Delapan bulan yang lalu …
Tepuk tangan yang bersahutan dengan suara kecapi dan EDM yang memenuhi lantai runaway. Cahaya dari belasan lampu sorot memudar dan diganti dengan lampu utama yang terang benderang. Layar besar di belakangnya menampilkan logo dan tulisan namanya, Kupu by Amara yang berwarna butter yellow. Semua mata mengiringi langkah percaya diri Amara dengan tangan melambai pada setiap undangan yang hadir di jam shownya. Kupu sudah sukses menghadirkan diri dalam pagelaran fashion terbesar di Tanah Air.
Jakarta Fashion Week tahun ini sukses untuk Kupu.
Amara berbalik dan menunduk sekali lagi dengan senyum mengembang di bibirnya, lebar sekali. Sebelum kembali tegak dan berbalik, berjalan ke backstage. Lalu sorai suara menggema di sana begitu semua model yang membawakan rancangan Kupu tahun ini kembali.
“Terima kasih semuanya!” seru Amara dengan buncahan haru yang membuatnya menggembengkan air mata.
Bagaimana tidak, tahun kemarin ia hampir saja kehilangan kesempatan. Saat beberapa koleksinya malah menghilang saat seharusnya dipakai oleh modelnya. Kali ini, tahun ini, semuanya sukses. Tidak ada sabotase atau apapun itu namanya.
Kedua puluh modelnya ikut bertepuk tangan dengan suksesnya peragaan mereka. Semua orang yang berjasa dengan membawakan kebaya-kebayanya yang ia buat dengan sepenuh hati.
Gadis hampir dua puluh delapan itu mengangguk haru. Ia bisa sampai di sini dengan banyak sekali bantuan. Ini bukan hanya tentang dirinya, tapi semua orang yang juga ada di belakangnya, di belakang Kupu.
Termasuk Sakala Rangga, sepupunya.
-o0o-
“Lu gak sekalian kirim gue buket?” tanya Amara dengan tengilnya, tangan kirinya yang lentik menahan ponsel di telinga.
“Udah bagus gak ada baju yang ilang ya lu! Ngelunjak banget!” jawab Sakala di seberang teleponnya.
Amara terkekeh pelan, “Makasih, Kal,” ucapnya kemudian. Tidak ada nada tengil lagi. Kali ini ucapannya tulus dan serius. “Gue doain semoga Ala cepet ketemu,” tambahnya. Ini doa tulus juga untuk sepupunya yang tiba-tiba ditinggalkan pacarnya begitu saja. Padahal, Amara berani bersaksi kalau dengan Ala, Sakala benar-benar terlihat menjadi laki-laki yang baik.
Terdengar dengusan pelan dari lelaki yang empat tahun lebih tua dari Amara itu. “Udah ketemu,” jawabnya pelan.
“Hah? Beneran?” mata Amara membulat, “bagus, dong. Ayo bawa pulang, gue kasih gratis kebaya buat nikahan kalian.”
Sakala terkekeh pelan, “Gue cuma belum berani datangin Ala,” jawabnya pelan.
Dari nadanya, Amara bisa tahu kalau ada ragu yang dirasakan Sakala. “Kalau lu gak datangi, mana bisa lu tau apa alasannya dia pergi gitu aja. Lu udah baik sama gue, gue yakin kebaikan juga akan berbalik sama lu.”
“Omongan lu ya,” dengus Sakala, “udah ah. Lu cuma bilang makasih sama gue, kan? Jangan lupa buat gak ikut campur sama Wise.”
Si Pencari Keuntungan ini! Amara kembali tersenyum, yakin sekali kalau jawaban ketus Sakala hanya karena ia mendoakan kebaikan untuknya. “Gue tau gue harus apa. Lu bisa pegang omongan gue!”
Hubungannya dengan Saka memang seperti itu. Love-Hate yang biasanya kebanyakan adu cela. Sambungan telepon berakhir dan Amara kembali menatap ponselnya. Ia sudah melepaskan Wise Corp karena Sakala sudah membantunya membuat semua hal aman. Ia tidak lagi ikut dalam perebutan kekuasaan yang tidak diinginkannya itu.
Amara sudah tahu apa yang ia inginkan. Sejak lama. Hanya menjadi pemilik Kupu dan itu cukup untuknya. Kepalanya mengangguk, menurunkan ponsel, dan berbalik.
Duk!
Bahunya menabrak tubuh kokoh di belakangnya, dan
Brak!
“Oh!” pekik Amara saat ponselnya terlempar dan jatuh begitu saja.
Lelaki di depannya bereaksi yang sama. Menatap ponsel yang terbang dan jatuh mengenaskan. Tapi berbeda dengan Amara yang mematung di tempat, lelaki itu melangkah dengan balutan sepatu oxford berwarna tan. Mendekati tempat di mana ponsel Amara tergeletak lalu menuduk, dengan lutut kiri ditekuk. Mengambil ponsel dengan case berwarna kuning cerah bergambar bunga matahari di sana.
Mata Amara naik dan menatap lelaki yang membawakan ponselnya itu. Melihat setelan suit and tie berwarna cream dengan kemeja putih di dalamnya. Matanya terpaku menatap wajah tegas yang tidak tersenyum itu. Wajah datar yang membuat mata hitamnya terlihat tajam.
“Saya minta maaf,” ucap lelaki itu dengan suara yang tenang.
Amara berkedip, tidak ada nada menyesal dari suara yang keluar dari lelaki di depannya. Ia mengangkat bahu tak acuh lalu menarik napas. Dan dari lelaki di depannya, ia bisa menghidu wangi yang sudah lama tidak dihidunya. Wangi dari parfum yang dikenalnya.
