6. Dia Pacar Gue

1401 Kata
Dirja duduk di pojok gelap The Six. Ia tidak meminum apapun selain sebotol kola yang kini sisa setengahnya. Ia hanya butuh tempat ramai yang membuatnya tidak sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Ia tidak perlu mabuk. Ia sudah cukup mabuk oleh tingkah Amara yang membuatnya pusing. Perempuan keras kepala yang sayangnya ia cinta itu benar-benar sudah membuatnya pusing. Membuatnya gila. Memikirkan bagaimana mengubah pemikiran Amara sama saja seperti memikirkan bagaimana caranya memindahkan sebuah batu besar tanpa menghancurkannya lebih dulu. Ia stuck di tempat. Amara tetap tidak mau menikah. Apa menikah benar-benar semenakutkan itu untuknya? Apa ia tidak cukup meyakinkan Amara kalau pernikahan mereka adalah apa yang Bunda dan Ayahnya perlihatkan padanya? Bukan pernikahan yang bisa Amara takutkan. “Mungkin kamu terlalu cepat ajak Amara menikah, Kang? Baru jalan enam bukan, kan? Yang Bunda tahu, perempuan sekarang gak mau cepet-cepet menikah.” Dirja mengingat apa yang Bunda katakan padanya. Mungkinkah? Tapi mereka sudah sama-sama dewasa dan tahu apa yang mereka inginkan. Amara sudah tidak canggung lagi datang ke rumah, berinteraksi dengan bunda. Yang belum mereka lakukan adalah mengenalkan dirinya ke keluarga Amara. Apa Amara benar tidak menganggapnya? Tapi jika gadisnya itu tidak menganggapnya, bagaimana bisa ia masih membalas ciumannya tadi siang? Bagaimana tatapannya bisa masih seperti itu? Kangen Amara lagi, kan! Hm, wangi Amara bahkan ada dimana-mana. Mata Dirja mengerjap, bukan wanginya ada dimana-mana. Tapi karena Amara memang ada di sana. Gadis kecintaannya itu datang dengan sahabatnya. Berjalan berdua melewatinya menuju meja bar di samping panggung utama. Lihat dirinya. Bagaimana bisa gadis itu mendorongnya menjauh, tapi malah berada di depannya dengan tampilan yang berbeda dari biasanya? Bagaimana bisa ia menjauh kalau di depannya ia ada dengan pesona yang luar biasa? Bagaimana bisa ia menjauh dan pergi kalau kepalanya dipenuhi olehnya lagi sekarang? Dress merah yang membentuk lekuk tubuh rampingnya, dress itu panjang sampai betis, tapi pundaknya— Tangan Dirja menyugar rambutnya, mengusap wajah. Mengulang istigfar beberapa kali. Tidak pernah ia merasa ingin memiliki sampai seperti ini. Ia tidak pernah menginginkan apapun seperti yang ia menginginkan Amara. Rambut hitam bergelombangnya yang masih diingat halusnya, rambut yang kini disibakkan tangan ramping Amara. Mengekspose pundaknya yang mulus. Senyum Amara yang canggung itu, dan ia menyadari beberapa mata menatap ke arah tatapnya juga. Hatinya bergejolak. Amara-nya memang sebersinar itu. Amaranya yang canggung duduk dan berkedip-kedip. Sedangkan Elli duduk dan berbicara dengan seorang bartender dengan sangat akrab. Ia ingat sebutan Amara untuk Elli, Yang Mulia Ratu Kobam. Mungkin karena itulah Elli terlihat akrab. Lalu Elli pergi, meninggalkan Amara yang duduk sendiri. Bartender itu bertanya dengan ramah, sedangkan Amara mengangguk-angguk pelan. Dirja tidak jadi bangkit berdiri saat ia melihat ada yang berjalan mendekati Amara, saat tangan gadisnya itu terangkat dan menoleh dengan wajah ketus. Selain menahan diri untuk terus duduk, ia juga menahan tawa saat melihat wajah tidak ramah Amara yang menolak dengan tegas lelaki yang mendekatinya. Mengingat bagaimana tatapan itu juga pernah ia dapatkan. Gelas yang diulurkan bartender itu bening dan berisi minuman yang tidak bisa Dirja lihat dari sini. Tapi mengingat Amara menyukai lemonade, sepertinya tidak akan jauh dari itu. Amara mengangkat gelasnya. Meminumnya pelan, tapi kemudian meneguknya begitu saja. Yang kaget adalah Dirja dengan cara minum Amara yang tiba-tiba begitu. Kepalanya menoleh kiri dan kanan, mencari keberadaan Elli yang belum juga kembali. Ia menatap lagi Amara yang menutup mulutnya. Lalu mengangguk-angguk. Tangannya terulur, sambil mengatakan sesuatu. Tidak ada suara yang bisa ia dengar selain jedag-jedug dari seluruh penjuru ruangan kotak ini. Tatapannya kembali lurus pada Amara yang mencondongkan tubuh ke depan. Bertanya sesuatu pada si bartender, yang kembali mengulurkan gelas kedua. Amara lalu tersenyum kecil dan mengangguk sebelum kembali meminum gelas keduanya. Ia melihat Amara yang berbalik dari meja, dengan pipi memerah dan mata berkedip-kedip. Tangan Dirja naik menyugar rambut, “Ngapain minum, sih?” gumamnya pelan, agak marah. Amarahnya memang belum turun. Ia juga marah saat melihat Amara tadi. Tapi, siapalah dirinya ini. Ia harus menahan diri. Ia tidak harus turun untuk menjaganya. Ia akan melihatnya dari sini dan memastikan Amara baik-baik saja. Melihatnya yang tersenyum dan melompat-lompat di lantai dansa tanpa memedulikan orang lain. Dirja terpana oleh itu. Ia hanya tersenyum. Setelah sepanjang acara siang tadi Amara hanya diam dan menunduk. Melihatnya kembali lincah dan tersenyum seperti itu membuatnya lega. Setidaknya Amara tidak terus-terusan mengurung diri saja. Seperti seminggu ini. Seminggu yang membuatnya putus asa karena Amara sama sekali tidak mau menemuinya. Matanya memicing, ia tidak bisa diam saat seorang lelaki lagi mendekat pada gadisnya. Gelagat seorang yang berniat beda bisa ia lihat. Dirja tidak bisa terus diam. Langkahnya bergegas mendekati Amara, melintasi setengah ruangan. Kemarahannya kembali naik saat melihat tangan lelaki itu terulur, meraih pinggang Amara. Membuat gadisnya terlonjak kaget. Tap! Tangannya berhasil meraih lengan itu lalu tanpa berpikir lagi ia memutarnya, memiting, dan berakhir dengan melayangkan kepalan tinjunya ke wajah lelaki kurang ajar itu. Membuat lelaki itu ambruk dan terbaring di lantai tidak susah untuknya. “Siapa lu pegang-pegang pacar gue?!” bentaknya tanpa ampun, tangannya menahan lelaki yang meronta mencoba membalas. Musik berhenti. “Dia sendirian dari tadi! Jangan ngaku-ngaku lo!” sergah lelaki tadi. Meski meringis tapi masih berani menjawabnya. Tangan Amara terulur, “Bukan pacar, tapi mantan,” katanya ringan. Lalu tersenyum kecil. “Amara,” panggil Dirja dengan suara rendahnya. Ia melepaskan lelaki di cengkeramannya itu lalu menoleh pada perempuan yang memasang wajah ramah dan cengiran kecil yang tidak biasanya. “Kamu minum apa tadi?” tanyanya. Kepala Amara menggeleng, tatapannya tidak fokus. Buk! Dirja yang menoleh pada Amara tidak fokus dan ia dapat satu pukulan di rahang kanannya. “Anj-“ Dirja menoleh dan kembali melayangkan pukulannya. Dua orang securiti masuk dan menghadap Dirja dan lelaki yang sedang meringis memegang tangan dan pipi kirinya yang berdenyut. “Ada apa ini?” tanya salah satu security yang memakai setelan hitam itu. “Dia tiba-tiba miting tangan saya dan bilang kalau ini ceweknya,” lelaki itu menjawab dengan tenang, “padahal mereka gak duduk bareng dan gak datang bareng juga.” Dirja tidak memedulikan lelaki yang bicara pada security yang datang, ia melepaskan jaketnya, memasangkannya di pundak Amara, memasukkan tangannya, dan menaikkan resleting. Ia berusaha mengabaikan wajah gadisnya yang merengut. “Ayo pulang,” ajaknya pelan. “Tunggu, Pak—“ Tangan Dirja terangkat, ia menoleh pada security dengan handy talkie di tangannya. “Hubungi Gerhana,” pintanya. “Pak Gerhana?” tanyanya memastikan. Suara Gerhana terdengar, “Copy, Pak!” jawab security itu memegang handy talkie-nya. Dirja mengulurkan tangan. Meminta handy talkie itu, dan mengangguk saat mendapatkannya. “Gue boleh pergi?” tanyanya langsung. “Titip Amara,” jawab Gerhana dari seberang sana. Tangan Dirja kembali memberikan benda kotak itu pada lelaki yang mengangguk di depannya. Ia melirik lelaki yang terkena tonjokannya tadi, “Dia pacar gue!” desisnya sinis. “Kalian biarin dia pergi gitu aja?” protes lelaki yang wajahnya babak belur oleh Dirja. “Silakan ikut kami ke kantor, Pak,” ucap Security yang satu lagi. Tangan si lelaki tadi mengibaskan tangan security yang menggiringnya maju. Menoleh sinis pada Dirja yang kini merangkul bahu gadis yang sejak tadi jadi targetnya. Lalu melengos setelah Dirja membalasnya dengan tatapan sengit yang sama. Kedua security mengangguk pelan pada Dirja sebelum berbalik dan pergi ke kantornya. Amara yang dari tadi hanya menutup mata tidak lagi protes saat tangan Dirja merangkul pundaknya, menariknya pelan dari sana. Mengikuti dengan langkah kecil. Kepalanya sekarang pusing dan musik yang kembali berdentum membuat teliganya sakit. “Aku gak bisa jalan,” rengeknya begitu mereka sampai di lorong panjang menuju pintu keluar. “Lalu kamu mau bagaimana?” tanya Dirja dengan suara yang masih terdengar marah. Mata Amara terbuka kecil, “Kamu marah lagi? Marah-marah terus sama aku!” sebalnya dengan rengekan kecil. “Siang tadi udah marah Sekarang marah! Aku kan yang harusnya marah. Kenapa jadi kamu!” “Kamu juga sudah marah-marah sejak siang." Bibir Amara mencebik pelan. “Aku pusing,” keluhnya kemudian. Kepalanya ia sandarkan pada d**a Dirja yang ada di sisi wajahnya, merapatkan diri pada lelaki merangkulnya penuh proteksi ini. Dirja menghela napas, ia menunduk mengecup pelan puncak kepala Amara di sisinya. Melepaskan rangkulannya, ia menunduk, membantu Amara melepaskan sepatu highheels-nya. “Sini pegangan,” ucapnya lebih lembut lalu menuntun tangan Amara melingkari lehernya. Tangan kiri Dirja meraih sepatu Amara, sedangkan tangan kanannya meraih bawah lutut Amara dan mengangkatnya naik. Menggendong Amara dengan sebelah tangannya. Amara mengeratkan tangannya di leher Dirja, meletakan kepalanya di bahu lebar lelakinya, mempercayakan dirinya dibawa keluar dari ruang kotak penuh suara memekikan telinga itu. -o0o-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN