Elli memerhatikan Amara yang duduk sambil menatap kotak softlens-nya. Tangannya menggenggam gelas berisi air madu hangat. Ia melihat semuanya tadi malam. Bagaimana Dirja menggendong Amara yang mungil dengan mudahnya. Lalu berjalan ke parkiran dan memasukan Amara dengan aman dan pelan ke dalam mobilnya.
Lelaki itu bahkan memintanya ikut. Elli mengiyakan dan bilang ia mengikuti dari belakang. Lalu sahabatnya itu berulah. Tidak mau turun dari mobil, katanya ia tidak mau dipaksa. Dan Dirja dengan sabar menunggunya tenang. Sebelum kembali menggendongnya masuk ke apartemen.
Sampai di dalam sini, Elli pikir Dirja akan memberikan Amara padanya, memintanya mengurus sahabatnya itu. Tapi tidak.
Dirja memintanya tetap di sana, memintanya menginap menemani Amara-nya. Elli menjadi saksi bagaimana Dirja mengurus gadisnya dengan lembut. Setelah berdrama meminta Amara melepaskan softlens, mencari apa yang biasa Amara pakai untuk membersihkan wajah. Dirja duduk di tepi kasur, di samping Amara yang masih memakai jaket lelakinya, bergelung berbaring ke sisi kanan.
Elli duduk di sisi berseberangan dengan Dirja. Menerima saat lelaki itu berbagi kapas dan micellar water dengannya. Memerhatikan dengan seksama saat Dirja membersihkan wajah Amara.
“Amara pernah ngasih tau ada jerawat di pipinya karena dia lupa bersihin make up. Kami biasanya duduk di sofa dan berbagi kapas, El. Gue minta lu temenin karena Amara gak pernah kasih gue akses masuk kamarnya. Gue gak mau dia ngamuk karena gue melanggar batas,” Dirja menoleh pada Elli.
“Lu bisa jadi saksi kalau gue gak berbuat yang aneh-aneh,” katanya terkekeh pelan, “temen lu lurus banget. Dia takut banget kalau gue masuk kamarnya. Dia punya banyak banget ketakutan.”
“Dia punya banyak luka,” Elli menjawab.
Dirja bungkam. Tapi kepalanya mengangguk setuju.
“Dan lu bikin dia kayak gini.”
Elli tidak berkata apa-apa lagi saat Dirja tidak menjawab ucapannya. Mungkin karena tertohok dengan jawabannya. Jadi ia hanya memegang kapasnya dan menatap kedua orang yang batu sekali kepalanya itu.
Sekarang, ia melihat bagaimana Amara menghela napasnya pelan. Mengingat Dirja yang seperti tadi malam, membuat Elli menyayangkan satu hal. Amara mungkin akan bahagia jika dengan Dirja. Ia mungkin akan bisa melihat Amara dalam versi seperti enam bulan ini untuk waktu yang lebih lama.
“Kok dia ada di sana?” tanya Amara pelan. Ia memikirkannya sejak tadi. Bagaimana Dirja ada di The Six? Lelakinya itu tidak pernah pergi ke sana. Meski ia menceritakan kalau Elli adalah si Yang Mulia Ratu Kobam yang jadi pelanggan tetapnya The Six, Dirja tidak pernah membahasnya.
“Nalika juga ada,” jawab Elli yang kini berjalan masuk ke kamar. Tangannya menyimpan gelas air hangat yang dibawanya di atas meja rias Amara. Lalu beralih duduk di sisi tempat tidur yang belum dibereskan.
Kepala Amara menoleh, “Dia lagi sama Nalika?”
Elli menggeleng, “Nalika sama Gerhana. Lu kenal Gerhana, kan?”
“Temennya Sakala?” Amara mengingatnya.
Elli mengangguk-angguk menjawab, “Lu tau gak sih kalau ada rumor yang bilang kalau Gerhana itu suka sama Nalika sejak lama banget?”
“Itu gosip waktu kita di SMA, kan? Emang masih sampe sekarang?”
“Makin menjadi,” jawab Elli ringan, “katanya Nalika yang bikin Gerhana bikin The Six. Waktu kita SMA, lu inget Nalika sempet kabur dari rumah, kan? Dia kabur ke Gerhana, lalu bilang kalau dia butuh tempat buat kabur tanpa dicari emaknya,” jelas Elli yang mengangguk-angguk melihat Amara yang membelalakan mata.
“Gerhana bikin The Six waktu dia masih kuliah, waktu Nalika masih kelas dua kayak kita, dan sampe sekarang, itu masih jadi tempat dia datang tiap malem,” Elli menutup ceritanya.
Bibir Amara membulat. Kejadian bertahun-tahun yang lalu itu ternyata jadi cerita yang melegenda tentang tempat hiburan malam itu. Tapi ia penasaran dengan hal lain, “Jadi Nalika liat waktu gue pergi sama Dirja?”
“Gue gak yakin, tapi kayaknya iya,” ragu Elli.
“Mati gue!” keluh Amara dengan tangan menepuk pelan keningnya.
“Iya, deh, kayaknya lu bisa mati,” Elli mengerling.
Mata menyipit Amara mendelik pada Elli.
“Soalnya tadi malem Dirja masuk ke sini,” jawab Elli.
Mata meyipit Amara berubah melebar.
“Dia bersihin make up lu doang,” lanjut Elli dengan santainya.
Kepala Amara menunduk menatap dan menunjuk setelan baju tidur bergambar beruangnya.
Elli menunjuk diri sendiri. “Gue yang bantuin lu ganti baju!”
Terlihat Amara yang menghela napasnya lega. “Gue kira gue bakalan mati beneran!” Amara mengusap dadanya. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi kalau Dirja yang melepaskan bajunya. Ia bisa mengamuk pada lelaki itu.
“Tapi ada yang lebih bikin gue penasaran, Ra,” ucap Nalika misterius.
“Apa?”
“Lu yakin Nalika beneran sama Dirja?”
Mata Amara berkedip. “Maksud lo? Nalika yang anak mama banget itu berani bohong-bohongan, gitu? Nalika yang itu?”
“Kita curiga sama Dirja, tapi gimana kalau ternyata Nalika juga terlibat?”
“Buat apa? Itu pertanyaannya. Buat apa mereka kayak gitu?”
“Buat elu?”
Kepala Amara menggeleng, “Lu juga tau, sejak Nalika kabur dari rumah, kami udah gak akur lagi. Alasan Nalika jauhin gue masih gak gue tau. Tapi sejak saat itu kita gak pernah ngobrol apa-apa lagi,” jelasnya yang masih ingat dengan hari di mana itu terjadi. Hari sebelum ia dan Nalika jadi asing.
“Jadi apa yang lu curigai kayaknya enggak. Dirja juga gak pernah ketemu sama Lika,” tutupnya.
Elli memanyun-manyunkan bibirnya, mengalihkan tatapan dari Amara, memikirkan apa yang sudah dikatakannya. Memang benar, ia ingat kalau mereka bertiga sempat dekat. Meski kadang Nalika akan dimarahi saat pergi dengan Amara, tapi Nalika yang punya bakat pembangkang itu tetap sering pergi main.
Mereka pernah sedekat itu.
Sampai di kelas dua SMA, Nalika berubah jadi menjauhi mereka berdua. Yang tidak jelas apa alasannya. Seperti yang Amara katakan.
“Jadi Dirja dan Nalika beneran?”
“Mana gue tau,” Amara mengangkat bahunya pelan. Tangannya menyimpan kotak softlens sebelum meraih gelas air hangatnya. Ia menyesapnya pelan dan langsung merasa perut melilitnya jadi lebih baik. “Ih, enak banget. Makasih, Neng Elli,” pujinya pada air madu buatan Elli.
“Gue berpengalaman,” jawab Elli sekenanya.
Amara terkekeh, “Gue gak punya apa-apa di kulkas,” akunya, “seminggu ini gue sibuk menghindari Dirja. Jadi gak kepikiran beli makanan,” jujurnya lagi.
Elli berdecak, “Gue gak di sisi lu seminggu jadi kacau gini, ya?”
“He-em, makanya jangan pelgi-pelgi. Bisa apa Amaya tanpa Neng Elli?” Amara berkedip-kedip manja dengan suara dibuat imut.
Tawa Elli terdengar, “Lu tadi malem gitu ke Dirja, tau!”
“Masa?” Amara berusaha membuat dirinya merasa tidak peduli, tapi pipinya memanas. Itu memalukan banget kalau iya. Setelah siang tadi mereka berciuman. Setelah ia mengusir Dirja seperti itu. Ia menarik gelas, meminum air hangatnya sambil menutup mukanya.
“Dirja gendong elu juga. Dia yang nungguin ocehan lu selesai di mobil. Dia sabar banget ngadepin lu, Asmara! Lu gak ada kasian sama tuh cowok?” Elli menghempaskan dirinya kembali ke atas kasur.
“Lu pernah denger gak?” Amara menelan air madunya, lalu sekali lagi menoleh pada Elli.
“Apa?”
“Awal kehancuran seorang cewek itu waktu dia kasian sama cowok.”
Elli bergegas kembali duduk mendengar itu. “Baca dimana quote itu?”
“Di tiktok.”
Pluk!
Amara mengerjap saat bantal melayang dan mendarat di wajahnya. Lalu suara berseru Elli terdengar memekik.
“Keracunan t****k, lu!”
-o0o-
Matahari sudah muncul sejak tadi, dan dua gadis yang masih berdebat akan mencari sarapan di mana itu langsung bungkam saat suara ketukan pintu terdengar. Amara menoleh pada Elli yang menatap pintu dengan mata menyipit.
“Gue gak minta dianterin apa-apa kok sama Justin,” sergah Elli lebih dulu sebelum Amara bertanya.
“Bukannya Justin lagi di Ausie?” tanya Amara yang menaikkan kacamata di pangkal hidungnya. Ia menurunkan kaki, memakai sandal bulunya, lalu bangkit dari sofa kuningnya.
“Datang tadi malem sih, gue dikabarin kalau dia udah nyampe Bandung subuh tadi,” jawab Elli yang ikut menurunkan kaki. Malam tadi Dirja bilang ia akan datang lagi untuk mengecek keadaan Amara. Mungkin dia yang datang.
Tapi Elli menutup mulut, biar Amara yang membuka dan mencari tahu siapa yang ada di depan pintu. Ia hanya melihat bagaimana Amara yang berjalan ke pintu. Melongokkan kepala untuk melihat siapa yang ada di sana.
Tangan Amara membuka kunci, menarik pintu, dan senyumnya naik di bibirnya.
“Pak Zam!” serunya senang.
Lelaki tua di depannya tersenyum hangat. Penampilannya seperti yang selalu Amara lihat sejak pertama kali ia mengenalinya. Setelan celana panjang hitam dengan kemeja dengan luaran beskap casual berwarna hitam, dan rambut yang selalu panjang, diikat di belakang dengan rapi. Sekarang rambut itu sudah hampir sepenuhnya putih. Saat ia bertemu dengannya dulu, delapan belas tahun yang lalu, rambut itu masih hitam.
“Pak Zam kenapa gak datang ke acara Nalika kemarin?” todong Amara langsung setelah meraih tangan untuk mencium punggung tangan kanannya dengan hormat. Sedangkan tangan kirinya menenteng satu paperbag.
“Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan,” jawab suara Pak Zam yang selalu terdengar ramah.
Amara mengangguk-angguk mengerti meski tidak pernah tahu apa saja pekerjaan Pak Zam. “Pak Zam mau masuk?” tawarnya.
Lelaki tua itu mengangguk, “Hm, banyak yang harus kita bicarakan tentang tadi malam, Amara.”
Glek!
Ia sudah bukan remaja lagi, tapi perasaannya selalu sama setiap kali ia sadar sudah melakukan kesalahan. Kali ini, kelakuannya akan kembali dievaluasi.
-o0o-