Awal mula petualangan

1921 Kata
Barang bawaan sudah lengkap, personil sudah komplit dan mobil juga terlihat cukup mumpuni unutk menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka mumutuskan untuk berangkat.Robi juga tidak tahu entah berapa lama mereka akan samapi di sana, namun jika di lihat dari Google Maps, perjalanan akan membutuhkan ± 12 jam. Jika sekarang mereka berangkat pukul enam pagi, kemungkinan mereka akan samapi di kampung nenek Robi kurang lebih jam enam malam, terlihat cukup lumayan lama bagi mereka yang sehari-hari hanya pulang pergi kantor. “Ini orang enggak kita bangunin saja?” tanya Anjas yang melihat Fano masih terlihat tidur pulas. “Enggak usah, biarkan saja dia seperti itu. Lagian dia juga enggak ikut gantian nyetir juga” jawab Aries. “Iya, malah jadi repot nanti kalau dia bangun” ucap Robi yang sudah tahu bagaimana berisiknya Fano jika nanti dia bangun. Mereka sepakat untuk bergantian menyetir nantinya, karena perjalanan akan memakan waktu ± 12 jam, maka akan terjadi tiga kali pergantian supir, masing-masing akan menyetir 4 jam perjalanan. Karena ini adalah mobil milik Robi, dia memilih untuk yang pertama menyetir dan kemudian nanti Anjas dan yang terakhir Aris. “Emang masih alami banget ya kampung nenekmu Rob?” tanya Aris yang tampak masih penasaran dengan kampung nenek Robi. “Dulu sih waktu aku terakhir ke sana masih benar-benar alami banget, bahkan katnya di hutan sana masih ada harimau” jawab Robi. “Harimau, bahaya dong berarti di sana. Kalau sampai harimaunya masuk perkampungan gimana?” tanya Anjas “Ya enggak mungkin, mana berani harimau kontak langsung dengan manusia. Selain itu hutan di sana juga masih terjaga dengan baik kok, sehingga ekosistem di sana masih terjaga” ucap Robi. “Mungkin saja, ada tuh berita orang di terkam harimau di TV” sahut Anjas. “Kalau di bilang mungkin ya mungkin saja, tapi sebenarnya harimau juga takut jika bertemu manusia. Mereka menyerang seperti itu karena merasa terancam, kalau ada kesempatan buat mereka pergi, mereka akan pergi” ucap Aris. “Sok tahu kamu ris” sahut Anjas kembali. “Kecuali manusianya seperti kamu, pasti langsung diterkam habis sama mereka. Mungkin tulang-tulang kamu juga akan di makan sama mereka” ucap Aris yang mencoba untuk menakut-nakuti Anjas. Tak terasa mereka sudah melakukan 4 jam perjalanan, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu untuk makan, karena sedari pagi perut mereka belum kemasukan nasi. Selain itu mobil Robi juga mebutuhkan istirahat, kasihan jika terus di paksakan. Walaupun mereka sudah menempuh 4 jam perjalanan, Fano terlihat masih tampak sangat amat nyaman sekali tidur dengan posisi duduk, mungkin dia kecapekan karena tadi pagi dia yang memasukan semua barang-barang dan koper ke dalam mobil. “Ayo cepat bangunkan dia!” Aris menyurh Anjas yang duduk di samping Fano unutk membangunkannya. “No, Fano. Ayo bangun, kita makan dulu” ucap Anjas sembari menepuk pundak Fano. “Kita sudah sampai ini?” ucap Fano dengan mata yang masih sipit karena baru saja bangun. “Belum, masih jauh perjalanan. Ayo turun, kita makan dulu” ajak Robi. Mereka berempat segera turun dari dalam mobil. Robi, Aris dan Anjas berjalan memasuki restaurant, sedangkan Fano berjalan menuju kamar mandi, dia ingin mebasuh mukanya terlebih dahulu agar tidak terlihat kucel seperti orang yang baru bangun tidur. Dengan lahapnya mereka memakan makanan yang mereka pesan, karena memang mereak sudah lapar sedari tadi. Seperti biasa, Fano tampak sangat rakus jika melihat makan enak, sampai-sampai harus berebut makanan seperti anak kecil dengan Anjas. Mereka sudah selesai makan. Sesuai kesepakatan di awal, Anjas yang kali ini akan gantian menyetir mobil samapi 4 jam ke depan. Sebenarnya Anjas merasa malas jika dia harus menyetir, karena menurut dia menyetir selama 4 jam akan terasa sangat melelahkan bagi dia yang setiap hari kerjaannya hanya pulang pergi kantor yang jaraknya tidak seberapa. “Semangat dong, masak mau nyetir malah lemes kayak gitu” ucap Aris yang melihat Ajas tampak ogah-ogahan untuk menyetir. “Atau aku saja yang bawa mobilnya? Kalian bertiga tidur saja” ucap Fano. “Engak usah, terimakasih. Biar aku saja, daripada dia yang bawa, nanti kita bertiga malah bisa tidur selamanya” ucap Anjas. Akhirnya Anjas meskipun sedikt malas, dia memaksakan diri untuk mebawa mobilnya. Awal-awal Anjas membawa mobil tampak masih baik-baik saja. Bahkan ketiga orang temannya tampak tertidur dengan nyenyak, karena mungkin mereka merasa sangat nyaman dengan cara Anjas menyetir mobil. Baru juga mereka bertiga merasakan enaknya tidur, dan kini mereka harus tiba-tiba terbangun karena mereka merasa Anjas mengerem mendadak dan menabrak sesuatu. “Ada apa sih Njas?” ucap Aris yang kaget. “Matilah aku” ucap Anjas yang kemudian turun dari mobil. Aris, Robi dan Fano yang baru saja terbangun tampak kebingungan, mereka tidak tahu apa yang sebanrnya terjadi. Mereka bertiga segera turun dari mobil dan menghampiri Anjas yang berdiri di depan mobil sambil clingak-clinguk mencari sesuatu. “Kamu cari apaan sih njas?” tanya Robi pada Anjas yang tetap masih terlihat sedang mencariu sesuatu. “Tadi ada dua anak kecil tiba-tiba berlari nyebarang dari arah sana ke sini, dan kelihatannya mereka berdua tertabrak oleh ku” jawab Anjas “Anak kecil? Mana ada anak kecil di tengah hutan seperti ini” sahut Aris. “Tengah hutan?” gumam Anjas. Anjas menjadi bingung ketika melihat ke sekeliling yang ternyata memang benar-benar hutan denagn pohon yang rimbun dan besar, padahal dia jelas-jelas ingat ketika dia menabrak kedua anak kecil itu mereka sedang ada di tengah-tengah kota. Anjas menjadi bingung kenapa seketika berubah seperti ini, namun dia memilih untuk diam saja. “Enggak ada anak kecil yang ketabrak, aku sudah cek di belakang juga enggak ada” ucap Robi. “Tapi tadi akau benar-benar melihat ada dua anak kecil yang menyebrang, makanya aku banting setir ke kiri ini” ucap Anjas. “Halusinasimu saja kali. Kalau kamu memang sudah merasa capek bilang saja, biar aku yang nanti gantian menyetir” ucap Aris “Untung saja kita enggak masuk ke situ tadi” ucap Fano yang melihat di sebelah kiri mereka yang mungkin hanya berjarak dua meter dari mobil mereka ada jurang yang tampaknya sangat dalam. “Sudahlah, yang penting tidak ada apa-apa. Ayo lanjutkan perjalanan saja, keburu malam nanti” ucap Robi. Mereka akhirnya melanjutkan kembali perjalan. Di sepanjang jalan Anjas masih merasa bingung dengan kejadi tadi. Namun dia mencoba untuk melupakan kejadian itu, mungkin saja apa yang di katakana Aris benar, itu hanya halusinasinya saja. Lebih baik dia fokus unutk menyetir saja, agar tidak terjadi hal-hal aneh lagi. Hari sudah tampak semakin sore, namun mereka tak kujung sampai-sampai juga di tempat tujuan. Anjas mencoba melihat jam, dan ternyata sudah hampir jam 5 sore, namun ketika dia melihat Google Maps, perjalanan masih membutuhkan 4 jam lagi yang seharusnya hanya butuh satu jam. Fano yang merasa mereka tidak kunjung sampai, tampak menjadi sedikit kesal. “Kapan kita sampainya ini” ucap Fano dengan nada agak tinggi. “Ya sabar, aku juga sudah ngikuti Maps ini” sahut Anjas yang merasa dirinya tidak mau jika dia disalahkan. “Tenang-tenang, jangan pada berantem kayak gini. Coba kita berhenti dulu” ucap Robi. Anjas segera meminggirkan dan menghentikan laju mobilnya, dia merasa ada yang tidak beres. Terlintas di dalam otaknya apa mungkin mereka saat ini tersesat, namun Anjas rasa itu tidak mungkin, karena sedari tadi dia sudah mengikuti arah dari Maps. “Kenapa jam segini kita masih di sini ya?” ucap Aris. “Makanya itu, apa mungkin kita salah jalan?” ucap Robi. “Kamu sudah benar-benar mengikuti arah jalan di maps kan?” tanya Robi pada Anjas. “Sudah, aku yakin jalan yang aku ambil jalan sesusai dengan apa yang ada di maps” jawab Anjas. “Ini sudah jam lima lebih lo, harusnya kita sudah hampir sampai. Kalau jam segini saja kita masih di sini, kita sampai di sana jam berapa?” ucap Aris. Robi meminta semua orang agar tenang terlebih dahulu, tidak ada gunanya jika mereka panik dan kesal seperti ini. Setelah berdiskusi, akhirnya mereka memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan, entah harus berapa lama lagi mereka akan sampai. Namun kali Anjas enggan jika harus menyetir lagi dan meminta Aris menggantikakannya, dia beralasan bahwa dia sudah capek dan takutnya jika dia terus yang bawa mobil, mereka tidak akan sampai-sampai. Semau teman-teman Anjas memaklumi itu, karena dia hampir 7 jam sendiri menyetir mobilnya. “Berarti ini aku yang nyetir sekarang?” tanya Aris. “Iya, capek aku ris. Kamu aja yang gentian nyetir” jawab Anjas. “Atau akau saja?” ucap Fano yang berniat menawarkan diri. “Diam, kamu lebih bik tidur saja” sahut Anjas. Belum juga mereka melanjutkan perjalanan, masalah baru sudah muncul lagi. Kali ini giliran bahan bakar mobil mereka habis, benar-benar habis tidak tersisa. Padahal mungkin baru sekitar 2 jam yang lalu mereka mampir ke SPBU untuk menisis bahan bakar, namun sekarang sudah kehabisan. “Kamu tadi isi berapa sih njas?” tanya Aris kepada Anjas yang melihat lampu indikator sudah merah. “Tadi aku isi full tank, yakin banget full tank” jawab Anjas yang tampak sangat yakin. “Masa iya tangki bensinmu bocor Rob?” tanya Aris pada Robi. “Enggak tahu kalau itu, ayo coba cek” jawab Robi. “Mungkin di depan sana nanti ada SPBU, kita dorong saja kali ya” ucap Fano. “Kamu sendirian aja yang dorong” sahut Anjas. Robi dan Fano enggan memperduliakn perdebatan mereka berdua, mereka memilih untuk segera turun dan menyenteri ke arah tangki bensin yang berada di bawah, dan kelihatannya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda kobocoran. Namun ketika mereka berdua ingin kembali masuk kembali ke dalam mobil, Robi merasa ada sebuah keanehan. Setelah mencoba menyenteri di sekitar mereka, akhirnya Robi baru ingat jika tempat ini adalah temapt di mana Anjas mengatakan bahwa ia menabrak anak kecil, mereka kembali ke hutan itu. “Kenapa kita bisa sampai di sini lagi?” ucap Robi yang tampak bingung. “Di sini lagi? Di sini lagi mana?” tanya Aris yang masih tidak paham dengan ucapan Robi. “Coba kamu lihat dan ingat-ingat lagi di mana kita sekarang” ucap Robi yang kemudian meberikan senternya pada Aris. “Astaghfirullah” Aris kaget ketika dia menyadari bahwa mereka berada di hutan yang sama waktu sore tadi. Merasa ada yang aneh, mereka berdua bergeas masuk kembali ke dalam mobil. Fano dan Anjas yang melihat Robi dan Aris tampak seperti orang yang ketakutan, mebuat mereka menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. “Kenapa-kenapa? Tangkinya besar lubangnya?” tanya Fano. “Tangki-tangki, kepalamu mirip tangki” jawab Aris. “Terus ada apa? Kenapa kalian ketakutan seperti ini?” tanya Anjas. “Coba lihat, dimana kita sekarang!” ucap Robi. Fano dan Anjas menccoba melihat ke luar, dan alangkah terkejudnya mereka setelah menyadari bahwa mereka berada di hutan yang sama, di hutan dimana Anjas merasa menabrak dua orang anak kecil. Padahal jelas-jelas mereka tadi berada di jalan yang padat akan rumah-rumah dan kantor. Merasa takut, Anjas dan Fano segera masuk kembali ke dalam mobil. “Kenapa kita bisa balik lagi ke sini?” ucap Anjas yang tampak sanagt ketakutan. “Mana kau tahu, kan kamu tadi yang bawa mobilnya” ucap Robi. Di tengah ketakutan mereka, tiba-tiba saja ada bunyi orang mengetuk pintu kaca mobilnya dari samping, dan tentu saja itu membuat ketakutan mereka bertambah. Robi menyurh Anjas yang mebawa senter untuk mencoba menyenteri ke arah sumber suara yang berada di sebelah kanan “Ayo cepat kamu senteri” ucap Robi, karena suara ketuka itu tidak kunjung berhenti. “Ayo cepat” ujar Fano dan Aris. Anjas meberanikan dirinya untuk menyenteri, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat ada seorang pria dengan mata besar mengetuk-ngetuk kaca mobil mereka. Mereka berempat menjadi berteriak sekeras-kerasnya di dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN