Terpikir kembali untuk liburan

1307 Kata
Sudah seminggu sejak kedua orang tua Robi meninggal dunia, Robi masih tampak belum percaya bahwa sekarang dia menjadi anak yatim piatu. Aris yang terus menginap dan menemani Robi semenjak seminggu yang lalu merasa kasihan padanya. Setiap sore ketika matahari mulai tenggelam, Robi selalu saja masuk ke dalam kamar orang tuannya dan menyendiri di sana, entah apa yang ia lakukan di sana Aris juga tidak tahu, karena dia selalu mengunci pintunya dari dalam. Mungkin saja dia merasakan rindu yang amat luar biasa pada kedua orang tuanya ketika malam tiba. Wajar saja, dia adalah anak tunggal yang sedari kecil sudah tinggal pergi oleh kedua orang tuanya unutk bekerja ke luar kota, waktu kebersamaan dia dengan mereka amat sanagat sedikit. Dan sekarang justru waktu kebersamaan itu berubah menjadi tidak ada sama sekali. Robi sudah berulang kali menyuruh Aris untuk pulang, karena dia merasa tidak enak hati jika meminta Aris terus-terus menginap dan menenmaninya di rumah, namun Aries selalu saja menolak untuk pulang dulu, karena menurut dia ini bukanlah waktu yang tepat untuk meninggalkan Robi sendirian. “Rob, ayo makan dulu, mbak sudah menyiapka makan malam itu di meja” ucap Aris dari depan pintu kamar orang tua Aries. Sudah hampir satu jam lamanya Robi berada di dalam, kadang-kadang dia bisa di sana sampai bejam-jam bahkan pernah sampai tertidur di sana sampai-sampai tidak makan malam. “Iya, sebentar ris. Kamu turun dulu saja, nanti aku nyusul” sahut Robi dari dalam kamar. Robi akhirnya turun lebih dulu sesuai dengan permintaan Robi, namun bukan berarti dia akan makan lebih dulu juga, dia tetap akan menunggu Aris turun kebawah juga. Tiba-tiba saja dua orang temannya yang lain ternyata juga datang malam ini. “Robi mana? Kamu kok sendirian di sini?” tanya Anjas yang baru saja tiba. “Dia masih di atas, bentar lagi palingan juga turun dia” jawab Aris. “Ayo ikut makan sekalian” ajak Aris. “Nah ini, apa akau bilang kan njas, kita datang diwaktu yang tepat” ucap Fano sembari tertawa. Aris dan Anjas hanya mengeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum mendengar perkataan sahabatnya yang satu ini, karena mereka sudah hafal sedari dulu memang seperti itulah Fano yang mereka kenal, selalu tiba-tiba menjadi semangat ketika melihat makanan yang enak. “Kapan kalian sampai?” tanya Robi yang berjalan turun dari tangga. “Baru juga kita berdua sampai” jawab Anjas. “Yaudah, ayo sekalian ikut makan” ajak Robi. “Dengan senang hati” ucap Fano. Mereka berempat segera menyantap hidangan makan malam yang sudah disiapkan di atas meja makan, Robi merasa sangat bahagia melihat ketiga orang sahabatnya makan dengan lahap. Dia merasa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti mereka yang tetap berada di sisinya dan menghiburnya disaat kondisi dia sedang seperti ini. Makan malam telah selesai mereka lakukan, sekarang waktunya mereka untuk menggunakan energi mereka yang sudah penuh kembali untuk mengobrol santai. Dari mebahas hal yang penting hingga hal yang tidak penting pun mereka lakukan, yang ujung-ujungnya Fano akan menjadi sasaran bulyan. Di tengah-tengah obrolan mereka, Robi melihat para sahabatnya yang menurut dia sudah sangat capek menemani dan mengiburnya sepanjang waktu, terutama Aris yang sudah seminggu penuh menginap untuk menemaninya, Robi merasa tidak enak hati dan kasian. Terpikir olehnya untuk mebalas apa yang telah mereka lakukan dengan sesuatu yang membuat mereka senang tentunya. “Mungkin dengan melanjutkan kembali rencana liburan yang kemarin tertunda akan membuat mereka senang” gumam Robi. Namun Robi tidak bisa langsung memutuskan begitu saja, dia harus menanyai dulu pendapat mereka bertiga, apakah mereka masih ada waktu atau tidak. Karena Robi tahu mereka hanya mempunyai sedikit sekali waktu liburan, dan mungkin saja sebentar lagi mereka akan masuk kerja kembali. “Eh, bagaimana kalau kita melanjutkan rencana liburan kita yang sempat tertunda itu?” tanya Robi secara tiba-tiba. Ketiga orang itu yang mendengar Robi tiba-tiba berbicara seperti membuat mereka kaget, mereka kompak melihat ke arah wajah Robi, memastikan apakah yang