkan perhatiannya. Ia menyimpan botol air yang belum sempat diminumnya itu di atas meja kecil di balkon, beralih mencari ponselnya dan menemukannya di tasnya sendiri. Ia membawa ponsel dengan case kuning bergambar bunga matahari itu kembali ke balkon.
Amara duduk di ayunan rotan yang disimpannya di balkon, lalu membuka botol minum dan meminumnya langsung.
Barulah ia membuka ponsel yang masih bercentang-centung itu.
Grup keluarga besar yang ramai. Semuanya membicarakan bagaimana beruntungnya Nalika mendapatkan Dirja sebagai orang yang dijodohkan dengannya.
[Tante Indi: Aku langsung tandain Dirja waktu Papa ajak ke court tenis pertama kali]
[Tante Cintia: Tandain, Sist. Emangnya itu sapi kurban.]
[Tante Indi: Jackpot, Cin. Lebih unggul dari limusin.]
[Nalika: Tunangan aku, ya. Kok disamain sapi.]
Tunangan aku, ya.
Tunangan aku.
Tunangan.
Amara menggigit bibirnya.
[Nalika: Foto-fotonya udah dikirim dari Studio Pipita.]
[Nalika: send 28 picture]
Amara membuka salah satunya. Foto yang memperlihatkan Nalika dengan kebaya nude peach yang bermanik-manik buatannya, dipadukan dengan kain batik yang membalut kaki jenjangnya, dengan riasan wajah dan rambut yang ditata rapi. Berdiri dengan tegap dan senyum yang mengembang menawan. Tangan kanannya ditekuk dan berpose natural di pinggangnya. Sedangkan tangan kirinya melingkari lengan kanan lelaki di sampingnya.
Di sisinya, di samping Nalika yang berdiri, yang di lengan kanannya melingkar tangan Nalika. Dirja Rana Manggala. Yang berdiri tegak. Yang tersenyum samar. Yang berdiri sebagai tunangan Nalika.
Betapa hidup penuh dengan kejutan. Pagi tadi ia datang dengan niat menjadi anggota keluarga yang baik dengan menghadiri acara dari keluarga besarnya. Namun berakhir dengan hati merana seperti ini.
Ia menutup ponselnya. Mengabaikan centung-centung lain yang terdengar masih ramai bersahutan. Amara kembali mengangkat wajah, menatap langit cerah yang terasa seperti mengejeknya kali ini. Karena hatinya tidak secerah itu. Karena sekarang ia mempertanyakan pada dirinya sendiri apa yang sebenarnya sedang ia dan Dirja lakukan?
Tidak.
Mungkin Dirja hanya melakukan apa yang harus ia lakukan. Setelah ia menolak menikah dengannya. Setelah ia menolak untuk membuktikan cinta dengan pernikahan. Yang baginya, pernikahan hanya membawa sengsara. Untuknya, pernikahan mama dan papanya adalah awal kesengsaraannya.
Jika mama dan papa tidak menikah, tidak akan ada dirinya, bukan? Tidak akan ia tinggal sendirian seperti ini.
Ah.
Amara baru akan menutup matanya saat suara yang terdengar adalah nada dering panggilan. Bukan centungan pesan. Ia meraih ponselnya lagi lalu tersenyum kecil, itu Elli. Elliana Sakira Kalam. Sahabatnya.
“Hai El—“ Amara belum selesai menyapa saat suara menggelegar Elli membuatnya menjauhkan ponsel dari telinga.
“GUE LIAT DIRJA TUNANGAN SAMA NALIKA DI IG!”
Suara Elli menghilang. Amara mendekatkan lagi ponsel ke telinga.
“GUE GAK MAU SETENGAH-SETENGAH! LO HARUS CERITA ADA APA! SI DIRJA ITU NGAPAIN. JIR! GUE EMOSI!”
Senang sekali kembali mendengar gelegar suara Elli yang jarang didengarnya selama ini. “Mau ketemu di mana, Neng?” tanya Amara pelan.
“Lu butuh kobam, gak?” tawar Elli.
Amara berkedip. Selama ini, meski Elli adalah pelanggan tetap The Six, club malam mentereng di pusat kota, tapi Amara tidak pernah datang kesana sekali pun. Ia masih berada di jalur baik dan benar karena selalu dapat telepon pengingat dari Pak Zam. Lelaki tua tangan kanan Kakeknya, orang yang lebih dekat dengannya daripada dengan Kakeknya sendiri.
Tapi sepertinya, hari ini berbeda. Ia sepertinya butuh satu hal yang bisa mengalihkan fokus kepalanya dari Dirja ke hal lain. Mabok, misalnya.
“Lu mau jemput gue?” tanya Amara.
“Gas!” seru Elli tanpa jeda.
Amara terkekeh pelan, “Pake baju apa kalau kesana?”
“Jangan pake kebaya, sih yang pasti,” jawab Elli.
Jawaban yang membuat Amara mengikik geli, “Dress merah yang waktu itu gue beli, gimana?”
Terdengar suara Elli yang memekik, “Cantiiik! Sok pake yang itu! Kita kasih liat sama si Dirja kalau Amara Danya itu seksi banget! Kita buat dia nyesel udah tunangan sama Nalika! Lebih aduhai p****t lu daripada p****t si pengacara itu!”
Kikik geli Amara berubah jadi ngakak keras. “Elliana Sakira, lu body shaming banget. Lagian gue gak sebulat itu atuh! Gue masih langsing,” protesnya sambil mengusap kedua mata yang berair karena tawa.
“Gue bilang aduhai, ya, wahai Neng Asmara,” jawab Elli masih ngegas, “bukan bulet tapi aduhai!”
“Oh, oke-oke,” Amara tidak bisa menjawab. Ia hanya mengangguk-angguk.
“Gue jemput sesudah magrib. Kita dinner dulu, kita main dulu, baru kita ke The Six. Bawa jaket, jangan lupa inhaler, make up yang cantik, dan gue harap lu gak terluka sebanyak itu.”
Amara menghentikan tawanya. Menganti dengan haru yang menjalar di hatinya. Bibirnya mencebik, “Mending lu mencak-mencak deh daripada ngomong gitu,” protes Amara yang kini merasa pelupuk matanya perih dan berair.
“Enggak, gue kan paket komplit. Gue bisa mencak-mencak, tapi juga bisa bikin lu terharu. Iya, kan?”
Kepala Amara mengangguk-angguk lagi, “Lu spesial pake ekstra truffle pokoknya.”
“Hm, wagyu A5 gue,” jawab Elli.
Air mata di pelupuk mata Amara kembali naik. Ia lagi-lagi terkekeh pelan oleh jawaban Elli.
“Gue beresin dulu kerjaan ini terus otw ya, Sayangkyu,” ucap Elli dengan nada centil.
“Oke, Yang Mulia Ratu Kobam, akyu tunggu,” jawab Amara yang ikut sinting.
Terdengar muach Elli sebelum telepon itu terputus. Amara menatap ponselnya sekali lagi. Tertegun pelan. Karena ternyata, lockscreennya masih menampilkan fotonya dan Dirja. Dimana Amara masih ingat foto ini diambil di mana. Di halaman belakang rumah Dirja. Setelah foto keluarga dengan semua anggota keluarga Manggala di acara halal bihalal lebaran tahun ini.
Foto ia dan Dirja yang difotokan oleh Bunda.
Bibir Amara kembali naik. Melengkung sendu.
-o0o-