“Anda bisa cek dulu, kalau rusak saya akan bertanggung jawab menggantinya,” katanya lagi sambil mengulurkan ponsel yang layarnya hitam di tangannya pada Amara.
Suara itu membuat Amara kembali sadar dari keterpanaan, kepalanya menunduk melihat ponselnya yang terulur. Tangan kanan dengan jari telunjuk berhiaskan cincin emas polos berbentuk gelombang itu menerima ponselnya sendiri. Membolak-balik benda kotak pipih itu lalu mengetuk layar, menekan tombol yang ada.
“Ini baik-baik saja,” ucap Amara yang kini memeriksa kamera. “Gak perlu diganti,” tambahnya.
Tidak ada yang rusak. Mungkin belum.
“Anda yakin?” tanya suara itu lagi.
“Hm,” Amara mengangguk dan tersenyum, “lagipula, kayaknya saya yang salah karena berbalik gak lihat dulu padahal jelas ini di kerumunan.”
“Both of us,” jawab lelaki itu.
Sebelah alis Amara terangkat.
“Saya juga tidak melihat dan berakhir menabrak,” tambahnya dengan suara yang tidak lebih ramah.
Padahal itu sudah dua kali kalimat penyesalan. Tapi tidak ada nada menyesal sama sekali. Amara menggeleng saat menyadari dirinya kembali menjadi polisi attitude, “It’s ok, hapenya baik-baik aja, kok,” jawabnya lebih santai. Bibirnya tersenyum otomatis.
Lelaki itu mengangguk, “Anda sendiri ba-?”
Alis Amara terangkat pelan.
“-ja!”
Baik lelaki di depannya, juga Amara, mereka sama-sama menoleh pada suara ramah yang memanggil dengan ceria itu. Lelaki tampan lainnya yang memakai setelan jas casual, dan berjalan santai ke arah mereka.
“Gue cariin dari tadi!” ucap lelaki yang kini merangkul pundak lelaki di depan Amara. “Ayo, ayah mau ketemu lu!” katanya lagi dengan nada ramah.
Terdengar bertentangan dengan lelaki tanpa nada di depannya, batin Amara.
“Amara dari Kupu, kan?” lelaki itu menoleh pada Amara.
Gadis itu mengangguk, tanpa memutus senyumnya, “Benar.”
“Gue pinjem dulu Dirja, ya? Kalian bisa ngobrol lagi nanti,” katanya dengan lebih ramah.
Dirja.
Mata Amara melirik lelaki yang sejak tadi diam menatapnya. “Oh, silakan. Urusan kami sudah selesai,” jawab Amara dengan tangan bergerak mempersilakan.
Mata lelaki ramah itu menyipit, “Gak mau lanjut ada urusan sama cowok ini?” tanyanya sok misterius.
Giggle kecil Amara terdengar, kepalanya memiring kecil, “Sepertinya anda yang punya urusan lebih penting,” jawabnya ringan.
“Kamu benar!” serunya dengan mata yang membulat. Tangan kanannya yang masih merangkul lelaki bernama Dirja itu, “Kalau gitu kami permisi, Amara,” pamitnya. Ia mundur sambil menarik Dirja.
Amara mengangguk kecil dan tersenyum saat Dirja juga mengangguk pelan padanya untuk pamitan dari hadapannya. Mata mereka yang masih saling melihat, berkedip dan sama-sama saling mengalihkan pandangan. Ia menunduk menatap ponselnya yang memang baik-baik saja.
“Lu tau gak siapa orang di depan lu tadi?”
Suara yang tepat berada di telinga kanannya itu membuat Amara berjengit dan jantungnya berdebar cepat. “Elliana Sakira Kalam!” desis Amara pelan. Tahu sekali siapa yang akan tiba-tiba berada di sampingnya seperti ini. Ia mengangkat wajah dan memberi bombastic side eyes pada cewek berambut pink di sampingnya.
“Kalau itu sih gue,” sahut Elli dengan santainya. Lalu berdiri di samping Amara sambil melirik kedua lelaki yang tadi ada di hadapan gadis di sampingnya ini.
Tangan Amara menahan diri untuk tidak menoyor kepala cewek yang santai sekali mengagetkannya itu.
“Lu tau siapa cowok tadi, gak?” Elli kembali bertanya dan tidak memedulikan Amara yang kini kembali menunduk memasukan ponsel di dalam Lady Dior-nya.
“Gak tau,” jawab Amara jujur, “tapi gue denger tu cowok dipanggil Dirja.”
Tubuh Elli mencondong ke arah Amara.
Gesture yang sudah Amara kenali sekali, ia ikut mendekatkan kepala. Tidak mau ketinggalan sesi ‘spill the tea’ yang akan Elli mulai. Sahabatnya memang seperti akun gosip berjalan.
“Lu tau skandal Yuma tahun lalu, kan?” bisik Elli.
Siapa yang tidak tahu?! Dalam dunia fashion yang sekecil ini nama sebesar Yuma sungguh sudah sangat terkenal.
“Pacarnya Yuma yang diselingkuhin itu adalah Dirja.”
Tangan kanan Amara naik menutup mulutnya yang terbuka. Ia melirik ke arah lelaki yang kini sudah tidak terlihat di dalam ball room ini. Lalu kembali menatap Elli, “Yuma selingkuh dari cowok seganteng itu?”
“Iya, plenger gak tuh si Yuma?”
-o0o-