“Saya sudah sarapan,” tolak Amara begitu Dirja memberi tahu tujuannya datang kemari. Wangi dari makanan yang ia kenal menguar menggoda hidungnya. Amara menelan ludah, merasa familiar dengan apa yang Dirja bawa.
“Tapi aku belum,” jawab Dirja dengan polosnya.
Pak Zam terkekeh pelan.
“Kang jangan malu-maluin di depan Pak Zam,” ucap Amara dengan menahan decakannya, “kalau Pak Zam kasih tau kakek, nilai kamu turun di matanya, dan nanti gak dikasih Nalika.”
Dirja menoleh pada Pak Zam, wajah segar sehabis mandi dan samar dari dalam apartemen bisa Amara hidu, selain wangi makanan yang Dirja bawa. Ada wangi parfumnya. Wangi yang Amara kenal. Wangi Dirja yang tadi malam sempat ia abaikan begitu saja. Yang sekarang disesalinya. Karena kalau ia mencari sumber wangi itu, yaitu lelaki ini sendiri, ia mungkin akan terhindar dari drama tidak perlunya tadi malam.
Lagi-lagi, ia mengambil pilihan yang salah dalam jalan hidupnya.
Yang membuatnya sampai di pagi seperti ini.
“Kalau gitu saya mau minta Amara sebagai gantinya, Pak Zam,” ringan Dirja menjawabnya.
“Tapi Amara bilang kalian sudah selesai,” jawab Pak Zam sama ringannya.
Kini Dirja menoleh pada Amara yang masih mengintip dari balik punggung Pak Zam, “Emangnya iya, Sayang?”
Amara gregetan menahan sebal, kenapa lelaki ini selalu membuatnya kesal begini, sih? Kenapa ia masih bisa merasa salah tingkah dengan panggilan Dirja yang dikatakan di depan Pak Zam.
“Kamu ih, aku udah bilang putus. Aku udah bilang kita udahan.”
Ujung bibir Dirja naik pelan, Amara yang tadi pakai saya-kamu sudah kembali memanggil dirinya ‘aku’. Ia mengangkat bahu tak acuh, berniat membuat kesal perempuan yang tidak mau menghadapinya ini. “Apa aku jawab iya?”
Amara berkedip.
“Apa aku setuju dengan apa yang kamu bilang?”
Ingatannya tajam, jadi, ia menggeleng.
“Jadi, kita belum putus. Kamu masih pacar aku,” jawab Dirja dengan kepala yang memiring.
“Mana ada! Pak Zam liat tuh, red flag banget. Masa udah tunangan sama Nalika masih bilang pacaran sama aku?” Amara sungguh tidak bisa menjawab Dirja. Jadi ia membelokan aduannya pada Pak Zam yang masih menahan pintu.
Ia melirik Dirja yang sama sekali tidak mengubah pandangan mata padanya. Amara berkedip-kedip, lalu menarik diri semakin di belakang punggung Pak Zam.
“Kesalahpahaman ini sepertinya harus kalian selesaikan dengan baik,” jawab Pak Zam.
Kepala Amara mengangguk, ia baru akan bicara saat suara Pak Zam kembali terdengar.
“Jadi, duduk berdua dan selesaikan masalah kalian hari ini juga.”
Hah?!
“Kami akan membicarakannya dengan sangat baik, Pak Zam. Mungkin sambil temenin aku makan, Amara?”
Amara berdecak pelan. Kenapa Pak Zam juga seperti ini, sih?
-o0o-
“Yakin gak mau?”
Amara tidak menoleh. Ia memang duduk di depan lelaki yang kini sibuk dengan satu tusuk sate sapi di tangannya, tapi ia tidak mau saling melihat. Amara mengenal dari mana Dirja mendapatkan sarapannya. Mereka sering makan di sana, karena Amara suka.
Oh, Amara suka sekali. Sate jandonya, lemak yang meleleh di mulut. Lalu lontong komplitnya, bakwan disiram bumbu kacang. Itu favoritnya. Mulutnya berair dengan goadaan wangi ini.
“Sayang, sate jando-nya nanti keburu keras. Kamu kan suka sekal-“ kata-kata Dirja terhenti karena uluran tangan di dekat piringnya. Senyum dikulumnya, tangannya terulur meraih tangan Amara di depannya.
Tentu saja membuat si pemilik tangan kini menoleh, menarik tangannya. “Lepas, Kang,” pintanya. “Aku bukan minta tangan kamu,” potongnya sebelum Dirja mengatakan apa yang sudah Amara tebak.
“Lagian kamu gak sopan, aku makan kok di punggungin?” rajuk Dirja dengan mulut dimanyun-manyunkannya.
“Lagian kamu maksa banget mau makan di sini. Di sebelah kan juga bisa,” jawab Amara merujuk pada unit di sebelahnya. Sekarang ia sudah tidak lagi menarik tangannya, membiarkannya begitu saja di dalam genggaman tangan kiri Dirja. Genggaman yang masih terasa hangat.
Seperti biasanya, genggaman tangan Dirja tidak diam. Jempolnya mengusap-usap jemari ramping Amara pelan. Dengan keheningan yang menyita waktu di antara mereka. Keheningan yang terasa seperti mengambil waktu sepanjang hari. Senyum Dirja naik saat Amara hanya diam saja. Menunduk.
Fitur wajahnya yang Dirja rindukan, kini ada di depannya. Menunduk dengan helai-helai rambut yang tidak terjepit jedai-nya jatuh didepan wajahnya. Kacamata yang ia kenal juga dipakai Amara pagi ini. Amara yang tidak ready. Amaranya yang polos. Dengan bare face yang sempat dikhawatirkan oleh gadis itu.
Padahal ia cantik. Padahal Asmaranya cantik dengan atau tidak dengan makeup.
“Aaa,” katanya memecah hening. Tangan kirinya masih menahan tangan kanan Amara. Tidak rela melepaskannya. Dengan tangan kanannya, ia mengangkat satu tusuk sate favorit manusia favoritnya itu.
Amara mengangkat wajah. Tatapannya terpaku pada wajah lelaki yang sudah bersusah payah ia hindari seminggu ke belakang ini. Namun ternyata ia datang sendiri ke acara yang khusus dibuat untuknya itu.
Kini menatapnya kembali dari balik kacamatanya membuat Amara merasa ada yang berbeda. Karena lelaki yang menyangkal sudah putus darinya itu nyatanya sudah jadi tunangan sepupunya sendiri.
“Kenapa-“
“Ssttt!” Dirja menggeleng, “Aku minta Panji subuh-subuh ke Sate Abah, aku minta dia anterin sebelum dingin kesini, kamu gak kasian sama Panji?”
Curang.
Lelaki di depannya selalu tahu kelemahannya. Ia paling tidak bisa membuat pekerjaan orang lain jadi sia-sia.
Hap.
Amara melahap sate jando yang segera meleleh di mulutnya.
Dirja tersenyum senang. Tidak ada raut mengejek. Tidak ada raut kemenangan karena berhasil merayu. Ia hanya tersenyum seperti biasanya ia tersenyum setiap kali mata mereka beradu pandang.
Tidak ada obrolan apa-apa. Dirja melepaskan tangan Amara tanpa drama lagi. menyerahkan satu tusuk yang sedang dimakan gadisnya itu dengan lahap. Ia membuka bungkusan yang lain dan mengeluarkan bakwan yang sudah di potong-potong itu. Dengan cekatan mengambil piring dari kabinet dapur di belakangnya, memindahkan bakwan dan menyiramnya dengan bumbu kacang.
Tangan Dirja mengulurkan piring bermotif bunga matahari itu ke depan Amara setelah menambahkan tiga tusuk sate lagi. mengingat Amara bilang sudah sarapan, gadisnya pasti akan menolak lontong dan sate jika lebih dari tiga.
Amara makan tanpa suara. Ia menerima piringnya dengan anggukan pelan. Terlihat sekali kalau di antara mereka ada yang berubah. Bukan hanya dengan berkurangnya kata-kata yang mereka pakai di atas meja makan, tapi juga dengan gerakan canggung dan pandangan mata yang saling menghindari.
Lebih tepatnya Amara yang canggung dan menghindari tatap.
Tapi perhatian Dirja masih seperti biasanya. Bahkan lelaki itu tahu porsi yang diinginkan gadisnya. Air minum yang diambilkannya juga. Setengah gelas air hangat dengan tambahan es batu lemon yang sudah dibuat Amara setiap harinya. Dirja mengulurkan gelas air lemon itu juga di hadapan Amara.
Mata Amara melirik dengan ujung sudut matanya. Pelupuk matanya memanas begitu saja saat ia mengingat semua yang sudah terjadi di antara mereka sampai saat ini. Sebenarnya apa yang Dirja lihat dari dirinya? Ia hanyalah sebuah kekacauan. Tidak ada hal baik yang bisa Dirja dapatkan saat bersamanya.
Lalu apa yang salah sampai semuanya jadi seperti ini? Apa yang membuat Dirja mau bertahan dengannya?
Amara menelan kunyahannya dengan susah payah. Ia menyimpan sendok di tangan kanannya ke atas piring.
“Jangan minum lagi seperti tadi malam,” ucap Dirja begitu memindahkan duduknya jadi di kursi kosong sebelah kiri Amara.
Pandangan mata Amara naik lagi, menoleh memandang bagaimana lelaki di sampingnya berusaha agar tidak terbawa emosi.
“Aku gak yakin bisa ada di sana lagi saat kamu sedang tidak fokus begitu.”
Amara ingat kalau Elli bilang ada laki-laki yang mendatanginya dan itu yang membuat Dirja maju menerjang lelaki itu. Amara memandang pipi kiri Dirja, sedikit bengkak di sana. Tangannya terangkat tanpa sadar lalu mengusap pipi kebiruan itu, “Maaf,” bisiknya pelan.
“Ini gak sakit,” jawab Dirja dengan meyakinkan, “aku kan jagoan,” tambahnya dengan senyum. Kepalanya memiring, merasakan sentuhan Amara di pipinya.
“Tapi ini gara-gara aku.”
“Hm,” Dirja mengangguk.
Amara manyun, membuat Dirja mengekeh pelan.
Tangan Amara ditariknya turun. Syukur sekali kali ini Dirja tidak menahannya di sana. Amara menunduk lagi.
“Sebenarnya, apa yang terjadi pada kita, Kang? Kenapa semua jadi seperti ini? Gak bisakah kita kembali saling biasa seperti saat pertama bertemu?” lirih Amara bertanya lagi.
Kepala Dirja menggeleng pelan, “Memangnya biasa yang bagaimana? Aku sudah lupa bagaimana rasanya dulu. Karena enam bulan ini mengubah semuanya jadi lebih indah, Amara. Masa lalu bukan lagi apa yang aku pikirkan. Karena yang sekarang aku mau adalah kita.”
Amara menoleh lagi, “Kita dulu cuma dua orang yang gak saling mengenal, Kang. Kita dulu, cuma orang yang gak sengaja bertemu di satu pesta. Hanya itu.”
-o0o-