9. Interogasi Ala Pak Zam

1537 Kata
Neng Elli dengan tidak ksatria melarikan diri dari situasi yang tidak menyenangkan seperti ini. Setelah sebelumnya bilang pada Pak Zam bahwa ia ada pekerjaan pagi ini. Padahal setengah jam yang lalu sudah menghubungi Fia –asprinya, bahwa ia akan datang telat dan meminta memundurkan semua jadwal hari ini. Namun melihat Pak Zam yang datang, sahabatnya itu lari dari tanggung jawab. Padahal siapa yang mengajaknya pergi ke The Six tadi malam? Amara menutup matanya, ia tidak akan pergi kalau mulutnya ini tidak mengiyakan ajakan Elli. Tentu saja bagian itu adalah tanggung jawabnya. “Ada laporan tentang satu kejadian tadi malam, Amara. Kamu tau apa yang terjadi?” Gelengan pelan Amara menjawab pertanyaan Pak Zam. Tidak ada nada tinggi, tidak ada penekanan pada kata-katanya. Tapi baik ia atau pun Elli yang sudah kabur, sama-sama tahu kalau apa yang sampai ke laporan Pak Zam adalah apa yang terjadi pada mereka. “Aku gak tau, Pak Zam, karena aku mabuk.” Aku Amara dengan berani. Harus berani dan harus jujur. Jika tidak, itu sama saja dengan menjatuhkan diri ke kubangan buaya. Ia akan menghadapi persidangan yag sesungguhnya. Yaitu menghadapi kakek. “Kenapa kamu mabuk?” “Karena nyobain minum.” “Penyebab kamu mengambil pilihan ‘nyobain minum’?” Glek! Amara merasa bubur ayam yang tadi dibawakan Pak Zam menyangkut di tenggorokannya. Tapi ia sadar itu tidak mungkin. Buburnya sudah masuk ke dalam perut dan ia tahu kalau bubur ayam tidak mungkin nyangkut di tenggorokan. Kecuali bubur ayam dengan tulang ikan di dalamnya. Dan yang Pak Zam bawakan adalah bubur ayam biasa yang enak dan membuat perutnya nyaman. Perasaan ini hanya akumulasi dari ketakutan dan rasa bersalah. “Itu- itu karena,” Amara memutar otak, “-karena aku stress.” Pak Zam masih menunggu apa yang akan Amara katakan selanjutnya. “Aku-“ Amara menarik napas, “Pak Zam pasti udah tau,” ia menyerah kemudian. Senyum Pak Zam naik. “Kenapa kamu gak bilang sama saya, Amara?” “Tentang?” “Dirja.” Amara menggigit bibir. “Kalau tidak ada yang kejadian tadi malam, saya mungkin gak akan tau. Sejak kapan?” Alis Amara bertemu di tengah, “Pak Zam baru tau?” “Karena kamu yang meminta untuk gak mencampuri kehidupan pribadi kamu. Saya cuma mengikuti perkembangan karir kamu aja, Mara.” Jawaban Pak Zam membuatnya menunduk. Benar sekali, ia yang meminta Pak Zam untuk tidak mencampuri urusan pribadinya. Ia terbuka dengan semua yang dilakukannya di Kupu. Ia bisa memberikan semua laporan yang berkaitan dengan Kupu, ia bisa juga memberikan laporan tentang kemajuannya mempelajari Wise Corp, ia bisa dengan santainya membahas hal tentang Yayasan Wise. Tapi untuk hal pribadi, ia bisa tahu kalau Pak Zam sudah mengirim orang untuk mengikutinya. Ia cukup peka dengan itu. Karena sejak kecil ia sudah terbiasa diikuti. Ia terbiasa tahu ada orang di belakangnya. Pekerjaan Pak Zam atas perintah Kakek. “Pak Zam beneran gak tau aku dengan Kang Dirja?” tanya Amara memastikan. “Hm,” Pak Zam mengangguk, “Karena kalau saya tau, saya akan bilang pada Pak Hadi untuk tidak menjodohkannya dengan Nalika.” Amara tidak tahu apakah ini keuntungan atau kemalangan untuknya. Di satu sisi hatinya, ia merasa lega karena Pak Zam benar-benar menghormati privasinya. Tapi di sisi lain, ia mungkin tidak harus melihat Nalika dan Dirja di acara kemarin. Tapi, Amara menggeleng, jika dari sisinya. Ini menguntungkannya, bukan? “Gak gitu, Pak Zam. Aku udah putus, kok. Jadi apa yang terjadi antara Dirja dan Nalika, itu gak ada hubungannya lagi sama aku.” Tatapan Pak Zam penuh ketidakpercayaan. “Apa benar sudah putus? Tadi malam Dirja memperlakukan kamu seperti kamu adalah segalanya,” ucapnya dengan sedikit bumbu bernada selidik di suaranya. “Kami sudah putus.” Tegas Amara menjawab. Senyum Pak Zam naik di bibirnya, “Saya juga lihat apa yang terjadi kemarin. Di rumah-“ “Tidak ada yang terjadi, Pak Zam.” Sekali lagi nada tegas dari Amara membuat Pak Zam tersenyum. “Sepertinya kalian belum selesai. Apa yang membuat kamu menajuhkan diri seperti ini?” tanya Pak Zam lagi. Belum selesai dengan investigasinya. “Aku sudah selesai. Kalau dia belum selesai. Itu urusannya sendiri.” “Apa ini ada hubungannya dengan apa yang selalu kamu ucapkan?” Amara bungkam. Ia menunduk menatap tangannya. “Kalau kamu gak mau menikah.” Tepat! Pak Zam memang nomor satu dalam memahaminya. Kepala Amara mengangguk pelan. Pak Zam menarik napas, salah satu yang membuatnya selalu lembut pada Amara adalah hal ini. Karena cucu dari bos besarnya ini sangat keras kepala. Pendiriannya sama kuatnya dengan kepalanya. “Kamu benar-benar anak Atmaja.” Mata Amara naik, menatap Pak Zam yang duduk di stool berbentuk bunga matahari. Kursi kecil yang biasa ia simpan di dekat rak sepatu. Duduk di seberangnya yang kini duduk sendirian di sofa kuningnya. Ini pertama kalinya Pak Zam kembali membahas Papanya, Atmaja Wisesa. Satu dari dua orang yang membuatnya kukuh tidak mau menikah. “Aku udah gak inget apa-apa tentang papa,” jujurnya. “Sifat keras kepala kalian sama.” Amara berkedip, “Apa keras kepala itu yang membuatnya nekat kawin lari dengan mama?” tanyanya. Nadanya dingin. Seperti biasa setiap kali semua orang membahas tentang kedua orang tuanya. Yang selalu mengingatkannya dengan semua julukan yang diberikan padanya. Si anak hasil kawin lari. Amara mengalihkan pandangan. Ia sudah terbiasa dengan ucapan buruk yang diberikan padanya, yang melabeli papa dan mamanya. Yang membuatnya jadi membenci keduanya. Ia anak durhaka. “Yang membuat Atmaja kokoh memilih apa yang diinginkannya.” Kepala Amara kembali menoleh pada Pak Zam, “Hm, kami mirip. Karena aku juga akan tetap kokoh memilih apa yang aku inginkan.” Pak Zam menggeleng, “Untuk yang satu itu, saya pikir kalian beda.” Amara tidak terima, “Bedanya apa?” “Atmaja melakukannya untuk mencari kebahagiaannya sendiri.” Amara menunggu. “Kamu melakukannya karena terjebak dengan ketakutan kamu sendiri.” -o0o- Tahu rasanya saat sedang scroll reels, lalu menemukan satu kalimat yang membuatmu tertampar? Itu yang Asmara Danya rasakan sekarang. Ia mengakuinya tapi ia juga merasa tertampar dengan kenyataan itu. “Itu sudah terjadi, sudah berlalu, Pak Zam. Nalika dan Dirja sudah bertunangan. Aku dan Dirja sudah putus. Lalu apa yang terjadi kemarin itu hanya tingkah gilanya yang masih gak menerima kalau kami putus. Dan satu