5. Neng Elli

1441 Kata
“PUTUS?” “Sshhh!” Amara menutup mulut perempuan berambut blonde di sampingnya. “Iya, gue putusin Dirja waktu kita gak juga sepakat sama satu hal.” “Satu hal doang, kan?” Elli melepaskan tangan Amara dari mulutnya. Menahan tangan itu di atas meja. “Gue tau apa itu. Menikah. Kalian pasti ngomongin hal itu dan elu keras kepala banget sampe gak mau dengerin Dirja jelasin apa-apa dan ambil keputusan sepihak?” Bener banget lagi! “Gak bisa jawab artinya gue bener, kan?” “Bukan cuma gue yang keras kepala,” pelan Amara. “Iya, lo berdua sama-sama keras kepala!” ralat Elli. Mata dengan bulu mata lentik hasil eyelash extension itu mendelik pada sahabatnya yang sedang manyun-manyun gak jelas di sampingnya. “Terus bisa sampe tunangan sama Nalika itu gimana jadinya?” “Gue juga gak tau,” jujur Amara. Tangan Elli mengibaskan rambut blondenya ke belakang bahu, tatapannya yang dari tadi membelalak dengan kejutan-kejutan cerita sahabatnya yang ia tinggalkan seminggu ke Cina, kini melembut. Dalam waktu seminggu ini, Amara sudah putus dengan pacarnya yang gagah, ganteng, yang langsung klop sejak mereka pacaran enam bulan lalu. Elli pikir, mereka akan langgeng, panjang jodoh, dan semoganya yang ia panjatkan setiap kali bertemu dengan mereka berdua adalah satu. Semoga Dirja bisa membuka hati batu Amara yang tidak percaya pernikahan. Meski yang Elli tahu kalau Amara bukan tidak percaya cinta, ia hanya tidak mau apa yang terjadi padanya terulang lagi. Ketakutan Amara tentang pernikahan yang membawa sengsara untuk anaknya kelak. Seperti dirinya. Trauma itu nyata untuk Amara. Elli mengembuskan napasnya pelan. Sikunya tertekuk menekan di atas meja, kepalan tangannya menopang sisi kepalanya, “Terus tadi gimana? Lu tau gak sih lu datang ke acara apa? Siapa yang mau dijodohin sama Nalika, siapa yang dipilih kakek lu? Kok lu gak aware banget?” “Kok lu judge gue gitu?” Amara memanyunkan bibirnya. Punggungnya menekan sandaran kursi, kepalanya mendongak, dengan pandangan menatap ke langit-langit resto yang penuh dengan bunga-bunga, “Tadi pagi, gue cuma tau kalau di rumah Kakek mau ada acara Nalika. Acara itu juga dadakan, El. Semua orang datang ambil kebaya ke Kupu kemarin. Semua orang taunya kemarin. Gue juga.” Amara menurunkan pandangannya, “Lu sepemikiran gak sih sama gue?” tanyanya dengan mata memicing. Mata Elli ikut memicing, “Karena kesannya dadakan banget. Lu pikir Dirja yang bikin ini?” “Hm,” Amara mengangguk . “Setelah lu putusin, dia liat Nalika dan mau kawin aja sama tuh cewek? Itu artinya dia gak serius ngomongin mau kawin sama elu, kan?” “Menikah, Elliana, menikah. Lu taunya kawin aja,” sergah Amara dengan bibir mengeriting. “Sama aja,” Elli mengibaskan tangannya dan menegakkan punggung. Tangannya meraih kembali gelas jus strawberry di dekatnya dan menyeruputnya sampai habis. “Beda,” Amara menggeleng, “kawin ya lu bisa kawin sekarang. Tapi menikah,” ia menjeda kalimatnya. Kepalanya menggeleng lagi, “Itu beda.” Kini Elli mengangguk setuju, “Gue setuju.” “Tumben,” Amara melirik Elli yang menatapnya serius. “Pernikahan yang ada di dalam kepala lu. Sama pernikahan yang ada di dalam kepala Dirja. Itu beda. Dirja dengan semua modal dan contoh yang dilihatnya dari pernikahan bundanya. Dan elu,” telunjuk kanan Elli yang bernail art bunga-bunga menunjuk Amara, “elu dengan pernikahan yang mama dan papa lu yang gak seindah yang lu lihat.” “Iya, kan?” Amara bungkam. “Padahal lu belum tau masa depan kayak gimana. Padahal lu udah bisa lihat Dirja itu orang kayak gimana. Padahal lu juga bisa bikin cerita yang beda dengan apa yang mama dan papa lu jalani. Cerita mereka gak sama dengan cerita elu, Amara,” pelan Elli mengatakannya. Lagi-lagi, Elli benar. Amara menghela napasnya, “Tapi apa artinya sekarang? Dirja udah gak sama gue. Gue gak mau jadi pelakor. Gue gak mau juga dia menderita cuma buat nungguin gue yang gak tau kapan sembuhnya dari pikiran kayak gini,” katanya dengan bahu terangkat tak acuh Ia terbatuk pelan, tangannya meraih gelas air putihnya. “Kacau banget pikiran lu,” pelan Elli dengan tangan terulur mengusap punggung Amara yang terbatuk. “Kacau banget,” Amara mengangguk setuju setelah meneguk air minumnya. “Kenapa lu gak ke psikolog berdua, sih?” Itu adalah opsi paling waras yang pernah Amara dengar. Meski Elli berpenampilan luar biasa cetar membahana dengan rambut blonde, eyelash ekstension, bibir penuhnya yang seksi mirip Kylie Jenner. Elli yang cantik dan sadar dirinya cantik, penuh percaya diri, dan pintar mencari peluang apapun. Elli yang selalu punya cara pandang berbeda. “Kayaknya karena marah, gue gak mikir sampe kesana,” jawab Amara yang memikirkan opsi itu dengan penuh perhatian sekarang. Ia mungkin akan memikirkan itu nanti. “Tapi kayaknya sekarang, kita party dulu gak, sih?” Mata Amara mendelik pelan lalu menatap sahabatnya dengan tatapan ‘serius?’. Padahal ia baru saja memuji kalau pikiran Elli yang paling waras. Nyatanya sekarang ia yang mengajaknya ke tempatnya biasa party. “Kita gak bisa menyia-nyiakan akhirnya Amara pake dress merah ini!” antusias Elli yang mengangat kedua tangannya dan menggerak-gerakan kesepuluh jemarinya. Alisnya turun naik menggoda. Kekehan Amara terdengar. Kepalanya menunduk menatap tubuhnya sendiri. Pada dress satin merah yang dipakainya. Dress satin yang pas di lekukan tubuhnya, panjang sampai ke betis, tapi dengan tali spaghetti di pundaknya. Seksi. Seperti kata Elli. Mereka membelinya bersama, tapi Amara menyimpannya selama ini karena tidak tahu harus ia pakai kemana dress begini. “Besok aja ke psikolog, malam ini ikutin Neng Elli dulu, kita party!” -o0o- “Gak usah kasih temen gue yang aneh-aneh, Ki!” Elli sedikit berteriak pada bartender yang berdiri di balik meja bar. Berteriak di antara dentuman suara jedag-jedug yang dimainkan Dj di atas panggung utama. “Gue gak kasih yang aneh,” jawab Taki, si bartender yang kini menunjuk gelas margarita yang sisa es batunya saja. “Lu kasih margarita?” “Temen lu mau yang seger, katanya dia suka lemonade. Jadi gue kasih yang mirip,” jawab Taki. Lalu melirik Amara yang kini berada di dance floor, meloncat-loncat dengan rambut hitam bergelombangnya yang bergerak-gerak. “Tapi kayaknya temen lu bukan kayak lu, ya?” Elli menatap ke arah yang sama. Menatap sahabatnya yang kini menggerk-gerakan kepalanya di dance floor sana. Siapa sekarang yang dipanggilnya Yang Mulia Ratu Kobam? Ia sendiri yang kini mabuk hanya dengan margarita. “Dia baru pertama minum. Anak baik temen gue itu,” jawabnya bangga. “Pantes cuma dua gelas margarita doang dia jadi gitu,” jawab Taki takjub. Elli tidak menjawab karena tatapannya kini fokus pada seorang gadis yang sedang menaiki tangga lebar menuju lantai dua. Dengan dress mini berwarna hijau emerald yang memperlihatkan setengah paha dan bahunya yang mulus. Elli mengenal gadis itu. “Nalika,” gumamnya pelan. Gadis itu menerima uluran tangan lelaki berkacamata di atas sana. Gerhana Anugrah Sasmita. Pemilik tempat ini, pemilik The Six, yang ia kenal karena betapa bucinnya pada Nalika. Tiap malam Nalika juga datang dan menjadi pelanggan tetap yang akan terus dapat diskon sampai kapanpun. Lelaki dengan kaus hitam dan celana pendek selutut itu menarik Nalika duduk ke sofa di lantai dua. Seperti biasa jika Elli melihatnya. Dan sebenarnya itulah yang membuatnya kaget saat melihat Nalika dan Dirja bertunangan. Apa maksudnya pertunangan itu? Sedangkan ia melihat Nalika setiap malam dengan Gerhana di sini. Aneh sekali. Nalika yang setiap malam di sini dengan Gerhana. Dirja yang baru putus dengan Amara yang tidak mau menikah. Apa yang ada di balik itu semua? Tangan Elli meraih minumannya sendiri, menyesap pelan. Pandangan matanya turun kembali pada Amara yang masih ada di dance floor. Matanya melebar saat seorang lelaki mendekati Amara. Tatapannya menyipit saat sudah mengerti apa yang akan dilakukan si lelaki yang menatap Amara dengan mata berkilat m***m itu. Tangan Elli menyimpan gelasnya begitu saja di atas meja bar. Mulut Elli yang sudah terbuka akan berteriak tidak mengeluarkan suara saat melihat ada seorang lelaki lain di sana. Lelaki yang ia kenali. Tap! Dirja meraih tangan lelaki yang terulur menyentuh pinggang Amara. Memutarnya begitu saja. Membuat lelaki itu meringis, menjatuhkannya dengan sekali hempas. Musik berhenti. Di lantai dua, Gerhana mendengar handy taklie-nya memberi tahu ada keributan di bawah. Ia berdiri, melihat ke bawah, bicara pada handy talkienya meminta security. Disusul Nalika yang juga ikut berdiri melihat ada yang bertengkar di depannya. Mata Nalika menyipit, melihat Dirja yang menjatuhkan lelaki di depannya begitu saja. Lalu tanpa ampun menghajar lelaki itu. Ia memang belum mengenal Dirja, tapi dari caranya yang bereaksi seperti itu, Nalika penasaran, apa yang membuat lelaki itu hilang kendali? Mata Nalika melebar, ujung bibirnya naik pelan, dan ia baru sadar kalau perempuan yang memakai dress merah yang kini dipakaikan jaket Dirja adalah Amara. Kakak sepupunya, Asmara Danya. -o0o-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN