“Lo kenal Dirja?”
“Lo gak kenal tunangan lo sendiri?”
Jawaban lelaki itu membuat Nalika menoleh. Menatap pada Gerhana yang masih menunduk melihat apa yang terjadi di bawah. Pada Dirja yang merangkul Amara setelah kedua security pergi. Pada panggung utama yang kembali memutar lagu. Lelaki tampan berkacamata yang katanya bucin parah padanya itu kini tidak melihat ke arahnya. Tangannya yang memegang handy talkie terangkat.
“Tunggu saya,” katanya sebelum menurunkan kembali tangannya.
Baru Gerhana menoleh pada Nalika yang masih menatapnya. “Gue harus turun,” pamitnya.
“Lo masih utang penjelasan sama gue, Ge,” jawab Nalika. Suaranya terdengar masih seperti biasanya. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan jawaban Gerhana sebelumnya. Memang benar ia tidak kenal Dirja, kok.
Kepala Gerhana mengangguk, tangannya mengusap pipi Nalika, “Gue kasih tau setelah gue beresin masalah ini,” janjinya. “Lu mau tunggu di dalem? Atau di sini aja?”
“Di sini aja,” jawab Nalika yang menurunkan tangan Gerhana dari pipinya, “seru banget ada tontonan hari ini.”
Kekehan Gerhana terdengar, “Kayaknya lo lebih penasaran sama Amara, bukan sama Dirja?” tebaknya.
Nalika menghempaskan dirinya kembali pada sofa bulat di belakangnya. Wajah datarnya dan tangannya yang terlipat di depan dadanya, lalu kepalanya yang bergerak memberi isyarat pada Gerhana, “Sana beresin dulu! Gue ada jam malem mulai sekarang, jadi gak bisa lama-lama.”
Gerhana mengangguk, ia tersenyum, “Yes, ma’am.”
Mata Nalika mengikuti Gerhana yang berbalik setelah mengangguk padanya, berjalan menuju tangga lebar di sisi kiri sofa bulatnya, dengan senter kecil yang menyinari jalannya sendiri. Lelaki tinggi kekar yang memakai setelan biasanya –kaus polos dan celana cargo pendek, masih memperlakukannya seperti biasa.
Tangan Nalika meraih ponselnya dari dalam Chanel Vanity bag-nya, ia menunduk menatap benda kotak pipih itu. Membuka aplikasi insta, mencari nama Amara, mencari apa yang ia lewatkan dari kakak sepupunya itu. Ada foto-foto yang memperlihatkan dua cup kopi, foto Amara di stadion, foto Amara di sebuah konser. Semuanya foto sendiri. Siapa yang menyangka kalau lelaki yang siang tadi bertunangan dengannya adalah pacarnya Amara?
Ia pun tidak menyangka.
Lalu apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa ia jadi terlibat seperti ini?
Nalika menurunkan ponsel dari depan wajahnya. Mencari tahu apa ada yang ia lewatkan lagi selain ini. Tangannya kembali membawa naik ponselnya, menekan ikon panggil di nomor yang sudah sering dipanggil untuk hal-hal yang membuatnya penasaran seperti ini.
-o0o-
Mata cokelat itu mengerjap pelan. Terbuka lalu tertutup lagi. Kemudian terbuka sepenuhnya dan kepalanya yang berat membuatnya mengerang pelan. Tenggorokannya kering, Amara sadar kalau ia ada di kamarnya sekarang. Dan saat kesadarannya mulai memenuhi kepalanya, ia merasa perutnya bergejolak.
Bergegas bangun, ia berlari ke kamar mandi. Ingin mengeluarkan apa yang membuatnya mual, ia menunduk di closet, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia hanya merasakan bau alkohol memenuhi mulut dan hidungnya. Amara terduduk di lantai kamar mandi. Merenungi apa yang sudah ia lakukan tadi malam.
Ia berdiri, menghadap wastafel, menyalakan keran. Berkumur-kumur dan mencuci muka.
Amara menghentikan gerakannya membasuh muka. Lalu membuka mata, memandang wajahnya sendiri di dalam cermin.
“Cowok lu yang bersihin muka lu, tau,” ucap satu suara dari luar kamar mandi.
Kepala Amara menoleh, melihat Elli yang kini berdiri di ambang pintu. Sahabatnya yang memakai piyama bergambar pita-pita miliknya. Tapi ia tidak mempermasalahkan itu. Tatapan matanya penuh ketidakpercayaan pada apa yang sahabatnya itu katakan. Lalu kembali menatap wajahnya. Wajahnya yang malam tadi masih memakai riasan make up yang tebal. Ia juga tidak ingat sudah membersihkan muka.
Ia bahkan tidak ingat apa yang terjadi.
Mata Amara mengerjap-ngerjap, “Cowok gue siapa?” sanggahnya pelan.
“Cowok lu yang udah hajar cowok lain yang berani pegang-pegang elu,” jawab Elli sambil menguap. Ia berbalik kemudian berjalan ke dapur.
Amara memutar kepalanya, mencari ingatan apa yang tersembunyi di balik kepalanya. Lalu potongan-potongan ingatan kembali datang. Ia menyusunnya lagi, dimulai dengan Elli yang menjemputnya di depan apartemennya, lalu mereka yang makan malam bersama dan membahas apa yang terjadi seminggu ini sampai acara Nalika dan Dirja kemarin.
Lalu—
“Lu gak nyimpen makanan?”
Pertanyaan Elli dari dapur tidak Amara acuhkan, ia masih menyusun apa yang ada di kepalanya.
Mereka berdua yang sampai di The Six, lalu Elli yang mengenalkannya pada bartender bernama Taki. Elli yang pamit pipis, lalu Taki yang menawarkan minum. Amara ingat minuman menyengat yang rasanya aneh itu. Tapi ia minta lagi karena ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan.
Lalu, apa? Amara ingat kalau ia masuk ke dalam kerumunan orang yang berada di lantai dansa. Dan pinggangnya yang- tangan Amara naik menutup mulutnya. “Dirja?”
“Siapa lagi cowok lo emang?” sahut Elli dari dapur.
Tangan Amara meraih handuk dari tumpukan handuk baru di rak samping cermin. Lalu bergegas keluar kamar mandi. Ia berlari ke kamarnya, melihat ke kamarnya, ke meja riasnya, ke tempat sampah di sisi meja riasnya, lalu duduk di sisi .
“Aku gak bisa bantu kamu lepas softlens, Sayang. Lepas sendiri, ya. Kamu bilang bahaya kalau softlens dibawa tidur.”
“Sebentar biar aku lap tangan kamu dulu. Amara! Tunggu!”
“Yang mana, sih, Sayang? Jangan tidur. Dih, bentar aku tanya chat Gpt kalau kamu gak mau jawab.”
“Oh, ini. Micellar water, ya? Pake kapas ini, kan? Kayak biasa kamu pake?”
Kepala Amara memutar apa yang telinganya dengar. Matanya melirik kotak softlens yang sudah ada di atas meja riasnya lagi, tangannya meraihnya dan melihat kalau dua softlens itu ada di sana.
Amara menunduk, apa Dirja yang melakukannya? Apa Dirja masih mengingat apa yang sering mereka lakukan berdua? Apa Dirja benar mengingat kebiasaannya?
-o0o-
Dulu, awal pacaran …
“Jangan kaget sama bare face aku, ya,” Amara duduk di samping Dirja yang baru selesai membantunya membereskan dapur setelah makan malam bersama mereka.
Tangan Dirja mengambil botol dari tangan Amara, “Memangnya apa yang harus aku kagetkan dari bare face kamu, sih, Sayang?” tanyanya bingung. Matanya membaca tulisan micellar water di botol hijau itu.
Giggle kecil Amara terdengar, “Karena bisa aja kamu liat ada jerawat-jerawat yang aku sembunyikan di balik make up ini,” jawabnya sambil mengambil selembar kapas dari kotak lain yang ia bawa ke ruang tamu.
“Hm,” Dirja hanya bergumam pelan. Ia mengembalikan botol di tangannya pada Amara yang mengulurkan tangan meminta darinya. “Aku yakin kamu masih Amara yang sama. Dengan atau tanpa make up, kamu masih Amara yang ini, kan?”
“Masih,” Amara mengangguk-angguk sambil menuangkan air pembersih itu ke atas kapas. “Sebentar lupa,” katanya yang menyimpan kembali kapas basah dan botol ke atas meja. Ia berlari kembali ke kamar dan mengambil kotak softlens. “Lepas dulu ini,” katanya yang melepaskan softlens tanpa melihat ke cermin.
“Perih, gak?” tanya Dirja yang sejak tadi memerhatikan semua yang Amara lakukan.
“Enggak,” jawab Amara sambil memasukan softlens berwarna abu-abu itu ke dalam kotak berisi cairan. Ia beralih ke mata kiri dan melakukan hal yang sama.
“Itu minus?” tanya Dirja lagi. Kini ia membantu menutup kembali kotak softlens itu. Memerhatikan tanda left dan right, membantu Amara memasangkan di tanda yang benar.
“Iya, minus. Kiri tiga, kanan tiga setengah. Aku kalau di rumah pake kacamata, Kang,” Amara mengangguk sambil tangannya bergerak-gerak menunjuk kanan kiri matanya bergantian, “kepo banget, sih,” ledeknya kemudian sambil mencubit pelan pipi Dirja gemas.
Lelaki ini benar-benar ingin tahu semua hal.
“Karena aku mau kenal kamu, Sayang,” jawab Dirja yang membiarkan pipinya dicubit.
“Kebalik banget kamu tuh ya,” Amara melepaskan cubitannya. Menyimpan kotak softlens dari tangan Dirja ke atas meja. Lalu kembali meraih botol micellar dan kapasnya, “yang lain kenalan dulu baru nembak,” ia menyerahkan satu lembar pada Dirja.
Mata Dirja menunduk menatap kapas di tangannya yang kini dituangkan air yang sama dari botol hijau itu.
“Kamu malah nembak dulu dan bilang kenalan pelan-pelan sambil pacaran,” Amara lanjut meledek dengan tatapan meledeknya yang khas. Tangannya mulai mengusapkan kapas basah ke wajahnya.
Dirja tersenyum, lalu mengikuti gerakan Amara yang menyuruhnya melakukan hal yang sama, membersihkan wajah. “Aku jatuh cinta sama kamu, itu masalahnya. Dan kayaknya kalau gak pacaran, kita akan susah bagi waktu. Kenalan doang gak menjamin kita pacaran. Tapi kalau pacaran, kita pasti akan cari cara buat saling kenal.”
Amara berdecak, “Bisaaa aja, Pak Dirja,” ledeknya lagi.
Kini ledekannya berbalas cubitan di ujung hidungnya. Amara terkekeh pelan.
“Ya, kamu juga sama anehnya, kan? Aku malah diterima,” balas Dirja.
“Iya, ya,” Amara menurunkan kapas. Meraih satu lagi yang baru, kembali membasahinya, “Abis sayang banget kalau yang kayak begini ditolak dan dianggurin,” jawabnya pelan sambil memberikan kapas baru pada Dirja.
Bibir Dirja manyun.
Melihat itu tawa Amara pecah juga.
“Ini aku juga ikutan, nih?” tanya Dirja yang tidak yakin dengan apa yang dilakukannya.
Kepala Amara mengangguk-angguk. “Biar gantengnya terus ada buat aku,” jawabnya kembali menggoda.
“Cie,” goda balik Dirja.
Tawa Amara kembali terdengar.
-o0o-