dia barusan bicarakan serius atau bercanda. “Kok malah pada diam, setuju atau tidak?” tanya Robi kembali. “Kamu yakin?” tanya Aris yang tampak masih tidak yakin dengan perkataan Robi. “Yakinlah, kenapa harus tidak yakin” jawab Robi yang tampak sangat semangat. “Kalin berdua gimana? Mau berangkat enggak?” tanya Aris pada Anjas dan Fano. “Oh kita berdua selalu siap berangkat, iya enggak njas” ucap Fano. “Tentunya siap doang” sahut Anjas. Akhirnya mereka sepakat untuk melanjutkan rencana liburan mereka yang sudah berulang kali tertunda. Dan tetap pada rencana awal, mereka akan pergi liburan ke kampung nenek Robi. Robi mengtakan bahwa mereka bertiga tidak perlu pulang untuk mengemasi baju karena akan memakan banyak waktu dan tenaga. Robi yang akan menyiapkan semuanya, jumlah baju dia sudah lebih dari cukup jika hanya digunakan untuk mereka berempat. Mereka sepakat untuk berangkat besok pagi. “Kamu yakin baju kamu cukup untuk empat orang? Kita di sana bisa dua sampai tiga hari lo” tanya Fano “Sudah tenang saja, mau di sana satu minggu pun pasti cukup kok” jawab Robi. “Tapi ingat, malam ini tidak ada yang boleh mimpi-mimpi buruk lagi, apalagi buruk karena di selingkuhin pacar” ucap Aris. Semua orang tertawa mendengar ucapan Aris, terkecuali Anjas. Dia tahu kalau Aris sedang menyindirnya. Mereka memutuskan untuk segera mengemasi barang yang akan mereka bawa besok dan kemudian tidur lebih awal agar besok tidak bangun kesiang besok pagi. Fano yang tampaknya sangat bersemangat ingin berangkat liburan, sedari pagi dia sudah mulai memindahkan barang dari rumah menuju mobil, padahal tiga orang temannya masih tampak tertidur pulas. Fano enaggan untuk membangunkan mereka bertiga, karena dia sadar diri cuma dia yang tidak bisa menyetir. Nanti ketika mereka bertiga bergantian menyetir mobil, giliran Fano yang akan menata bantal untuk tidur. “Kamu ngapain pagi-pagi begini sudah berisik?” tanya Anjas yang merasa terganggu oleh suara Fano menatik koper. “Hehehe, ini mau masukan koper ke dalam mobil” jawab Fano. “Tumben rajin banget kamu hari ini” ucap Anjas. “Iyalah, sebenarnya cuma hari ini aja sih” sahut Fano. Terserah apa yang di lakukan oleh Fano, Anjas tidak peduli. Biarkan dia melakukan hal apa yang ingin dia lakukan, yang terpenting dia tidak menggangu waktu dia tidur. Mata Anjas masih terasa sangat ngantuk sekali, dia segera melanjutkan tidurnya bersama Robi dan Aris. Tak terasa pagi telah tiba, semua orang sudah bersiap-siap untuk berangkat. Namun ada satu hal yang sekarang membuat mereka menjadi bingung, Fano hilang entah kemana. “Tadi kamu lihat dia tidak?” tanya Aris pada Anjas “Sewaktu tadi aku bangun, akau sudah tidak melihatnya. Tapi tadi pagi sekitar jam lima di sudah sibuk memasukan koper ke dalam mobil” jawab Anjas. “Terus di mana dia sekarang” tanya Aris lagi. “Mungkin dia masih tertidur disuatu tempat kali ya” ucap Robi. Akhirnya mereka berempat mencoba mencari Fano ke setiap sudut dan kamar yang ada di rumah Robi, siapa tahu dia tertidur di sana. Sudah hampir lima belas menit mereka mencari Fano, sudah seluruh kamar yang ada di rumah Robi mereka buka, namun tidak ada seorangpun yang menemukan Fano. Mereka berkumpul di teras depan, berdiskusi harus kemana lagi harus mencari Fano. “Oh iya, kenapa kita tidak coba telepon saja” ucap Aris yang mendapatkan ide tersebut secra tiba-tiba. “Bener juga, kenapa kita enggak kepikiran sejak tadi” sahut Robi. Aris segera menelepon Fano, namun juga tak kunjung dia angkat. Namun Aris menyadari ada sesutu hal yang aneh, dia merasa mendengar suara nada dering yang mirip dengan handphone Fano. Setelah ia mencoba mencarai sumber suara tersebut, tenyata suara itu berasal dari dalam mobil Robi, mobil yang akan digunakan untuk liburan. Dan ternyata dugaan Aris benar, Fano sudah ada di dalam mobil Robi dengan posisi sedang tidur. Bahkan dia sudah berpakaian rapi, layaknya seseorang yang sudah siap untuk pergi jauh. Mereka bertiga yang melihat kelakuan konyol Fano hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sembari tertawa, mereka tidak menyangka ada orang yang berkelakuan seperti itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN