“Njas bangun njas” ucap Robi yang melihat Ajas mengalami mimpi buruk lagi.
“Kenapa dia?” tanya Fano yang baru saja bagun karena mendengar Anjas yang terus-terus berteriak meminta tolong.
“Kayaknya dia sedang mimpi buruk” jawab Aris.
Seperti apa yang di alaminya tadi malam, Anjas tampaknya mengalami mimpi buruk lagi. Namun kali ini sudah hampir sepuluh menit lebih dia tak kunjung bangun juga. Aris dan Robi yang tidur di sampingnya menjadi terbangun karena teriakan Anjas yang cukup keras.
“Bagaimana ini?” ucap Aris yang tampak sudah bingung mau mebangunkan Anjas dengan cara apa lagi, dia dan Robi sudah sudah sedari tadi berulang kali memanggil-manggil namanya, namun Anjas tak kunjung bangun juga.
“Aku ada ide, dulu ini yang selalu mama akau lakukan ketika aku mimpi buruk” ucap Fano.
“Apa?” tanya Robi.
“Sebentar, aku ambil alat dan bahannya dulu” jawab Fano yang kemudian pergi ke dapur.
Robi dan Aris juga tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Fano, mungkin saja memang dia sudah pengalaman menangani orang yang sedang seperti ini, dengan sabar Aris dan Robi menunggu Fano kembali.
“Kalian minggir, biar kau coba tangani” ucap Fano yang mebawa segelas air putih.
“Kamu mau ngapain? Orang tidur mana bisa minum” ucap Aris yang mengira Fano akan memberi minum Anjas
“Hust, kamu diam dulu. Lihat bagaimana aksiku” ucap Fano.
Mulutnya mulai komat-kamit seperti sedang mebacakan do’a , Robi dan Aris pun tidak tahu do’a apa yang dia sedang baca. Melihat Fano melakukan hal seperti itu, Robi dan Aris merasa ingin tertawa, namun mereka berdua berusaha untuk tidak melakukannya. Mereka mebiarkan Fano bertindak sesuka dia, siapa tahu cara yang dia lakukan ini akan berhasil.
“Bismillahirrahmanirrahim” teriak Fano yang kemudian menyiprat-nyipratkan air yang ada di dalam gelas ke muka Anjas.
Namun tampaknya usaha yang di lakukan oleh Fano gagal, sudah tiga kali dia melakukan hal yang sama namun Anjas tak kunjung bangun juga, justru sekarang dia berteriak lebih keras.
“Mati kau, itu lihat setannya malah tambah marah “ ucap Aris.
“Tenang-tenang, akau masih punya cara yang terakhir. Aku yakin cara ini akan ampuh seratus kuadrat” ucap Fano.
“Sertaus persen mungkin yang benar” sahut Robi.
“Kamu diam, aku di sini yang tahu caranya. Apa kamu yang mau coba untuk membangunkannya? “ ucap Fano yang tidak mau di salahkan.
“Oh tidak-tidak. Silahkan tuan guru saja yang melakukannya” ucap Robi yang tampak menahan ketawa.
“Nanti mohon bantuannya, ketika aku angkat tangan, kalian ucap “Bismillahirrahmanirrahim" ya” ucap Fano.
“Oh, oke-oke. Dengan senang hati kami akan melakukannya untuk tuan guru” ucap Robi.
Fano sekarang tidak lagi mencelupkan jarinya ke dalam gelas, justru sekarang dia mulai mengangkat gelasnya dan memasukan semua air yang tersisa di dalam gelas ke dalam mulutnya, dia pakai untuk kumur-kumur air itu.
“Sekarang waktunya kita teriak “Bismillahirrahmanirrahim”?” tanya Aris
“Sebentar, tuan guru belum mengangkat tangannya. Kita tunggu aba-aba dari dia dulu” jawab Robi.
Tak lama kemudian Fano mengangkat tangannya, yang tandanya do'a yang dia baca sudah selesai.
“Bismillahirrahmanirrahim” teriak Aris dan Robi.
Belum juga dia menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya, tapi Anjas sudah terbangun dari tidurnya. Fano yang kaget melihat Anjas tiba-tiba bangun tak sengaja malah menelan air yang sedari tadi ia kumur-kumur. Robi dan Aris yang melihat Anjas sudah bangun tampak sangat senang dan lega. Senang karena dia sudah bangun dan lega karena Ajas tidak jadi disembur oleh Fano.
“Tuan guru memang benar-benar maha guru” ucap Robi dengan ketawa.
“Cara yang benar-benar jenius untuk dilakukan” sahut Aris.
Fano yang mendengar teman-temannya memujinya, dia menjadi merasa bangga, dia pikir memang dia yang berhasil memabangunkan Anjas dari mimpi buruknya.
“Memang sudah seharusya aku melakukan hal itu” ucap Fanno dengan bangganya karena dia merasa teman-temannya memujinya, padahal aslinya mereka berdua justru mengejak dia, namun dia tidak sadar akan hal itu.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Robi pada Anjas yang tampak masih linglung seperti oranng bingung.
“Iya, aku baik-baik saja” jawab Anjas
Robi segera meminta Fano untuk mengabilkan segelas air puti lagi untuk Anjas, namun kali ini dia berpesan cukup mengambilkan saja, jangan ia beri doa’a lagi, apalagi sampai ia gunakan untuk kumur-kumur kembali.
“Itu sudah tidak perlu lagi untuk di lakukan” ucap Fano yang kemudia segera bergegas ke dapur untuk mengambilkan air untuk Anjas.
“Kamu mimpi buruk lagi?” tanya Robi pada Anjas
Anjas hanya menjawab pertanyaan dari Robi dengan anggukan kepala, tampaknya dia masih terbayang-banyang dengan mimpinya. Fano pun datang dengan membawakan segelas air putih untuk Anjas.
“Ayo minum dulu, biar kamu lebih tenang” ucap Robi.
“Mau aku beri do’a dulu enggak?” tanya Fano.
“Sudah cukup, do’a tuan guru tidak dibutuhkan lagi untuk sekarang. Simpan untuk nanti saja” sahut Robi.
Anjas segera meminum air yang dibawakan oleh Fano, dan kemudian duduk terdiam bersandar di sofa. Semua orang belum berani untuk menanyai mimpi apa yang ia alami hingga bisa seperti ini. Mereka membiarkan Anjas untuk bisa tenang terlebih dahulu.
Anjas terlihat sudah mulai tenang sekarang, dia sudah bisa ikut bercanda dengan paraa kawannya, namun raut wajahnya masih belum terlihat seperti biasanya. Para temannya belum berani untuk menanyakan mimpi apa yang ia alami semalam, biarkan dia sendiri yang menceritakannya jika memang ingin cerita. Justru sekarang yang menjadi masalah adalah apakah mereka jadi berangkat liburan hari ini atau justru harus ditunda lagi karena melihat Anjas yang sedang seperti itu. Robi sudah cerita pada Fano dan Aris jika sebenarnya Anjas tadi malam juga sudah mengalami mimpi buruk seperti itu, namun hanya sebentar. Robi akhirnya meberanikan diri untuk bertanaya.
“Bagimana, apa jadi berangkat hari ini?” tanya Robi.
Aris dan Fano terlihat memilih diam, mereka sebenarnya sanagt siap jika berangkat hari ini, namun yang tergantung bagaimana dengn Anjas, apakah dia siap jika bernagkat liburan hari ini. Semua kepurtusan tergantung pada Anjas kali ini.
“Kenapa pada diam? Jadi berangkat enggak ini? Sudah hampir siang ini” tanya Anjas yang melihat Fano dan Aris yanag hanya diam.
Aris dan Fano yang mendengar Anjas berbicara seperti itu menjadi kaget, ini menandakan bahwa ia siap jika mereka berangkat liburan hari ini.
“Jadi dong, ayo masukan semua barang ke mobil” sahut Fano yang tampak semangat sekali.
“Ya udah, ayo cepat siap-siap” ucap Anjas
Mereka berempat bergegas memasukan semua barang yang sudah mereka siapkan tempo hari ke dalam mobil Robi yang sudah terpakir di depan. Mereka tampak semangat sekali, akhirnya liburan yang mereka sudah rencanakan dapat terwujud, meskipun harus tertunda kemarin.
“Dimana Robi?” tanya Fano yang tidak melihat hanya mereka bertiga yang sedari tadi mondar-mandir memasukan bbarang-barang ke mobil.
“Entahlah, aku tadi lihat dia masuk ke dalam rumah. Coba kau lihat ke dalam sebentar, siapa tahu dia malah tidur” ucap Aris.
Sembari menunggu Aris dan Robi datang, Anjas dan Fano terus memasukan barang-barang ke mobil. Namun hampir semua barang sudah hampir selesai di masukan, Robi dan Aris tak kunjung keluar dari rumah. Tentu saja Anjas dan Fano menjadi kesal, mereka merasa Robi dan Aris mengerjai mereka berdua.
“Ayo kita coba lihat ke dalam, awas aja kalau sampai mereka berdua malah enak-enakan di dalm rumah” ucap Fano.
Belum juga mereka masuk rumah, terlihat Robi dan Aris sudah keluar rumah. Namun ada yang aneh dengan raut wajah mereka berdua. Aris terlihat seperti orang sedih, sedang Robi justru matanya terlihat sanagt merah, seperti orang yang sedang baru saja menangis. Anjas dan fano menjadi penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi.
“Ada apa?” tanya Fano kepada Aris dan Robi.
“Kita batalkan saja rencana liburan kita” jawab Aris
Mendengar Aris yang tiba-tiba saja mengatakan bahwa mereka harus mebatalkan rencan liburan mereka menjadaikan Fano dan Anjas biingung, apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa? Kaenapa harus dibatalkan?” tanya Anjas.
“Ayah dan ibu Robi meninggal karena mengalami kecelakan sewaktu mereka ingin pulang dari luar kota pagi ini” jawab Aris.
Sontak Fano dan Ajas menjadi kaget, dengan segera mereka memeluk Robi. Tidak mungkin lagi mereka untuk melanjutkan rencana liburan, sedangkan salah satu temannya sedang berduka. Fano dan Anjas segera menurunkan kembali barang-barang mereka, sedang Aris menemani Robi yang tampak sanagt-sanagt terpukul mendengar kabar ini. Mereka bertiga akhirnya menemani Robi untuk pulang, tidak mungkin jika mereka membiarkan Robi menyetir sendirian dalam kondisi seperti ini, apalagi jarak antara rumah Robi dari rumah Aris cukup jauh.