lagi yang tadi malam, aku minta maaf karena mabuk.” Tutup Amara dengan kesimpulan yang ia ambil sendiri secara sepihak. Lamat dalam hening, Pak Zam menatap bagaimana wajah gelisah Amara yang berusaha ditutupinya itu. Meski tetap terlihat oleh mata tuanya. Delapan belas tahun mendampingi Amara seperti anaknya sendiri, seperti cucunya sendiri. Ia mengenal gerakan tangan di pangkuan gadis di depannya. Amara gelisah. Ada yang sedang berusaha ia tutupi. “Saya gak mempermasalahkan mabuk kamu. Seperti yang kamu minta, itu adalah hal pribadi yang tidak bisa saya campuri dengan seenaknya,” jawab Pak Zam dengan ketenangan yang selalu membuat Amara merasa takjub. “Lalu apa?” “Bisakah saya percaya kalau kamu benar sudah selesai dengan Dirja?” Mata Amara berkedip. Sudah selesai. Ia meyakini itu dalam hatinya. Ia menanamkan keyakinan itu juga dalam kepalanya. Tapi, selalu ada sudut pemberontak dalam kebatuan kepala dan hatinya. Pelan, Amara mengangguk. Itu memang sudah selesai. “Apa saya tidak harus mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di depan dengan Nalika?” Amara ingat apa yang Elli katakan tadi subuh, “Nalika sepertinya melihat aku dengan Kang Dirja di The Six tadi malam, Pak Zam. Bisa tolong katakan padanya kalau kami sudah tidak ada apa-apa? Nalika gak akan mau dengar apa yang aku bilang. Kalau Pak Zam yang bilang mungkin dia mau denger.” Pak Zam mengangguk, “Baik, saya akan sampaikan.” Amara ikut mengangguk, “Terima kasih, Pak Zam.” “Saya hanya menjalankan tugas, Amara.” “Untuk menepati janji.” Pak Zam kehilangan kata-katanya sekarang. Tapi senyumnya naik di wajahnya yang sudah ada keriput-keriput itu. “Itu pekerjaan saya, Amara.” Kepala Amara menggeleng lagi, “Itu berarti buat aku, Pak Zam. Terima kasih.” Pak Zam mengangguk. Ia berdiri dari duduknya, “Ah, jangan lupa jadwal besok,” katanya mengingatkan. Senyum Amara kembali menghilang. Ia mengingatnya. Jadwal yang Pak Zam maksud. “Kalau kamu gak datang, saya khawatir Pak Hadi akan mengundang kamu di makan malam yang biasa kamu lewatkan itu.” Kini, ada lagi satu hal yang menguatkannya untuk kembali membenci hidupnya sebagai cucu keluarga Wisesa. Bahwa ia tidak bisa menolak apapun. Amara mengangguk, “Aku pasti datang, Pak Zam,” janjinya. Amara mengikuti Pak Zam yang berjalan ke pintu. Menunggunya yang menunduk memakai sepatunya. Amara juga membiarkan Pak Zam yang membuka pintu itu sendiri lalu ia penasaran kenapa Pak Zam tidak langsung keluar dari unitnya itu. Dan saat ia maju, ia baru melihat lelaki yang berdiri depan pintu unitnya itu. “Mencari siapa, Anak Muda?” tanya Pak Zam ramah. Amara mematung tapi Dirja tersenyum cerah. “Saya kemari mencari perempun yang tadi malam mencari pelarian perhatian, Pak Zam,” jawab Dirja sambil mengerling pada Amara yang membelalakan matanya di belakang punggung Pak Zam. “Saya tidak menyangka kamu mengenal saya.” “Seorang yang selalu Amara ceritakan dengan penuh hormat. Saya tidak mungkin tidak mengenal anda.” Amara tidak mengerti, kenapa ini rasanya seperti ini? Seperti anak remaja yang ketahuan pacaran sama papanya. Dan itu, membuat wajahnya memerah. -o0o-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN